Connect with us

Permainan

Werewolf Ala Sumber Wuni Indah

Published

on

Tahu permainan Werewolf kan? Permainan yang mengajarkan kita untuk berbohong dan berpikir picik berargumentasi dengan emosional logis ini memang sangat seru, apalagi jika dimainkan dengan jumlah orang di atas 10.

Karakter-karakter seperti Seer, Guardian Angel, hingga Gunner sudah banyak diketahui, terutama yang memainkan game ini di aplikasi Telegram.

Akan tetapi, jika karakternya itu-itu saja, tentu akan membosankan bukan? Apalagi rata-rata anggota Karang Taruna di Sumber Wuni Indah termasuk tipe orang mudah bosan terhadap sesuatu.

Oleh karena itu, kami mencoba untuk membuat karakter-karakter baru hasil imajinasi kami sendiri. Tidak tanggung-tanggung, kami menciptakan 22 karakter baru dengan perannya masing-masing.

(Bukan) Warga Desa Biasa

  1. Wizard

“Mempunyai kemampuan untuk mengubah satu orang (siapapun) untuk menjadi villager biasa. Kemampuan ini hanya bisa digunakan satu kali”

  1. Switcher

“Apabila dia mendapatkan vote tertinggi, dia bisa memilih satu orang untuk menggantikan tempatnya. Kemampuan ini hanya bisa digunakan satu kali”

  1. Healer

“Memiliki kemampuan untuk menghidupkan orang yang sudah mati sebanyak satu kali”

  1. Giant

“Karena badannya yang besar, ia akan kebal sekali apabila dibunuh, baik karena dimakan Werewolf, dibunuh Serial Killer, maupun digantung oleh warga. Ia akan mati pada kesempatan kedua”

  1. Homeless

“Tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal. Setiap malam ia berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Apabila tim jahat memilih rumah Homeless, ia akan selamat karena ia memang tidak punya rumah. Akan tetapi ketika ia menginap di rumah sasaran tim jahat, ia akan ikut mati. Ia juga akan mati jika memilih rumah tim jahat”

  1. Magician

“Memiliki kemampuan untuk menonaktifkan kemampuan pemain lain selama satu malam. Bisa dilakukan setiap putaran”

  1. Stabber

“Apabila ia menjadi sasaran tim jahat, ia dapat mengorbankan orang lain. Kemampuan ini hanya bisa digunakan satu kali”

Tim Jahat

  1. Alpha Werewolf (tim Werewolf)

“Alpha Werewolf dapat memilih satu korbannya untuk berubah menjadi Werewolf dan bergabung dengannya”

  1. Black Wizard (tim Werewolf)

“Mempunyai kemampuan untuk mengubah satu orang (kecuali werewolf) untuk menjadi werewolf. Kemampuan ini hanya bisa digunakan satu kali. Apabila Black Wizard memilih Werewolf, tidak berefek apapun”

  1. Two-Face (tim Two-Face)

“Apabila diterawang oleh Seer maupun dikunjungi Homeless, ia adalah villager biasa. Padahal, ia adalah pembunuh yang tak kalah kejam dari Serial Killer”

  1. Joker (tim Joker)

“Sang pangeran kejahatan, agent of chaos. Setiap malam ia bisa merekrut orang untuk masuk ke dalam timnya. Orang yang dipilih tetap memiliki kemampuannya, termasuk Werewolf dan Serial Killer sekalipun. Jika Joker mati, orang yang telah direkrut tetap menjadi tim Joker walaupun tidak tahu siapa saja yang termasuk ke dalam tim Joker. Tujuan Joker cuma satu, menciptakan kekacuan”

  1. Bandit (bebas memilih bergabung dengan tim jahat yang mana)

“Pencuri yang bisa besekongkol dengan tim jahat manapun. Setiap malam ia beraksi untuk mencuri berbagai peralatan. Pemain yang barangnya diambil oleh Bandit (contoh: Bandit mencuri pistol milik Gunner) akan kehilangan kemampuannya, hingga sang Bandit mati. Bandit baru bisa mencuri lagi apabila korban pencuriannya sudah mati.”

 Tim Netral

  1. Stealer

“Memiliki kemampuan untuk mencuri kemampuan orang lain dan membuat orang tersebut menjadi warga desa biasa”

  1. Duplicator

“Sama seperti Doppel, namun tidak perlu menunggu orang yang dipilih mati untuk mengaktifkan kemampuannya”

Gunner’s Family

Gunner termasuk peran yang disukai oleh pemain Werewolf karena kemampuannya, walaupun karakter ini bisa membuat sombong pemainnya. Karena itu, dibuatlah beberapa variannya.

  1. Snipper

“Sama seperti Gunner, ia memiliki dua peluru perak yang bebas ditembakkan kepada siapapun. Bedanya, ia hanya bisa menembak di malam hari”

  1. Suicide Squad

“Ia bisa membunuh dirinya sendiri sambil membawa satu orang untuk ikut mati”

  1. Weapon Supplier

“Apabila ia mati, ia bisa mewariskan satu pistol yang berisikan satu peluru kepada siapapun, termasuk tim jahat”

  1. Pupil Gunner

“Apabila Gunner mati atau tidak ada Gunner sama sekali, ia menjadi Gunner dengan satu peluru”

  1. Archer

“Bisa menembakkan panahnya satu kali di siang hari, namun langsung mengenai dua sasaran sekaligus”

Mayor’s Emperor (Tim Villager)

Pada permainan aslinya, Mayor hanya berfungsi ketika vote, karena nilainya votenya dihitung dua suara. Agar lebih seru, kemampuan Mayor kami tingkatkan lagi agar memiliki peranan yang vital sebagai kepala desa.

  1. Mayor

“Kepala desa yang selalu ingin melindungi rakyatnya. Ia memiliki dua suara ketika vote dan bisa membatakan hasil vote sebanyak tiga kali”

  1. Guard

“Apabila Mayor menjadi target sasaran pembunuhan, Guard akan mengorbankan dirinya untuk melindungi sang Mayor”

  1. Executioner

“Tukang jagal desa. Apabila terdapat seorang Mayor, Executioner dapat memenggal satu kepala sesuai dengan arahan Mayor. Jika tidak ada Mayor, ia hanya seorang warga desa biasa yang berjualan daging”

 

 

Perpustakaan Nasional Lantai 24, 14 Maret 2018, ditulis karena permintaan dari Daffa, salah satu anggota Karang Taruna

Permainan

Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game

Published

on

By

Dulu waktu masih kerja di tempat lama, teman Penulis yang bernama Pandu berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia board game. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli board game karena harganya yang lumayan mahal.

Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor board game. Meskipun work from home (WFH) hingga hari ini, Penulis pernah beberapa kali datang ke kantor yang terletak di daerah Tangerang.

Nah, atasan Penulis ini sering membawa board game-nya untuk dimainkan ketika waktu istirahat kerja. Salah satu yang pernah dibawa dan berhasil membuat Penulis tertarik untuk memilikinya adalah Camel Up: The Card Game, yang akan Penulis bahas kali ini.

Detail Board Game Camel Up: The Card Game

  • Judul: Camel Up: The Card Game
  • Desainer: Steffen Bogen
  • Publisher: Pretzel Games
  • Tahun Rilis: 2023
  • Jumlah Pemain: 2 – 6 pemain
  • Waktu Bermain: 30 – 45 menit
  • Rating BGG: 6,8
  • Tingkat Kesulitan: 2,06/5
  • Harga: Rp250.000

Cara Bermain Camel Up: The Card Game

(Board Game Geek)

Di antara board game Penulis lain yang berukuran serupa, Camel Up: The Card Game bisa dianggap yang persiapannya paling ribet karena komponennya lumayan banyak. Yang jelas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menata kartu arena balapannya secara berurutan, yang tergantung jumlah pemain.

Setiap pemain akan mendapatkan 3 Egyptian Pound, 1 token Fennec, dan 1 token Shortcut. Setelah itu, jejerkan kartu bidding di dekat semua pemain. Ada beberapa jenis kartu bidding yang bisa diambil pemain setiap putaran, yakni:

  • Final Betting Overall Winner Card: Memilih unta yang akan finis pertama ketika Race berakhir
  • Final Betting Overall Loser Card: Memilih unta yang akan finis terakhir ketika Race berakhir
  • Leg Betting Winner Card: Memilih unta yang unggul di tiap Leg dengan jumlah koin yang berbeda-beda, termasuk juga Leg Betting Midfield Cards yang memilih unta yang berada di posisi ke-3

Akan ada 5 unta yang turut serta dalam balapan dan akan mulai dari belakang garis Start (kartu arena nomor 1), serta 1 unta gila yang berwarna hitam yang akan diletakkan pada kartu arena nomor 7. Di awal balapan, buka lima kartu untuk menentukan posisi awal unta.

Setiap pemain nanti akan mendapatkan kartu unta secara acak (baik warna maupun berapa langkah ia akan melangkah), lantas memilih beberapa untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck dan satu kartu untuk diletakkan di depan.

Tergantung jumlah pemain, ada juga beberapa kartu tambahan secara acak yang akan ditambahkan ke Racing Deck. Tak hanya itu, kita juga akan memilih dua kartu unta yang berwarna hitam untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck.

Setelah itu, permainan pun bisa dimulai. Dimulai dari pemain pertama, ia bisa memilih beberapa aksi untuk dilakukan, yakni:

  1. Memainkan token Fennec atau Shortcut
  2. Membuka kartu teratas dari Racing Deck
  3. Memainkan kartu yang ada di depan kita atau membeli kartu pemain lain seharga 1 koin

Setelah memilih salah satu aksi di atas, pemain bisa mengambil satu kartu Betting, baik Leg Betting Card maupun Final Betting Card. Untuk kartu Final Betting, baik Winner maupun Loser, pemain hanya bisa mengambil satu per jenisnya. Jadi, kita tidak boleh menjagokan dua unta untuk menjadi juaranya.

Leg akan berakhir ketika Racing Deck habis. Jika Leg berakhir, maka setup akan diulang lagi dari awal dan Leg berikutnya pun dimulai. Permainan pun akan terus berlangsung hingga salah satu unta berhasil melintasi garis finis.

Ada beberapa detail peraturan lain yang belum Penulis sebutkan, tapi secara garis besar seperti itulah cara bermain Camel Up: The Card Game. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki koin terbanyak di akhir permainan.

Setelah Bermain Camel Up: The Card Game

(ComicBook)

Camel Up adalah salah satu board game yang menarik perhatian Penulis karena konsep “taruhan” yang diusung. Penulis bahkan pernah memainkan versi aslinya yang seharga Rp700 ribu-an dan memang seseru itu.

Nah, Camel Up: The Card Game adalah versi budget yang lebih ramah kantong. Meskipun mekanismenya jauh berbeda, inti dari permainannya berhasil dipertahankan dengan baik, sama-sama push your luck.

Namun, tingkat ke-random-an versi kartunya bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan aslinya yang menggunakan dadu. Pasalnya, pemain bisa memilih kartu apa yang akan muncul di racing deck, sehingga setidaknya bisa menebak beberapa unta yang akan keluar.

Dengan demikian, kita bisa memilih strategi apa untuk bisa mendapatkan uang terbanyak. Misal, kita ingin unta ungu kalah, maka kita tidak akan memainkan kartu unta ungu. Contoh lain, kita tidak ingin unta kuning menang, maka kita akan membuang kartu unta ungu.

Strategi ini terasa makin deep karena kartu bidding-nya sangat bervariasi. Kita tidak hanya memilih mana unta yang akan menang, tapi juga bisa memilih unta yang akan kalah maupun berada di urutan 2 hingga 4, walau uang yang didapat relatif lebih sedikit.

Hanya saja, Penulis merasa dua token Fennec dan Shortcut terasa kurang berguna. Selain karena pemain terlalu fokus dengan unta yang sedang balapan, token yang sudah dipasang justru jarang kena ke untanya. Setidaknya, itu yang Penulis rasakan selama bermain board game ini.

Tidak hanya itu, peran unta gila di sini juga terasa kurang signifikan. Mungkin, karena ia naik ke atas unta (bukan ke bawahnya), jadinya jarang ada unta yang berada di atasnya. Ini berbeda dengan versi aslinya yang entah mengapa lebih mudah berada di atas unta hitam.

Untuk kualitas komponennya, unta-untanya terasa sangat solid dan begitu enak ketika digerakkan. Koinnya juga terasa cukup solid, mirip dengan kualitas koin dari Machi Koro 2. Kartunya standar saja, tapi cukup tebal agar tidak mudah tertekuk.

Yang jelas, Camel Up: The Card Game adalah versi singkat dari Camel Up yang cocok untuk dibawa ke tongkrongan karena ukurannya yang mungil. Hanya saja, board game ini butuh meja yang cukup luas karena arena balapannya cukup memakan ruang.

SKOR: 7/10

Seingat Penulis, ada jeda cukup panjang untuk membeli board game lagi setelah Penulis membeli Camel UP: The Card Game. Pilihan Penulis jatuh kepada board game lokal yang sebelumnya telah Penulis pernah mainkan: Waroong Wars!


Lawang, 7 September 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game

Published

on

By

Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia.

Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama Flying Tiger Copenhagen. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis menyukai benda-benda yang unik.

Di sanalah Penulis menemukan sebuah board game kecil bernama Vendespil Memory Game. Ukurannya mini, hanya segenggaman tangan. Harganya pun murah, kalau tidak salah waktu itu Rp60 ribu atau Rp80 ribu. Untuk itu, Penulis pun membelinya.

Detail Board Game Vendespil Memory Game

  • Judul: Vendespil Memory Game
  • Desainer: ?
  • Publisher: ?
  • Tahun Rilis: ?
  • Jumlah Pemain: Berapa aja boleh
  • Waktu Bermain: Tergantung yang main
  • Rating BGG: –
  • Tingkat Kesulitan: –
  • Harga: Rp60.000-Rp80.000

Cara Bermain Vendespil Memory Game

(Flying Tiger Copenhagen)

Sesuai namanya, ini adalah permainan daya ingat di mana kita harus mencocokkan gambar yang sama. Kebetulan, yang satu ini temanya adalah bendera negara. Total ada 68 kartu, yang artinya ada 34 bendera berbeda di mana mayoritasnya adalah negara Eropa.

Di awal permainan, kocok semua kartu dan letakkan secara tertutup semua kartunya. Secara bergiliran, setiap pemain akan membuka dua kartu pilihannya. Apabila kartu yang dibuka berbeda, kembalikan ke posisi menghadap bawah. Jika sama, ambil dan letakkan di dekat pemain untuk scoring nanti.

Peraturannya bisa berbeda-beda tergantung bermain dengan siapa, karena permainan ini bebas menggunakan house rule seperti apa pun. Kalau Penulis, pemain akan berkesempatan untuk memilih lagi apabila berhasil mendapatkan pasangan kartu yang sama.

Peletakkan kartu pun bebas, tidak ada aturan baku yang menentukan seperti apa posisi kartunya. Mau dibaris rapi biar gampang ingatnya, boleh. Mau diacak biar lebih menantang, juga boleh.

Pemain dengan jumlah pasangan kartu terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya. Kalau seri, anggap saja menang bersama. Kurang lebih seperti itulah cara bermain Vendespil Memory Game yang sangat sederhana.

Setelah Bermain Vendespil Memory Game

(Mercari)

Awalnya, Penulis ragu-ragu mau memasukkan board game ini ke dalam daftar koleksi yang ingin dibuat tulisannya. Rasanya sama seperti memasukkan catur ke dalam daftar. Hanya saja, setelah melalui berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap menuliskannya.

Sewaktu kecil, Penulis memiliki permainan serupa. Ukuran kartunya pun mirip, kotak dengan sudut yang sedikit melengkung. Kartu ini memiliki warna belakang biru dan di depannya dominan putih dengan berbagai gambar.

Nah, gambar-gambarnya inilah yang sangat Penulis ingat. Salah satu alasannya adalah adanya gambar Lucky Luke. Bisa dibilang, inilah pertemuan Penulis pertama dengan koboi tersebut.

Gambar lainnya adalah astronot dan berbagai macam hewan, dengan dominasi warna karakternya adalah kuning, biru, merah, dan hijau. Intinya, permainan ini sangat memorable bagi Penulis, sehingga permainan memori seperti ini tetap Penulis gemari hingga sekarang.

Oleh karena alasan sentimental tersebut, Penulis memutuskan untuk menulis tulisan ini. Memang tidak banyak yang bisa dibahas dari permainan sejuta umat seperti ini, tapi Penulis tetap menginginkannya.

Case dari permainan ini terbuat dari bahan semacam kaleng yang solid, walau minusnya mudah meninggalkan bekas gores terutama di bagian bawah. Kualitas kartunya sendiri bagus, berbahan kertas yang tebal dan licin. Gambar benderanya jelas, yang dilengkapi dengan informasi nama negara dan ibukotanya.

Vendespil Memory Game seru untuk dimainkan ramai-ramai, tapi juga bisa dimainkan sendirian di kala sedang tidak ada kegiatan lain. Ukurannya yang kecil membuat mobilitasnya sangat tinggi dan mudah dibawa ke tongkrongan.

Skor: 7/10

Setelah ini, Penulis akan membahas sebuah board game dengan tema perjudian. Tentu, bukan uang sungguhan yang digunakan di sini. Kita akan melihat pacuan unta (bukan kuda) dan bertaruh unta mana yang akan keluar sebagai juara. Board game tersebut adalah Camel Up The Card Game.


Lawang, 20 Juli 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #33: King of Tokyo: Duel

Published

on

By

Selain membeli Splendor Duel sewaktu jalan-jalan ke Grand Indonesia (GI), Penulis juga membeli satu lagi board game bertema “duel” untuk dimainkan dua orang, yakni King of Tokyo: Duel. Sebenarnya, Penulis tidak berencana membelinya. Namun, karena terlihat menarik, Penulis memutuskan untuk membelinya sekalian.

Penulis tidak punya King of Tokyo versi besarnya, tapi punya King of New York yang Penulis beli second. Jadi, mekanisme dasarnya pun Penulis sudah mengerti, meskipun di sini ada sedikit perbedaan yang mudah untuk dipelajari.

Jika dibandingkan dengan Splendor Duel yang lebih “damai” karena hanya rebutan resource, King of Tokyo: Duel jelas lebih rusuh dan memang harus saling senggol antarpemain. Apalagi, cara untuk menangnya ada beberapa cara!

Detail Board Game King of Tokyo: Duel

  • Judul: King of Tokyo Duel
  • Desainer: Richard Garfield
  • Publisher: IELLO
  • Tahun Rilis: 2024
  • Jumlah Pemain: 2 pemain
  • Waktu Bermain: 20 menit
  • Rating BGG: 7,1
  • Tingkat Kesulitan: 2,08/5
  • Harga: Rp350.000

Cara Bermain King of Tokyo: Duel

Board Game Geek

Mengingat King of Tokyo: Duel memiliki cukup banyak komponen permainan, Penulis akan coba bahas satu per satu secara umum. Tidak terlalu mendetail, tapi cukup untuk mendapatkan gambaran bagaimana permainannya berjalan.

Karakter-Karakter di King of Tokyo: Duel

Permainan dimulai dengan memilih karakter yang akan digunakan. Tidak ada cara tertentu untuk menentukan siapa yang memilih karakter duluan. Total, ada 6 karakter yang bisa dipilih oleh pemain, dengan masing-masing memiliki kemampuan yang unik.

Nah, ini salah satu hal yang membedakan King of Tokyo: Duel dengan versi orisinalnya, di mana karakternya tidak memiliki kemampuan spesial. Nyawa tiap karakter pun berbeda-beda. Keenam karakter yang bisa dipilih oleh pemain adalah:

  • Gigazaur (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menarik marker Fame maupun Destruction dengan menggunakan setidaknya dua dadu [!]
  • Alienoid (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menggunakan 2-3 dadu [!] untuk menjadi simbol dadu apa pun
  • Space Penguin (Nyawa 13 | Kesulitan 2): Bisa menghasilkan token dadu untuk mendapatkan dadu tambahan untuk setiap dadu [!]
  • Meka Dragon (Nyawa 12 | Kesulitan 2): Bisa mengalikan dadu Smash sebanyak jumlah dadu [!] yang muncul
  • Cyber Kitty (Nyawa 13 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dadu [!] untuk mendapatkan cube untuk membeli kartu Power
  • The King (Nyawa 15 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dua dadu [!] untuk meletakkan token Buzz yang akan menghambat pergerakan marker Fame maupun Destruction ke area lawan

Penjelasan Dadu King of Tokyo: Duel

Nah, mungkin Pembaca akan kebingungan membaca deskripsi kemampuan di atas, karena Penulis belum menjelaskan dadu yang digunakan di board game ini. Sama seperti versi orisinalnya, ada enam dadu utama yang digunakan tiap ronde, tapi mata dadunya sedikit berbeda.

Berikut penjelasan untuk setiap mata dadunya:

  • Smash (bergambar cakar): Mengurangi nyawa lawan (satu serangan per dadu Smash)
  • Heal (bergambar hati): Menambah nyawa kita sendiri (satu heal per dadu Heal)
  • Energy (bergambar petir): Memberi kita satu cube Power yang bisa digunakan untuk membeli kartu Power (satu cube per dadu Energy)
  • Fame (bergambar bintang): Untuk setiap tiga dadu Fame, gerakkan marker Fame di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
  • Destruction (bergambar gedung hancur): Untuk setiap tiga dadu Destruction, gerakkan marker Destruction di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
  • Special Power (bergambar tanda seru [!]_: Mengaktifkan kemampuan spesial karakter, seperti yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya

Peraturan mengocok dadu pun sama seperti versi orisinalnya, di mana pemain memiliki kesempatan untuk melakukan reroll hingga dua kali untuk mengganti mata dadu yang tidak diinginkan. Ada dua dadu tambahan, yang bisa digunakan jika mengaktifkan efek kartu atau karakter tertentu.

Penjelasan Kartu Power King of Tokyo: Duel

Sekarang Penulis akan membahas tentang kartu Power. Di King of New York yang Penulis miliki, salah satu kesulitan dalam membeli kartu adalah harganya yang mahal. Apalagi kalau mau membuang semua pilihan kartu yang ada, harus membuang dua cube Power.

Mekanik tersebut sedikit diperbaiki di King of Tokyo: Duel. Pertama, jika tidak melakukan pembelian, kita otomatis mendapatkan satu tambahan cube. Kedua, kartu yang terletak di sebelah paling kanan (total 3 kartu yang bisa dibeli pemain) selalu lebih murah 1 cube.

Jenis kartunya pun masih sama, di mana dibagi menjadi Keep (aktif terus selama permainan berlangsung) dan Discard (hanya aktif sekali). Beberapa kartu memiliki simbol tertentu, yang akan mengaktifkan token untuk ditempatkan di papan permainan.

Cara Menang di King of Tokyo: Duel

Di King of New York, cara memenangkan permainan adalah dengan mengurangi semua nyawa pemain lain atau mencetak skor Fame hingga 20. Nah, kalau di King of Tokyo: Duel, ada tiga cara untuk menang, yakni:

  1. Nyawa lawan mencapai angka 0
  2. Kedua marker Fame maupun Destruction berada di Spotlight Zone kita (di papan akan ada bagian yang terlihat seperti disorot lampu)
  3. Salah satu antara marker Fame maupun Destruction berada di space Victory kita (space paling dekat dengan kita)

Jadi, pemain akan memulai permainan dengan memilih karakter, lalu mengocok dadu setiap giliran mereka, dengan kesempatan reroll hingga dua kali. Setelah itu, masing-masing akan mengandalkan strategi (dan tentunya keberuntungan) untuk bisa meraih kemenangan dengan salah satu cara di atas.

Setelah Bermain King of Tokyo: Duel

Board Game Geek

Bisa dibilang, King of Tokyo: Duel adalah board game yang mengusung mekanisme tug-of-war alias tarik tambang. Kedua pemain akan saling berusaha menarik marker untuk berada di wilayahnya, baik Fame maupun Destruction.

Tentu, ada sentuhan keberuntungan lemparan dadu yang sudah jadi ciri khas waralaba ini. Meskipun ada kesempatan reroll hingga dua kali, tetap saja kita tidak selalu berhasil mendapatkan mata dadu yang kita butuhkan.

Jika dibandingkan dengan King of New York maupun King of Tokyo versi aslinya, jelas King of Tokyo: Duel memiliki durasi bermain yang relatif cepat. Satu kali duel mungkin hanya butuh waktu 15 hingga 20 menit, sehingga pas dimainkan sembari menanti giliran main EA Sports FC 26.

Adanya cube Power gratisan dan pengurangan cost membuat pembelian kartu Power lebih terjangkau. Walau begitu, bisa dibilang kartu-kartu ini tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan. Masalah serupa juga Penulis temukan di King of New York.

Satu hal yang sangat Penulis sukai dari King of Tokyo: Duel adalah karakternya yang masing-masing memiliki kemampuan unik. Apalagi, skill mereka juga cukup overpowered sehingga pemilihan karakter bisa menentukan pemenang permainan.

Untuk harganya yang 300 ribuan, komponen-komponen yang dimiliki oleh board game ini terbilang solid. Baik papan permainan, token, papan karakter, piringan yang mengindikasikan nyawa kita, hingga dadu memiliki kualitas yang sepadan dengan harganya. Mungkin ketebalan kartunya saja yang menurut Penulis terlalu tipis.

Desain kartu, papan permainan, dan karakter-karakter yang bisa kita gunakan juga mempertahankan ciri khas dari waralaba ini. Penulis sendiri menyukai desain rulebook-nya yang mirip desain cover majalah.

Sepanjang permainan, Penulis merasakan tekanan dalam menentukan jalur strategi mana yang harus diambil untuk meraih kemenangan. Menarik marker ke wilayah kita tak semudah yang terlihat. Mau menghabisi nyawa lawan juga ada dadu Heal.

Namun, itulah salah satu faktor yang membuat board game ini terasa seru dan intens seperti bermain catur. Langkah demi langkah harus dipikirkan secara matang, sembari memantau strategi yang dipilih oleh lawan.

Sama seperti Splendor Duel, entah mengapa Penulis justru jarang menang ketika bermain King of Tokyo: Duel. Padahal, kan Penulis yang menjelaskan peraturannya kepada teman-teman Penulis.

Skor: 8/10

Setelah ini, rasanya board game yang satu ini akan jadi tulisan terpendek dalam seri Koleksi Board Game. Pasalnya, ini adalah permainan yang paling gampang penjelasannya dan semua orang bisa memainkannya dengan mudah. Kebetulan, Penulis juga membelinya di GI. Board game tersebut adalah Vendespil Memory Game.


Lawang, 2 Juni 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018