Connect with us

Karakter

Jangan Lupa Bahagia

Published

on

Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.

Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia.

Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat jangan lupa senyum hari ini. Dari sanalah penulis melakukan fusion dan menjadi jangan lupa bahagia.

Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!

Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain

Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.

Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi pendengar yang baik, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.

Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. 

Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil INFJ (IntroversionIntuitionFeelingJudgement) atau Advokat. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe ENFJ atau Protagonis.

Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.

Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari 16personalities.comorang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.

Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Sering Merasa Tidak Bahagia?

Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.

Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.

Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.

Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: bersyukur.

Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.

Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?

Penutup

Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.

Karena itulah, terkadang penulis mengalami kekecewaan ketika yang diharapkan tidak terjadi. Berbuat sesuatu secara ikhlas memang susah luar biasa.

Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.

Kontemplasi yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.

Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.

Sekali lagi, JANGAN LUPA BAHAGIA!!!

 

 

Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.

Foto: Kincir

Karakter

Berhenti Berpikir

Published

on

By

Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk orang yang pemikir. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi overthinking.

Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu.

Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke poin yang kedua. Oleh karena itu, terkadang Penulis memiliki keinginan untuk berhenti berpikir.

Akhirnya Tidak Melakukan Apa-Apa…

Jadi Peragu (krakenimages)

Karena sifat pemikir yang dimiliki, Penulis cenderung lama ketika akan membuat sebuah keputusan. Harus ada variabel sebanyak mungkin agar bisa merasa yakin.

Tidak hanya itu, Penulis juga kerap membayang worst cases apa saja yang bisa terjadi. Harapannya, jika sampai kejadian Penulis sudah siap untuk melakukan antisipasi.

Hanya saja, terkadang apa yang akan dilakukan tidak jadi dilakukan karena terlalu banyak berpikir. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan seterusnya.

Kita mendadak ragu karena membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi dan kita tidak bisa mengatasinya dengan baik.

Segala keraguan tersebut sering menggema di dalam pikiran yang akhirnya menimbulkan rasa takut sebelum mencoba. Dengan kata lain, menyerah sebelum berperang.

Padahal, kebanyakan kekhawatiran yang kita pikiran tidak pernah terjadi. Semua hanya ada di dalam imajinasi kita tanpa ada realisasinya.

Gimana Nanti Kalau…

Bising di Dalam Pikiran (Usman Yousaf)

Sifat terlalu banyak berpikir ini bisa menghambat perkembangan kita sebagai manusia. Ketika hendak memulai hal baru, pikiran-pikiran negatif begitu mendominasi diri.

Contohnya adalah ketika Penulis mencoba untuk menjadi seorang freelancer. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia tersebut, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diri.

Gimana nanti kalau aku enggak bisa menyelesaikan proyek yang diberikan oleh klien?

Gimana nanti kalau aku udah ngejarin proyek tapi klien malah kabur dan enggak bayar kewajibannya?

Gimana nanti kalau udah buat aku ternyata enggak ada klien yang tertarik?

Gimana nanti kalau udah buat terus aku malah enggak bisa mengatur waktu dan baik sehingga proyek akan lewat deadline?

Gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau…

OH PLEASE STOP!!! STOP THINKING!!! JUST DO IT!!! JUST TRY IT!!!

Inilah yang kerap terjadi pada diri Penulis, terus membayangkan sesuatu yang buruk hingga akhirnya tidak jadi melangkah maju ataupun mencoba sesuatu yang baru.

Terkadang, kita perlu berhenti berpikir. Lakukan saja sebisanya dengan usaha semaksimal mungkin. Itu saja sudah cukup.

Yang penting mulai saja dulu dan berhenti berpikir yang tidak penting!!! Hasil dipikir belakangan saja!!!

Penutup

Tidak semua hal bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Banyak hal dalam kehidupan yang membutuhkan pertimbangan matang-matang. Pernikahan, memulai bisnis, resign, dan lainnya.

Ketika memiliki niatan untuk berbuat buruk, mencuri misanya, sebaiknya justru dipikir-pikir terlebih dulu apa saja konsekuensinya agar tidak jadi melakukannya.

Hanya saja, jangan sampai karakter terlalu pemikir ini menghambat langkah kita untuk maju. Coba saja dulu,  mulai saja dulu. Kalau memang ternyata tidak bisa, ya sudah berhenti.

Jangan mau dikuasai oleh kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Jangan mau kalah dengan ketakutan akan terjadinya kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Dalam hidup, terkadang kita perlu berhenti berpikir dan lakukan saja apa yang ingin dilakukan. Berhenti jadi seorang peragu dan tukang khawatir, yang penting mulai saja dulu.

 

 

 

Lawang, 9 Februari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memiliki sifat pemikir berlebihan

Foto: 胡 卓亨

Continue Reading

Karakter

Terlalu Suka Mengendalikan

Published

on

By

Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah gila kontrolnya yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal.

Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang Wage (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe orang pengendali.

Menurut Pembaca, apakah sifat ini termasuk baik? Atau sebaliknya merupakan sifat buruk yang bisa merugikan orang lain?

Mengendalikan Permainan

Ketika bermain game bersama teman-teman, Penulis lebih suka menjadi orang yang mengendalikan permainan daripada ikut dalam permainan itu sendiri.

Contoh mudahnya adalah permainan Werewolf. Hampir di mana pun bermain game ini, Penulis sangat sering menjadi moderatornya. Meskipun harus repot mencatat dan bergerak ke sana kemari, Penulis menikmati tugas ini karena dirinya bisa mengendalikan permainan.

Penulis bisa memilih peran apa saja yang bisa dipilih oleh pemain, bisa menambahkan peran baru yang bahkan tidak ada di versi resminya, dan lain sebagainya.

Menjadi Bank (The Spruce Crafts)

Begitu pun ketika bermain Monopoly. Penulis lebih senang berperan menjadi bank daripada harus ikut berebut lahan dengan pemain lain. Penulis bisa menambahkan aturan sesuka hati, termasuk memberikan bonus kepada pemain.

Ketika sedang berada di kepantiaan, Penulis lebih senang berada di Sie Acara yang pekerjaannya mengatur acara. Intinya, Penulis menyukai hal-hal yang bersifat mengendalikan.

Permasalahannya, terkadang sifat ini melampaui batas hingga membuat susah orang lain.

Agar Sesuai Ekspetasi

Sifat ingin mengendalikan ini, parahnya, bisa sampai masuk ke wilayah privasi orang lain. Ada rasa ingin mengendalikan orang-orang yang ada di sekitar kita agar bertindak seperti keinginan kita.

Contohnya adalah ketika ada kawan dekat yang tiba-tiba berubah. Karena merasa di luar kendali, kita pun menjadi panik dan berusaha untuk mencari tahu dengan paksa kenapa dia berubah.

Selain itu, kita bisa saja terlalu ikut campur terhadap permasalahan orang lain. Misal ada si A pacaran dengan si B. Karena kita tidak setuju, kita berusaha untuk memisahkan mereka.

Tanpa disadari, kita ingin mengendalikan orang agar sesuai dengan ekspetasi kita. Kita tidak ingin orang lain bersikap di luar ekspetasi tersebut. Di sini lah sikap ingin mengendalikan jadi melampaui batas.

Sikap terlalu ingin mengendalikan seperti ini ujung-ujungnya hanya akan berbuah kekecewaan. Kenapa? Karena kita akan menyadari bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan.

Penutup

Hidup ini bukan sebuah video game yang karakter dan dunianya bisa kita kendalikan seenak kita sendiri. Bahkan di dalam game, ada batasan-batasan tentang apa yang bisa kita kendalikan.

Bahkan dalam permainan open world seperti GTA V, pergerakan kita sebatas yang diberikan oleh pihak pengembang game. Kita tidak benar-bener mengontrol seluruh permainan.

Begitu pun dalam hidup. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah diri sendiri.

Menyadari fakta ini membuat kita, terutama Penulis, bisa mengurangi sikap ingin mengendalikan yang terlalu berlebihan.

 

 

 

 

Lawang, 26 Desember 2020, terinspirasi setelah melakukan perenungan diri 

Foto: Diego Marín

Continue Reading

Karakter

Dikit-Dikit Insecure

Published

on

By

Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya insecure. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya.

Ada temen yang pintar, insecure. Ada artis yang pamer mobil baru, insecure. Ada orang yang jago banyak bahasa, insecure. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, insecure.

Hal ini semakin diperparah dengan adanya media sosial. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pengguna hanya memperlihatkan sisi senangnya saja di berbagai platform.

Merasa insecure itu wajar. Tapi jika berlebihan, akan merugikan diri kita sendiri.

Mengabaikan Rasa Syukur

Insecure dalam Oxford Dictionary memiliki makna:

not confident about yourself or your relationships with other people

Perasaan tidak nyaman atau percaya diri sendiri ini kerap terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang dianggap lebih berhasil atau sukses.

Kita jadi berpikir, kok aku enggak bisa kayak dia ya. Padahal, masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Rasanya hampir mustahil ada orang yang isinya hanya kekurangan saja.

Perasaan insecure yang berlebihan juga akan membuat kita mengabaikan rasa syukur. Kita terlalu berfokus dengan apa yang tidak kita punyai dan melupakan apa yang sudah dimiliki.

Dari buku-buku seputar self-care yang telah dibaca, Penulis menemukan banyak sekali kisah orang-orang yang hidupnya jauh lebih sengsara.

Hal ini semakin diperkuat ketika Penulis membaca sejarah-sejarah dunia yang kisahnya kerap memilukan hati.

Penulis harusnya bersyukur tidak perlu menjadi tawanan perang, tidak tahu siapa orangtua kandungnya, mengalami trauma yang begitu berat, dan lain sebagainya.

Itu saja sudah cukup untuk dijadikan bahan syukur kita agar tidak mudah merasa insecure.

Memanfaatkan Rasa Insecure

Seharusnya, rasa insecure bisa dijadikan bahan untuk memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi. Insecure akan menjadi percuma jika kita hanya mendiamkannya saja.

Melihat teman yang lebih pintar, kita jadi semangat belajar. Percuma merasa insecure tapi kitanya malah memilih rebahan sambil main HP.

Melihat rekan kerja membeli smartphone baru, kita jadi semangat untuk mengatur keuangan lebih baik lagi atau mencari penghasilan sampingan. Jangan cuma dijadikan sebagai bahan rasan-rasan.

Seperti yang pernah Penulis singgung di beberapa tulisan sebelumnya, semua kejadian yang ada di dunia ini adalah netral. Persepsi kita yang menentukan hal tersebut baik atau buruk.

Melihat kesuksesan atau kemampuan orang lain yang di atas kita bisa dilihat sebagai hal yang baik dengan menjadikannya motivasi. Menjadi buruk apabila membuat kita terpuruk.

Menghilangkan (atau Minimal Mengurangi) Insecure

Jika perasaan insecure susah dihilangkan, coba untuk puasa media sosial semampunya. Selama itu, coba untuk lebih banyak melihat ke diri sendiri.

Latih self-awareness melalui berbagai sumber. Ada banyak video di YouTube ataupun aplikasi yang akan membantu kita mengenali diri sendiri.

Perbanyak rasa syukur juga sangat membantu. Coba ingat apa saja yang selama ini kita lupakan untuk disyukuri, entah itu anggota tubuh yang lengkap, masih diberi hidup, memiliki keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya.

Lingkungan juga sangat memengaruhi. Circle yang selalu menjatuhkan kita akan membuat kita menjadi susah untuk percaya bahwa diri ini bisa lebih baik lagi.

Kalau lingkungan teman yang seperti itu, kita bisa meninggalkannya. Bagaimana dengan lingkungan keluarga? Cobalah untuk mencari orang-orang yang akan selalu mendukungmu dan memberimu kekuatan. Pasti ada orang seperti itu, Penulis yakin.

Penutup

Sekali lagi, merasa insecure itu sangat manusiawi. Penulis pun sampai sekarang masih sering merasakannya. Akan tetapi, kita bisa menggunakan perasaan tersebut untuk tumbuh atau justru menjatuhkan kita.

Pilihan ada di tangan kita sepenuhnya.

 

 

Lawang, 13 November 2020, terinspirasi dari mudahnya generasi sekarang untuk merasa insecure

Foto: Nate Neelson

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan