<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>minimalisme Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/minimalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/minimalisme/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>minimalisme Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/minimalisme/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menahan Hasrat Belanja</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menahan-hasrat-belanja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 04:34:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[flash sale]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[minimalisme]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2967</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, penulis adalah tipe orang yang mudah khilaf ketika melihat buku. Apalagi, jika ada acara pameran buku yang harganya murah-murah. Sebagai mahasiswa, barang murah adalah rezeki nomplok. Sekarang, penulis sudah mulai mengurangi nafsu untuk belanja walau terkadang masih suka khilaf. Tapi jumlahnya sudah benar-benar berkurang jika dibandingkan zaman-zaman kuliah. Butuh atau Ingin? Dari beberapa buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menahan-hasrat-belanja/">Menahan Hasrat Belanja</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, penulis adalah tipe orang yang mudah khilaf ketika melihat buku. Apalagi, jika ada acara pameran buku yang harganya murah-murah. Sebagai mahasiswa, barang murah adalah rezeki nomplok.</p>
<p>Sekarang, penulis sudah mulai mengurangi nafsu untuk belanja walau terkadang masih suka khilaf. Tapi jumlahnya sudah benar-benar berkurang jika dibandingkan zaman-zaman kuliah.</p>
<h3>Butuh atau Ingin?</h3>
<div id="attachment_2968" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2968" class="size-large wp-image-2968" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2968" class="wp-caption-text">Marie Kondo (<a href="https://asia.nikkei.com/Editor-s-Picks/Tea-Leaves/In-praise-of-mess-the-Marie-Kondo-syndrome-has-gone-too-far">Asia Nikkei</a>)</p></div>
<p>Dari beberapa <a href="https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/">buku seputar minimalisme</a> yang sudah penulis baca (termasuk bukunya Marie Kondo), semua mengatakan satu hal yang sama. <strong>Simpan barang-barang yang hanya dibutuhkan dan bisa menimbulkan kebahagiaan</strong>.</p>
<p>Kita harus bisa membedakan mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Kalau memang kebutuhan (buku adalah kebutuhan penulis), ya silakan dibeli. Kalau hanya keinginan, biasanya akan jarang terpakai dan lebih sering disimpan di gudang.</p>
<p>Teori ini juga penulis terapkan ketika hendak membeli sebuah barang, termasuk buku. Penulis akan menimbang-nimbang apakah buku tersebut akan sempat penulis baca atau sekadar menjadi pajangan di rak buku.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis sering lama ketika berada di toko buku, meskipun sebenarnya bisa saja penulis membeli semua buku yang diinginkan. Akan tetapi, tidak semuanya penulis butuhkan.</p>
<h3>Suatu Hari Pasti Butuh</h3>
<p>Salah satu alasan mengapa kita sering menumpuk barang adalah karena membayangkan <em>suatu hari pasti butuh</em>. Dengan alasan berjaga-jaga, kita membeli beberapa barang demi stok.</p>
<p>Hal ini sebenarnya tidak masalah. Penulis pun terkadang masih melakukannya. Hanya saja, sering kali barang-barang tersebut akhirnya menumpuk dan kita lupa kalau pernah memilikinya.</p>
<p>Penulis tidak sekadar omong doang. Penulis bisa menulis seperti ini karena mengalaminya sendiri, terutama ketika sedang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/merapikan-kamar-merapikan-diri/">beres-beres kamar</a>.</p>
<p>Banyak sekali barang-barang <em>suatu hari pasti butuh </em>yang penulis temukan di sana. Penulis pada akhirnya memutuskan untuk membuang barang-barang tersebut.</p>
<p>Kalau memang pada akhirnya penulis membutuhkannya, penulis bisa membelinya dengan harga normal yang sebenarnya tidak terlalu beda jauh selisihnya.</p>
<h3>Anti <em>Flash Sale</em>?</h3>
<div id="attachment_2970" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2970" class="size-large wp-image-2970" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/menahan-hasrat-belanja-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2970" class="wp-caption-text">Flash Sale (<a href="https://synergymerchants.com/the-benefits-of-flash-sales/">Synergy Merchant</a>)</p></div>
<p>Penulis pernah menuliskan beberapa tulisan seputar <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">budaya <em>mager</em></a>. Dalam hal belanja, <em>mager </em>keluar rumah justru bisa menahan kita dari hasrat belanja yang berlebihan.</p>
<p>Sayangnya, kini ada yang namnaya toko online yang membuat kita bisa belanja tanpa perlu menginjakkan kaki di mal. Apalagi, banyak sekali barang-barang lucu yang dijual murah.</p>
<p>Belum lagi sering ada <em>flash sale </em>pada tanggal-tanggal cantik, di mana kita harus rebutan dengan orang lain agar bisa mendapatkan barang bagus dan murah.</p>
<p>Kembali lagi ke poin di awal tulisan, <strong>apakah barang yang bagus dan murah selalu kita butuhkan?</strong></p>
<p>Penulis hampir tidak pernah tertarik dengan yang namanya <em>flash sale </em>yang kerap hadir di toko online. Hanya karena sedang diskon besar-besaran, bukan berarti kita membutuhkannya.</p>
<p><em>Tapi kan itu kesempatan langkah di mana kita bisa dapat barang bagus dan murah?</em></p>
<p>Bukannya penulis sombong dan tidak butuh diskon. Penulis sangat suka dengan potongan harga sehingga tak ragu untuk mengeluarkan kalkulator ketika belanja buku agar tahu berapa uang yang harus kita keluarkan.</p>
<p>Penulis selalu berusaha mencari suatu benda dengan harga termurah. Itu menjadi salah satu alasan mengapa penulis mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari.</p>
<p>Kebanyakan barang-barang yang dijual di <em>flash sale </em>tidak penulis butuhkan. Kalau memang sedang membutuhkan suatu barang, pasti penulis akan mencarinya.</p>
<p>Apalagi, penulis bependapat bahwa momen seperti <em>flash sale </em>memang digunakan oleh para toko online agar kita membelanjakan uang di luar kebutuhan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Belanja memang aktivitas yang menyenangkan dan hobi bagi banyak orang. Akan tetapi jika dilakukan secara berlebihan, tentu kurang baik juga terutama jika penghasilannya masih pas-pasan.</p>
<p>Cara menahan hasrat belanja paling mudah adalah mengklasifikasikannya sebagai kebutuhan atau keinginan. Sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu, coba bayangkan bagaimana kita akan menggunakannya.</p>
<p>Kalau memang akan digunakan dan banyak membantu kita, beli saja. Tapi jika kita kesulitan membayangkannya, kemungkinan besar itu hanya sekadar keinginan.</p>
<p>Menghindari <em>flash sale </em>juga menjadi salah satu cara agar kita tak tergoda mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.</p>
<p>Sesekali tidak apa-apa, seperti adik penulis yang berhasil mendapatkan <em>eardbuds </em>dari Xiaomi dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga aslinya.</p>
<p>Yang penting, jangan sampai kita mendahulukan keinginan kita untuk membeli sesuatu yang kurang penting, lantas menyesal di kemudian hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi dari dirinya yang sendiri yang sudah mengurangi belanja buku</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@dylu">Jacek Dylag</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menahan-hasrat-belanja/">Menahan Hasrat Belanja</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filosofi Minimalisme Pada Goodbye, Things</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2019 05:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Goodbye]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[minimalisme]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Things]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2758</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah membaca dua buku tentang gaya hidup minimalisme, yakni The Life Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo dan Seni Hidup Minimalis karya Franchine Jay. Artinya, buku Goodbye, Things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang merupakan buku ketiga yang penulis baca tentang gaya hidup sederhana. Lantas, apa yang berbeda? Apa Isi Buku Ini? Sesuai judulnya, Goodbye, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/">Filosofi Minimalisme Pada Goodbye, Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis sudah membaca dua buku tentang gaya hidup minimalisme, yakni <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/merapikan-kamar-merapikan-diri/"><em>The Life Changing Magic of Tidying Up</em></a> karya Marie Kondo dan <a href="https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/"><em>Seni Hidup Minimalis </em></a>karya Franchine Jay.</p>
<p>Artinya, buku <strong><em>Goodbye, Things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang </em></strong>merupakan buku ketiga yang penulis baca tentang gaya hidup sederhana. Lantas, apa yang berbeda?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai judulnya, <em>Goodbye, Things,</em>pada dasarnya buku ini menjabarkan tentang manfaat-manfaat yang akan kita dapatkan dengan membuang barang-barang yang kita miliki.</p>
<p>Sang penulis, <strong>Fumio Sasaki</strong>, bercerita tentang pengalamannya sendiri ketika hidupnya menjadi lebih baik setelah mengurangi kepemilikan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.</p>
<p>Di bagian awal buku, kita akan melihat beberapa foto yang menunjukkan rumah atau ruangan orang-orang yang sudah menerapkan metode hidup minimalis. Saking minimnya, bisa dikatakan hampir tidak ada barang sama sekali pada foto tersebut.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi lima bagian, di mana bagian pertama dan kedua adalah favorit penulis. Pada kedua bagian tersebut, Sasaki berusaha menjelaskan filosofi minimalisme dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan dan kebahagiaan kita.</p>
<p>Bagian ketiga berisi puluhan kiat untuk bisa berpisah dari barang-barang yang kita miliki. Bagian keempat dan kelima lebih menjelaskan tentang apa yang terjadi setelah kita berpisah dengan barang-barang tersebut, termasuk menjadi lebih bahagia.</p>
<h3>Pendapat Penulis Tentang Buku Ini</h3>
<p>Karena Sasaki menggunakan kisahnya sendiri, ada beberapa hal yang <em>related </em>dengan kehidupan penulis. Hal itu memudahkan penulis untuk makin memahami filosofi minimalisme.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat penulis menyukai buku ini adalah karena Sasaki banyak mengambil contoh gaya hidup minimalisme dari <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs dan Apple</a>.</p>
<p>Seperti yang mungkin pembaca tahu, Jobs memang sering menerapkan filosofi minimalisme pada produk-produk Apple-nya. iPod dan iPhone lahir juga berkat andil dari minimalisme ini.</p>
<p>Sayangnya pada bagian kiat-kiat, Sasaki banyak melakukan pengulangan sehingga isinya menjadi kurang padat. Seharusnya, kiat yang diberikan tidak perlu sebanyak itu, cukup beberapa poin namun berbobot.</p>
<p>Begitu pun ketika menjelaskan apa yang berubah semenjak ia berpisah dengan barang-barangnya. Cukup banyak repetisi yang mungkin akan membuat pembaca buku ini merasa bosan.</p>
<p>Walaupun begitu, tips-tips yang diberikan Sasaki bisa dibilang termasuk mudah untuk diaplikasikan. Yang termasuk susah adalah memanfaatkan jasa lelang untuk menjual barang kita, karena di Indonesia sangat jarang ada badan lelang yang mudah dihubungi.</p>
<p>Tidak hanya merapikan barang, kegiatan membersihkan kamar atau rumah juga menjadi kunci utama dalam hidup minimalisme. Apalagi dengan banyaknya barang yang terbuang, kegiatan bersih-bersih pun menyita waktu yang lebih sedikit.</p>
<p>Yang jelas, penulis menjadi semakin yakin untuk menerapkan gaya hidup minimalisme dalam hidupnya. Filosofinya ini tidak hanya berlaku dalam menjaga kerapian kamar karena juga bisa diterapkan dalam hal lain, seperti menahan hasrat belanja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Oktober 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Goodbye, Things: Hidup Minimalisme Ala Orang Jepang </em>karya Fumio Sasaki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/">Filosofi Minimalisme Pada Goodbye, Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
