<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kebebasan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kebebasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kebebasan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2021 03:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kebebasan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kebebasan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Filsafat Ala Attack on Titan</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2020 01:26:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[AoT]]></category>
		<category><![CDATA[Attack on Titan]]></category>
		<category><![CDATA[determinisme]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hype]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4188</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime Attack on Titan (AoT) atau Shingeki no Kyojin. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai. Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, hype dari season ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">Filsafat Ala Attack on Titan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime <em><strong>Attack on Titan</strong></em> (AoT) atau <strong><em>Shingeki no Kyojin</em></strong>. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai.</p>
<p>Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, <em>hype </em>dari <em>season </em>ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menjadi fans karbitan. Untuk mengejar ketertinggalan, Penulis memutuskan untuk mengambil jalan pintas: menonton video rekapnya di YouTube.</p>
<p>(Cara seperti ini juga Penulis lakukan ketika <em>season </em>terakhir dari serial <em>Game of Throne </em>akan rilis pada tahun 2019 kemarin, walaupun Penulis memang membaca novelnya sampai buku ketiga)</p>
<p>Melalui video rekap yang ada di YouTube tersebut, Penulis jadi mengerti mengapa banyak sekali orang yang menjadi penggemar anime ini. Jalan cerita dan animasinya patut diacungi jempol.</p>
<p>Karena penasaran dengan lanjutan ceritanya, Penulis juga memutuskan untuk membaca manganya secara daring. Sekitar 5 jam Penulis butuhkan untuk membaca <em>chapter</em> yang akan menjadi awal <em>season 4 </em>hingga <em>chapter </em>terakhir yang telah dirilis.</p>
<p>Sebagai fans karbitan, Penulis menemukan beberapa hal yang menarik dari anime ini. <strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>
<h3>Hitam Putih Baik Buruk</h3>
<div id="attachment_4190" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4190" class="size-large wp-image-4190" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-1.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4190" class="wp-caption-text">Eren, Baik atau Buruk? (<a href="https://www.superherohype.com/tv/482112-official-attack-on-titan-final-season-trailer-teases-a-big-war-coming">Superhero Hype</a>)</p></div>
<p>Satu poin yang menjadi kekuatan utama dari AoT adalah susahnya untuk <strong>mengetahui mana yang merupakan pihak baik mana yang merupakan pihak buruk</strong>.</p>
<p>Hal ini tidak akan kita temukan dari anime <em>shonen </em>lain seperti <a href="https://whathefan.com/animekomik/dinasti-politik-ala-naruto/">Naruto</a>, Dragon Ball, One Piece, My Hero Academia, dan lain sebagainya.</p>
<p>Karakter utamanya dipastikan selalu menjadi pihak yang akan membela kebenaran. Naruto, Goku, Luffy, Midoriya, semuanya berjuang untuk memberantas kejahatan di muka bumi.</p>
<p>Sedangkan di anime AoT, ada begitu banyak <em>plot twist </em>yang akan membuat kita kebingungan. Bahkan karakter utama di anime ini, <strong>Eren Yeager</strong>, telah berubah menjadi tokoh antagonis utama yang ingin menghabisi semua umat manusia yang ada di luar pulau Paradis.</p>
<p>Penulis membayangkan banyak penggemar AoT yang terkejut ketika mengetahui hal ini.  Karakter yang selama ini begitu diidolakan karena ingin balas dendam ke titan yang memakan ibunya menjadi seperti itu.</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ, <em>plot twist </em>yang ada juga bisa dibolak-balik berkali-kali. Awalnya kelihatan baik, ternyata jahat, eh ternyata baik, eh ternyata beneran jahat. Pola seperti itu akan sering kita temui.</p>
<p>Contohnya ada pada karakter ayah Eren, <strong>Grisha Yeager</strong>. Coba para pembaca yang menonton AoT, apakah Grisha merupakan karakter yang baik atau jahat? Kakak tiri Eren, Zeke, apakah dia karakter yang baik atau jahat? Silakan putuskan sendiri jawabannya.</p>
<p>Pengkhianatan? Jangan ditanya, ada banyak! Yang A mengkhianati B demi C, eh ternyata C mengkhianati A demi tujuannya sendiri. Banyak <em>top anime betrayal </em>pada AoT.</p>
<p>Bahkan karakter Eren sendiri pun belum bisa ditentukan apakah ia baik atau jahat. Toh, Eren punya alasan kuat demi mengejar tujuan terbesarnya: <strong>Kebebasan</strong>.</p>
<h3>Filsafat Determinisme dan <em>Free of Will</em></h3>
<div id="attachment_4191" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4191" class="size-large wp-image-4191" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/yang-menarik-dari-attack-on-titan-2.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4191" class="wp-caption-text">Mengejar Kebebasan (<a href="https://www.denofgeek.com/tv/attack-on-titan-season-3-episode-22-review-beyond-the-walls/">Den of Geek</a>)</p></div>
<p>Ada yang pernah mendengar tentang <strong>filosofi determinisme</strong>? Berdasarkan video dari Satu Persen di YouTube, filosofi determinisme adalah:</p>
<blockquote><p>Semua peristiwa terjadi karena ada sebab atau bersifat kasualitas.</p></blockquote>
<p>Berubahnya Eren dari karakter protagonis menjadi antagonis tentu tidak terjadi begitu saja. Perubahan terjadi karena ia begitu terobsesi dengan yang namanya kebebasan.</p>
<p>Hal ini dapat dimaklumi karena sejak kecil ia harus tinggal di balik tembok yang tinggi demi melindungi manusia dari serangan titan. Ia mengharapkan kebebasan yang diharapkan ada di balik tembok.</p>
<p>Setelah berhasil keluar dari tembok, ia menyadari bahwa kebebasan yang dikejar ternyata tidak berhasil didapatkan. Malah, ia menemukan fakta yang akan membuat kehidupannya berubah 180 derajat.</p>
<p>Keputusannya untuk melenyapkan seluruh umat manusia yang ada di luar pulau Paradis dengan menggunakan ribuan titan juga dilakukan demi mengejar kebebasan yang ia dambakan.</p>
<p>Di sini kita pun jadi bertanya-tanya, <strong>apakah kita sebagai manusia benar-benar memiliki kebebasan (<em>free of will</em>)?</strong></p>
<p>Rasanya tidak ada yang namana kebebasan yang benar-benar bebas. Ada banyak aturan yang mengelilingi kita, mulai agama hingga hukum negara. Moral juga turut membatasi gerak-gerik kita yang negatif.</p>
<p>Seandainya kita benar-benar memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya, dunia ini nampaknya akan menjadi kacau balau tak beraturan. <em>Lha mong </em>orang bebas mau melakukan apa aja.</p>
<p>Penulis kurang memahami kebebasan apa yang diharapkan Eren. Membuat penduduk pulau Paradis menjadi bebas karena orang-orang yang selama ini membuat mereka menderita lenyap? Apa yang menjamin konflik akan berakhir dengan keputusan tersebut?</p>
<p>Menarik untuk disimak bagaimana anime AoT akan berakhir nanti.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dua alasan di atas, kebaikan versus kejahatan yang tidak hitam putih dan adanya filsafat determinisme, menjadi beberapa alasan mengapa anime AoT sangat menarik untuk ditonton.</p>
<p>Masih banyak hal lain yang bisa kita temukan, mulai dari banyaknya karakter favorit yang mati, tidak ada <em>fan service</em>, sampai kekuatan karakternya yang <em>overpowered</em>.</p>
<p>Yang jelas, anime ini menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang <em>related </em>dengan kehidupan kita yang sebenarnya. Tanpa titan tentunya, dan <em>gear </em>yang membuat kita terbang, dan tanpa tembok yang terbuat dari titan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 16 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton video rekap <i>Attack on Titan </i>dan membaca manganya</p>
<p>Foto: <a href="https://www.cbr.com/attack-on-titan-season-4-fandom-anime/">CBR</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<ul>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=7peFlaib5Zg">SELURUH ALUR CERITA ATTACK ON TITAN LENGKAP SEASON 1,2,3 || 78 MENIT || PERJUANGAN MERAIH KEBEBASAN</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Lw3QgwHQfzA">Attack on Titan Recap: Everything Up to the Final Season &#8211; YouTube</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ytpynd4-WpA">Attack On Titan Relationship of Ackerman &#8211; Reiss/Fritz &#8211; Yeager PART 1 || Titan World &#8211; YouTube</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=mJlLldLFMWQ">Filsafat Dari Attack On Titan &#8211; #FilsafatMenjawab</a></li>
<li><a href="https://www.youtube.com/watch?v=RRrPO8QZTwI">Filosofi Attack On Titan (Apakah Manusia Punya Free Will?)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">Filsafat Ala Attack on Titan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andai Indonesia Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 06:27:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[paham]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam. Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam.</p>
<p>Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru memahami bahwa apa yang membolehkan hal tersebut bukanlah agama, melainkan ideologi.</p>
<p>Pada tulisan <a href="http://whathefan.com/2018/02/28/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a>, penulis sudah menjabarkan definisi paham liberalisme. Secara singkat, penganut ideologi ini tidak ingin adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.</p>
<p>Apakah paham ini cocok di Indonesia? Jelas tidak sama sekali karena sila pertama kita berbunyi KETUHANAN YANG MAHA ESA. Selama kita berpegang teguh pada Pancasila, liberalisme tidak akan punya tempat di Indonesia.</p>
<p><strong>Sekarang mari kita berandai-andai jika Indonesia menjadi negara liberal, apa yang sekiranya akan terjadi?</strong></p>
<p>Mungkin para pembaca pernah melihat film <strong>3</strong> <strong>(Alif, Lam, Mim) </strong>yang sempat ditayangkan di bioskop. Pada film tersebut, diceritakan bahwa di masa depan terjadi revolusi yang mengakibatkan Pancasila direduksi menjadi Catursila dengan menghilangkan sila pertama.</p>
<p>Indonesia, pada film tersebut, menjadi negara liberal. Andai itu benar-benar terjadi, tanpa melihat film tersebut, mari kita urutkan hal-hal yang berpotensi terjadi.</p>
<p>Yang pertama, agama akan menjadi sesuatu yang ditakuti karena ia dianggap berpotensi mengekang kebebasan. Para penganutnya akan dicurigai sebagai orang-orang kolot yang menyukai terorisme. Mereka yang tak beragama merasa diri mereka yang paling benar karena tidak mau didikte oleh doktrin agama.</p>
<div id="attachment_951" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-951" class="size-full wp-image-951" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-951" class="wp-caption-text">Film 3 (http://style.tribunnews.com/2016/10/20/sinopsis-film-3-alif-lam-mim-sinema-yang-bakal-diputar-di-atlanta-asian-film-festival-2016)</p></div>
<p>Selanjutnya, pergaulan akan semakin bebas. Tidak ada lagi aturan yang membatasi mereka mau bergaul seperti apa. Mau punya anak di luar nikah pun bukan lagi menjadi hal yang memalukan. Mau nikah dengan sesama jenis hingga beda spesies pun dianggap hal yang lumrah.</p>
<p>Rasio bunuh diri akan meningkat karena masyarakatnya tidak mempunyai pegangan ketika dilanda depresi. Minuman keras sudah tidak mampu menghapus stres pada pikiran sehingga mereka memilih untuk menggantung lehernya.</p>
<p>Mana buktinya ketiga hal tersebut akan terjadi? Coba saja tengok negara-negara yang tidak menjadikan agama sebagai landasan bernegara, yang bangga karena bisa memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada warga negaranya.</p>
<p>Beruntunglah para pendiri bangsa ini sepakat menyantumkan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai dasar ideologi bernegara. Sudah sepatutnya setiap warga negara bertindak dan berperilaku sebagaimana yang telah diajarkan oleh agamanya masing-masing, tanpa terpengaruh ideologi-ideologi lain yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Juli 2018, terinspirasi setelah berdiskusi masalah pernikahan dengan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea">https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batasan Kebebasan Berekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2018 13:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[batasan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=448</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia: &#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221; Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221;</em></p>
<p>Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, <em>liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu</em>.</p>
<p>Sebagai bangsa yang pernah mengalami pengekangan dalam menyampaikan pendapat, tentu kebebasan berpikir menjadi hal yang menarik. Namun, penulis tidak sepakat dengan kalimat selanjutnya:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Paham liberalisme <strong>menolak adanya pembatasan</strong>, khususnya dari <strong>pemerintah</strong> dan <strong>agama</strong>.&#8221;</em></p>
<p>Penulis bukannya ingin mengkritik paham liberal, karena memang bukan termasuk ranah yang dikuasai. Penulis hanya ingin menyampaikan opini terhadap bentuk kebebasan dalam berekspresi, terutama oleh kawula muda pada medsos.</p>
<p><strong>Peran Media Sosial untuk Berekspresi</strong></p>
<p>Semenjak menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia, media sosial (medsos) berperan sebagai tempat mencurahkan perasaan penggunanya. Apa yang sedang dirasakan seringkali ditumpahkan di medsos, mungkin berharap ada yang merespon keresahan hatinya.</p>
<p>Apapun yang terjadi harus diketahui orang lain, meskipun penulis percaya masih ada pengguna yang tetap menjaga privasinya, tahu mana yang untuk konsumsi publik mana yang bukan.</p>
<p>Selain untuk hal tersebut, medsos juga seringkali digunakan untuk mengekspresikan diri, yang terkadang terlalu bebas. Belum lama rasanya ketika ada selebgram yang kontroversial karena mengumbar kehidupannya ke publik, disertai banyak adegan yang tak pantas dilihat oleh kalangan remaja.</p>
<p>Selebgram yang bermasalah ini, anehnya, justru menjadi idola. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya <em>follower</em> yang mengikutinya. Adegan ciuman dengan pacarnya dianggap sebagai <em>relantionship goal</em>. Belum lagi ketika ia membuat video klip lagu terbarunya di YouTube dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kita.</p>
<p>Penulis mengetahui salah satu mengapa alasan orang-orang seperti ini menjadi patron bagi banyak orang, yang penulis ketahui dari acaranya Deddy Corbuzier:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Kakak hebat ya, berani berekspresi menjadi diri sendiri, enggak munafik.</em>&#8220;</p>
<p>Ini bahaya, sungguh sangat berbahaya.</p>
<p><strong>Topeng &#8220;Enggak Munafik&#8221;</strong></p>
<p>Berani menjadi diri sendiri itu baik, malah harus. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berekspresi melampaui batas dan menganggapnya sebagai jati diri kita. Penulis yakin, kita sebagai bangsa timur, tidak memiliki kepribadian yang terkesan liar seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, mereka yang menganut pemikiran ini sering kali menggunakan topeng &#8220;asal enggak munafik&#8221; untuk menutupi kekurangan mereka. Mereka merasa benar dengan melakukan hal-hal yang salah daripada harus berpura-pura menjadi orang baik.</p>
<p>Terkait hal ini, penulis ingin mengutip kata mutiara dari karakter favorit penulis di Harry Potter, Sirius Black:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>We&#8217;ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.&#8221;</em></p>
<p>Jika diterjemahkan, kita semua memiliki sisi baik dan gelap dalam diri kita. Kitalah yang menentukan sisi mana yang kita pilih. Jadi, jika ada orang yang merasa segala bentuk ekspresi negatif adalah jati dirinya, kemungkinan mereka lebih memilih sisi gelap mereka.</p>
<p><strong>Memaknai Kebebasan</strong></p>
<p>Jika dikaitkan dengan paham liberal yang di paragraf awal, maka orang-orang yang kebablasan dalam berekspresi jelas terlihat tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk pemerintah dan agama. Mereka ingin kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa batasan apapun.</p>
<p>Ini artinya, mereka ini belum dapat memaknai kebebasan itu sendiri.</p>
<p>Seandainya manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya, apa bedanya dengan binatang? Bahkan setidaknya hewan memiliki hukum rimba di mana yang kuat (terkadang ditambah yang tercerdik) yang menang.</p>
<p>Seandainya manusia tidak dibatasi oleh aturan, apa yang sekiranya akan terjadi? Kekacauan masal<em> </em>akan terjadi di mana-mana, tidak lagi dibutuhkan <em>agent of chaos </em>seperti Joker di film Batman.</p>
<p>Seandainya manusia tidak ingin diatur oleh norma sosial, apa akibatnya? Akibatnya manusia tidak akan lagi peduli dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita.</p>
<p>Kebebasan itu memang harus dibatasi, karena itu yang membuat kita menjadi manusia.</p>
<p><em>Jika terbatas, bukankah bukan kebebasan namanya?</em></p>
<p>Dalam bahasa penulis, lebih tepat disebut sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kita berhak untuk memiliki kebebasan di banyak hal, mulai dari memilih kepercayaan, berpendapat, berkeluarga, termasuk berekspresi di medsos.</p>
<p>Akan tetapi, kita sebagai manusia juga harus memperhatikan koridor-koridor yang ada. Berekspresilah di medsos, selama tidak menabrak aturan dan norma yang ada di masyarakat kita. Pilahlah mana yang patut untuk dikonsumsi publik, mana yang harusnya menjadi rahasia pribadi.</p>
<p>Aturan dan batasan ada bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan sebagai panduan untuk kebebasan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Februari 2018, setelah makan bakso bakar.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html">http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
