<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Leila S. Chudori Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/leila-s-chudori/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/leila-s-chudori/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:04:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Leila S. Chudori Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/leila-s-chudori/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Malam Terakhir</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2020 13:28:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan Nadira, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya. Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: Pulang dan Laut Bercerita. Hanya satu buku, Malam Terakhir, yang lumayan susah untuk ditemukan. Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang Islamic Book Fair pada tanggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak bertemu dengan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/"><em>Nadira</em></a>, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/"><em>Pulang</em></a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/"><em>Laut Bercerita</em></a>. Hanya satu buku, <strong><em>Malam Terakhir</em></strong>, yang lumayan susah untuk ditemukan.</p>
<p>Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang <strong>Islamic Book Fair</strong> pada tanggal 1 Maret 2020 di JCC Senayan. Buku ini tergeletak begitu saja di antara buku-buku lainnya dan hanya tersisa satu eksemplar.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p><em>Malam Terakhir</em> merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari sembilan judul dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Konsepnya berbeda dengan buku <em>Nadira</em>.</p>
<p>Sebenarnya ini merupakan cerita-cerita lama yang ditulis pada akhir 80-an dan awal 90-an dengan beberapa penyesuaian. Anehnya, Penulis merasa kalau cerita-ceritanya masih relevan dengan kondisi saat ini.</p>
<p>Sembilan judul yang ada di dalam buku ini adalah:</p>
<ol>
<li>Paris, Juni 1988</li>
<li>Adila</li>
<li>Air Suci Sita</li>
<li>Sehelai Pakaian Hitam</li>
<li>Untuk Bapak</li>
<li>Keats</li>
<li>Ilona</li>
<li>Sepasang Mata Menatap Rain</li>
<li>Malam Terakhir</li>
</ol>
<p>Penulis paling menyukai cerita <em>Adila </em>dan <em>Air Suci Sita</em>. Yang pertama bercerita tentang seorang anak bernama Adila yang hidup bersama ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.</p>
<p>Adila kerap terbawa ke dalam fantasinya sendiri yang ia dapatkan dari buku-buku pemberian ayahnya, mempertanyakan kehidupan yang ia jalani sekarang.</p>
<p>Pada akhirnya Adila mengakhiri nyawanya sendiri dengan menenggak obat nyamuk. Di saat ibunya menemukannya, ia justru menangisi benda-benda mahal yang digunakan Adila sebelum tewas.</p>
<p>Cerita kedua adalah tentang kesetiaan seorang wanita yang harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Ia hampir saja khilaf dan mengencani orang lain, namun masih sanggup menahan diri.</p>
<p>Sayangnya, kesetiaan tersebut tidak dilakukan oleh pasangannya. Hal tersebut membuat munculnya analogi pada cerita Ramayana. Ketika Rama meragukan kesucian Sinta, mengapa Sinta tidak menanyakan hal yang senada kepada Rama?</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Malam Terakhir</h3>
<p>Membaca buku <em>Malam Terakhir </em>bisa dianggap sebagai pelepas dahaga akan karya sastra yang berkualitas karena Penulis tidak tahu kapan Leila akan menelurkan novel terbarunya.</p>
<p>Dengan teknik bercerita yang menarik, kita akan diajak untuk melihat berbagai problematika kehidupan. Di sini, Leila sering mengangkat tema seputar kesetaraan gender.</p>
<p>Perlu diingat kalau pada saat karya ini dibuat, gaung kesetaraan gender belum sekeras sekarang, sehingga tidak berlebihan jika cerita-cerita di dalam buku ini cukup revolusioner pada eranya.</p>
<p>Ada beberapa cerita yang tidak Penulis pahami, namun secara keseluruhan Penulis merasa puas setelah menyelesaikannya. Kumpulan cerpen ini Penulis rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membaca cerita-cerita pendek yang berbobot.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 April 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Malam Terakhir </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-malam-terakhir/">Setelah Membaca Malam Terakhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Laut Bercerita</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Dec 2019 12:20:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu lagi novel dari Leila S. Chudori berhasil penulis tamatkan. Kali ini, penulis membaca novel terbarunya yang berjudul Laut Bercerita. Sama seperti Pulang, novel ini juga berlatar belakang zaman orde baru yang penuh dengan kekerasan, pembungkaman opini, dan kesewenang-wenangan rezim. Topik tersebut memang sedang penulis gemari. Selain karena memang suka dengan sejarah, penulis sedang mencari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Setelah Membaca Laut Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi novel dari Leila S. Chudori berhasil penulis tamatkan. Kali ini, penulis membaca novel terbarunya yang berjudul <strong><em>Laut Bercerita.</em></strong></p>
<p>Sama seperti <em>Pulang</em>, novel ini juga berlatar belakang zaman orde baru yang penuh dengan kekerasan, pembungkaman opini, dan kesewenang-wenangan rezim.</p>
<p>Topik tersebut memang sedang penulis gemari. Selain karena memang suka dengan sejarah, penulis sedang mencari literatur untuk novel penulis sendiri, <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/"><em>Leon dan Kenji</em></a>.</p>
<p><strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Mungkin baru kali inilah penulis membaca sebuah novel yang telah mati duluan di bagian awal novel! Tokoh utama, Laut, diceritakan sedang dibawa oleh sekelompok orang (militer) dan dijatuhkan ke dasar laut.</p>
<p>Setelah membaca bab prolog yang mengejutkan, kita akan lanjut ke bab selanjutnya yang berjudul <strong>Biru Laut</strong>, nama lengkap dari sang tokoh utama.</p>
<p>Seperti dua novel Leila yang sudah penulis baca sebelumnya, alur cerita dari novel ini juga maju mundur walau tidak terlalu dinamis.</p>
<p>Secara bergantian, kita akan melihat Laut ketika masih menjadi mahasiswa dan ketika ia berada di dalam genggaman militer karena dianggap terlalu vokal.</p>
<p>Kita akan melihat bagaimana ia memutuskan untuk menjadi seorang aktivis, bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan, dan melakukan berbagai aksi.</p>
<p>Di sisi lain, di tahun 1998, kita akan melihat bagaimana ia disiksa dengan berbagai cara agar ia mau buka suara tentang gerakannya, hingga akhirnya ia diputuskan untuk dibungkam selamanya.</p>
<p>Setelah bab Biru Laut berakhir, kita akan berpindah ke bab selanjutnya, <strong>Asmara Jati</strong>. Ia adalah adik kandung dari Laut yang sedang mencari kejelasan ke mana kakaknya yang telah lama menghilang.</p>
<p>Pada bab ini, kita akan melihat bagaimana perjuangannya bersama orang-orang yang juga kehilangan anggota keluarganya. Tidak ada keajaiban yang terjadi pada novel ini. Laut, dan beberapa temannya, menghilang selamanya.</p>
<h3>Leila dan Hubungan Seks Para Karakternya</h3>
<p>Ada satu poin yang ingin penulis tuliskan tentang keseluruhan novel Leila yang sudah penulis baca. Mengapa setiap karakternya (utama ataupun sampingan) yang jatuh cinta selalu digambarkan berhubungan seks di luar nikah?</p>
<p>Mungkin penulis terdengar kolot ataupun kuno, tapi menyaksikan itu secara terus-menerus di novel karya Leila membuat penulis bertanya-tanya apakah cinta memang harus selalu berhubungan dengan seks.</p>
<p>Bukannya ingin terlihat sok suci, tapi penulis tidak melihat urgensi adegan tersebut di novel-novelnya. Ingin menggambarkan keintiman antara dua karakter? Bisa jadi, tapi rasa tidak nyaman tetap menggantung di perasaan penulis.</p>
<p>Mungkin akan ada yang menganggap penulis munafik, tapi bagi penulis hubungan seks di luar nikah tetap hal yang terlarang. Seks memang kebutuhan biologis manusia, tapi bukan berarti kita bisa melakukannya hanya karena atas nama cinta.</p>
<p>Melihat banyaknya adegan seks pada novel ini (Biru dengan Anjani, Alex dengan Asmara) dan novel-novel Laila lainnya membuat penulis berpikir, apakah seks bebas sudah menjadi hal biasa dan lumrah sejak dulu?</p>
<h3>Setelah Membaca Novel Ini</h3>
<p>Jika dibandingkan dengan <em>Nadira </em>dan <em>Pulang</em>, novel ini terasa paling lama selesainya. Bukan karena ceritanya yang berat, tapi karena beberapa alasan lain.</p>
<p>Pertama, novel ini menggambarkan adegan penyiksaan secara cukup eksplisit. Penulis, yang termasuk orang tidak tegaan, sering merasa tidak nyaman ketika membaca adegan tersebut karena membayangkannya secara langsung.</p>
<p>Kedua, bagian pertama bab Biru Laut (Seyegan, 1991) terasa sedikit menjemukan karena Leila memperkenalkan karakter-karakternya yang cukup banyak. Tapi, setelah membaca lebih lanjut, penulis jadi memahami mengapa pengenalan karakter itu dilakukan.</p>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung di atas, dinamika maju mundurnya alur cerita pada novel ini terasa kurang. Padahal, bagi penulis itulah kekuatan utama novel-novel Leila.</p>
<p>Terlepas dari kekurangan-kekurangannya tersebut, penulis sangat menikmati novel yang luar biasa ini. Sekali lagi Leila berhasil menggambarkan kekejaman rezim orde baru dengan begitu nyata.</p>
<p>Akhir dari novel ini juga bagi penulis lebih bagus dari novel <em>Pulang</em>. Konklusi ceritanya terasa lebih dapat dan cukup memuasakan, mengingat kita tahu bagaimana karakter Laut sudah mati di awal cerita.</p>
<p>Novel ini penulis rekomendasikan untuk pembaca dewasa yang tertarik dengan sejarah orde baru. Gaya bahasa Leila sungguh sangat bisa dinikmati, hingga teman penulis menganggapnya sebagai salah satu penulis terbaik Indonesia. Penulis setuju dengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.35/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Laut Bercerita </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Setelah Membaca Laut Bercerita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 18:18:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel Nadira, penulis memutuskan untuk membeli dua buku Leila S. Chudori yang lain: Pulang dan Laut Bercerita. Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca Pulang terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini. Apa Isi Buku Ini? Sama seperti novel Nadira, Leila [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel <strong><em>Nadira</em></strong>, penulis memutuskan untuk membeli dua buku <strong>Leila S. Chudori</strong> yang lain: <em><strong>Pulang</strong></em> dan <em><strong>Laut Bercerita</strong></em>.</p>
<p>Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca <em>Pulang </em>terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti novel <em>Nadira</em>, Leila menggunakan gaya bercerita yang maju mundur dan tidak terpusat pada satu karakter saja. Kita akan dibawa melintasi waktu dan tempat sesuai dengan kebutuhan bercerita.</p>
<p>Dari sinopsis yang ada di belakang buku ini, kita akan mengetahui bahwa mayoritas cerita akan berpusat antara tahun 1968 dan 1998. Akan tetapi, kita akan mengetahui apa saja yang terjadi pada rentang waktu tersebut walau dibuat secara tidak kronologis.</p>
<p>Tokoh utama dari novel ini adalah <strong>Dimas Suryo</strong> yang merupakan seorang eksil politik. Ia diburu oleh Orde Baru karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.</p>
<p>Ketika pemerintah tengah gencar-gencarnya memburu mereka, Dimas sedang berada di luar negeri. Ia dan teman-temannya tidak bisa pulang ke negaranya sendiri hingga harus hidup di negeri orang.</p>
<p>Pelabuhan terakhir mereka adalah Paris, Prancis. Di sana, Dimas bertemu dengan seorang wanita bernama <strong>Vivienne Deveraux</strong> yang kelak menjadi istrinya.</p>
<p>Demi bisa bertahan hidup, Dimas dan rekan-rekannya memutuskan untuk mendirikan restoran Indonesia di Paris. Di tengah kehidupan baru mereka, selalu ada dorongan untuk pulang ke Indonesia.</p>
<p>Tiga dekade kemudian, anak Dimas yang bernama <strong>Lintang Utara</strong> berencana untuk pergi ke Indonesia untuk melakukan penelitian tugas akhirnya.</p>
<p>Di Indonesia, Lintang tidak hanya mengetahui kehidupan masa lalu ayahnya. Ia akan menjadi saksi salah satu peristiwa yang paling berpengaruh di Indonesia.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Pulang</em></h3>
<p>Meskipun hanya cerita fiksi, membaca novel <em>Pulang </em>serasa membaca buku sejarah. Penulis merasa sedang membaca sebuah kesaksian tentang bagaimana Orde Baru sewenang-wenang terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh.</p>
<p>Dibandingkan dengan <em>Nadira </em>(yang sebenarnya memang kumpulan cerpen), dinamika perpindahan waktu di novel ini cukup tinggi tapi tidak membuat kita kebingungan.</p>
<p>Kita akan tetap diajak untuk merangkai Puzzle dari kepingan-kepingan cerita yang ada di tiap babnya. Bagi penulis, menyusun kepingan peristiwa inilah bagian yang paling menyenangkan dan membuat novel ini tidak terasa membosankan.</p>
<p>Selain sejarah, kita juga akan melihat bagaimana hubungan antar tokoh, baik antara Dimas dengan teman-temannya, dengan istrinya, dengan anak semata wayangnya, hingga dengan wanita dari masa lalunya yang bernama <strong>Surti Anandari</strong>.</p>
<p>Ceritanya pun mengalir begitu saja dan membuat penulis kesusahan untuk berhenti membacanya. Selalu ada konflik-konflik kecil yang saling berkaitan mulai awal hingga akhir cerita.</p>
<p>Kisah romantis yang dihadirkan pun memikat dan penuh dengan gairah. Cukup vulgar dan sensual, walau tidak sampai seperti Ayu Utami ataupun Eka Kurniawan.</p>
<p>Membaca buku ini seolah semakin membuktikan bahwa cerita sejarah yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah tidak semua benar. Ada rekayasa yang dilakukan untuk menutupi sesuatu yang busuk. Entah bagaimana dengan kurikulum yang sekarang.</p>
<p>Untuk gaya bahasa, entah bagaimana Leila bisa membawakan bahasa yang indah namun tidak terlalu berat. Bagi penulis, buku ini cukup ringan untuk dinikmati.</p>
<p>Kekurangan dari novel ini bagi penulis adalah akhirnya yang terasa anti klimaks. Lintang dan <strong>Segara Alam</strong>, anak dari Surti, hanya digambarkan berhasil keluar dari situasi mencekam di pusat pemerintahan dan menyaksikan tergulingnya Orde Baru.</p>
<p>Ketika membaca bagian akhir ini, penulis sampai berceletuk &#8220;loh, udah gini aja?&#8221; di dalam hati. Rasanya sayang saja pembawaan cerita yang runtut dan detail dari awal buku hanya berakhir seperti itu.</p>
<p>Memang, bagian epilog ketika Dimas akhirnya berhasil &#8220;pulang&#8221; walau dalam keadaan tak bernyawa cukup memuaskan. Tapi sekali lagi, ada bagian yang menggantung ketika tidak dijelaskan apakah Lintang memilih berpaling ke Alam atau kembali ke pelukan kekasihnya.</p>
<p>Tapi secara umum, penulis merasa puas dengan novel ini dan memasukkannya ke dalam salah satu buku favorit.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 November 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Pulang </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Nadira</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 10:38:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[Nadira]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2975</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sebelumnya. Ketika menemukan sebuah buku berjudul Nadira pada tanggal 4 Oktober 2018, penulis merasa penasaran setelah membaca sinopsisnya. Buku ini baru penulis baca akhir-akhir ini setelah tersusun di rak buku selama hampir satu tahun. Entah dorongan apa yang membuat penulis memutuskan untuk memulai membaca buku ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/">Setelah Membaca Nadira</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis belum pernah membaca buku karya <strong>Leila S. Chudori</strong> sebelumnya. Ketika menemukan sebuah buku berjudul <em><strong>Nadira</strong></em> pada tanggal 4 Oktober 2018, penulis merasa penasaran setelah membaca sinopsisnya.</p>
<p>Buku ini baru penulis baca akhir-akhir ini setelah tersusun di rak buku selama hampir satu tahun. Entah dorongan apa yang membuat penulis memutuskan untuk memulai membaca buku ini.</p>
<p>Siapa yang menyangka, penulis langsung jatuh cinta dengan buku ini! Hanya butuh beberapa hari (total sekitar 5 jam) untuk menamatkan kumpulan cerita pendek yang saling terkait ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Ketika membaca sinopsisnya, kita akan mengetahui bahwa buku ini akan berpusat pada karakter bernama Nadira Suwandi. Ada sebelas cerita di dalam buku ini yang sebenarnya saling terhubung satu sama lain.</p>
<p>Nadira merupakan anak terakhir dari pasangan Bramanto Suwandi dan Kemala Yunus. Ia memiliki dua orang kakak, yang perempuan bernama Nina dan yang laki-laki bernama Arya.</p>
<p>Ketika dewasa, Nadira memutuskan untuk bekerja sebagai seorang wartawan. Ia dianggap cemerlang dan sering menjadi andalan kantornya.</p>
<p>Cerita berawal ketika Nadira harus menemukan ibunya tewas gantung diri. Selanjutnya ada beberapa cerita tentang masa kecilnya, hubungannya dengan kakaknya, pekerjaannya sebagai wartawan, hingga kehidupan percintaannya.</p>
<p>Kita akan melihat bagaimana seorang Nadira menjalani hidupnya dengan berbagai drama dalam kehidupannya, bagaimana pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya, hingga pemikiran-pemikirannya yang bebas.</p>
<p>Tidak ada konflik yang terpusat di mana biasanya novel-novel lain membawanya mulai awal cerita. Semuanya mengalir begitu saja dan bisa jadi sangat <em>related </em>dengan kehidpan kita.</p>
<h3>Setelah Membaca Nadira</h3>
<p>Penulis langsung merasa jatuh cinta kepada buku yang dulu berjudul <em>9 dari Nadira</em> ini. Bedanya, buku yang penulis baca ini menambahkan dua cerita tambahan yang semakin memperkuat dunia batin Nadira.</p>
<p>Gaya penulisan Leila yang maju mundur belum pernah penulis temukan pada penulis lainnya. Ketika kita berada di tahun 90-an, tahu-tahu kita digiring ke Belanda pada tahun 60-an. Lantas maju lagi di tahun 80-an sebelum kembali maju ke akhir tahun 90-an.</p>
<p>Awalnya sempat membingungkan, akan tetapi lama-kelamaan penulis merasa terbiasa dengan gaya tersebut. Apalagi, selalu ada tanggal untuk menunjukkan kapan cerita tersebut terjadi.</p>
<p>Sudut pandang bercerita yang digunakan juga berganti-ganti dengan cepat dan tanpa pemberitahuan kita sedang membaca dari sudut pandang siapa.</p>
<p>Novel <em>Game of Thrones </em>juga menggunakan sudut pandang orang yang berbeda-beda. Bedanya, novel tersebut mencantumkan nama karakter yang digunakan sebagai sudut pandang di awal bab. Nadira tidak melakukannya.</p>
<p>Kita harus mampu mencerna sendiri dari sudut pandang siapakah kali ini, apakah dari Nadira, ibunya, Yu Nina, bahkan teman kantornya yang hanya menjadi karakter sekunder.</p>
<p>Leila juga berganti-ganti antara menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Ini seolah menjadi tantangan sendiri untuk pembacanya. Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan menyukainya.</p>
<p>Tidak adanya konflik puncak justru menjadi kekuatan tersendiri. Setiap bab menghadirkan permasalahan yang tidak berlebihan dan bisa terjadi pada siapapun.</p>
<p>Hal tersebut membuat <em>Nadira</em> terasa sangat dekat dan realistis. Penulis seolah bisa melihat dunia lain yang sebelumnya belum pernah dijelajahi melalui buku ini.</p>
<p>Gaya bahasanya sama sekali tidak rumit meskipun Leila cukup mahir dalam memasukkan kata-kata sulit dan merangkainya menjadi sebuah kalimat. Penulis sangat menikmati buku ini hingga rela begadang demi menamatkannya.</p>
<p>Setelah membaca buku ini, penulis langsung memutuskan untuk membeli novel Leila yang lain, <em><strong>Pulang</strong> </em>dan <strong><em>Laut Bercerita</em></strong>. Salah satu teman penulis menjadi pendorong untuk melakukannya.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi setelah membaca novel <em>Nadira </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-nadira/">Setelah Membaca Nadira</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
