Connect with us

Sosial Budaya

Yang Salah dari Privilege

Published

on

Permasalahan mengenai privilege yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan Apa yang Salah dari Privilege?

Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan privilege yang dimiliki oleh seseorang dan mengapa privilege bukan satu-satunya faktor penentu.

Yang Salah dengan Privilege

Putri Tanjung dan Ayahnya (Asianet.id)

Semua orang memiliki taraf privilege yang berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri. Yang sering disorot adalah privilege kekayaan dan jabatan.

Contoh yang cukup menghebohkan adalah ketika Putri Tanjung diangkat sebagai Staf Khusus Presiden. Banyak yang menuding bahwa ia bisa meraih jabatan tersebut karena ayahnya merupakan pebisnis terkenal, Chairil Tanjung.

Banyak yang mengkritik perempuan tersebut karena ia terlihat seolah mengingkari privilege yang dimiliki. Mengingkari privilege yang dimiliki adalah hal yang salah menurut penulis.

Jika mau terlihat sarkas, sikap tersebut seolah ingin menertawakan usaha orang-orang yang tidak memiliki privilege. Coba bayangkan mereka berkata seperti ini di media sosial:

“Kalau aku bisa, kamu pasti bisa.”

Kalau kata-kata seperti itu keluar, dijamin SJW di Twitter akan langsung muncul dan memberi hujatan kepadanya. Tak jarang ada yang akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan sang pemilik privilege.

Menurut teman kantor penulis, orang-orang yang memiliki privilege lebih seharusnya lebih memikirkan kesejahteraan bersama. Contohnya adalah Cinta Laura yang memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan membangun sekolah,

Penulis sangat sepakat di sini. Sudah sewajarnya orang-orang dengan privilege membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.

Lanjutnya, peran pemerintah dibutuhkan di sini untuk memangkas jarak antara yang memiliki privilege dengan yang tidak. Masalah sehari-hari seperti akses sekolah saja sudah sangat membantu.

Akan tetapi, mungkin kita melupakan sesuatu di sini.

Orang dengan Privilege Juga Butuh Kerja Keras

Kenapa Angela Bisa Jadi Wamen? (Finroll.com)

Penulis sepakat bahwa privilege memberikan keuntungan yang sangat besar. Sebuah jurnal berjudul Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia menunjukkan hal tersebut.

Singkat kata, penelitian tersebut telah melakukan penelitian  kepada 22 ribu orang yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia (83% populasi).

Hasilnya, mereka yang berasal dari keluarga miskin memiliki pendapatan 87% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.

Walaupun begitu, penulis percaya orang-orang dengan privilege juga berusaha keras demi bisa mencapai sesuatu. Lebih mudah, sudah pasti. Tapi tetap ada usaha yang mereka keluarkan dan ini yang seringkali diabaikan.

Putri Tanjung mungkin bisa bikin usaha yang membuatnya dilirik presiden karena minta modal dan bantuan koneksi ke bapaknya. Tapi kalau ia tidak mampu mengaturnya dengan baik, hasilnya pasti jelek.

Maudy Ayunda sudah menempuh pendidikan di sekolah internasional sejak kecil. Tapi kalau ia tidak rajin belajar, pasti tidak akan dilema memilih universitas dunia.

Kalau anaknya Hary Tanoe yang jadi wakil menteri, penulis juga kurang tahu dia ngapain sampai bisa masuk ke dalam kabinet. Kalau ada yang tahu, mungkin bisa kasih tahu penulis.

Kita hanya melihat sisi yang terlihat dari mereka. Padahal, penulis yakin banyak sekali sisi-sisi yang tidak terlihat dan luput dari pengamatan kita.

Anak-anak pengusaha sukses misalnya. Mereka pasti menanggung beban nama besar orangtuanya. Sedikit-sedikit pasti dibandingkan, seolah tidak bisa lepas dan menjadi individu yang mandiri.

Banyak contoh anak-anak orang kaya dan terkenal, gagal memaksimalkan privilege yang dimiliki. Mereka hanya sekadar memanfaatkan privilege yang dimiliki untuk kepentingannya sendiri dan berfoya-foya. Inilah yang salah.

Yang penulis khawatirkan, orang-orang akan menjadi rendah diri dan merasa dirinya tidak akan sukses karena merasa tidak miliki privilege.

Bisakah Sukses Tanpa Privilege?

Raeni, Sekolah Sampai S3 di Inggris (Beritagar)

Masalahnya, manusia cenderung menyukai bad news dibandingkan dengan good news. Sukses karena privilege termasuk bad news, sedangkan sukses tanpa privilege termasuk good news.

Banyak kisah sukses orang-orang tanpa privilege (walaupun kebanyakan dari kita punya privilege dalam bentuk yang berbeda) yang hanya muncul sebentar, lantas dilupakan oleh orang.

Penulis mencoba mencari berita tentang Raeni, anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, ia sedang melanjutkan studi di Inggris. Sedihnya, berita ini kurang terekspos ke publik.

Beberapa hari yang lalu, ibu penulis mengirimkan sebuah video melalui Instagram. Video tersebut benar-benar menampar penulis.

Bagaimana tidak, ada seorang pemain biola yang tidak memiliki tangan. Walaupun begitu, ia masih bisa mengalunkan musik dengan indahnya.

Lihat, memiliki anggota tubuh yang lengkap pun bisa menjadi sebuah privilege bagi kita. Oleh karena itu, jangan sampai menggunakan privilege orang lain sebagai kambing hitam atas ketidaksuksesan kita.

Kalau mau jujur, kita pun sekarang bekerja keras agar keturunan kita bisa mendapatkan privilege yang lebih baik dari kita. Kecuali, kalau kita tidak memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak.

Penutup

Privilege penulis akui memberikan keuntungan yang sangat besar. Ibarat lomba lari, ia sudah berada 1 kilometer di depan orang yang tidak memiliki privilege. Tapi penulis percaya ada variabel-variabel lain yang akan memengaruhi hasil pertandingan.

Bisa saja, yang mendapatkan privilege mendapatkan cedera sehingga bisa disalip. Atau mungkin yang punya privilege terlalu sombong hingga memutuskan untuk tidur dulu, sehingga ia pada akhirnya kalah.

Kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan privilege atau tidak ketika lahir. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menggunakan privilege tersebut secara bijak.

Bagaimana dengan yang tidak memiliki privilege? Karena “jaraknya” dengan yang punya privilege cukup jauh, usaha yang dikerahkan pun harus lebih besar.

Berarti tidak adil? Kalau melihat dengan kacamata manusia mungkin iya. Tapi penulis yakin Tuhan punya takaran keadilan-Nya sendiri yang kadang tidak bisa dipahami manusia.

Toh, semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak-Nya. Memang terdengar klise, tapi penulis benar-benar meyakini hal tersebut.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi dengan segala topik terkait privilege

Foto: Mommies Daily

Sumber Artikel: Kompas, DNK

Sosial Budaya

Metaverse adalah Distopia

Published

on

By

Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect.

Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram.

Mark Zuckerberg dan Meta (The Verge)

Tidak hanya itu, Zuckerberg juga menjelaskan konsep metaverse yang akan menurutnya akan menjadi lembaran baru untuk dunia internet. Bahkan, ia juga mengatakan kalau Facebook akan menjadi perusahaan metaverse.

Menyusul Facebook, raksasa teknologi Microsoft juga mengumumkan akan membuat metaverse versinya sendiri. Mereka akan menerapkannya di aplikasi Microsoft Teams dan di masa depan akan diterapkan di konsol Xbox.

Sayangnya, Penulis melihat metaverse ini sebagai sesuatu yang patut untuk dikhawatirkan.

Apa Itu Metaverse?

Satya Nadella (Windwos Central)

Secara mudah, metaverse adalah sebuah dunia virtual di mana penggunanya bisa berinteraksi di dalamnya sama seperti di dunia nyata. Atau seperti kata CEO Microsoft Satya Nadella:

“The metaverse enables us to embed computing into the real world and to embed the real world into computing, bringing real presence to any digital space.”

“Metaverse memungkinkan kita untuk menanamkan komputasi ke dunia nyata dan untuk menanamkan dunia nyata ke dalam komputasi, membawa kehadiran nyata ke ruang digital mana pun.”

Dengan mewabahnya pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan agar karyawannya bekerja secara remote dari rumah. Bahkan, hal ini telah menjadi sesuatu yang normal dan dianggap lumrah.

Kita bisa melakukan rapat di kamar hanya dengan bermodalkan laptop dan berinteraksi dengan teman-teman kantor lainnya. Metaverse akan membawa kita melampaui hal tersebut.

Metaverse akan membuat kita merasa berada di dalam sebuah ruang digital dengan alat bantu seperti headset VR. Kita juga bisa membuat avatar 3D sebagai representasi kita di dunia virtual tersebut.

Sword Art Online (Duniaku)

Contoh mudah untuk membayangkan metaverse adalah melalui film The Matrix dan Ready Player One atau anime Sword Art Online.

Penulis tidak pernah menonton Sword Art Online, tapi tahu kalau ceritanya adalah sekelompok remaja yang bermain gim dengan menggunakan alat yang membuat kita merasa benar-benar berada di dalam gim tersebut.

Bahkan, sebenarnya ada beberapa gim VR yang membuat kita berada di dalam dunia digital sungguhan seperti Beat Saber dan Half-Life Alyx. Tidak hanya dari sisi software, hardware pendukung pun semakin berkualitas.

Kedengarannya metaverse adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan? Masa depan teknologi yang terlihat begitu cerah. Sayangnya Penulis tidak bisa berpikir seperti itu.

Metaverse dan Distopia yang Dibuatnya

Novel Snow Crash (Reclaim the Net)

Istilah metaverse dianggap pertama kali muncul dari novel berjudul Snow Crash karangan Neal Stephenson yang rilis pada tahun 1992. Sayangnya, novel tersebut bertema distopia dan itu bukan pertanda baik.

Menurut KBBI, distopia adalah:

“Tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan, lawan dari utopia”

Di dalam novel tersebut, Stephenson menyebutkan bahwa, “… metaverse itu sendiri adalah tempat yang membuat ketagihan, penuh kekerasan, dan memungkinkan dorongan terburuk kita.”

Seperti yang kita ketahui bersama, tanpa metaverse pun kita sudah begitu ketagihan menghabiskan waktu di dunia maya, entah karena scrolling media sosial, nonton YouTube, hingga bermain gim.

Bayangkan jika kita bisa merasakan apa yang kita dapatkan di media sosial, seolah-olah kita sedang berada di sana secara langsung, apa malah tidak membuat kita semakin betah dan ketagihan?

Media Sosial Itu Sangat Adiktif (Healthline)

Banyak yang menjadikan media sosial sebagai “pelarian” dari dunia nyata. Mau pusing atau ada masalah seperti apapun, media sosial seolah selalu berhasil mengalihkan pikiran kita ke tempat lain.

Dengan adanya metaverse, kita benar-benar bisa kabur ke dunia virtual dan merasakannya secara nyata. Mungkin jika sesekali masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana jika kita menjadi ketergantungan terhadapnya?

Selain itu, konsep hidup di dunia maya telah terbukti melahirkan orang-orang toxic yang merasa berani karena identitas mereka yang asli tertutupi oleh akun maya mereka. Jika mereka bisa muncul dengan avatar yang anonim, bukan tidak mungkin ke-toxic-an mereka akan semakin menjadi-jadi.

Bagaimana jika karena seringnya kita mengunjungi dunia virtual ini, kita akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana dunia nyata dan dunia virtual? Bagaimana jika kita menolak hidup di dunia nyata dan memilih hidup di dunia “impian” yang tidak nyata?

Mungkin semua yang diutarakan di atas terdengar berlebihan dan terlalu paranoid, tapi Penulis merasa hal-hal tersebut bisa benar-benar terjadi, terutama jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.

Penutup

Gambaran Avatar Kita di Metaverse (TechCrunch)

Facebook dan Microsoft jelas memiliki sumber daya yang lebih cukup untuk membangun metaverse mereka sendiri. Mau diiklankan dengan bahasa seindah apapun, Penulis tetap sedikit merasa was-was dengannya.

Menurut Penulis pribadi, daripada harus membuat dunia virtual terasa nyata, kenapa kita tidak berusaha untuk memperbaiki dunia nyata yang sudah ada?

Apakah dunia ini sudah begitu rusak sehingga kita perlu membuat dunia virtual terasa begitu indah? Apakah memang Bumi tempat kita tinggal ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi?

Serusak Itukah Realita Kita? (Pinterest)

Tidak hanya itu, potensi metaverse yang bisa membuat penggunanya ketagihan juga membuat Penulis khawatir. Metaverse sangat bisa untuk menjadi tempat pelarian kita dari masalah yang dihadapi di dunia nyata.

Menjadikan dunia maya dan metaverse sebagai pelarian benar-benar ide yang sangat berbahaya. Kita tidak bisa terus kabur dan lari dari masalah. Masalah pasti akan selalu hadir, bahkan di dunia virtual sekalipun.

Penulis tidak tahu bagaimana masa depan metaverse ini selama beberapa tahun ke depan. Beberapa orang sudah menyebutkan kegelisahannya yang mirip dengan yang Penulis rasakan.

Kehadiran metaverse jelas tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri kita agar jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi-teknologi distopia tersebut.


Lawang, 3 November 2021, terinspirasi setelah membaca beberapa artikel seputar metaverse

Foto: Vice

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Berbincang Sedikit tentang Close Friend

Published

on

By

Penulis sudah agak lama tidak membuka Twitter. Entah mengapa rasanya ingin sedikit menjauh dari media sosial yang terkenal karena “drama”-nya itu.

Sesekali Penulis mengecek ala kadarnya, mungkin hanya sekitar 5-10 saja. Twitter juga masih Penulis manfaatkan untuk share artikel blog yang terbaru.

Nah, kok ya pas kemarin cek Twitter muncul berita trending tentang seorang public figure yang ketahuan bertindak kurang pantas untuk kedua kalinya.

Penulis sebenarnya merasa bodo amat karena merasa kejadian tersebut bukan urusannya, walaupun timbul perasaan khawatir kalau perbuatan tersebut ditiru oleh anak-anak muda.

Hanya saja, ada satu hal lain yang menarik perhatian Penulis, yakni fitur Close Friend yang dimiliki oleh Instagram.

Fitur Close Friend dari Instagram

Kalau tidak salah, fitur Close Friend dihadirkan oleh Instagram pada tahun 2018. Tujuannya adalah untuk melabeli orang-orang tertentu sebagai “teman dekat” kita di Instagram.

Ketika membuat story, kita bisa memilih untuk memublikasikannya kepada khalayak umum atau orang-orang yang berada di daftar Close Friend ini.

Semenjak menggunakan Instagram hingga sekarang, Penulis tidak pernah menggunakan fitur Close Friend. Bukan karena tidak punya teman dekat, melainkan karena merasa tidak perlu saja.

Mungkin fitur ini dibutuhkan oleh orang-orang yang followers-nya banyak. Kadang, ada beberapa momen yang hanya ingin dibagikan kepada orang-orang tertentu karena berbagai alasan.

Walaupun begitu, Penulis merasa tersanjung apabila ada temannya yang memasukkan Penulis sebagai Close Friend-nya. Artinya, teman tersebut percaya atau ingin berbagi momennya dengan Penulis.

Close Friend yang Tidak Benar-Benar Close

Satu hal yang membuat heboh kasus si public figure adalah karena Story-nya dibocorkan oleh salah satu (atau mungkin lebih) teman yang ia masukkan ke dalam Close Friend-nya.

Akibatnya, hal yang ia ingin bagi ke circle tertentu harus bocor ke masyarakat umum dan ia harus kembali menerima hujatan dari masyarakat. Ada sih yang memberi dukungan. Maklum, good-looking privilege.

Karena kejadian ini, banyak yang memelintir Close Friend menjadi Cepu Friend, termasuk Jerome Polin melalui akun Twitter pribadinya.

Buat yang belum tahu, cepu adalah istilah untuk menyebut orang yang tidak bisa menjaga rahasia atau informasi yang dipercayakan kepadanya. Cepu Friend berarti teman yang tidak bisa menjaga rahasia.

Kejadian ini pun membuat kita berpikir, apakah fitur Close Friend benar-benar close dan bisa dipercaya? Mungkin kita saja yang harus memilihnya secara lebih cermat.

Memang Tidak Semuanya Harus Dibagi, Termasuk ke Close Friend

Di era keterbukaan seperti sekarang, membagikan momen-momen yang sedang dilalui memang sudah menjadi hal yang wajar. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilanggar.

Apalagi, kita bukan tinggal di negara bebas. Jika dianggap melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, pasti ada penghakiman yang seringnya dalam bentuk nyinyiran.

Bisa berbagi momen bukan berarti semuanya harus dibagi. Tetap ada beberapa hal yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri, apalagi sesuatu yang bisa menghebohkan, meresahkan, atau membuat risih orang lain.

Memang, makin banyak public figure yang mengumbar area privasi mereka demi popularitas. Biarkan saja, tidak usah pedulikan, masih banyak hal yang perlu kita lakukan selain berperan dalam melambungkan nama mereka.

Berbeda dengan cerita di novel The Circle, privasi bukanlah pelanggaran di dunia nyata. Kita semua tetap membutuhkan privasi dari pihak manapun, termasuk dari Close Friend sekalipun.


Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi dari trending-nya seorang public figure karena skandalnya

Foto: The Verge

Continue Reading

Sosial Budaya

“Jangan Cerita Siapa-Siapa, ya”

Published

on

By

Bercerita adalah sifat dasar manusia. Rasanya jarang sekali ada manusia yang tidak pernah bercerita seumur hidupnya. Bahkan, orang pendiam pun juga bercerita.

Cerita ada banyak macamnya. Ada yang cerita lucu, cerita horor, cerita pengalaman, cerita fiksi, cerita percintaan, cerita kegalauan, dan lain sebagainya.

Jika ada pencerita, maka ada pendengar. Jika tidak ada pendengar, namanya bukan bercerita, tapi bermonolog. Pendengar pun ada banyak macamnya, tapi rasanya tidak perlu dijabarkan di sini.

Nah, terkadang ada cerita yang tidak ingin kita sebarkan ke orang lain. Akan tetapi, ada dorongan dari dalam diri untuk menceritakannya ke orang lain. Akhirnya, kita memilih orang-orang tertentu untuk mendengarkan cerita tersebut.

Agar orang yang tersebut tidak menyebarkan cerita tersebut ke orang lain, biasanya kita akan berkata, “jangan cerita ke siapa-siapa, ya, cukup kamu aja yang tahu.”

Kalimat tersebut terkesan mudah sekali untuk dilakukan. Si pendengar hanya perlu tutup mulut dan menyimpannya sendirian.

Sayang, pada kenyataannya, kalimat tersebut adalah salah satu amanah yang berat untuk dilakukan.

***

Terkadang, ada saja orang yang meneruskan cerita kita ke orang lain meskipun sudah diminta untuk tidak melakukannya. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang memang bermulut ember, ada yang kelepasan, ada yang panik, dan lain sebagainya.

Ketika kita mengetahui kalau orang yang kita percayai tidak amanah, otomatis akan timbul rasa kekecewaan dalam diri dan rasanya tidak ingin memercayai orang itu lagi. Kita merasa telah dikhianati.

Sayangnya, kita tidak mengontrol orang lain. Mau kita memohon sampai berbusa sekalipun, belum tentu orang tersebut akan benar-benar diam dan tidak bercerita ke orang lain.

Oleh karena itu, kita harus benar-benar selektif baik dalam hal memilih apa yang ingin diceritakan dan kepada siapa cerita itu ingin kita sampaikan.

***

Memilih cerita yang ingin disampaikan artinya kita telah menyadari apa konsekuensi apabila cerita tersebut disebarkan. Jika kita benar-benar tidak ingin cerita tersebut diketahui orang lain, mungkin sebaiknya memang dipendam sendiri saja karena tidak semua hal perlu diungkapkan.

Sebelum memutuskan untuk berbagi cerita, coba pikirkan apa dampak apabila cerita tersebut tersebar luas. Jika efeknya begitu besar, ada baiknya untuk tetap menyimpannya sendiri. Kalau perlu, alihkan dengan menuliskannya di buku jurnal.

Memilih siapa cerita itu ingin disampaikan artinya kita telah menentukan siapa saja yang bisa kita percaya untuk menyimpan cerita tersebut. Orang tersebut bisa orangtua, saudara, sahabat, pacar, atau orang lain yang bisa memberikan kita rasa nyaman untuk bercerita.

Biasanya, orang yang kita percaya memiliki track record yang baik di masa lalu. Mereka tidak pernah membocorkan cerita kita ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang amanah.

Tapi, hati-hati. Rasa percaya kita ke orang tersebut itulah yang bisa menjadi benih kekecewaan jika ternyata orang tersebut tidak seperti yang kita kira. Oleh karena itu, kita harus lebih bijak dalam memilih orang-orang yang akan menjadi pendengar kita.

***

Bagi Penulis, jika ada orang yang bercerita ke dirinya lantas meminta untuk tidak menceritakannya ke orang lain, Penulis akan berusaha setengah mati untuk melaksanakan amanah tersebut.

Memang dalam realitanya, Penulis tidak selalu bisa menutup mulut. Namun, setidaknya Penulis benar-benar berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut.

Penulis ingin jadi orang yang bisa dipercaya sekaligus bisa memberikan rasa nyaman untuk orang-orang yang ingin bercerita.


Lawang, 3 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi

Foto: The 5am Hustle – WordPress.com

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan