Connect with us

Produktivitas

Membangun Kebiasaan Baik Itu Memang Sangat Sulit

Published

on

Bagi kebanyakan orang, memiliki serangkaian kebiasaan baik adalah salah satu hal yang menjadi impian. Kalau bisa, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut menjadi rutinitas dalam keseharian dan kita bisa melakukannya secara otomatis.

Sayangnya, memelihara kebiasaan baik itu ternyata sangat sulit. Memulainya mungkin lebih mudah, tapi mempertahankan konsistensinya itu memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya, itu yang Penulis alami selama ini.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dan pendapatknya mengenai membangun kebiasaan baik. Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya, terlebih lagi bagi Penulis sendiri.

Pengalaman Penulis Membangun Kebiasaan Baik

Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin Penulis lakukan dalam hidupnya. Secara garis besar Penulis membaginya menjadi dua, yakni rutinitas pagi dan rutinitas malam. Beberapa di antaranya adalah:

  • Rutinitas Pagi
  • Rutinitas Malam
    • Minum vitamin
    • Mencatat aktivitas yang telah dilakukan hari itu
    • Menulis jurnal harian
    • Meditasi

Bahkan, Penulis sudah membuat semacam jam berapa saja Penulis harus melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Sebagai orang yang suka hidupnya tertata, Penulis merasa nyaman jika memiliki rutinitas harian seperti ini.

Hanya saja, pada prakteknya melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut tidaklah mudah. Seringnya, Penulis akan mencari berjuta alasan untuk tidak melakukannya. Masalahnya jika sudah berhenti sekali dua kali, kita akan kesulitan untuk melanjutkan kebiasaan tersebut.

Kebanyakan kebiasaan di atas hanya berhasil dilakukan secara terus-menerus selama beberapa minggu. Kadang ada yang berhasil dilakukan selama beberapa bulan, tapi ada yang hanya dilakukan beberapa hari.

Ketika gagal melakukan daftar kebiasaan yang ingin dilakukan, perasaan bersalah pun akan muncul. Untuk mengabaikan perasaan tersebut, Penulis akan melakukan pelarian dengan melakukan hal yang tidak produktif.

Kenapa Kebiasaan Baik Susah untuk Dilakukan?

Sepertinya sudah kodrat manusia untuk susah membangun kebiasaan baik karena cenderung susah dan membutuhkan effort lebih untuk dilakukan. Berbeda dengan kebiasaan buruk yang menyenangkan dan sangat mudah untuk dilakukan.

Sebagai contoh, kebiasaan lari pagi. Upaya yang harus kita lakukan adalah bangun pagi, melawan dinginnya pagi, menyiapkan sepatu, lalu mengeluarkan energi yang tidak sedikit ketika berlari.

Bandingkan dengan kebiasaan buruk seperti scrolling media sosial. Kita hanya butuh rebahan di atas kasur dan sebuah smartphone beserta internet untuk melakukannya. Sama sekali tidak susah, bukan?

Menulis artikel blog membutuhkan ide dan mood agar tulisan bisa mengalir. Penulis juga harus melakukan riset kecil-kecilan dan mencari gambar ilustrasi yang cocok untuk artikel tersebut. Berbeda jika Penulis ingin bermain game, tinggal buka Steam dalam hitungan detik.

Bukan berarti scrolling media sosial dan bermain game termasuk kebiasaan buruk, kecuali jika dilakukan secara berlebihan tanpa mengenal batas waktu. Hanya saja, kedua aktivitas tersebut kerap menjadi lawan terberat produktivitas karena lebih mudah dilakukan.

Terus Berusaha Membangun Kebiasaan Juga Termasuk Kebiasaan

Penulis sedang membaca buku berjudul Hello, Habits karya Fumio Sasaki. Menjelang akhir bagian buku, sang penulis menyebutkan kalau “tindakan untuk terus membentuk kebiasaan adalah kebiasaan juga“.

Artinya, tidak masalah jika kita sering gagal dalam membangun kebiasaan. Yang lebih penting adalah kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan tersebut, tak peduli berapa kali harus terhenti karena berbagai alasan.

Entah sudah berapa kali Penulis mengalami “kegagalan” dalam mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dilakukan. Buku to-do list milik Penulis sudah entah berapa kali lompat-lompat karena tidak diisi secara rutin.

Akan tetapi, Penulis terus berusaha untuk memulai lagi dan lagi, tak peduli sudah gagal berapa kali pun. Kadang butuh waktu satu minggu untuk mulai lagi, kadang butuh waktu hingga satu bulan lamanya. Yang penting, Penulis terus berusaha membangun kebiasaan baik tersebut.

Ketika memulai ulang, Penulis menerapkan ilmu yang dibaca di buku Atomic Habits: Mulai dari sedikit dulu. Waktu rutin lari pagi, Penulis sanggup hingga 5-6 putaran. Karena sudah lama berhenti, Penulis mulai dari 2-3 putaran dulu, nanti akan ditambah secara bertahap.

Penutup

Kadang terbesit pikiran, “Halah, ngapain juga usaha punya kebiasaan baik, nanti juga ujung-ujungnya berhenti lagi.” Pikiran-pikiran negatif seperti ini harus segera dihalau sejauh mungkin karena hanya menghambat kita untuk berkembang.

Melakukannya dan gagal jauh lebih baik dibandingkan tidak melakukannya sama sekali. Apa yang akan terjadi nanti biarlah terjadi nanti, yang penting saat ini kita berusaha untuk melakukannya. Kalaupun memang gagal, kita hanya perlu mencobanya lagi.

Membangun kebiasaan baik memang susah, sangat susah. Namun, yang lebih penting adalah kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, tak peduli mau gagal berapa kali pun.


Lawang, 27 Oktober 2021, terinspirasi setelah merasa menjaga konsistensi melakukan kebiasaan baik itu sangat susah

Foto: THE 5TH (@the5th) on Unsplash

Produktivitas

Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial

Published

on

By

Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.

Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik.

Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah “menjebak” Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.

Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang

Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by Andrea Piacquadio)

Dalam tulisan Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti.

Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma.

Adanya unsur “kejutan” membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada mindset untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.

Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan scrolling-scrolling di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.

Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap.

Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan “dedikasi” kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.

Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.

Konten panjang memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.

Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.

Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa.

Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis

Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by Monstera Production)

Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan detox untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.

Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan.

Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah limit, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus limit yang sudah dibuat.

Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau Penulis pribadi memilih media buku, “kawan lama” yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.

Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk membaca buku yang benar-benar menarik minatnya, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah Keajaiban Toko Kelontong Namiya.

Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, Penulis suka sejarah, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah Sejarah Prancis dan Memahami Jepang.

Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik Dragon Ball Super dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.

Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung mood-nya.

Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan algoritma mereka.

Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat.

Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial How I Met Your Mother. Bahkan, final season-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial.

Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.

Penutup

Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.

Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.

Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh “lari” dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.


Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi

Foto Featured Image: Monstera Production

Continue Reading

Produktivitas

Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan

Published

on

By

Setiap awal tahun, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan hosting dan domain tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang.

Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga tulisan di Februari, 13 tulisan di Maret, delapan tulisan di April, dan tujuh tulisan di Mei. Total, 34 tulisan.

Penulis sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk menulis artikel. Jika dibilang tidak ada waktu, rasanya itu hanya alasan saja karena Penulis menghabiskan waktu di depan layar ponsel/tablet sambil rebahan cukup lama.

Setelah melakukan evaluasi diri, Penulis merasa kalau dirinya membutuhkan alat bantu yang bisa berperan sebagai “asisten pribadi.” Setelah mencoba berbagai platform, akhirnya Penulis merasa kalau Notion adalah asisten terbaik sejauh ini.

Membutuhkan Bantuan “Otak” Kedua

Google Keeps Kurang Efektif

Selama ini, Penulis menggunakan berbagai metode untuk mencatat ide dan progres untuk blognya ini. Namun, yang Penulis gunakan beberapa waktu ke belakang adalah Samsung Notes dan Google Keeps.

Untuk ide yang baru judul saja, Penulis sering mencatatnya di Keeps karena simpel dan bisa diakses di banyak perangkat. Kalau ingin melakukan breakdown ide dan menjabarkan apa yang ingin dibahas, baru Penulis mencatatnya di Samsung Notes agar bisa menulis dengan tangan.

Masalahnya, metode tersebut benar-benar tidak efektif. Di Keeps, seringnya ide-ide tersebut tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Akibatnya, Penulis pun sampai lupa sebenarnya ingin membahas apa dari ide tersebut.

Samsung Notes pun begitu. Karena ingin memanfaatkan fitur S-Pen dari tablet yang dimiliki, Penulis berusaha membiasakan untuk mencatat ide yang lebih jauh di Samsung Notes. Ini sempat berjalan selama beberapa bulan, tapi akhirnya berhenti karena mager.

Saat lebaran tahun ini, Penulis mampir ke toko buku dan menemukan sebuah buku berjudul Building a Second Brain karya Tiago Forte. Dari sinopsisnya yang menjelaskan betapa seringnya informasi hilang dari otak kita, Penulis jadi tertarik untuk membacanya.

Perjalanan Menemukan Platform Otak Kedua Terbaik

Buku Building a Second Brain (YouTube)

Meskipun belum selesai membaca buku tersebut, Penulis menangkap esensi utamanya yang memanfaatkan teknologi untuk menjadi otak kedua kita karena keterbatasan otak utama kita dalam menyimpan informasi. Penulis pun terdorong untuk mencari platform otak kedua ini.

Pertama, Penulis coba mengoptimalkan aplikasi yang sudah sering digunakan, yakni Google Keeps. Sayangnya, Keeps terlalu sederhana sehingga tidak bisa membuat folder sesuai kebutuhan, kita hanya bisa memanfaatkan fitur Tags.

Selanjutnya Penulis mencoba Microsoft OneNote, yang sayangnya sekali lagi memiliki keterbatasan dalam membuat folder-folder. Evernote sebenarnya memiliki fitur yang cukup lengkap, tapi sayangnya mayoritas fitur mengharuskan kita berlangganan.

Setelah itu, Penulis mencoba beberapa aplikasi lain seperti Joplin, tapi tetap saja kurang srek. Akhirnya Penulis menemukan Notion, sebuah platform yang sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proyek-proyek IT karena banjir fitur.

Penulis sempat merasa kalau Notion akan terasa terlalu overkill untuk sekadar mencatat ide artikel blog. Namun, Penulis merasa perlu untuk mencoba platform ini. Hasilnya, Penulis berhasil menemukan platform terbaik yang bisa Penulis gunakan untuk dijadikan otak kedua.

Mengapa Notion Jadi Platform Terbaik untuk Penulis?

Semua Kebutuhan dalam Satu Layar

Ada banyak alasan mengapa Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan pada Notion. Pertama, ada banyak template yang bisa Penulis manfaatkan. Tidak hanya untuk mencatat ide, Notion juga bisa Penulis manfaatkan sebagai tracker seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Awalnya, Penulis memisahkan daftar ide beserta breakdown-nya dan progres artikel di catatan yang berbeda. Namun, setelah mencoba beberapa hari, Penulis merasa hal tersebut sama sekali tidak efektif, sehingga memutuskan untuk menjadikannya satu.

Progres dari setiap ide Penulis bagi menjadi enam bagian, yakni:

  • Ideas List: Berisi ide yang masih berupa judul saja
  • Point List: Berisi ide yang sudah di-breakdown akan ada apa saja isinya
  • Planned: Ide di Point List yang sudah dijadwalkan kapan akan tayang (sudah ditentukan deadline-nya)
  • Drafted: Ide di Planned yang sudah dibuatkan draft-nya di WordPress
  • Article Done: Ide di draft yang sudah ditayangkan
  • Social Media Done: Artikel yang sudah tayang telah dibuatkan konten media sosialnya

Karena antarmuka Notion juga menarik dan responsif, Penulis jadi merasa senang ketika menggunakannya. Bayangkan, untuk memindahkan ide dari satu bagian ke bagian lain, Penulis hanya perlu drag and drop saja tanpa ribet.

Notion juga bisa diakses di semua perangkat, yang membuatnya sangat fleksibel. Begitu Penulis menemukan inspirasi, maka Penulis tinggal mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya di Notion dengan mudah.

Karena merasa sangat terbantu, Penulis pun mencoba mengeksplorasi fitur lain dari Notion. Beberapa yang sudah Penulis ketahui adalah bagaimana kita bisa melihat tracker di atas dalam bentuk timeline dan table. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:

Dari timeline di atas, Penulis jadi bisa melihat seberapa konsisten dirinya dalam menulis artikel blog. Sejak memutuskan untuk menggunakan Notion, Penulis sudah mencatatkan streak sebanyak 10 hari berturut-turut termasuk artikel ini.

Penulis dulu melakukan tracking menggunakan Google Sheets secara manual (dan melelahkan). Dalam catatan tersebut, terakhir kali Penulis mencatat streak sepanjang ini adalah pada bulan Oktober 2022 dengan 13 hari. Sudah selama itu Penulis inkonsisten.

Setidaknya sampai hari ini, Penulis merasa sangat terbantu dengan kehadiran Notion dan telah terbukti berhasil meningkatkan konsistensinya dalam memproduksi tulisan. Semoga saja streak ini bisa terus terjaga selama mungkin, seperti ketika awal-awal Penulis membuat blog ini.

Penutup

Menggunakan Notion untuk mengelola ide-ide blog adalah langkah pertama Penulis dalam membuat otak keduanya. Ke depannya, Penulis ingin memanfaatkan Notion lebih jauh lagi untuk keperluan mencatat.

Satu hal yang ingin Penulis segera masukkan ke dalam Notion adalah catatan-catatannya yang berkaitan dengan dunia kerja seperti SEO dan digital marketing, yang saat ini tersebar di berbagai platform dan tidak terorganisir sama sekali.

Tidak hanya yang sudah dicatat, Penulis juga ingin mencatat berbagai insight dan pengetahuan seputar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan penambahan value diri. AI adalah salah satu topik paling seksi untuk didalami.

Yang jelas, Notion benar-benar telah membantu Penulis dengan menjadi otak keduanya, walaupun saat ini masih terbatas untuk keperluan blog saja. Penulis merekomendasikan Notion untuk Pembaca yang merasa butuh aplikasi catatan dengan fitur yang berlimpah.


Lawang, 4 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya menggunakan Notion untuk blogging

Continue Reading

Produktivitas

Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas

Published

on

By

Banyak orang yang menginginkan hidup produktif. Namun, tidak banyak orang yang berhasil melakukannya. Beberapa alasannya adalah rasa malas, kurang motivasi, hingga adanya distraksi atau gangguan yang menghambat kita untuk produktif.

Rasa malas atau kurang motivasi berasal dari internal, sehingga cara mengatasinya pun mau tidak mau harus dari diri sendiri. Kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri untuk bisa mengusir hal-hal yang menghambat produktivitas tersebut.

Nah, lain halnya dengan adanya distraksi yang kerap datang dari luar atau eksternal diri kita. Bentuknya pun macam-macam. Namun, ada satu distraksi yang Penulis anggap sebagai yang terbesar sekaligus terbesar, yaitu adanya smartphone alias ponsel pintar.

Mengapa Smartphone adalah Distraksi Terbesar?

Distraksi Terbesar Saat Bekerja atau Belajar (cottonbro studio)

Selama beberapa tahun terakhir, smartphone kita terus berevolusi menjadi sebuah gawai yang sangat canggih, hingga seolah-olah kita bisa melakukan semua hal menggunakannya. Ini semakin dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang jumlahnya mungkin mencapai jutaan.

Salah satu dampak terbesar yang dihasilkan oleh smartphone adalah meningkatnya interaksi antarmanusia hingga seolah tak berbatas ruang dan waktu. Kita bisa melihat berbagai kejadian di seluruh dunia hanya dalam kedipan mata saja melalui media sosial.

Ada banyak pilihan media sosial yang bisa kita gunakan, mulai Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, hingga Pinterest. Sarana hiburan untuk menonton tayangan visual pun banyak, mulai yang gratis seperti YouTube hingga yang berbayar seperti Netflix, Disney+, Vidio, dan lainnya.

Jangan lupakan juga judul-judul game yang bisa membuat kita melupakan kehidupan kita sejenak di dunia nyata. Ada yang menyukai game kompetitif seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile, ada juga yang suka bertualang di Genshin Impact.

Masih banyak yang bisa kita lakukan melalui smartphone, seperti membaca berita, membaca komik, melihat meme, membuat konten viral, dan lain sebagainya. Banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan inilah yang membuat smartphone menjadi distraksi yang luar biasa.

Bayangkan, setelah merasa bosan dengan Instagram, beralik ke TikTok. Begitu bosan, pindah lagi ke Twitter. Bosan lagi, pindah main game. Capek, refreshing dengan menonton YouTube. Putaran aktivitas ini seolah tak pernah berhenti mengisi hari-hari kita.

Apalagi, kini semakin banyak platform yang menyediakan fitur infinity scroll di mana kita secara tak terbatas diberikan konten video pendek. Berdasarkan pengalaman Penulis, fitur ini kerap membuat kita merasa lupa waktu karena tidak tahu kapan harus berhenti.

Bagaimana agar Smartphone Tidak Menjadi Sebuah Distraksi?

Salah Satu Aplikasi yang Membantu Mengatasi Distraksi Smartphone (Dating Advice)

Ketika sedang bekerja atau belajar, kita kerap beralih ke smartphone kita dengan dalih “refreshing” karena merasa suntuk. Niatnya hanya 5 menit, tahu-tahu bertambah menjadi 50 menit. Pekerjaan pun akhirnya tertunda, menumpuk, atau bahkan tidak selesai.

Penulis kerap berniat untuk menjalani hari yang produktif, seperti menulis beberapa artikel blog, membaca buku self-improvement, atau mulai menulis novel lagi. Namun, jika sudah main smartphone dan rebahan, niat tersebut pun sirna begitu saja, kalah oleh rasa malas.

Berdasarkan poin di atas, Penulis pun menganggap kalau smartphone adalah distraksi terbesar dalam produktivitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa cara agar kita bisa menghindari distraksi tersebut semaksimal mungkin.

Kalau yang mau ekstrem, Penulis di jam kerja biasanya menjauhkan smartphone sejauh mungkin dari jangkauan. Dengan membuatnya “tidak terlihat”, rasa penasaran ingin mengeceknya pun bisa menjadi berkurang.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika merasa suntuk atau penat? Lakukan aktivitas fisik yang tidak melibatkan smartphone. Beberapa hal yang Penulis lakukan adalah baca buku, bermain bersama kucing, duduk melihat tanaman, hingga rebahan sejenak.

Seandainya tidak bisa menahan diri untuk mengecek smartphone, mungkin kita butuh bantuan aplikasi seperti Forest dan AppBlock. Bisa juga menggunakan fitur bawaan dari smartphone yang mengatur berapa jam maksimal kita menggunakan aplikasi tertentu.

Penulis merasa terbantu dengan aplikasi-aplikasi ini agar Penulis bisa berhenti membuka aplikasi-aplikasi tertentu di jam profuktif. Namun, terkadang diri kita pun “nakal” dan justru memilih untuk menghapus aplikasi-aplikasi tersebut.

Jadi, pada dasarnya semua kembali ke diri sendiri, apakah kita benar-benar ingin menghilangkan distraksi tersebut atau tidak. Kalau keinginan dan tekad kita benar-benar kuat, bahkan tanpa bantuan aplikasi pun kita bisa menyingkirkan distraksi tersebut.

Penutup

Selain smartphone, tentu masih ada distraksi lain mengingat kebanyakan aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone juga tersedia di laptop. Namun, setidaknya laptop tidak bisa digunakan sambil rebahan karena kurang nyaman dan berat.

Oleh karena itu, Penulis benar-benar berusaha membatasi penggunaan smartphone hariannya karena terbukti sangat sering membuat hari Penulis menjadi tidak produktif. Entah sudah berapa banyak waktu yang terbuang karena smartphone ini.

Penulis pun memiliki target agar penggunaan smartphone dalam sehari tidak melebihi 5 jam. Sejauh ini, target ini relatif bisa dicapai di weekday karena adanya rutinitas pekerjaan. Di weekend, angka penggunaan bisa naik walau tidak terlalu banyak.

Dengan mengurangi penggunaan smartphone, Penulis berharap bisa menjadi pribadi yang lebih produktif lagi, memiliki pola hidup yang lebih teratur, dan mampu melakukan banyak hal yang lebih bermanfaat.


Lawang, 12 Juni 2023, terinspirasi karena merasa smartphone adalah distraksi terbesar ketika dirinya ingin memiliki hidup yang produktif

Foto Featured Image: MarketWatch

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan