<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karya Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/karya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/karya/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:18:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>karya Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/karya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 11:05:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Chelsea Islan]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Hongkong Kasarung]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Sekala Niskala]]></category>
		<category><![CDATA[Sule]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=537</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis. Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis.</p>
<p>Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya bisa dilihat. Setelah menimbang-nimbang dan teringat kampanye Chelsea Islan dengan hashtag #banggafilmindonesia, penulis pun memilih film <strong>Sekala Niskala </strong>yang mengangkat budaya Bali.</p>
<p>Setelah tertunda beberapa kali, penulis akhirnya berangkat menuju Cinema XXI yang berada di Taman Ismail Marzuki karena dekat dengan Masjid Cut Meutia (baca: <a href="http://whathefan.com/2018/03/21/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/">Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</a>).</p>
<p><strong>Sekala Niskala</strong></p>
<div id="attachment_538" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-538" class="size-full wp-image-538" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg" alt="" width="690" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg 690w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-300x196.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-356x232.jpg 356w" sizes="(max-width: 690px) 100vw, 690px" /><p id="caption-attachment-538" class="wp-caption-text">Sekala Niskala (http://www.suaramerdeka.com/ekspresi/detail/504/Sekala-Niskala-Hubungan-Magis-Antara-Saudara-Kembar)</p></div>
<p>Ketika berada di loket, penulis melihat bahwa film terbaru Sule, <strong>Hongkong Kasarung</strong>, telah tayang di bioskop. Maka dari itu penulis putuskan untuk menonton sekalian film tersebut. #banggafilmindonesia</p>
<p>Penulis sedikit terlambat karena waktunya yang agak mepet dengan waktu berakhirnya Sholat Jum&#8217;at. Pikir penulis, pasti sudah banyak yang datang. Ternyata, baru enam orang yang datang. Fakta ini penulis ketahui ketika memilih kursi di loket, ketika warna hijau mendominasi layar. Penulis sampai bertanya kepada petugas loket, yang kosong yang warna apa, merah atau hijau.</p>
<p>Karena banyak kursi kosong, penulis bisa bebas memilih kursi mana yang ingin diduduki. Bioskop serasa milik sendiri, walaupun di belakang banyak pasangan yang juga ikut menonton.</p>
<p>Lalu, bagaimana filmnya?</p>
<p>Melihat Sekala Niskala itu serasa membaca puisi. Multitafsir dan butuh penghayatan yang dalam. Penulis butuh browsing untuk bisa memahami film tersebut.</p>
<p>Ternyata, Sekala dan Niskala adalah dua dunia yang berbeda, di mana Sekala adalah dunia nyata di mana kita tinggal dan Niscaya adalah alam lain, yang di film ini merupakan dunia imajinasi dari karakter utama.</p>
<p>Budaya Bali dalam film ini sangat kentara, mulai dari bahasa hingga tarian-tarian yang ditampilkan. Benar-benar membawa budaya asli Indonesia, bukan hanya sekedar kata-kata dalam bahasa daerah (termasuk kata kotornya) seperti film sebelah.</p>
<p>Walaupun sempat tertidur karena banyaknya adegan sinden bernyanyi yang membuat penulis terkantuk-kantuk, penulis merasa puas melihat film ini, bagaikan melihat almarhum Rendra membawakan puisinya.</p>
<p><strong>Hongkong Kasarung</strong></p>
<div id="attachment_539" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-539" class="size-large wp-image-539" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-539" class="wp-caption-text">Hongkong Kasarung (youtube.com)</p></div>
<p>Setelah melihat film serius (sama sekali tidak ada humor dalam film Sekala Niskala), penulis menonton film komedi Hongkong Kasarung. Awalnya penulis agak skeptis melihat film komedi lokal, takutnya garing seperti kerupuk.</p>
<p>Untunglah, semua pesimisme penulis salah besar. Film tersebut kocak habis! Banyak adegan-adegan lucu yang berhasil membuat tawa penulis lepas. Guyonan khas Sule dkk muncul dalam film ini. Penggunaan bahasa Sunda menambah nilai positif film ini.</p>
<p>Intinya, film ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan usia.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Tahun 2018 ini merupakan rekor penulis dalam menonton film, dengan menonton 4 film dalam tiga bulan. Sebagai perbandingan, tahun 2017 kemarin, selama satu tahun penulis hanya menonton satu kali, yakni film Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale (padahal penulis tidak pernah melihat serial Sword art Online, alhasil teman penulis menjadi korban karena penulis tak pernah berhenti bertanya tentang film tersebut).</p>
<p>Dari empat film tersebut, tiga di antaranya adalah film lokal (baca: Setelah Menonton Si Juki), hanya Black Panther yang film buatan luar (karena penulis penggemar Superhero).</p>
<p>Mengapa bisa seperti itu?</p>
<p>Karena penulis menyadari bahwa kita bisa berperan memajukan perfilman Indonesia dengan cara menontonnya. Kalau bisa, bukan film-film terkenal macam cinta-cintaan anak SMA itu, melainkan film-film yang mengangkat budaya lokal. Tapi jika maunya film yang bergenre romantis, ya enggak apa-apa, yang penting masih film lokal.</p>
<p>Semangat #banggafilmindonesia ini terinspirasi dari teman penulis semasa di Pare, bang Edo, yang pernah berkata:</p>
<p>&#8220;Kalau ada film Indonesia, aku akan berusaha untuk menontonnya.&#8221;</p>
<p>Kalau film-film <em>box office </em>dari luar negeri kan sudah tersebar ke mana-mana tuh, pasti banyak penontonnya. Karena itu, sebagai warga negara yang baik, menonton karya anak bangsa adalah salah satu bentuk dukungan kita kepada perfilman Indonesia agar semakin maju.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>#banggafilmindonesia</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menonton film Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Detail Pada Karya Don Rosa</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2018 05:43:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[detail]]></category>
		<category><![CDATA[Disney]]></category>
		<category><![CDATA[Donal Bebek]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Gober]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=367</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun tahun depan akan berusia seperempat abad, saya masih membaca komik-komik Donal Bebek. Hanya saja, saya lebih senang edisi-edisi lama terbitan tahun 80-90an daripada komik yang baru-baru. Sense-nya terasa sangat berbeda, Oleh karena itu, jika sedang berburu di toko buku bekas, yang saya cari adalah komik-komik Donal Bebek edisi lama, yang seringkali tertumpuk di sudut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/">Detail Pada Karya Don Rosa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun tahun depan akan berusia seperempat abad, saya masih membaca komik-komik Donal Bebek. Hanya saja, saya lebih senang edisi-edisi lama terbitan tahun 80-90an daripada komik yang baru-baru. <em>Sense</em>-nya terasa sangat berbeda, Oleh karena itu, jika sedang berburu di toko buku bekas, yang saya cari adalah komik-komik Donal Bebek edisi lama, yang seringkali tertumpuk di sudut lapak. Semakin tua, semakin bagus.</p>
<p>Koleksi Donal Bebek tertua saya adalah edisi 300an dengan judul <em>Orang yang Terhormat</em>. Terbit pada tahun 1987, harganya masih Rp. 750. Tersobek di sudut sampul membuat saya tidak mengetahui pasti edisi komik tersebut, yang pasti ia lebih tua dari koleksi tertua kedua saya, edisi 350 dengan judul <em>Ahli Membuat Kue </em>yang terbit pada tahun 1988 dengan harga yang sudah naik Rp. 50.</p>
<div id="attachment_375" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-375" class="size-large wp-image-375" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49-1024x680.jpg" alt="" width="1024" height="680" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49-1024x680.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49-300x199.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49-768x510.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49-356x236.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-37-49.jpg 1278w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-375" class="wp-caption-text">Koleksi Donal Bebek Penulis</p></div>
<p>Karena sudah membaca ratusan komik Donal Bebek, saya bisa membedakan beberapa versi gambarnya. Yang menjadi favorit saya, tentu saja karya Don Rosa.</p>
<p><strong>Don Rosa, Penulis Biografi Paman Gober</strong></p>
<p>Pertama kali saya mengetahui karya Don Rosa adalah ketika membeli bundel <em>The Life and Time of Scrooge McDuck</em> alias Kisah Hidup Paman Gober, paman dari Donal yang terkenal karena kepelitannya. Bundel tersebut menceritakan perjuangan Paman Gober mulai dari Skotlandia, jatuh bangunnya berkeliling dunia untuk meningkatkan martabat keluarganya, hingga akhirnya berhasil menjadi bebek terkaya sedunia.</p>
<p>Setelah itu, ketika jalan-jalan di Gramedia Plaza Ambarukmo, saya menemukan <strong>dua </strong>bundel komik-komik karya Don Rosa. Berbeda dengan edisi pertama yang menceritakan kisah Paman Gober secara berurutan, dua bundel ini menceritakan berbagai petualangan secara parsial, meskipun beberapa cerita memiliki kesinambungan.</p>
<p>Di bundel dua, terdapat judul favorit saya, <em>Pelebur Segala Benda</em>, yang sebelumnya pernah saya baca di Donal Bebek Edisi Nostalgia Volume 26 (salah satu komik favorit saya yang telah raib, sehingga ini menjadi salah satu incaran utama saya ketika berburu buku bekas). Saya membacanya waktu kecil ketika belum mengetahui Don Rosa, dan mengagumi segala detail yang terdapat pada judul tersebut.</p>
<div id="attachment_377" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-377" class="size-large wp-image-377" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08-1024x762.jpg" alt="" width="1024" height="762" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08-1024x762.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08-300x223.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08-768x571.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08-343x255.jpg 343w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo_2018-02-14_12-42-08.jpg 1235w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-377" class="wp-caption-text">Judul Favorit Penulis</p></div>
<p>Inilah yang membedakan karya Don Rosa dengan karya komikus lain</p>
<p><strong>The Devil&#8217;s in the Detail</strong></p>
<p>Supaya bisa memahami apa maksud saya, saya akan memberikan contoh karya Don Rosa pada episode ketika Donal dan keponakan sedang berdebat harta apa yang paling berharga bagi Paman Gober</p>
<div id="attachment_368" style="width: 897px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-368" class="size-full wp-image-368" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/harta-paling-berharga.jpg" alt="" width="887" height="646" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/harta-paling-berharga.jpg 887w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/harta-paling-berharga-300x218.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/harta-paling-berharga-768x559.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/harta-paling-berharga-350x255.jpg 350w" sizes="(max-width: 887px) 100vw, 887px" /><p id="caption-attachment-368" class="wp-caption-text">Karya Don Rosa (https://blackclaw.files.wordpress.com/2015/04/harta-paling-berharga.jpg)</p></div>
<p>Bandingkan dengan ini.</p>
<div id="attachment_369" style="width: 986px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-369" class="size-full wp-image-369" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/RCO024_w_1496232457.jpg" alt="" width="976" height="690" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/RCO024_w_1496232457.jpg 976w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/RCO024_w_1496232457-300x212.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/RCO024_w_1496232457-768x543.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/RCO024_w_1496232457-356x252.jpg 356w" sizes="(max-width: 976px) 100vw, 976px" /><p id="caption-attachment-369" class="wp-caption-text">Karya Komikus Lain (http://duckcomicsrevue.blogspot.co.id/2017/08/donald-duck-meets-princess-oona-and.html)</p></div>
<p>Masih belum menemukan perbedaannya? Coba bandingkan dengan episode ketika Gober muda sedang berburu emas pertamanya di kota Dawson, Alaska berikut,</p>
<div id="attachment_371" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-371" class="size-large wp-image-371" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1-1024x729.jpg" alt="" width="1024" height="729" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1-1024x729.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1-300x213.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1-768x546.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1-356x253.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Scrooge-McDuck-Don-Rosa-1.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-371" class="wp-caption-text">Bisa Lihat Perbedaannya? (http://acesweeklyblog.com/todays-panel-uncle-scrooge-by-don-rosa/)</p></div>
<p>Saya bukan murni anak desain, walaupun saya memiliki minat yang lumayan terhadap bidang tersebut. Idiom yang terdapat pada subjudul tentu dipahami anak desain, dimana idiom tersebut bermakna bahwa terdapat sesuatu yang tersembunyi pada detail-detail yang digambarkan.</p>
<p>Jika diperhatikan dengan seksama, begitu banyak detail tersembunyi yang terdapat pada karya Don Rosa. Lihat saja gambar terakhir, jika tidak jeli, mungkin kita tidak akan melihat ada orang tenggelam dalam kubangan lumpur.</p>
<p>Salah satu detail yang seringkali muncul pada karya Don Rosa adalah adanya gambar Mickey Mouse yang sering terselip pada gambar-gambarnya. Biasanya, gambar Mickey muncul pada kondisi yang kurang menyenangkan. Maklum, Don Rosa sering dianggap tidak menyukai karakter tikus tersebut.</p>
<div id="attachment_372" style="width: 510px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-372" class="size-full wp-image-372" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/censor8-1.jpg" alt="" width="500" height="372" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/censor8-1.jpg 500w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/censor8-1-300x223.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/censor8-1-343x255.jpg 343w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /><p id="caption-attachment-372" class="wp-caption-text">Contoh Hidden Mickey (http://www.duckhunt.de/censorship/censor8.jpg)</p></div>
<p>Detail-detail inilah yang membuat saya menggemari Don Rosa dan menjadi penikmat karya-karyanya, hingga kini.</p>
<p><strong>Detail Sejarah yang Terselip</strong></p>
<p>Selain kualitas gambar yang dimiliki, Don Rosa juga terkenal karena gemar menyelipkan potongan-potongan sejarah ke dalam komiknya. Salah satu edisi memasukkan presiden Amerika Serikat, Teddy Roosevelt. Namun yang paling saya suka adalah peristiwa meledaknya gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883, yang terjadi ketika Gober muda sedang berpetualang ke Batavia, Indonesia.</p>
<div id="attachment_373" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-373" class="size-full wp-image-373" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Letusan-Gunung-Krakatau-Digambarkan-Disini-via-bullyscomics.blogspot.com_.jpg" alt="" width="900" height="641" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Letusan-Gunung-Krakatau-Digambarkan-Disini-via-bullyscomics.blogspot.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Letusan-Gunung-Krakatau-Digambarkan-Disini-via-bullyscomics.blogspot.com_-300x214.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Letusan-Gunung-Krakatau-Digambarkan-Disini-via-bullyscomics.blogspot.com_-768x547.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Letusan-Gunung-Krakatau-Digambarkan-Disini-via-bullyscomics.blogspot.com_-356x255.jpg 356w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-373" class="wp-caption-text">Letusan Gunung Krakatau (bullyscomics.blogspot.com)</p></div>
<p>Dalam cerita Paman Gober yang berjudul The Cowboy Captain of the Cutty Sark (Koboi Kapten Cutty Sark), Gober muda adalah awak dari kapal layar Cutty Sark. Ia sedang mengantarkan muatan berupa sapi yang dipesan oleh Raja Kulon untuk mengikuti lomba Karapan Sapi (Gober menyebutnya Kropin Sopi).</p>
<p>Lawan dari Raja Kulon adalah Raja Wetan. Mendengar saingannya akan membeli sapi, penasehat dari Raja Wetan berusaha untuk mensabotase sapi tersebut dengan mencuri sapi Raja Kulon dan membuang Gober ke hutan. Disana ia bertemu berbagai hewan khas Indonesia seperti badak bercula satu.</p>
<p>Ia juga bertemu Rachet Lung, kakek dari Lang Ling Lung yang terkenal sebagai ilmuwan. Ia sedang meneliti penggunaan uap untuk kendaraan dan menciptakan mobil (tanpa rem). Dengan temuan tersebut, Gober muda kembali ke pelabuhan dan mengejar Raja Wetan menggunakan kapal Cutty Sark.</p>
<p>Ketika pengejaran di laut itulah, gunung Krakatau meletus.</p>
<p><strong>Komik Donal Hari Ini</strong></p>
<p>Jika dibandingkan edisi-edisi yang lebih baru, tentu penggambaran detail seperti yang dilakukan oleh Don Rosa semakin jarang dilakukan. Entah karena masalah efesiensi, atau mungkin karena memang menghasilkan karya seperti itu membutuhkan <em>effort </em>lebih, sehingga kualitasnya, menurut saya pribadi, sangat berbeda.</p>
<p>Don Rosa sendiri telah mengundurkan diri dari dunia komik pada tahun 2013. Meskipun begitu, karya-karya akan selalu dikenang oleh pencinta keluarga bebek.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 14 Februari 2018, setelah kemarin tertunda karena menonton Indonesia Lawyers Club</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/">Detail Pada Karya Don Rosa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengasah Rasa dengan Sastra</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jan 2018 12:18:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu genre buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi best seller, seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel Berjuta Rasanya karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Novel fiksi merupakan salah satu <em>genre</em> buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi <em>best seller, </em>seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel <em>Berjuta Rasanya</em> karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak ulang hingga Februari 2017. Artinya, novel ini dicetak sebanyak lima hingga enam kali tiap tahunnya.</p>
<p>Pada awalnya, saya bisa dibilang jarang membaca novel lokal, kecuali tetralogi <em>Laskar Pelangi-</em>nya Andrea Hirata dan trilogi <em>Negeri 5 Menara-</em>nya A. Fuadi. Saya lebih tertarik dengan novel detektif seperti <em>Sherlock Holmes</em> dan <em>Agatha Christie</em>. Semenjak hampir semua buku <em>Agatha Christie</em> saya koleksi (sekarang saya memiliki 78 dari 80 bukunya), saya mencoba untuk membaca novel Indonesia. Salah satu pilihan saya adalah dua penulis yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.</p>
<p>Ternyata, novel-novel tersebut memang layak menjadi <em>best seller </em>karena bahasanya yang mudah dipahami dan selalu ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Saya mengkategorikan novel-novel ini sebagai kategori novel ringan, karena untuk membacanya saya tidak perlu memutar otak untuk memahami tiap katanya. Setelah banyak menjelajah penulis-penulis novel ringan ini, saya ingin mencari tantangan baru. Sastra nampak sesuai untuk dijadikan lahan baru untuk dijelajahi. Saya beri kategori sendiri untuk membedakannya dengan novel-novel ringan Indonesia: Novel/Sastra.</p>
<p>Kalau tidak salah, buku pertama yang saya beli dengan kategori ini adalah <em>Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2015 </em>dengan judul <em>Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta</em> karya penulis senior Ahmad Tohari. Semenjak itu, saya mengoleksi antalogi cerpen Kompas. Selain itu, saya juga menikmati karya-karya penulis berikut:</p>
<ul>
<li>Seno Gumira Ajidarma (Dunia Sukab, Sepotong Senja untuk Pacarku, Drupadi, Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja)</li>
<li>Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, Suti)</li>
<li>Kuntowijoyo (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Mantra Penjinak Ular, Waspirin &amp; Satinah)</li>
<li>W.S. Rendra (Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu, Pacarku Seorang Seniman)</li>
<li>Eka Kurniawan (Lelaki Harimau, Dilarang Corat-Coret di Kamar Mandi)</li>
<li>Dan novel serta cerpen karya penulis lain seperti Budi Darma, Emha Ainun Najib, Bondan Prakoso dan Agus Noor</li>
</ul>
<p>Pengkategorian Novel/Sastra ini sebenarnya seenaknya saya sendiri saja. Ada beberapa faktor yang membuat saya memisahkan novel sastra dengan novel Indonesia lainnya. Yang paling menonjol adalah gaya bahasa. Bahasa yang digunakan Novel/Sastra jauh lebih berat jika dibandingkan novel ringan. Beberapa kata, kalimat, bahkan keseluruhan cerita tidak saya pahami sepenuhnya.</p>
<p>Jika tidak dapat memahaminya, lalu untuk apa saya membacanya?</p>
<p>Mungkin jawaban saya adalah karena saya menikmatinya, menikmati suatu harmoni bahasa yang saling mengalun indah untuk membentuk suatu makna yang tersirat. Rangkaian ini entah bagaimana caranya, menghaluskan perasaan saya dan menajamkan pikiran saya. Pemilihan diksi-diksi yang berat membuat saya mempunyai referensi yang baik dalam menulis.</p>
<p>Dengan membaca sastra, cakrawala saya yang sempit menjadi terbuka lebar. Dengan menghayati sastra, saya bisa belajar memahami orang lain. Dengan mempelajari sastra, kemampuan menulis saya yang masih mentah ini dapat meningkat sedikit demi sedikit.</p>
<p>Sastra, sudah membuat saya mengasah rasa yang saya miliki, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Januari 2018, setelah mencari <em>username </em>dan <em>password </em>yang hilang<em> </em>agar dapat mengakses halaman admin web Biz Square Apartment</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Mengasah Rasa dengan Sastra</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komik, Wayang, dan Anime Wayang</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2018 07:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[garudayana]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah! Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin hunting lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah!</p>
<p>Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin <em>hunting</em> lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki The Movie yang meningkatkan kesadaran saya untuk mengapresiasi komik lokal.</p>
<p>Pagi ini langsung saya tamatkan keempat bukunya, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Ceritanya keluar dari pakem karena ada karakter baru (Kinara dan Garu), namun sama sekali tidak mengurangi unsur budaya Indonesia. Model gambarnya jauh berbeda dengan komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih karena di komik ini menggunakan style yang mirip-mirip dengan komik Jepang. Cerita petualangan dibumbui serunya pertarungan dan humor-humor segar membuat saya sangat menikmati Garudayana.</p>
<p>Kecintaan saya terhadap wayang bermula ketika menemukan buku cerita wayang milik pakde saya. Buku itu bercerita kejadian di Bale Sigala-gala, tempat Kurawa merencanakan ide piciknya untuk membakar bale itu bersama Pandawa yang sengaja diundang untuk pesta. Untunglah Bima mendapatkan wahyu untuk tidak ikut mabuk dan bisa menolong Pandawa yang lain dari kebakaran.</p>
<p>Saya selalu tertarik dengan wayang, walaupun belum pernah melihat wayang secara langsung. Jika ada di TVRI pun menggunakan bahasa jawa alus tanpa <em>subtitle </em>yang membuat saya tidak bisa memahami. Oleh karena itu saya membeli buku Mahabarata karya C. Rajagopalachari untuk lebih memahami ceritanya dalam versi aslinya dulu. Setelah itu saya mencari literatur lain seperti buku-buju Sujiwo Tejo dan Seno Gumira Ajidarma untuk menambah wawasan.</p>
<p>Cerita wayang sebenarnya sangat menarik, tidak kalah dengan Naruto maupun Dragonball. Hanya saja, adik-adik atau bahkan orang-orang dewasa kurang tertarik dengan pertunjukan wayang yang dianggap membosankan. Untuk itu saya memiliki mimpi jika suatu saat akan ada film serial animasi wayang yang dipoles mirip anime-anime Jepang. Saya yakin jika dimodel seperti itu, orang-orang terutama generasi muda akan tertarik mengetahui dunia perwayangan dan hafal dengan tokoh-tokohnya seperti mereka yang hafal dengan karakter-karakter di One Piece. Saya optimis dengan hal ini karena masyarakat Indonesia bisa menikmati film-film India seperti Mahabarata, lalu apa ada alasan untuk tidak menyukai Mahabarata versi kita sendiri?</p>
<p>Seandainya saya pandai menggambar, saya pasti akan melakukan apa yang dilakukan oleh mas Is Yuniarto (saya tahu pertama kali tentang penulis dengan komiknya yang berjudul Wind Rider). Tapi karena tidak, seandainya ada tawaran saya akan bersedia untuk menulis skrip ceritanya dengan senang hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat wayang, salah satu kebudayaan terbesar yang dimiliki Indonesia, dicintai dan dinikmati semua generasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Januari 2018, setelah membaca komik Garudayana Saga</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
