Connect with us

Produktivitas

Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk

Published

on

Semenjak ada TikTok, banyak platform yang berlomba-lomba membuat konsep layanan yang serupa, di mana muncul video dengan durasi yang relatif singkat dan memiliki algoritma candu agar user terus melakukan scrolling.

Contoh mudahnya adalah Instagram dengan Reels-nya dan YouTube dengan Shorts-nya. Bahkan, terkadang konten yang berada di dua layanan tersebut adalah konten yang telah di-publish di TikTok.

Karena konsepnya yang unlimited scroll, kita pun kerap tak sadar hingga lupa waktu kalau sudah melakukan scrolling dan kerap dijadikan pelarian ketika kita sedang ada masalah atau sedang stres. Hanya saja, aktivitas ini bisa dibilang sebagai pelarian yang buruk.

Data Pribadi Kita “Dijual”

Seperti yang sudah pernah Penulis bahas di tulisan Dilema (Media) Sosial Kita, kita sudah dijadikan komoditas oleh para perusahaan media sosial tersebut. Data pribadi kita digunakan untuk “dijual” kepada pengiklan yang ingin mendapatkan target pasar terbaik.

Dari mana media sosial bisa mendapatkan data tersebut? Dari aktivitas kita sehari-hari ketika menggunakan media sosial. Media sosial dapat mengetahui postingan apa yang kita beri like ataupun postingan yang membuat kita betah untuk melihatnya dalam waktu yang lama.

Artinya, semakin lama kita menggunakan media sosial, semakin banyak pula data yang bisa mereka kumpulkan untuk menyimpulkan apa behaviour kita. Ketika behaviour kita sudah diketahui, mereka bisa memutuskan konten iklan apa yang cocok untuk kita.

Fitur-fitur short video yang bisa di-scroll tanpa batas tersebut, besar kemungkinan digunakan untuk mengumpulkan data behaviour tersebut dengan lebih masif lagi. Algoritma candu yang dimiliki pun akan terus menyesuaikan diri untuk menampilkan video-video yang kita sukai agar kita semakin lama menggunakannya.

Apalagi, kegiatan scrolling tersebut dapat menghabiskan waktu tanpa kita sadari karena seolah tidak ada habisnya (dan memang tidak ada habisnya). Sebagai aktivitas yang mudah dilakukan, kita akan begitu terbuai dan terlena dengan fitur ini.

Permasalahannya, kita (termasuk Penulis) kerap menjadikan aktivitas ini sebagai “pelarian” ketika sedang lelah, ada masalah, stress, dan lain sebagainya. Menurut Penulis, berdasarkan pengalamannya sendiri, ini adalah pelarian yang sangat buruk jika tidak dibatasi.

Pikiran yang Entah Lari ke Mana

Penulis menemukan istilah mindless scrolling yang menggambarkan aktivitas kita yang memang melakukan scrolling di layar smartphone, tetapi pikiran kita kerap “kosong” dan tidak mindfulness.

Berdasarkan video yang diunggah oleh GCFLearnFree.org di YouTube, aktivitas ini dianggap sama dengan sebuah percobaan pada seekor tikus. Di dalam kandang, si tikus diberi sebuah tombol yang sesekali mengeluarkan makanan.

Karena mengetahui bahwa jika tombol yang ia tekan akan menghasilkan makanan, walaupun tidak tentu berapa kali harus ditekan, si tikus pun akan terus menekan tombol terus hingga perutnya merasa kenyang.

Kita pun seperti itu. Ketika sedang melakukan scrolling di media sosial, kita akan terus melakukan scrolling sampai merasa menemukan apa yang kita inginkan. Terkadang kita menemukan konten yang kita sukai, baik konten lucu, menghibur, edukatif, dan lain sebagainya.

Setelah menemukannya, kita akan kembali melanjutkan aktivitas tersebut sampai menemukannya lagi. Begitu seterusnya. Karena berharap menemukan sesuatu yang kita sukai lagi, di sanalah mindless scrolling dimulai.

Bedanya dengan ketika kita nonton video biasa seperti di YouTube, kita tahu apa yang kita tonton. Fitur short video ini menghadirkan elemen “kejutan” karena kita tidak tahu video apalagi yang akan kita tonton selanjutnya.

Ini yang menjadi alasan lainnya mengapa fitur ini membuat kita betah menggunakannya. Kita dibuat penasaran dan bertanya-tanya, video apa yang akan muncul selanjutnya?

Alasan Mengapa Mindless Scrolling Jadi Pelarian yang Buruk

Media sosial yang menyediakan fitur infinity short video bisa dianggap berbahaya jika penggunanya tidak tahu kapan harus berhenti melakukan scrolling. Mungkin kita akan berhenti ketika merasa bosan, tapi ketika merasa bosan kita akan mulai melakukan scrolling lagi. Lingkaran setan.

Akibatnya, kita pun menghabiskan waktu begitu banyak di depan layar tanpa disadari. Yang awalnya cuma niat cek setengah jam, membengkak menjadi tiga jam. Sifat adiktif yang dimiliki fitur ini memang benar-benar mengerikan.

Karena kecanduan yang diakibatkan oleh scrolling media sosial ini, kita pun akan merasa bingung jika kita tidak memegang smartphone. Rasanya seolah kita takut ketinggalan suatu informasi walaupun seringnya kita melupakan apa yang sudah kita lihat ketika scrolling.

Nah, tidak bisa mengingat apa yang kita lihat ketika scrolling adalah salah satu ciri mindless scrolling. Ketika ditanya apa video pendek yang paling berkesan atau bermanfaat satu minggu yang lalu, kita pasti akan kesulitan untuk mengingatnya.

Mindless scrolling bisa membuat hidup jadi berantakan. Bayangkan ketika bangun pagi kita langsung scrolling. Kalau kelamaan, kita bisa telat pergi ke kantor atau sekolah. Ketika mau tidur, scrolling lagi sampai dini hari dan akibatnya telat bangun pagi.

Karena sudah membuang waktu, banyak pekerjaan yang seharusnya diselesaikan jadi tertunda. Ketika menunda pekerjaan, kita merasa tidak produktif dan merasa bersalah. Karena merasa bersalah, mood jadi memburuk dan memutuskan kabur dengan cek media sosial lagi.

Inilah alasan mengapa mindless scrolling menjadi pelarian yang sangat buruk. Aktivitas ini membuang waktu kita yang berharga dan bisa menimbulkan perasaan bersalah yang menyiksa mental, tanpa benar-benar merasa terhibur atau mendapatkan manfaat.

Penutup

Penulis benar-benar merasa kalau mindless scrolling adalah aktivitas yang berbahaya jika tidak dibatasi. Oleh karena itu, Penulis memasang timer dalam satu hari berapa lama boleh menggunakan media sosial.

Penulis sudah menghapus aplikasi TikTok karena merasa lebih banyak buruknya daripada positifnya bagi diri Penulis. Namun, masih ada Instagram Reels dan YouTube Shorts. Oleh karena itu, Penulis beri batasan masing-masing aplikasi sebanyak 15 menit per hari.

Kadang, Penulis memberikan tambahan waktu sebanyak 10 menit. Tak jarang juga Penulis “nakal” dan memutuskan untuk tidak memberi batasan waktu untuk hari ini. Akan tetapi, Penulis benar-benar berusaha untuk membatasi penggunaannya dalam keseharian.

Bagaimana dengan mindless scrolling sebagai bentuk pelarian? Penulis sangat menyarankan untuk mencari pelarian lain yang lebih baik. Olahraga, meditasi, menulis jurnal, mendekatkan diri ke Tuhan, bersosialisasi, ada banyak cara pelarian yang sebenarnya jauh lebih baik dan bermanfaat.

Kalau Penulis, biasanya Penulis akan beralih ke menulis blog, membaca, mendesain board game, membersihkan kamar, main game (jangan berlebihan juga!), dan lain sebagainya. Penulis bahkan memilih untuk diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri ketika merasa bosan karena tidak bisa mengecek smartphone-nya.

Penulis merasa sangat yakin, pelarian dengan mindless scrolling lebih banyak negatifnya. Lebih baik, alokasi waktunya kita alihkan ke sesuatu yang lebih bermanfaat, yang bisa membuat diri ini menjadi lebih baik lagi.


Lawang, 21 Oktober 2021, terinspirasi setelah menyadari kalau mindless scrolling adalah pelarian yang sangat buruk

Foto: Solen Feyissa on Unsplash

Sumber Artikel:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Produktivitas

Healing dengan Menjadi Produktif

Published

on

By

Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa healing dengan cara yang unik: Menghancurkan barang. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang safety.

Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada nyinyir. Banyak yang menawarkan alternatif healing yang lebih rasional, mulai beli makan, jalan-jalan, beribadah, menulis jurnal, pergi ke psikolog, dan lain sebagainya.

Beberapa netizen menyebutkan betapa berbahayanya healing dengan melampiaskan kemarahan seperti itu. Lucunya, ada yang bilang kalau marah harus pergi ke sebuah tempat, pilih barang yang ingin dihancurkan, terus pakai pakaian tertentu, marahnya keburu hilang.

Penulis sendiri merasa tidak perlu memberikan justifikasi apakah healing dengan melampiaskan kemarahan pada barang menjadi cara yang benar. Toh, masing-masing orang memiliki cara healing masing-masing.

Pada tulisan ini, Penulis hanya ingin sekadar menawarkan alternatif pilihan yang murah, tapi butuh effort yang tidak sedikit: Menjadi produktif.

Melampiaskan Emosi Menjadi Produktif

Semua Butuh Healing (arash payam)

Sebagai makhluk yang punya perasaan, wajar jika manusia kerap mengalami berbagai bentuk emosi yang tidak menyenangkan. Sedih, marah, kecewa, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama jika sedang diterpa masalah.

Seringnya, termasuk pada Penulis, bentuk emosi negatif akan memengaruhi keseharian kita. Rasanya jadi malas untuk melakukan sesuatu, susah untuk fokus, mudah melamun, hingga mood yang naik turun secara drastis.

Nah, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan self-healing. Mengobati diri sendiri dengan beragam cara. Bagi Penulis, salah satu cara healing yang paling efektif dan bermanfaat adalah dengan menjadi produktif.

Ibaratnya, kita menyalurkan dan memfokuskan energi kita untuk melakukan sesuatu yang positif. Segala perasaan negatif yang sedang kita rasakan, kita salurkan dengan berbagai aktivitas yang membawa manfaat untuk diri kita sendiri.

Menulis To-do List (Glenn Carstens-Peters)

Kalau Penulis biasanya akan “memaksa” dirinya untuk menjadi produktif dengan membuat to-do list harian. Ketika menuliskannya, seperti ada dorongan dari dalam untuk menyelesaikan apa yang sudah ditulis.

Hal produktif lain yang bisa dilakukan adalah melakukan rutinitas. Di pagi hari misalnya, kita bisa berolahraga, membaca buku, membersihkan rumah, mandi pagi, mempersiapkan sarapan, dan lain sebagainya. Di malam hari kita bisa menulis jurnal ataupun meditasi.

Kalau Penulis, di samping rutinitas kerjanya, biasanya akan mengisi waktu dengan menulis blog. Intinya, kita harus menyibukkan diri dengan beraktivitas (secara positif) agar perasaan-perasaan negatif tersebut menjadi terabaikan.

Selain itu, menjadi produktif juga menciptakan perasaan bahagia bagi diri. Rasanya hidup jadi lebih menyenangkan begitu mengetahui kalau hari ini kita sudah banyak melakukan hal yang berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.

Boleh Kok Sesekali Nonton Film (freestocks)

Tentu kita boleh melakukan aktivitas santai seperti menonton film, menonton YouTube, scrolling media sosial, bermain game, dan lain sebagainya. Anggap saja sebagai selingan agar kita tidak merasa jenuh

Hanya saja, aktivitas konsumtif tersebut justru bisa membuat kita memiliki perasaan bersalah jika dilakukan secara berlebihan. Menurut Penulis, sebaiknya aktivitas konsumtif seperti itu tidak dijadikan sebagai cara healing utama.

Mungkin memang cara ini (menjadi produktif) tidak cocok untuk semua orang. Hanya saja, Penulis merasa beraktivitas secara produktif dapat meningkatkan mood dan mengusir perasaan-perasaan negatif di pikiran, terutama untuk kaum overthinker seperti Penulis.

Lawan utama dari cara healing yang satu ini adalah rasa malas. Kalau kita memang benar-benar ingin healing, maka kita harus memiliki tekad yang kuat untuk mengusir rasa malas tersebut.

Jadi, cara healing mana yang paling sesuai dengan Pembaca? Coba tuliskan di kolom komentar!


Lawang, 23 November 2021, terinspirasi dari viralnya postingan di Twitter tentang tempat healing berbayar

Foto: William Farlow

Continue Reading

Produktivitas

Membangun Kebiasaan Baik Itu Memang Sangat Sulit

Published

on

By

Bagi kebanyakan orang, memiliki serangkaian kebiasaan baik adalah salah satu hal yang menjadi impian. Kalau bisa, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut menjadi rutinitas dalam keseharian dan kita bisa melakukannya secara otomatis.

Sayangnya, memelihara kebiasaan baik itu ternyata sangat sulit. Memulainya mungkin lebih mudah, tapi mempertahankan konsistensinya itu memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya, itu yang Penulis alami selama ini.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dan pendapatknya mengenai membangun kebiasaan baik. Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya, terlebih lagi bagi Penulis sendiri.

Pengalaman Penulis Membangun Kebiasaan Baik

Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin Penulis lakukan dalam hidupnya. Secara garis besar Penulis membaginya menjadi dua, yakni rutinitas pagi dan rutinitas malam. Beberapa di antaranya adalah:

  • Rutinitas Pagi
  • Rutinitas Malam
    • Minum vitamin
    • Mencatat aktivitas yang telah dilakukan hari itu
    • Menulis jurnal harian
    • Meditasi

Bahkan, Penulis sudah membuat semacam jam berapa saja Penulis harus melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Sebagai orang yang suka hidupnya tertata, Penulis merasa nyaman jika memiliki rutinitas harian seperti ini.

Hanya saja, pada prakteknya melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut tidaklah mudah. Seringnya, Penulis akan mencari berjuta alasan untuk tidak melakukannya. Masalahnya jika sudah berhenti sekali dua kali, kita akan kesulitan untuk melanjutkan kebiasaan tersebut.

Kebanyakan kebiasaan di atas hanya berhasil dilakukan secara terus-menerus selama beberapa minggu. Kadang ada yang berhasil dilakukan selama beberapa bulan, tapi ada yang hanya dilakukan beberapa hari.

Ketika gagal melakukan daftar kebiasaan yang ingin dilakukan, perasaan bersalah pun akan muncul. Untuk mengabaikan perasaan tersebut, Penulis akan melakukan pelarian dengan melakukan hal yang tidak produktif.

Kenapa Kebiasaan Baik Susah untuk Dilakukan?

Sepertinya sudah kodrat manusia untuk susah membangun kebiasaan baik karena cenderung susah dan membutuhkan effort lebih untuk dilakukan. Berbeda dengan kebiasaan buruk yang menyenangkan dan sangat mudah untuk dilakukan.

Sebagai contoh, kebiasaan lari pagi. Upaya yang harus kita lakukan adalah bangun pagi, melawan dinginnya pagi, menyiapkan sepatu, lalu mengeluarkan energi yang tidak sedikit ketika berlari.

Bandingkan dengan kebiasaan buruk seperti scrolling media sosial. Kita hanya butuh rebahan di atas kasur dan sebuah smartphone beserta internet untuk melakukannya. Sama sekali tidak susah, bukan?

Menulis artikel blog membutuhkan ide dan mood agar tulisan bisa mengalir. Penulis juga harus melakukan riset kecil-kecilan dan mencari gambar ilustrasi yang cocok untuk artikel tersebut. Berbeda jika Penulis ingin bermain game, tinggal buka Steam dalam hitungan detik.

Bukan berarti scrolling media sosial dan bermain game termasuk kebiasaan buruk, kecuali jika dilakukan secara berlebihan tanpa mengenal batas waktu. Hanya saja, kedua aktivitas tersebut kerap menjadi lawan terberat produktivitas karena lebih mudah dilakukan.

Terus Berusaha Membangun Kebiasaan Juga Termasuk Kebiasaan

Penulis sedang membaca buku berjudul Hello, Habits karya Fumio Sasaki. Menjelang akhir bagian buku, sang penulis menyebutkan kalau “tindakan untuk terus membentuk kebiasaan adalah kebiasaan juga“.

Artinya, tidak masalah jika kita sering gagal dalam membangun kebiasaan. Yang lebih penting adalah kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan tersebut, tak peduli berapa kali harus terhenti karena berbagai alasan.

Entah sudah berapa kali Penulis mengalami “kegagalan” dalam mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dilakukan. Buku to-do list milik Penulis sudah entah berapa kali lompat-lompat karena tidak diisi secara rutin.

Akan tetapi, Penulis terus berusaha untuk memulai lagi dan lagi, tak peduli sudah gagal berapa kali pun. Kadang butuh waktu satu minggu untuk mulai lagi, kadang butuh waktu hingga satu bulan lamanya. Yang penting, Penulis terus berusaha membangun kebiasaan baik tersebut.

Ketika memulai ulang, Penulis menerapkan ilmu yang dibaca di buku Atomic Habits: Mulai dari sedikit dulu. Waktu rutin lari pagi, Penulis sanggup hingga 5-6 putaran. Karena sudah lama berhenti, Penulis mulai dari 2-3 putaran dulu, nanti akan ditambah secara bertahap.

Penutup

Kadang terbesit pikiran, “Halah, ngapain juga usaha punya kebiasaan baik, nanti juga ujung-ujungnya berhenti lagi.” Pikiran-pikiran negatif seperti ini harus segera dihalau sejauh mungkin karena hanya menghambat kita untuk berkembang.

Melakukannya dan gagal jauh lebih baik dibandingkan tidak melakukannya sama sekali. Apa yang akan terjadi nanti biarlah terjadi nanti, yang penting saat ini kita berusaha untuk melakukannya. Kalaupun memang gagal, kita hanya perlu mencobanya lagi.

Membangun kebiasaan baik memang susah, sangat susah. Namun, yang lebih penting adalah kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, tak peduli mau gagal berapa kali pun.


Lawang, 27 Oktober 2021, terinspirasi setelah merasa menjaga konsistensi melakukan kebiasaan baik itu sangat susah

Foto: THE 5TH (@the5th) on Unsplash

Continue Reading

Produktivitas

Productivity Hacks #2: Don’t Break the Chain

Published

on

By

Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.

Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada “pepatah” mengatakan kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang?

Penulis berusaha mendorong dirinya untuk bisa menjadi manusia yang produktif. Salah satu caranya adalah dengan memiliki rutinitas harian, yang pernah Penulis bahas beberapa waktu lalu.

Bisa dibilang, praktiknya susah luar biasa. Apalagi jika sudah berhenti lama melakukan kebiasaan baik, untuk memulainya lagi sangatlah sulit.

Akhir-akhir ini karena situasi hatinya yang sedang buruk, Penulis sedang gencar memulai hidup produktif lagi. Berbagai cara Penulis lakukan agar bisa seperti dulu lagi, ketika mampu konsisten melakukan rutinitas pagi.

Dari pengalamannya, Penulis menemukan satu kunci untuk bisa konsiten melakukan kebiasaan baik: don’t break the chain. Jangan putuskan rantainya.

Berhenti Menulis To-Do List

Susah Melawan Rasa Malas (Cathryn Lavery)

Penulis kebetulan adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas. Penulis tidak menyukai sesuatu yang sifatnya spontan dan mendadak. Kalau bisa, semua tertata rapi dan terorganisir dengan baik.

Oleh karena itu, salah satu metode untuk produktif yang cocok untuk Penulis adalah memiliki to-do list harian. Penulis rutin melakukannya mulai awal tahun ini, namun tersendat di bulan Juli karena berbagai macam alasan.

Salah satu hal yang membuat Penulis merasa malas menulis to-do list belakangan ini adalah karena merasa tidak banyak yang harus dikerjakan selain pekerjaan kantor dan menulis artikel blog. Akhirnya, buku to-do list Penulis pun terbengkalai beberapa minggu.

Penulis pun memutuskan untuk mengubah format buku to-do list miliknya. Anggap saja to-do list harian versi 2. Mungkin Penulis akan membuat artikel terpisah tentangnya karena Penulis sangat menyukai format baru ini.

Pada buku to-do list v2 ini, Penulis akan mencatat morning routine dan evening routine di sini. Setiap Penulis berhasil melakukan rutinitas atau kebiasaan ini, Penulis akan memberi tanda merah di kotaknya.

Ketika melihat daftar rutinitas yang berhasil dikerjakan hari ini, Penulis jadi terpacu untuk bisa melakukannya lagi keesokan harinya. Akhirnya, terbentuk semacam “rantai” kebiasaan yang membuat Penulis berusaha agar jangan sampai rantai itu putus.

Nah, inilah salah satu kunci keberhasilan untuk bisa konsisten melakukan kebiasaan dan menjadi lebih produktif.

Rantai yang Tampak Mata

Harus Kelihatan Mata (Daria Nepriakhina)

Sebelumnya, Penulis sering mencatat kebiasaan-kebiasaan melalui aplikasi Loop Habit Tracker di smartphone-nya. Ada banyak kebiasaan yang Penulis tuliskan di sana, termasuk kewajiban sholat lima waktu.

Hanya saja karena tidak tampak fisik, Penulis menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya. Penulis seolah merasa tidak punya motivasi untuk mengerjakan daftar kebiasaan yang seharusnya dilakukan.

Setelah menonton beberapa video di YouTube, ternyata memang sebaiknya catatan kebiasaan itu ditulis dalam buku fisik yang selalu kelihatan mata. Kalau di smarpthone, kita harus buka aplikasinya terlebih dahulu.

Selain itu, kita pun jadi menuliskan daftar kebiasaan secara fisik setiap hari. Hal tersebut mampu memberikan sugesti kepada diri agar melakukan hal-hal yang sudah dicatat.

Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk menuliskannya di buku catatan dan meletakkannya di atas meja sepanjang hari, berhubung Penulis menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja kerja.

Sebagai orang yang perfeksionis, Penulis akan merasa gatal apabila ada kotak-kotak yang masih kosong. Penulis pun jadi terdorong untuk segera melakukan kegiatan yang kotaknya masih kosong tersebut.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis jadi meyakini kalau rantai kebiasaan yang ingin kita lakukan haruslah tampak mata. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya secara fisik dan meletakannya di tempat yang selalu terlihat.

Kenapa Mempertahankan Rantai Itu Penting

Bagi orang yang ingin hidup produktif, memiliki rutinitas harian bisa menjadi salah satu hal yang sangat membantu. Namun, perlu dicatat bahwa yang susah adalah mempertahankan konsistensi.

Sekali rantai kebiasaan tersebut putus, dorongan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut sangat besar. Rasanya begitu berat untuk memulai lagi dari awal. Ada juga perasaan kecewa karena rantai tersebut harus terputus.

Untuk menghindari hal tersebut, coba saja dimulai sedikit demi sedikit saja. Mungkin dari satu kebiasaan dulu. Jika sudah berhasil konsisten, tambah lagi kebiasaan baru dan begitu seterusnya.

Penulis sendiri sekarang sedang merutinkan delapan rutinitas, empat di pagi hari dan empat di malam hari. Walaupun terdengar banyak, sebenarnya kebiasaan yang Penulis catatkan tidak membutuhkan waktu panjang.

Ada beragam cara untuk mempertahankan rantai tersebut untuk tetap tersambung. Cara yang sedang Penulis terapkan adalah salah satunya.

Berhubung baru jalan tiga hari, Penulis belum bisa menyimpulkan kalau metode ini berhasil. Walaupun begitu, caranya layak untuk dicoba agar hidup ini menjadi lebih produktif.


Lawang, 19 Agustus 2021, terinspirasi dari usahanya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih produktif

Foto: JJ Ying

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan