Setelah Membaca Malam Terakhir

Semenjak bertemu dengan Nadira, Penulis benar-benar jatuh cinta dengan gaya bercerita Leila S. Chudori. Maka dari itu, Penulis berusaha melengkapi koleksi buku-bukunya.

Penulis bisa dengan mudah mendapatkan dua bukunya yang terkenal: Pulang dan Laut Bercerita. Hanya satu buku, Malam Terakhir, yang lumayan susah untuk ditemukan.

Beruntunglah Penulis menemukannya ketika ajang Islamic Book Fair pada tanggal 1 Maret 2020 di JCC Senayan. Buku ini tergeletak begitu saja di antara buku-buku lainnya dan hanya tersisa satu eksemplar.

Apa Isi Buku Ini?

Malam Terakhir merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari sembilan judul dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Konsepnya berbeda dengan buku Nadira.

Sebenarnya ini merupakan cerita-cerita lama yang ditulis pada akhir 80-an dan awal 90-an dengan beberapa penyesuaian. Anehnya, Penulis merasa kalau cerita-ceritanya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Sembilan judul yang ada di dalam buku ini adalah:

  1. Paris, Juni 1988
  2. Adila
  3. Air Suci Sita
  4. Sehelai Pakaian Hitam
  5. Untuk Bapak
  6. Keats
  7. Ilona
  8. Sepasang Mata Menatap Rain
  9. Malam Terakhir

Penulis paling menyukai cerita Adila dan Air Suci Sita. Yang pertama bercerita tentang seorang anak bernama Adila yang hidup bersama ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Adila kerap terbawa ke dalam fantasinya sendiri yang ia dapatkan dari buku-buku pemberian ayahnya, mempertanyakan kehidupan yang ia jalani sekarang.

Pada akhirnya Adila mengakhiri nyawanya sendiri dengan menenggak obat nyamuk. Di saat ibunya menemukannya, ia justru menangisi benda-benda mahal yang digunakan Adila sebelum tewas.

Cerita kedua adalah tentang kesetiaan seorang wanita yang harus menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Ia hampir saja khilaf dan mengencani orang lain, namun masih sanggup menahan diri.

Sayangnya, kesetiaan tersebut tidak dilakukan oleh pasangannya. Hal tersebut membuat munculnya analogi pada cerita Ramayana. Ketika Rama meragukan kesucian Sinta, mengapa Sinta tidak menanyakan hal yang senada kepada Rama?

Setelah Membaca Buku Malam Terakhir

Membaca buku Malam Terakhir bisa dianggap sebagai pelepas dahaga akan karya sastra yang berkualitas karena Penulis tidak tahu kapan Leila akan menelurkan novel terbarunya.

Dengan teknik bercerita yang menarik, kita akan diajak untuk melihat berbagai problematika kehidupan. Di sini, Leila sering mengangkat tema seputar kesetaraan gender.

Perlu diingat kalau pada saat karya ini dibuat, gaung kesetaraan gender belum sekeras sekarang, sehingga tidak berlebihan jika cerita-cerita di dalam buku ini cukup revolusioner pada eranya.

Ada beberapa cerita yang tidak Penulis pahami, namun secara keseluruhan Penulis merasa puas setelah menyelesaikannya. Kumpulan cerpen ini Penulis rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membaca cerita-cerita pendek yang berbobot.

Nilainya: 4.2/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 5 April 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori