Mengasah Rasa dengan Sastra

Novel fiksi merupakan salah satu genre buku yang banyak diminati untuk dibaca. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya novel yang menjadi best seller, seperti buku-buku karya Tere Liye dan Dee. Indikator lainnya adalah banyaknya cetak ulang buku tersebut. Sebagai contoh, novel Berjuta Rasanya karya Tere Liye yang pertama kali cetak pada bulan Mei 2012, telah mengalami 28 kali cetak ulang hingga Februari 2017. Artinya, novel ini dicetak sebanyak lima hingga enam kali tiap tahunnya.

Pada awalnya, saya bisa dibilang jarang membaca novel lokal, kecuali tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata dan trilogi Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi. Saya lebih tertarik dengan novel detektif seperti Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Semenjak hampir semua buku Agatha Christie saya koleksi (sekarang saya memiliki 78 dari 80 bukunya), saya mencoba untuk membaca novel Indonesia. Salah satu pilihan saya adalah dua penulis yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Ternyata, novel-novel tersebut memang layak menjadi best seller karena bahasanya yang mudah dipahami dan selalu ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Saya mengkategorikan novel-novel ini sebagai kategori novel ringan, karena untuk membacanya saya tidak perlu memutar otak untuk memahami tiap katanya. Setelah banyak menjelajah penulis-penulis novel ringan ini, saya ingin mencari tantangan baru. Sastra nampak sesuai untuk dijadikan lahan baru untuk dijelajahi. Saya beri kategori sendiri untuk membedakannya dengan novel-novel ringan Indonesia: Novel/Sastra.

Kalau tidak salah, buku pertama yang saya beli dengan kategori ini adalah Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2015 dengan judul Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta karya penulis senior Ahmad Tohari. Semenjak itu, saya mengoleksi antalogi cerpen Kompas. Selain itu, saya juga menikmati karya-karya penulis berikut:

  • Seno Gumira Ajidarma (Dunia Sukab, Sepotong Senja untuk Pacarku, Drupadi, Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja)
  • Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, Suti)
  • Kuntowijoyo (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Mantra Penjinak Ular, Waspirin & Satinah)
  • W.S. Rendra (Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu, Pacarku Seorang Seniman)
  • Eka Kurniawan (Lelaki Harimau, Dilarang Corat-Coret di Kamar Mandi)
  • Dan novel serta cerpen karya penulis lain seperti Budi Darma, Emha Ainun Najib, Bondan Prakoso dan Agus Noor

Pengkategorian Novel/Sastra ini sebenarnya seenaknya saya sendiri saja. Ada beberapa faktor yang membuat saya memisahkan novel sastra dengan novel Indonesia lainnya. Yang paling menonjol adalah gaya bahasa. Bahasa yang digunakan Novel/Sastra jauh lebih berat jika dibandingkan novel ringan. Beberapa kata, kalimat, bahkan keseluruhan cerita tidak saya pahami sepenuhnya.

Jika tidak dapat memahaminya, lalu untuk apa saya membacanya?

Mungkin jawaban saya adalah karena saya menikmatinya, menikmati suatu harmoni bahasa yang saling mengalun indah untuk membentuk suatu makna yang tersirat. Rangkaian ini entah bagaimana caranya, menghaluskan perasaan saya dan menajamkan pikiran saya. Pemilihan diksi-diksi yang berat membuat saya mempunyai referensi yang baik dalam menulis.

Dengan membaca sastra, cakrawala saya yang sempit menjadi terbuka lebar. Dengan menghayati sastra, saya bisa belajar memahami orang lain. Dengan mempelajari sastra, kemampuan menulis saya yang masih mentah ini dapat meningkat sedikit demi sedikit.

Sastra, sudah membuat saya mengasah rasa yang saya miliki, apapun bentuknya.

 

Lawang, 15 Januari 2018, setelah mencari username dan password yang hilang agar dapat mengakses halaman admin web Biz Square Apartment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.