<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nihonggo Mantappu Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/nihonggo-mantappu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/nihonggo-mantappu/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Dec 2021 13:05:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Nihonggo Mantappu Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/nihonggo-mantappu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2021 12:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[menyontek]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara Jerome Polin dan Maudy Ayunda. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia dan kalian pernah nyontek nggak. Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada satu hal yang menarik ketika Penulis menonton video kolaborasi antara <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Maudy Ayunda</a>. Dalam sesi QnA, ada dua pertanyaan dari netizen mengenai <strong>apa yang kira-kira harus dikoreksi dari pendidikan di Indonesia</strong> dan <strong>kalian pernah nyontek nggak</strong>.</p>



<p>Siapa sangka, jawaban mereka menjadi begitu panjang dan pembicaraan mereka menjadi diskusi yang begitu menarik untuk disimak. Melihat dua orang pintar dan berprestasi (<a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">terlepas bantuan <em>privilege </em>yang mereka miliki</a>) berdiskusi sangat menginspirasi dan memotivasi.</p>



<p>Begitu menariknya video tersebut membuat Penulis menuliskan artikel tentang jawaban dari dua pertanyaan tersebut. Untuk Pembaca yang belum menonton video lengkapnya, bisa nonton di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="PACAR HARUS PINTER!? FIRST IMPRESSION? - Q&amp;A SPESIAL JEROME &amp; MAUDY AYUNDA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4vIZVHzOCYE?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kira-Kira Harus Dikoreksi dari Pendidikan di Indonesia?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ada beberapa poin yang menjadi <em>concern </em>mereka, seperti <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membentuk kebiasaan baik</a></strong>. Jerome memberikan contoh kalau siswa di Jepang begitu disiplin tentang masalah sampah. Kita mengetahui teori &#8220;buang sampah pada tempatnya&#8221;, tapi pada praktiknya masih kurang.</p>



<p>Maudy menambahkan kalau hal-hal baik seperti itu akan lebih berhasil jika ada <em>collective action</em>, di mana jika yang benar hanya kita sendiri sedangkan orang lain tidak, maka akan susah untuk dilakukan. Namun, tidak ada salahnya untuk berani memulai dari diri kita sendiri.</p>



<p>Setelah itu, Maudy menyayangkan bahwa kita kurang memiliki <strong>budaya cinta belajar</strong>. Kebanyakan siswa di negara maju, mereka memiliki &#8220;rasa lapar&#8221; untuk mendapatkan pengetahuan. </p>



<p>Mencari tahu informasi dan bertanya seolah sudah menjadi budaya mereka yang tentunya akan bagus jika dimiliki juga oleh kita. Menumbuhkan rasa suka belajar jelas tidak mudah karena harus dibentuk sejak dini dan didukung oleh lingkungan yang mendukung.</p>



<p><strong>Dari tidak tahu menjadi tahu itu menimbulkan kepuasan</strong>, kata Jerome yang diamini oleh Maudy. Penulis menyetujui pendapat ini karena telah merasakan kepuasaan itu sendiri dan menimbulkan &#8220;ketagihan&#8221; secara positif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kalian Pernah Nyontek Nggak?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5481" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/jerome-dan-maudy-bicara-pendidikan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pertanyaan ini tentu menarik, mengingat Jerome dan Maudy dikenal sebagai orang yang pintar. Apakah orang pintar pernah menyontek? Ternyata jawaban mereka sama,<strong> kalau menyontek tidak pernah, tapi memberi contekan atau jawaban pernah</strong>.</p>



<p>Hal ini jelas berbeda dengan di Jepang. Jerome bercerita kalau di sana tidak ada siswa yang akan sekadar memanggil temannya ketika ujian berlangsung. Memang tidak bisa digeneralisir semua murid Jepang, hanya saja rasanya yang seperti itu menjadi mayoritas di sana.</p>



<p>Kalau di sini, <strong>menolak memberikan jawaban hampir pasti akan menjadi korban <em>bully</em></strong><em> </em>atau dipanggil pelit, pahit, dan sebagainya. Padahal, meminta jawaban ketika ujian saja sudah salah, tapi yang berpegang teguh dengan prinsipnya justru dimusuhin.</p>



<p>Sebenarnya integritas yang dimiliki murid Jepang juga <strong>didukung dengan guru dan orang tua yang disiplin</strong>. Kalau ada yang ketahuan menyontek, murid tersebut akan mendapatkan hukuman.</p>



<p>Nah, poin menarik disampaikan oleh Maudy. Ia menyebutkan kalau<strong> ilmu dan nilai itu adalah kepemilikan kita</strong>. Ujian adalah salah satu cara untuk mendapatkan evaluasi yang tepat mengenai pemahaman kita mengenai ilmu tersebut. </p>



<p>Jika kita dapat nilai bagus dengan menyontek, <em>what&#8217;s the point</em>? Di sekolah mungkin kita belum merasakan dampaknya. Akan tetapi, di kehidupan nyata nanti ilmu yang kita miliki barulah terasa manfaatnya.</p>



<p>(Mungkin akan ada yang menyanggah selama punya &#8220;bantuan orang dalam&#8221; atau &#8220;<em>privilege </em>dari orang tua&#8221; tidak akan ada masalah. Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus mendapatkan bantuan dari orang lain dan tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri?)</p>



<p><strong>Lebih mementingkan nilai dibandingkan esensi ilmunya</strong> memang menjadi masalah utama di negara kita. Banyaknya persyaratan yang membutuhkan nilai ditambah tuntutan untuk mendapatkan nilai bagus dari lingkungan menjadi pemicu utama.</p>



<p>Menurut Maudy, salah satu solusi dari permasalahan ini adalah <strong>mengubah kurikulum</strong>, terutama dalam penilaian. Jangan hanya memberikan ujian dalam bentuk opsional yang mudah dicontek, tapi berikan juga ujian berupa presentasi atau esai yang tidak bisa dicontek.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Setelah menonton video tersebut, Penulis teringat satu hal yang sering dirisaukan tentang sistem pendidikan kita: <strong>Budaya menyontek yang masih dianggap wajar</strong>. </p>



<p>Memang, Penulis tidak bisa dibilang benar-benar bersih dari budaya ini, tapi menyadari kalau ini adalah budaya yang sangat buruk dan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Selain itu, sistem yang ada sekarang pun sangat &#8220;mendukung&#8221; budaya tersebut untuk tumbuh subur.</p>



<p>Di tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai fenomena sosial ini sekaligus opini pribadinya. <em>Stay tuned</em>!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 12 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton video Nihonggo Mantappu di atas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.instagram.com/p/CW43RJupMtf/">Instagram</a></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Jerome dan Maudy Bicara tentang Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Jerome Polin Pada Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Sep 2019 09:28:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Jerome Polin]]></category>
		<category><![CDATA[Mantappu Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Nihonggo Mantappu]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertama kali penulis mengetahui sosok bernama Jerome Polin adalah ketika YouTube memberikan rekomendasi videonya yang sedang melakukan tur pada sebuah even di Jepang. Pada waktu itu, penulis tidak menonton videonya sampai habis karena, mohon maaf Jerome, artikulasi dari Jerome tidak begitu jelas (padahal penulis sendiri juga seperti itu). Oleh karena itu, penulis tidak menonton video-videonya yang lain. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Kisah Jerome Polin Pada Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali penulis mengetahui sosok bernama <strong>Jerome Polin </strong>adalah ketika YouTube memberikan rekomendasi videonya yang sedang melakukan tur pada sebuah even di Jepang.</p>
<p>Pada waktu itu, penulis tidak menonton videonya sampai habis karena, mohon maaf Jerome, artikulasi dari Jerome tidak begitu jelas (padahal penulis sendiri juga seperti itu). Oleh karena itu, penulis tidak menonton video-videonya yang lain.</p>
<p>Akan tetapi, ketika suatu saat YouTube memberikan rekomendasi video tentang bagaimana reaksi orang Jepang melihat <em>public figure </em>Indonesia, penulis mulai menyukai kanal <strong>Nihonggo Mantappu</strong>.</p>
<p>Hingga saat ini, penulis menjadi <em>subscriber </em>setia yang menonton hampir semua video terbaru dari Jerome, terutama yang memiliki keterkaitan dengan Jepang.</p>
<p>Bisa dibilang, Nihonggo Mantappu berbeda dibandingkan dengan kanal lainnya karena sarat dengan informasi dan edukasi tanpa melupakan unsur komedi. Salah satu video favorit penulis adalah ketika Jerome potong rambut bersama mbak-mbak yang <em>kawaii</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu Jerome mengumumkan akan menerbitkan sebuah buku, tanpa pikir panjang penulis langsung memasukkannya ke dalam keranjang <em>wishlist.</em></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Meskipun judulnya <em><strong>Buku Latihan Soal Mantappu</strong> <strong>Jiwa</strong></em>, buku ini tidak membahas soal-soal matematika seperti buku latihan soal untuk persiapan ujian.</p>
<p>Buku ini lebih menekankan tentang perjalanan seorang Jerome Polin dari lahir ketika masa reformasi hingga bisa menjadi mahasiswa di Universitas Waseda dan memiliki kanal YouTube dengan jumlah pengikut hampir dua juta orang.</p>
<p>Kita akan melihat betapa rajin dan semangatnya Jerome dalam belajar sejak usia dini. Motivasi untuk bisa berkuliah di luar negeri seolah memberinya energi ekstra. Jerome juga beberapa kali ikut olimpiade ketika sekolah.</p>
<p>Sama seperti buku biografi tokoh pada umumnya, Jerome juga menceritakan kegagalannya diterima di salah satu universitas bergengsi di Singapura karena beasiswa yang ia peroleh hanya bersifat parsial.</p>
<p>Meskipun begitu, Jerome tidak patah semangat dan mencoba mencari beasiswa lain. Ia pada akhirnya mendapatkan beasiswa di Jepang setelah melalui jalanan terjal.</p>
<p>Di Jepang, ia mencoba untuk membuat kanal YouTube yang membahas bahasa Jepang bersama seorang temannya. Kanal tersebut masih ada hingga sekarang dan telah berkembang dengan pesat.</p>
<p>Jerome juga bercita-cita untuk menjadi menteri pendidikan di masa depan karena ingin membenahi sistem pendidikan Indonesia yang banyak dianggap banyak cacatnya.</p>
<p>Penulis sebenarnya mendukung saja cita-cita ini. Hanya saja sisi realistis penulis meragukan hal itu, mengingat bagaimana kejamnya politik kita. Orang idealis seperti Jerome akan disingkirkan dengan cara apapun. Semoga penulis salah.</p>
<p>Jerome juga menyisipkan beberapa soal latihan matematika umum beserta cara menjawabnya. Ada beberapa latihan soal logika matematika di bagian akhir yang tidak mampu penulis selesaikan.</p>
<p>Jika anak sekolah membeli buku ini, mungkin akan banyak terbantu, tidak seperti penulis yang sudah lama sekali sejak terakhir belajar matematika.</p>
<h3>Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</h3>
<p>Sewaktu menemukan buku ini di toko buku, penulis langsung mengambilnya tanpa mengecek isi bukunya. Penulis menganggapnya sebagai ucapan terima kasih ke Jerome karena sudah membuat banyak video berkualitas yang mengedukasi penulis.</p>
<p>Buku ini penulis habiskan hanya dalam waktu 1,5 jam, termasuk sangat cepat untuk ukuran buku setebal 200 halaman. Banyaknya ilustrasi dan soal matematika membuat kita tidak membutuhkan waktu banyak untuk menandaskan buku ini.</p>
<p>Buku seperti ini, sebenarnya, kurang penulis sukai. Akan tetapi untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dengan tingkat literasi seperti sekarang, buku ini akan pas-pas saja ketika dibaca.</p>
<p>Gaya penulisannya terasa seperti gaya naskah sebuah video YouTube yang ringan. Jadi, ketika membaca buku ini, kita akan terbayang sebuah video Nihonggo Mantappu di mana Jerome sedang bercerita tentang kehidupannya.</p>
<p>Kekurangan dari buku ini mungkin harganya yang cukup mahal, <strong>Rp95.000</strong>. Hal tersebut bisa dimaklumi mengingat buku ini hampir <em>full color </em>dari depan hingga belakang.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini tetap menarik untuk dibaca dan dikoleksi. Setelah selesai membaca buku ini, kita akan didorong keinginan untuk berteriak <strong>MANTAPPU JIWAAAAAAA!!!!!!!</strong></p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 September 2019, terinspirasi setelah menamatkan <strong><em>Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa</em> </strong>karya <strong>Jerome Polin Sijabat</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Kisah Jerome Polin Pada Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
