<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kendali Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kendali/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kendali/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Aug 2023 14:28:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kendali Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kendali/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Aug 2023 14:26:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[PDKT]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6762</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga. Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga.</p>



<p>Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan hatinya untuk kita, meskipun sudah banyak hal yang kita lakukan untuk meluluhkan hatinya.</p>



<p>Tentu rasanya menyedihkan sekaligus menyakitkan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya tidak ada manusia yang ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, inilah hidup. Inilah kenyataan yang harus kita terima dan hadapi.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Padahal Sudah Banyak Berkorban</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="800" height="450" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg" alt="" class="wp-image-6764" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita-1-768x432.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Meme Norman Osborn yang Menggambarkan Poin Ini (<a href="https://knowyourmeme.com/memes/you-know-how-much-i-sacrificed">Know Your Meme</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika kita sedang mendekati seseorang, tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mungkin uang untuk mentraktir makan atau membelikan hadiah, tenaga untuk mengantarnya ke mana-mana, pikiran untuk membantu mengerjakan pekerjaannya, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika pikiran kita transaksional, tentu kita berharap imbalan dari semua yang sudah dilakukan tersebut. Tentu saja yang diharapkan adalah dia mau menerima perasaan kita. Sayangnya, masalah cinta sangat berbeda dengan matematika.</p>



<p>Meskipun kita sudah melakukan banyak hal untuknya, sebenarnya sama sekali <strong>tidak ada kewajiban untuk membalas</strong> baginya, dalam bentuk apapun. Jika dia memutuskan untuk tidak membalas, ya itu keputusan mereka yang tidak bisa diganggu gugat.</p>



<p>Mungkin kadang kita akan merasa tidak terima, bahkan menganggap dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan hanya memanfaatkan kebaikan kita. Lho, ya salah sendiri, kan keputusan untuk melakukan banyak hal untuknya kan keputusan kita sendiri.</p>



<p>Apa yang kita lakukan untuknya dilakukan dengan kesadaran diri, walau kadang memang &#8220;dibodohi&#8221; oleh perasaan cinta. Cinta memang bisa membuat orang tolol luar biasa, sehingga tak heran kita jadi punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.</p>



<p>Seperti kata alm. Meggy Z melalui lagu &#8220;Takut Sengsara&#8221;, <strong>percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara</strong>. Kalau takut cinta kita tidak berbalas meskipun sudah banyak berkorban, ya jangan jatuh cinta dulu. </p>



<p>Apalagi, kalau kita memang sayang ke orang lain, seharusnya <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">kita tidak merasa berkorban seperti kata Sujiwo Tejo</a>. Ketika kita sudah merasa berkorban, mungkin itu artinya kita tidak benar-benar sayang ke orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6766" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/pexels-rdne-stock-project-6670211.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Harus Menyadari Perasaan Orang Lain Tidak Bisa Kita Kendalikan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-looking-at-the-stressed-man-6670211/">RDNE Stock project</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebenarnya sangat manusiawi jika kita ingin perasaan kita berbalas. Bahkan, rasanya tidak ada orang yang melakukan PDKT tanpa berharap upayanya berhasil. Namun, perlu diingat kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/"><strong>hasilnya nanti memang ada di luar kendali kita</strong></a>.</p>



<p>Hasil dari PDKT tentu saja bergantung kepada perasaan orang lain, yang tentu saja juga tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa melakukan apapun untuk berusaha mengubah perasaan tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap di luar kendali kita.</p>



<p>Dengan memahami hal ini, kita pun bisa <strong>meminimalisir perasaan kecewa</strong> ketika perasaan tidak berbalas. Kita jadi menyadari kalau terlepas dari semua hal yang sudah kita lakukan, orang lain berhak untuk menentukan ingin menaruh perasaannya ke siapapun.</p>



<p>Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri, menentukan ingin sampai sejauh apa melakukan sesuatu untuk orang lain yang disayang. Hanya diri kita sendiri yang mampu menentukan sampai sejauh apa batasan ketika sedang memperjuangkan orang lain. </p>



<p>Jika masih mau berjuang mati-matian meskipun sudah mendapatkan respons yang negatif, ya silakan saja. Penulis tidak punya hak untuk melarang siapapun. Hanya saja, melalui tulisan ini Penulis ingin mengingatkan kalau perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 Agustus 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau perasaan orang lain itu memang ada di luar kendali kita</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-on-floor-3767426/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/perasaan-orang-lain-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jul 2023 15:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6630</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.</p>



<p>Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. </p>



<p>Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu <em>negative self-talk</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/siapa-yang-akhirnya-menang-banner.jpg 1280w " alt="Siapa yang Akhirnya Menang?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/siapa-yang-akhirnya-menang/">Siapa yang Akhirnya Menang?</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. <strong>Hasil dari sesuatu yang kita kejar</strong> <strong>adalah salah satunya</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama <strong>stoisme</strong> atau <strong>stoik</strong>. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah <em>overthinking </em>seperti Penulis.</p>



<p>Diawali dari membaca buku <em>Filsafat Teras</em>, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai <strong>dikotomi kendali</strong>.</p>



<p>Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis <em>Dunia Sophie</em>, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita). </p>



<p>Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami <strong>yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan</strong>. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau <strong>hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan</strong>. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.</p>



<p>Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.</p>



<p>Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya <em>privilege </em>yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.</p>



<p>Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat <strong>hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.</p>



<p>Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.</p>



<p>Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?</p>



<p>Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita </p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@andrew/">Andrew Neel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terlalu Suka Mengendalikan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 15:22:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[mengenalikan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah gila kontrolnya yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal. Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang Wage (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah <strong>gila kontrolnya</strong> yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal.</p>



<p>Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang <strong>Wage</strong> (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe orang pengendali.</p>



<p>Menurut Pembaca, apakah sifat ini termasuk baik? Atau sebaliknya merupakan sifat buruk yang bisa merugikan orang lain?</p>



<h3>Mengendalikan Permainan</h3>



<p>Ketika bermain game bersama teman-teman, Penulis lebih suka menjadi orang yang mengendalikan permainan daripada ikut dalam permainan itu sendiri.</p>



<p>Contoh mudahnya adalah <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">permainan <strong>Werewolf</strong></a>. Hampir di mana pun bermain game ini, Penulis sangat sering menjadi moderatornya. Meskipun harus repot mencatat dan bergerak ke sana kemari, Penulis menikmati tugas ini karena dirinya bisa mengendalikan permainan.</p>



<p>Penulis bisa memilih peran apa saja yang bisa dipilih oleh pemain, bisa menambahkan peran baru yang bahkan tidak ada di versi resminya, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4204" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4204" class="size-large wp-image-4204" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/12/terlalu-suka-mengendalikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4204" class="wp-caption-text">Menjadi Bank (<a href="https://www.thesprucecrafts.com/monopoly-how-much-rent-do-i-collect-411910">The Spruce Crafts</a>)</p></div>



<p>Begitu pun ketika bermain <strong>Monopoly</strong>. Penulis lebih senang berperan menjadi bank daripada harus ikut berebut lahan dengan pemain lain. Penulis bisa menambahkan aturan sesuka hati, termasuk memberikan bonus kepada pemain.</p>



<p>Ketika sedang berada di kepantiaan, Penulis lebih senang berada di <strong>Sie Acara</strong> yang pekerjaannya mengatur acara. Intinya, Penulis menyukai hal-hal yang bersifat mengendalikan.</p>



<p>Permasalahannya, terkadang sifat ini melampaui batas hingga membuat susah orang lain.</p>
<h3>Agar Sesuai Ekspetasi</h3>
<p>Sifat ingin mengendalikan ini, parahnya, bisa sampai masuk ke wilayah privasi orang lain. Ada rasa ingin mengendalikan orang-orang yang ada di sekitar kita agar <strong>bertindak seperti keinginan kita</strong>.</p>
<p>Contohnya adalah ketika ada kawan dekat yang <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">tiba-tiba berubah</a>. Karena merasa di luar kendali, kita pun menjadi panik dan berusaha untuk mencari tahu dengan paksa kenapa dia berubah.</p>
<p>Selain itu, kita bisa saja <strong>terlalu ikut campur</strong> terhadap permasalahan orang lain. Misal ada si A pacaran dengan si B. Karena kita tidak setuju, kita berusaha untuk memisahkan mereka.</p>
<p>Tanpa disadari, kita ingin mengendalikan orang agar sesuai dengan <strong>ekspetasi kita</strong>. Kita tidak ingin orang lain bersikap di luar ekspetasi tersebut. Di sini lah sikap ingin mengendalikan jadi melampaui batas.</p>
<p>Sikap terlalu ingin mengendalikan seperti ini ujung-ujungnya hanya akan berbuah kekecewaan. Kenapa? Karena kita akan menyadari bahwa <strong>tidak semua hal bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup ini <strong>bukan sebuah video game</strong> yang karakter dan dunianya bisa kita kendalikan seenak kita sendiri. Bahkan di dalam game, ada batasan-batasan tentang apa yang bisa kita kendalikan.</p>
<p>Bahkan dalam permainan <em>open world </em>seperti GTA V, pergerakan kita sebatas yang diberikan oleh pihak pengembang game. Kita tidak benar-bener mengontrol seluruh permainan.</p>
<p>Begitu pun dalam hidup. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah <strong>diri sendiri</strong>.</p>
<p>Menyadari fakta ini membuat kita, terutama Penulis, bisa mengurangi sikap ingin mengendalikan yang terlalu berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Desember 2020, terinspirasi setelah melakukan perenungan diri </p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@diegosmarines">Diego Marín</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/">Terlalu Suka Mengendalikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-suka-mengendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ya Udah Sih&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif. Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang overthinking hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran. Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif.</p>
<p>Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang <em>overthinking</em> hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika kerap dilakukan secara berlebihan. Efeknya bermacam-macam, mulai insomnia sampai merasa <em>insecure</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari berbagai cara untuk mengurangi sifat ini. Salah satunya, dengan sebuah mantra sederhana: <strong><em>Ya udah sih..</em>.</strong></p>
<h3>Hidup untuk Hari Ini</h3>
<blockquote><p><em>Daripada terus dihantui ketakutan akan kehilangan, mengapa tidak kita fokuskan diri untuk bersyukur atas semua kenangan yang telah terjadi?</em></p></blockquote>
<p>Kita ini kadang terlalu memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu, hingga lupa kalau kita hidup di masa kini. Perasaan cemas, gelisah, khawatir, takut, seolah mendominasi diri hingga menjadi tak berdaya.</p>
<p>Padahal,<strong> kebanyakan apa yang kita khawatirkan tak pernah benar-benar terjadi</strong>. Seperti yang Penulis pernah tulis, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran tidak pernah benar-benar terjadi</a>.</p>
<p>Itu semua adalah apa yang sering Penulis pikirkan secara berlebihan. Ada saja yang dicemaskan atau disesali, terutama ketika hendak beranjak tidur.</p>
<p>Hal ini membuat Penulis terkadang lupa kalau dirinya hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu. Kita memang perlu memikirkan masa depan, tapi jangan sampai kita terbelenggu karenanya.</p>
<p>Oleh karena itu, terutama beberapa hari terakhir, Penulis berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dengan berkata: <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>ketika mulai<em> overthinking.</em></p>
<h3>Mengendalikan Kehidupan</h3>
<p>Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sikap orang ke kita, perasaan orang lain, hanya menjadi beberapa contohnya.</p>
<p>Daripada memusingkan hal tersebut, <em>mengapa tidak kita fokuskan untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan?</em></p>
<p>Apa itu? Diri kita sendiri, perasaan sendiri, emosi sendiri. Dengan demikian, kita bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu merasa takut akan masa depan ataupun menyesali masa lalu.</p>
<p>Penulis mempelajari hal ini dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a>. Istilahnya adalah <em>dikotomi kendali</em>. <strong>Dunia terbagi menjadi apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak</strong>.</p>
<p>Mantra <strong><em>Ya udah sih&#8230; </em></strong>biasa Penulis lontarkan di dalam hati untuk menyadarkan dirinya kalau tidak semua bisa kita kendalikan.</p>
<p>Pekerjaan kantor bisa kita kendalikan, namun sikap atasan ke kita tidak bisa dikendalikan. Sikap orang yang tiba-tiba berubah tidak bisa kita kendalikan, namun bagaimana kita menyikapi hal tersebut dapat dikendalikan.</p>
<p>Seharusnya jika Penulis bisa secara bertahap menerapkan hal ini dalam kehidupannya, niscaya sifat mudah <em>overthinking </em>yang dimiliki bisa dikurangi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selain berusaha mendisiplinkan diri menggunakan mantra tersebut, Penulis juga sedang belajar meditasi agar bisa hidup yang lebih <em>santuy. </em>Percayalah, capek jadi orang yang apa-apa dipikir!</p>
<p>Penulis memang seorang pemikir, bahkan kadang merasa bangga karenanya. Namun apapun yang berlebihan tidak pernah baik.</p>
<p>Semoga saja dengan mantra sederhana ini, Penulis bisa mengurangi sifat <em>overthinking</em>-nya yang kerap membuat orang lain risih ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Juni 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memang kerap <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@katlovessteve">Kat Jayne on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/">Ya Udah Sih&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/ya-udah-sih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
