<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>masa kini Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/masa-kini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/masa-kini/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 09:44:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>masa kini Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/masa-kini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hidup untuk Hari Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2020 13:10:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[saat ini]]></category>
		<category><![CDATA[trauma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal: Masa lalu Masa depan Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain: &#8220;Duh, aku dulu sering di-bully sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221; &#8220;Duh, aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang dalam hidup ini, kita terlalu fokus pada dua hal:</p>
<ol>
<li>Masa lalu</li>
<li>Masa depan</li>
</ol>
<p>Tak jarang masa lalu membebani kita di masa kini. Kejadian yang sudah berlalu ternyata bisa memengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering di-<em>bully </em>sama teman-teman sekolah, makanya sekarang jadi takut mau kenalan sama orang baru.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku dulu sering dipukul sama orangtua, makanya takut mau nikah karena takut anakku mengalami hal yang sama.&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, aku trauma karena dulu pernah diperkosa sama paman sendiri, makanya aku takut sama laki-laki.&#8221;</li>
</ul>
<p>Sebaliknya, masa depan kerap membuat kita merasa cemas. Seringkali, secara berlebihan. Kita taku akan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa mendatang. Contohnya:</p>
<ul>
<li>&#8220;Duh, kalo aku sakit terus mati gimana, ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, negara kok gini-gini amat ya, gimana caranya hidup ya?&#8221;</li>
<li>&#8220;Duh, kalo besok hasil tesku jelek gimana, ya?&#8221;</li>
</ul>
<p>Memikirkan dua hal ini sangat manusiawi. Penulis sampai detik ini juga masih sering melakukannya. Hanya saja, kalau terlalu berlebihan efeknya bisa berbahaya.</p>
<p><strong>Kita jadi lupa untuk menjalani hidup saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Beban-beban di masa lalu (kerap bersifat traumatis) memang susah untuk diobati. Bahkan, seringkali membutuhkan uluran tangan profesional.</p>
<p>Hanya saja, sebisa mungkin jangan sampai kejadian-kejadian di masa lalu <strong>menghambat langkah kita untuk maju</strong>.</p>
<p>Jangan karena pernah diselingkuhi berkali-kali, kita jadi takut untuk jatuh cinta karena tidak mau tersakiti lagi.</p>
<p>Di sisi lain, mencemaskan masa depan sebenarnya bagus sebagai peringatan di sendiri agar diri kita lebih siap menghadapi situasi terburuk.</p>
<p>Hanya saja, <strong>kecemasan itu akan menjadi percuma</strong> kita kitanya malah rebahan sepanjang hari di saat sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk itu, cobalah untuk <strong>menikmati hari ini</strong>, saat ini, detik ini. Rasakan bergulirnya waktu secara konsisten, menyadari bahwa kehadiran kita adalah sesuatu yang nyata.</p>
<p>Coba lupakan sejenak beban masa lalu dan kecemasan yang kerap menggantung di pikiran. Coba renungkan, apa yang bisa kita lakukan sekaran agar hari ini menjadi bermakna.</p>
<p>Coba tingkatkan kesadaran diri (<em>self-awareness</em>), selami batin demi lebih mengenal diri sendiri. Coba syukuri apapun yang selama ini terlewat dan terabaikan.</p>
<p>Coba lakukan itu semua, karena beban masa lalu dan kecemasan masa depan akan menjadi percuma, <strong>jika kita tidak hadir untuk saat ini.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kita semua berbeda. Ada yang hidupnya gitu-gitu aja, ada yang naik turun sekali, ada yang kerap mengalami kejadian luar biasa, ada yang sering merasa jenuh, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kemampuan kita untuk menghadapi masalah pun berbeda-beda. Ada yang tangguh bagaikan karang di pantai, ada juga yang kurang bisa menghadapi masalah.</p>
<p>Yang manapun kita, tidak ada salahnya untuk menikmati hari ini, sepahit apapun. Pasti ada sisi positif dari suatu kejadian yang pernah, sedang, atau akan menimpa kita.</p>
<p>Berat? Pasti. Tapi bisa kok. Yuk, jalani hidup hari ini dengan semangat dan <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang,  17 November 2020, terinspirasi setelah membaca Bab 4 buku filsafat ringan yang judulnya panjang sekali itu.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@seteph">Allef Vinicius</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/">Hidup untuk Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/hidup-untuk-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2018 15:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan. Jalan menatap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan.</p>
<p>Jalan menatap lurus ke depan sama dengan masa kini, jalan mendongak sama dengan masa depan, dan jalan menunduk sama dengan masa lalu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil sekelumit hikmah dari penganalogian ini?</p>
<p>Jalan menunduk, artinya terjebak masa lalu, selalu terbayang-bayang kesalahan yang pernah diperbuat di masa lampau. Takut untuk melangkah maju karena takut melakukan hal yang sama, melakukan penyesalan-penyesalan yang percuma. Akibatnya, kita akan terlampau sering “menabrak” kenyataan hidup yang sedang dijalani dan membuat hidup tertatih-tatih.</p>
<p>Jalan mendongak, artinya memikirkan masa depan. Bukankah bagus menjadi seseorang yang visioner? Iya, namun akan buruk akibatnya jika kita hanya fokus untuk masa depan sehingga mengabaikan hidup di masa kini. Termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang berangan-angan “besok aku akan menjadi orang yang lebih baik” bukan “sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik”. Akibatnya, ia akan tersandung oleh kerikil kehidupan yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan membuatnya berhenti berjalan.</p>
<p>Jalan itu menatap lurus ke depan. Ketika kita berjalan seperti itu, kita tidak hanya melihat apa yang ada di depan kita, melainkan juga apa yang ada di bawah dan atas kita. Fokus dengan yang dikerjakan hari ini (depanmu), namun mengambil pelajaran yang telah kita alami di masa lalu (bawahmu) dan menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan (atasmu). Itulah hakikat yang bisa diambil dari sebuah aktivitas kita sehari-hari, berjalan.</p>
<p>Berjalan itu menatap lurus ke depan, bukan menunduk bukan mendongak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Februari 2018, setelah membuat konten Instagram untuk WTF</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.flickriver.com">www.flickriver.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
