<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Microsoft Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/microsoft/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/microsoft/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Nov 2021 15:39:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Microsoft Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/microsoft/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Metaverse adalah Distopia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2021 15:09:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[distopia]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[metaverse]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5394</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect. Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram. Tidak hanya itu, Zuckerberg juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect.</p>



<p>Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5396" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mark Zuckerberg dan Meta (<a href="https://www.theverge.com/2021/10/28/22745234/facebook-new-name-meta-metaverse-zuckerberg-rebrand">The Verge</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, Zuckerberg juga menjelaskan konsep <em><strong>metaverse</strong> </em>yang akan menurutnya akan menjadi lembaran baru untuk dunia internet. Bahkan, ia juga mengatakan kalau Facebook akan menjadi perusahaan <em>metaverse.</em></p>



<p>Menyusul Facebook, raksasa teknologi Microsoft juga mengumumkan akan membuat <em>metaverse </em>versinya sendiri. Mereka akan menerapkannya di aplikasi Microsoft Teams dan di masa depan akan diterapkan di konsol Xbox.</p>



<p>Sayangnya, Penulis melihat <em>metaverse </em>ini sebagai sesuatu yang patut untuk dikhawatirkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu <em>Metaverse</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5398" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Satya Nadella (<a href="https://www.windowscentral.com/microsoft-ceo-satya-nadella-discusses-metaverse-and-2021-work-norms">Windwos Central</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara mudah, <em>metaverse </em>adalah sebuah dunia virtual di mana penggunanya bisa berinteraksi di dalamnya sama seperti di dunia nyata. Atau seperti kata CEO Microsoft Satya Nadella:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;The metaverse enables us to embed computing into the real world and to embed the real world into computing, bringing real presence to any digital space.&#8221;</p><p>&#8220;Metaverse memungkinkan kita untuk menanamkan komputasi ke dunia nyata dan untuk menanamkan dunia nyata ke dalam komputasi, membawa kehadiran nyata ke ruang digital mana pun.&#8221;</p></blockquote>



<p>Dengan mewabahnya pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan agar karyawannya bekerja secara <em>remote </em>dari rumah. Bahkan, hal ini telah menjadi sesuatu yang normal dan dianggap lumrah.</p>



<p>Kita bisa melakukan rapat di kamar hanya dengan bermodalkan laptop dan berinteraksi dengan teman-teman kantor lainnya. <em>Metaverse </em>akan membawa kita melampaui hal tersebut.</p>



<p><em>Metaverse </em>akan membuat kita merasa berada di dalam sebuah ruang digital dengan alat bantu seperti <em>headset </em>VR. Kita juga bisa membuat avatar 3D sebagai representasi kita di dunia virtual tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5397" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sword Art Online (<a href="https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/chiize/teknologi-fulldive-sao">Duniaku</a>)</figcaption></figure>



<p>Contoh mudah untuk membayangkan <em>metaverse </em>adalah melalui film <em><strong>The Matrix</strong></em> dan <em><strong>Ready Player One </strong></em>atau anime <em><strong>Sword Art Online</strong></em>. </p>



<p>Penulis tidak pernah menonton <em>Sword Art Online,</em> tapi tahu kalau ceritanya adalah sekelompok remaja yang bermain gim dengan menggunakan alat yang membuat kita merasa benar-benar berada di dalam gim tersebut.</p>



<p>Bahkan, sebenarnya ada beberapa gim VR yang membuat kita berada di dalam dunia digital sungguhan seperti <em>Beat Saber</em> dan <em>Half-Life Alyx.</em> Tidak hanya dari sisi <em>software</em>, <em>hardware </em>pendukung pun semakin berkualitas.</p>



<p>Kedengarannya <em>metaverse </em>adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan? Masa depan teknologi yang terlihat begitu cerah. Sayangnya Penulis tidak bisa berpikir seperti itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Metaverse </em>dan Distopia yang Dibuatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5399" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Novel Snow Crash (<a href="https://reclaimthenet.org/snow-crash-tv-series-hbo/">Reclaim the Net</a>)</figcaption></figure>



<p>Istilah <em>metaverse </em>dianggap pertama kali muncul dari novel berjudul <em><strong>Snow Crash</strong> </em>karangan Neal Stephenson yang rilis pada tahun 1992. Sayangnya, novel tersebut bertema distopia dan itu bukan pertanda baik.</p>



<p>Menurut KBBI, distopia adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan, lawan dari utopia&#8221;</p></blockquote>



<p>Di dalam novel tersebut, Stephenson menyebutkan bahwa, &#8220;… metaverse itu sendiri adalah tempat yang membuat ketagihan, penuh kekerasan, dan memungkinkan dorongan terburuk kita.”</p>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, tanpa <em>metaverse </em>pun kita sudah begitu ketagihan menghabiskan waktu di dunia maya, entah karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>, nonton YouTube, hingga bermain gim.</p>



<p>Bayangkan jika kita bisa merasakan apa yang kita dapatkan di media sosial, seolah-olah kita sedang berada di sana secara langsung, apa malah tidak membuat kita semakin betah dan ketagihan?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Media Sosial Itu Sangat Adiktif (<a href="https://www.healthline.com/health/social-media-addiction">Healthline</a>)</figcaption></figure>



<p>Banyak yang menjadikan media sosial sebagai &#8220;pelarian&#8221; dari dunia nyata. Mau pusing atau ada masalah seperti apapun, media sosial seolah selalu berhasil mengalihkan pikiran kita ke tempat lain.</p>



<p>Dengan adanya <em>metaverse</em>, kita benar-benar bisa kabur ke dunia virtual dan merasakannya secara nyata. Mungkin jika sesekali masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana jika kita menjadi ketergantungan terhadapnya?</p>



<p>Selain itu, konsep hidup di dunia maya telah terbukti melahirkan orang-orang <em>toxic </em>yang merasa berani karena identitas mereka yang asli tertutupi oleh akun maya mereka. Jika mereka bisa muncul dengan avatar yang anonim, bukan tidak mungkin ke-<em>toxic</em>-an mereka akan semakin menjadi-jadi.</p>



<p>Bagaimana jika karena seringnya kita mengunjungi dunia virtual ini, kita akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana dunia nyata dan dunia virtual? Bagaimana jika kita menolak hidup di dunia nyata dan memilih hidup di dunia &#8220;impian&#8221; yang tidak nyata?</p>



<p>Mungkin semua yang diutarakan di atas terdengar berlebihan dan terlalu paranoid, tapi Penulis merasa hal-hal tersebut bisa benar-benar terjadi, terutama jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5401" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gambaran Avatar Kita di Metaverse (<a href="https://techcrunch.com/2021/11/02/microsoft-teams-gets-3d-animated-avatars-because-metaverse/">TechCrunch</a>)</figcaption></figure>



<p>Facebook dan Microsoft jelas memiliki sumber daya yang lebih cukup untuk membangun <em>metaverse </em>mereka sendiri. Mau diiklankan dengan bahasa seindah apapun, Penulis tetap sedikit merasa was-was dengannya.</p>



<p>Menurut Penulis pribadi, daripada harus membuat dunia virtual terasa nyata, <strong>kenapa kita tidak berusaha untuk memperbaiki dunia nyata yang sudah ada? </strong></p>



<p>Apakah dunia ini sudah begitu rusak sehingga kita perlu membuat dunia virtual terasa begitu indah? Apakah memang Bumi tempat kita tinggal ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Serusak Itukah Realita Kita? (<a href="https://id.pinterest.com/pin/531776668475809237/">Pinterest</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, potensi <em>metaverse </em>yang bisa membuat penggunanya ketagihan juga membuat Penulis khawatir. <em>Metaverse </em>sangat bisa untuk menjadi tempat pelarian kita dari masalah yang dihadapi di dunia nyata.</p>



<p>Menjadikan dunia maya dan <em>metaverse </em>sebagai pelarian benar-benar ide yang sangat berbahaya. Kita tidak bisa terus kabur dan lari dari masalah. Masalah pasti akan selalu hadir, bahkan di dunia virtual sekalipun.</p>



<p>Penulis tidak tahu bagaimana masa depan <em>metaverse </em>ini selama beberapa tahun ke depan. Beberapa orang sudah menyebutkan kegelisahannya yang mirip dengan yang Penulis rasakan.</p>



<p>Kehadiran <em>metaverse </em>jelas tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri kita agar jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi-teknologi distopia tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 3 November 2021, terinspirasi setelah membaca beberapa artikel seputar <em>metaverse</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">Vice</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.news18.com/news/buzz/mark-zuckerbergs-metaverse-inspired-by-dystopian-novel-snow-crash-twitter-thinks-so-4378457.html">Mark Zuckerberg&#8217;s &#8216;Metaverse&#8217; Inspired by Dystopian Novel &#8216;Snow Crash&#8217;? Twitter Thinks So (news18.com)</a></li><li><a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">The Metaverse Has Always Been a Dystopian Idea (vice.com)</a></li><li><a href="https://nianticlabs.com/blog/real-world-metaverse/">The Metaverse is a Dystopian Nightmare. Let’s Build a Better Reality. – Niantic (nianticlabs.com)</a></li><li><a href="https://medium.com/highstreet-market/all-the-different-ways-the-metaverse-is-being-built-today-c791245b4da4">All the Unique Ways the Metaverse is Being Built Today | by Travis Wu | Highstreet | Medium</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bill Gates dan Sumpah Pemuda</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2018 11:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Gates]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1555</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kenapa di saat hari peringatan sumpah pemuda penulis malah menulis tentang tokoh asing? Apa Indonesia tidak memiliki pemuda yang pantas untuk dijadikan judul? Kenapa harus Bill Gates? Sederhana sih alasannya, karena Bill Gates memiliki tanggal lahir yang sama meskipun beda tahun dengan peringatan sumpah pemuda. Pilihan Jalan Hidup Bill Gates William Henry “Bill” Gates III [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates dan Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa di saat hari peringatan sumpah pemuda penulis malah menulis tentang tokoh asing? Apa Indonesia tidak memiliki pemuda yang pantas untuk dijadikan judul? Kenapa harus Bill Gates?</p>
<p>Sederhana sih alasannya, karena Bill Gates memiliki tanggal lahir yang sama meskipun beda tahun dengan peringatan sumpah pemuda.</p>
<p><strong>Pilihan Jalan Hidup Bill Gates</strong></p>
<p><strong>William Henry “Bill” Gates III </strong>lahir di Seatle, Washington, Amerika Serikat, pada tanggal 28 Oktober 1955, tahun yang sama dengan <a href="http://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs</a>. Pada usia ke 20 ia telah mendirikan Microsoft bersama rekannya, almarhum Paul Allen.</p>
<p>Terkenal sebagai tokoh teknologi, mungkin banyak yang belum tahu bahwa awalnya orang tua Bill Gates menginginkan anaknya menjadi seorang pengacara. Tapi seperti yang kita ketahui, Gates memutuskan untuk tidak menuruti permintaan orangtuanya dan<strong> lebih memilih jalan hidupnya sendiri</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1557" style="width: 1018px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1557" class="size-full wp-image-1557" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M.jpg" alt="" width="1008" height="435" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M.jpg 1008w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-300x129.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-768x331.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/large_lIChSUew-4_dE2cdLaptHxn_8y8_65n7fIgxk-XZ-M-356x154.jpg 356w" sizes="(max-width: 1008px) 100vw, 1008px" /><p id="caption-attachment-1557" class="wp-caption-text">via weforum.org</p></div></p>
<p>Coba sekarang bayangkan seandainya <strong>Microsoft</strong> tidak pernah ada, apakah yang akan terjadi?</p>
<p><a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/andai-steve-jobs-masih-hidup/">Apple</a> akan memonopoli dunia? Ataukah ada perusahaan baru yang akan menggantikan posisi Microsoft? Apakah kita akan mengerjakan tugas menggunakan <em>Lotus</em>, perangkat <em>office</em> buatan IBM?</p>
<p>Banyak sekali yang dapat terjadi seandainya Bill Gates mengikuti keinginan orang tuanya. Coba kita berimajinasi seandainya Bill Gates menjadi seorang pengacara.</p>
<p>Bayangkan seorang Bill Gates berada di meja sidang, sedang membela seorang terdakwa. Bayangkan ia sedang mendebat pihak yang menuntut di hadapan hakim.</p>
<p>Mungkin dia tidak akan terkenal dan sesukses sekarang apabila hanya menjadi seorang pengacara, dibandingkan menjadi seorang bos Microsoft.</p>
<p><strong>Hidup adalah Pilihan, Pemuda Harus Bisa Memilih</strong></p>
<p>Kehidupan milik kita adalah sepenuhnya pilihan kita. Orangtua boleh memberikan masukan, namun keputusan tetap di tangan kita sebagai yang menjalani hidup.</p>
<p>Bill Gates memilih <em>dropout</em> dari <strong>Harvard</strong> untuk membuat perusahaan. Bukan berarti kita harus <em>dropout </em>juga sepertinya. Poinnya adalah bersungguh-sungguh dengan pilihan yang diambil, jalan manapun yang diambil.</p>
<p><div id="attachment_1558" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1558" class="wp-image-1558 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="1024" height="512" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/o-HARVARD-UNIVERSITY-BUILDING-facebook.jpg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1558" class="wp-caption-text">via collegeconsensus.com</p></div></p>
<p>Di hari sumpah pemuda ini, masih banyak pemuda yang galau dalam menentukan pilihannya. Jangankan pilihan hidup, <strong>memilih mana pasangan saja sudah membuat dirinya galau sepanjang hari</strong>.</p>
<p>Lebih parahnya jika bertemu dengan pemuda lain yang berbeda pilihan. Kita akan merasa paling benar dan kelompok lain pasti salah. Dengan mudahnya kita terpecah belah hanya karena berbeda pilihan.</p>
<p>Bagaimana bisa menjadi pemuda yang bisa mengubah bangsa ini, jika <strong>mudah terhalang oleh masalah sepele</strong>. Sadarlah bahwa kita adalah generasi penerus bangsa, yang akan menjalankan negara ini beberapa tahun mendatang.</p>
<p>Bagaimana bisa menjadi pemuda yang akan memimpin bangsa ini, jika <strong>perbedaan kecil saja sudah menyulut pertikaian</strong>. Sebagai sesama anak bangsa, sudah sepatutnya kita bahu-membahu membangun bangsa.</p>
<p><div id="attachment_1581" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1581" class="size-full wp-image-1581" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607.jpg" alt="" width="750" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/1858114607-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1581" class="wp-caption-text">via nasional.kompas.com</p></div></p>
<p><strong>90 tahun yang lalu</strong>, di bawah ancaman penjajah, para pemuda mengucapkan sumpah yang mempersatukan mereka. Apakah kita mau mengecewakan mereka yang telah susah payah mempersatukan kita?</p>
<p>Latihlah mulai sekarang <a href="http://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">untuk bisa memilah</a>, mana masalah yang memang harus dipikirkan dan mana masalah yang harus diabaikan. Pemuda yang mengucapkan sumpah 90 tahun lalu tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang remeh temeh .</p>
<p>Latihlah mulai sekarang untuk bisa menghargai perbedaan yang ada. Janganlah jadi pemuda yang dengan mudahnya merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan pendapat.</p>
<p>Jadilah pemuda yang berani mengambil pilihan, jadilah pemuda yang berani mengambil resiko. Jadilah pemuda penggerak negara, jadilah pemuda yang tetap menghayati makna sumpah pemuda.</p>
<p>Selamat memperingati <strong>Sumpah Pemuda</strong>, dan selamat ulang tahun untuk <strong>Bill Gates</strong>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, pernah dimuat pada oyibanget.com dengan judul Sumpah Pemuda dan Bill Gates</p>
<p>Photo: <a href="http://cnbc.com">cnbc.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates dan Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2018 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Satya Nadella]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1491</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelum melihat buku ini di Togamas Parahyangan, Bandung, penulis tidak tahu bahwa Steve Ballmer selaku CEO dari Microsoft telah diganti oleh orang India bernama Satya Nadella. Karena penasaran dengan Micosoft dan perkembangannya akhir-akhir ini, penulis memutuskan untuk membeli buku ini. Apa Isi Buku Ini? Secara garis besar, buku ini menerangkan tentang transformasi budaya Microsoft sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/">Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum melihat buku ini di Togamas Parahyangan, Bandung, penulis tidak tahu bahwa Steve Ballmer selaku CEO dari Microsoft telah diganti oleh orang India bernama Satya Nadella. Karena penasaran dengan Micosoft dan perkembangannya akhir-akhir ini, penulis memutuskan untuk membeli buku ini.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Secara garis besar, buku ini menerangkan tentang transformasi budaya Microsoft sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Bagaimana sang CEO berusaha memadukan antara teknologi dan misi kemanusiaan untuk mengubah dunia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah rasa penasaran bagaimana Microsoft, yang menjadi raksasa karena Windowsnya, menghadapi era <em>post-computer </em>di mana masyarakat dunia lebih cenderung menggunakan <em>smartphone </em>dibandingkan komputer. Penulis berharap menemukan jawabannya pada buku ini.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Dua bab pertama menceritakan seorang Satya Nadella dari kecil hingga bisa bergabung dengan Microsoft. Sebelum diangkat menjadi CEO, Nadella memimpin tim untuk mengembangkan sistem <em>cloud </em>yang dimiliki oleh Microsoft.</p>
<p>Pada bab ketiga dan keempat, Nadella ingin menjabarkan keinginannya untuk mengubah budaya perusahaan. Salah satunya adalah antar departemen yang sering terlihat seolah bekerja sendiri-sendiri.</p>
<p>Bab kelima menjelaskan tentang hubungan Microsoft dengan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya, seperti Apple, Google, hingga Amazon. Empat bab selanjutnya menjelaskan tentang masa depan Microsoft dan dunia teknologi pada umumnya.</p>
<p>Perkembangan teknologi yang terjadi sangat cepat dilihat oleh Nadella sebagai potensi untuk membantu lebih banyak orang. Bahkan, bisa membantu perekonomian sebuah negara seperti yang ia tuturkan pada bab terakhir.</p>
<p>Lantas, apakah pertanyaan penulis yang terdapat pada paragraf pertama terjawab? Jawabannya, iya. Di bawah kepemimpinan Nadella, Microsoft mulai fokus pada beberapa teknologi kunci seperti <em>artificial intelligence</em> dan <em>cloud computing</em>.</p>
<p>Sang CEO mengubah arah perusahaan sehingga tidak lagi berpusat pada <em>Personal Computer</em> atau PC.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Bagi penggemar dunia teknologi, terutama tentang orang-orang yang berada di belakangnya, buku ini tentu akan menjadi literatur yang menarik untuk dibaca. Banyak istilah teknis yang tidak dipahami oleh orang awam (seperti <em>quantum computing)</em>, namun Nadella berupaya menjelaskannya dengan sederhana.</p>
<p>Buku ini ditulis dengan gaya autobiografi, walaupun Nadella lebih banyak menjelaskan tentang hal-hal teknis. Yang penulis senangi dari buku ini adalah bagaimana Nadella mengajak kita memandang masa depan teknologi bukan hanya sebagai alat, namun sebagai solusi dari segala permasalahan yang ada di dunia ini.</p>
<p>Kekurangan buku ini menurut penulis adalah tidak adanya sub-bab pada tiap babnya. Hal tersebut membuat penulis terkadang bingung karena beberapa tulisan terlalu melebar ke mana-mana, sehingga kita perlu membaca ulang untuk paham. Terkadang, pesan yang ingin disampaikan juga ditulis dengan agak <em>njelimet </em>sehingga membuat kita bingung.</p>
<p>Yang jelas, buku ini akan memperluas cakrawala pikiran kita dalam memandang masa depan dunia teknologi.</p>
<p>Nilainya <strong>3.8/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 15 Oktober 2018, terinspirasi setelah menambatkan buku Hit Refresh tulisan Satya Nadella</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/">Transformasi Budaya Microsoft Pada Hit Refresh</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/transformasi-budaya-microsoft-pada-hit-refresh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
