Setelah Membaca Nadira

Penulis belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sebelumnya. Ketika menemukan sebuah buku berjudul Nadira pada tanggal 4 Oktober 2018, penulis merasa penasaran setelah membaca sinopsisnya.

Buku ini baru penulis baca akhir-akhir ini setelah tersusun di rak buku selama hampir satu tahun. Entah dorongan apa yang membuat penulis memutuskan untuk memulai membaca buku ini.

Siapa yang menyangka, penulis langsung jatuh cinta dengan buku ini! Hanya butuh beberapa hari (total sekitar 5 jam) untuk menamatkan kumpulan cerita pendek yang saling terkait ini.

Apa Isi Buku Ini?

Ketika membaca sinopsisnya, kita akan mengetahui bahwa buku ini akan berpusat pada karakter bernama Nadira Suwandi. Ada sebelas cerita di dalam buku ini yang sebenarnya saling terhubung satu sama lain.

Nadira merupakan anak terakhir dari pasangan Bramanto Suwandi dan Kemala Yunus. Ia memiliki dua orang kakak, yang perempuan bernama Nina dan yang laki-laki bernama Arya.

Ketika dewasa, Nadira memutuskan untuk bekerja sebagai seorang wartawan. Ia dianggap cemerlang dan sering menjadi andalan kantornya.

Cerita berawal ketika Nadira harus menemukan ibunya tewas gantung diri. Selanjutnya ada beberapa cerita tentang masa kecilnya, hubungannya dengan kakaknya, pekerjaannya sebagai wartawan, hingga kehidupan percintaannya.

Kita akan melihat bagaimana seorang Nadira menjalani hidupnya dengan berbagai drama dalam kehidupannya, bagaimana pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya, hingga pemikiran-pemikirannya yang bebas.

Tidak ada konflik yang terpusat di mana biasanya novel-novel lain membawanya mulai awal cerita. Semuanya mengalir begitu saja dan bisa jadi sangat related dengan kehidpan kita.

Setelah Membaca Nadira

Penulis langsung merasa jatuh cinta kepada buku yang dulu berjudul 9 dari Nadira ini. Bedanya, buku yang penulis baca ini menambahkan dua cerita tambahan yang semakin memperkuat dunia batin Nadira.

Gaya penulisan Leila yang maju mundur belum pernah penulis temukan pada penulis lainnya. Ketika kita berada di tahun 90-an, tahu-tahu kita digiring ke Belanda pada tahun 60-an. Lantas maju lagi di tahun 80-an sebelum kembali maju ke akhir tahun 90-an.

Awalnya sempat membingungkan, akan tetapi lama-kelamaan penulis merasa terbiasa dengan gaya tersebut. Apalagi, selalu ada tanggal untuk menunjukkan kapan cerita tersebut terjadi.

Sudut pandang bercerita yang digunakan juga berganti-ganti dengan cepat dan tanpa pemberitahuan kita sedang membaca dari sudut pandang siapa.

Novel Game of Thrones juga menggunakan sudut pandang orang yang berbeda-beda. Bedanya, novel tersebut mencantumkan nama karakter yang digunakan sebagai sudut pandang di awal bab. Nadira tidak melakukannya.

Kita harus mampu mencerna sendiri dari sudut pandang siapakah kali ini, apakah dari Nadira, ibunya, Yu Nina, bahkan teman kantornya yang hanya menjadi karakter sekunder.

Leila juga berganti-ganti antara menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Ini seolah menjadi tantangan sendiri untuk pembacanya. Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan menyukainya.

Tidak adanya konflik puncak justru menjadi kekuatan tersendiri. Setiap bab menghadirkan permasalahan yang tidak berlebihan dan bisa terjadi pada siapapun.

Hal tersebut membuat Nadira terasa sangat dekat dan realistis. Penulis seolah bisa melihat dunia lain yang sebelumnya belum pernah dijelajahi melalui buku ini.

Gaya bahasanya sama sekali tidak rumit meskipun Leila cukup mahir dalam memasukkan kata-kata sulit dan merangkainya menjadi sebuah kalimat. Penulis sangat menikmati buku ini hingga rela begadang demi menamatkannya.

Setelah membaca buku ini, penulis langsung memutuskan untuk membeli novel Leila yang lain, Pulang dan Laut Bercerita. Salah satu teman penulis menjadi pendorong untuk melakukannya.

Nilainya: 4.5/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi setelah membaca novel Nadira karya Leila S. Chudori