Filosofi Minimalisme Pada Goodbye, Things

Penulis sudah membaca dua buku tentang gaya hidup minimalisme, yakni The Life Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo dan Seni Hidup Minimalis karya Franchine Jay.

Artinya, buku Goodbye, Things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang merupakan buku ketiga yang penulis baca tentang gaya hidup sederhana. Lantas, apa yang berbeda?

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai judulnya, Goodbye, Things,pada dasarnya buku ini menjabarkan tentang manfaat-manfaat yang akan kita dapatkan dengan membuang barang-barang yang kita miliki.

Sang penulis, Fumio Sasaki, bercerita tentang pengalamannya sendiri ketika hidupnya menjadi lebih baik setelah mengurangi kepemilikan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.

Di bagian awal buku, kita akan melihat beberapa foto yang menunjukkan rumah atau ruangan orang-orang yang sudah menerapkan metode hidup minimalis. Saking minimnya, bisa dikatakan hampir tidak ada barang sama sekali pada foto tersebut.

Buku ini terbagi menjadi lima bagian, di mana bagian pertama dan kedua adalah favorit penulis. Pada kedua bagian tersebut, Sasaki berusaha menjelaskan filosofi minimalisme dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan dan kebahagiaan kita.

Bagian ketiga berisi puluhan kiat untuk bisa berpisah dari barang-barang yang kita miliki. Bagian keempat dan kelima lebih menjelaskan tentang apa yang terjadi setelah kita berpisah dengan barang-barang tersebut, termasuk menjadi lebih bahagia.

Pendapat Penulis Tentang Buku Ini

Karena Sasaki menggunakan kisahnya sendiri, ada beberapa hal yang related dengan kehidupan penulis. Hal itu memudahkan penulis untuk makin memahami filosofi minimalisme.

Salah satu hal yang membuat penulis menyukai buku ini adalah karena Sasaki banyak mengambil contoh gaya hidup minimalisme dari Steve Jobs dan Apple.

Seperti yang mungkin pembaca tahu, Jobs memang sering menerapkan filosofi minimalisme pada produk-produk Apple-nya. iPod dan iPhone lahir juga berkat andil dari minimalisme ini.

Sayangnya pada bagian kiat-kiat, Sasaki banyak melakukan pengulangan sehingga isinya menjadi kurang padat. Seharusnya, kiat yang diberikan tidak perlu sebanyak itu, cukup beberapa poin namun berbobot.

Begitu pun ketika menjelaskan apa yang berubah semenjak ia berpisah dengan barang-barangnya. Cukup banyak repetisi yang mungkin akan membuat pembaca buku ini merasa bosan.

Walaupun begitu, tips-tips yang diberikan Sasaki bisa dibilang termasuk mudah untuk diaplikasikan. Yang termasuk susah adalah memanfaatkan jasa lelang untuk menjual barang kita, karena di Indonesia sangat jarang ada badan lelang yang mudah dihubungi.

Tidak hanya merapikan barang, kegiatan membersihkan kamar atau rumah juga menjadi kunci utama dalam hidup minimalisme. Apalagi dengan banyaknya barang yang terbuang, kegiatan bersih-bersih pun menyita waktu yang lebih sedikit.

Yang jelas, penulis menjadi semakin yakin untuk menerapkan gaya hidup minimalisme dalam hidupnya. Filosofinya ini tidak hanya berlaku dalam menjaga kerapian kamar karena juga bisa diterapkan dalam hal lain, seperti menahan hasrat belanja.

 

Nilainya: 4.0/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 28 Oktober 2019, terinspirasi setelah menamatkan buku Goodbye, Things: Hidup Minimalisme Ala Orang Jepang karya Fumio Sasaki