Connect with us

Sosial Budaya

Yang Salah dari Privilege

Published

on

Permasalahan mengenai privilege yang sedang ramai beberapa waktu lalu benar-benar mengusik rasa ingin tahu penulis. Saking besarnya rasa penasaran tersebut, penulis sampai ingin menuliskan sekuel dari tulisan Apa yang Salah dari Privilege?

Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengulas beberapa hal yang belum sempat diulas pada tulisan sebelumnya. Penulis ingin menekankan apa yang salah dengan privilege yang dimiliki oleh seseorang dan mengapa privilege bukan satu-satunya faktor penentu.

Yang Salah dengan Privilege

Putri Tanjung dan Ayahnya (Asianet.id)

Semua orang memiliki taraf privilege yang berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri. Yang sering disorot adalah privilege kekayaan dan jabatan.

Contoh yang cukup menghebohkan adalah ketika Putri Tanjung diangkat sebagai Staf Khusus Presiden. Banyak yang menuding bahwa ia bisa meraih jabatan tersebut karena ayahnya merupakan pebisnis terkenal, Chairil Tanjung.

Banyak yang mengkritik perempuan tersebut karena ia terlihat seolah mengingkari privilege yang dimiliki. Mengingkari privilege yang dimiliki adalah hal yang salah menurut penulis.

Jika mau terlihat sarkas, sikap tersebut seolah ingin menertawakan usaha orang-orang yang tidak memiliki privilege. Coba bayangkan mereka berkata seperti ini di media sosial:

“Kalau aku bisa, kamu pasti bisa.”

Kalau kata-kata seperti itu keluar, dijamin SJW di Twitter akan langsung muncul dan memberi hujatan kepadanya. Tak jarang ada yang akan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan sang pemilik privilege.

Menurut teman kantor penulis, orang-orang yang memiliki privilege lebih seharusnya lebih memikirkan kesejahteraan bersama. Contohnya adalah Cinta Laura yang memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan membangun sekolah,

Penulis sangat sepakat di sini. Sudah sewajarnya orang-orang dengan privilege membantu orang-orang yang tidak seberuntung mereka.

Lanjutnya, peran pemerintah dibutuhkan di sini untuk memangkas jarak antara yang memiliki privilege dengan yang tidak. Masalah sehari-hari seperti akses sekolah saja sudah sangat membantu.

Akan tetapi, mungkin kita melupakan sesuatu di sini.

Orang dengan Privilege Juga Butuh Kerja Keras

Kenapa Angela Bisa Jadi Wamen? (Finroll.com)

Penulis sepakat bahwa privilege memberikan keuntungan yang sangat besar. Sebuah jurnal berjudul Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia menunjukkan hal tersebut.

Singkat kata, penelitian tersebut telah melakukan penelitian  kepada 22 ribu orang yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia (83% populasi).

Hasilnya, mereka yang berasal dari keluarga miskin memiliki pendapatan 87% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.

Walaupun begitu, penulis percaya orang-orang dengan privilege juga berusaha keras demi bisa mencapai sesuatu. Lebih mudah, sudah pasti. Tapi tetap ada usaha yang mereka keluarkan dan ini yang seringkali diabaikan.

Putri Tanjung mungkin bisa bikin usaha yang membuatnya dilirik presiden karena minta modal dan bantuan koneksi ke bapaknya. Tapi kalau ia tidak mampu mengaturnya dengan baik, hasilnya pasti jelek.

Maudy Ayunda sudah menempuh pendidikan di sekolah internasional sejak kecil. Tapi kalau ia tidak rajin belajar, pasti tidak akan dilema memilih universitas dunia.

Kalau anaknya Hary Tanoe yang jadi wakil menteri, penulis juga kurang tahu dia ngapain sampai bisa masuk ke dalam kabinet. Kalau ada yang tahu, mungkin bisa kasih tahu penulis.

Kita hanya melihat sisi yang terlihat dari mereka. Padahal, penulis yakin banyak sekali sisi-sisi yang tidak terlihat dan luput dari pengamatan kita.

Anak-anak pengusaha sukses misalnya. Mereka pasti menanggung beban nama besar orangtuanya. Sedikit-sedikit pasti dibandingkan, seolah tidak bisa lepas dan menjadi individu yang mandiri.

Banyak contoh anak-anak orang kaya dan terkenal, gagal memaksimalkan privilege yang dimiliki. Mereka hanya sekadar memanfaatkan privilege yang dimiliki untuk kepentingannya sendiri dan berfoya-foya. Inilah yang salah.

Yang penulis khawatirkan, orang-orang akan menjadi rendah diri dan merasa dirinya tidak akan sukses karena merasa tidak miliki privilege.

Bisakah Sukses Tanpa Privilege?

Raeni, Sekolah Sampai S3 di Inggris (Beritagar)

Masalahnya, manusia cenderung menyukai bad news dibandingkan dengan good news. Sukses karena privilege termasuk bad news, sedangkan sukses tanpa privilege termasuk good news.

Banyak kisah sukses orang-orang tanpa privilege (walaupun kebanyakan dari kita punya privilege dalam bentuk yang berbeda) yang hanya muncul sebentar, lantas dilupakan oleh orang.

Penulis mencoba mencari berita tentang Raeni, anak tukang becak yang berhasil mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, ia sedang melanjutkan studi di Inggris. Sedihnya, berita ini kurang terekspos ke publik.

Beberapa hari yang lalu, ibu penulis mengirimkan sebuah video melalui Instagram. Video tersebut benar-benar menampar penulis.

Bagaimana tidak, ada seorang pemain biola yang tidak memiliki tangan. Walaupun begitu, ia masih bisa mengalunkan musik dengan indahnya.

Lihat, memiliki anggota tubuh yang lengkap pun bisa menjadi sebuah privilege bagi kita. Oleh karena itu, jangan sampai menggunakan privilege orang lain sebagai kambing hitam atas ketidaksuksesan kita.

Kalau mau jujur, kita pun sekarang bekerja keras agar keturunan kita bisa mendapatkan privilege yang lebih baik dari kita. Kecuali, kalau kita tidak memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak.

Penutup

Privilege penulis akui memberikan keuntungan yang sangat besar. Ibarat lomba lari, ia sudah berada 1 kilometer di depan orang yang tidak memiliki privilege. Tapi penulis percaya ada variabel-variabel lain yang akan memengaruhi hasil pertandingan.

Bisa saja, yang mendapatkan privilege mendapatkan cedera sehingga bisa disalip. Atau mungkin yang punya privilege terlalu sombong hingga memutuskan untuk tidur dulu, sehingga ia pada akhirnya kalah.

Kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan privilege atau tidak ketika lahir. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menggunakan privilege tersebut secara bijak.

Bagaimana dengan yang tidak memiliki privilege? Karena “jaraknya” dengan yang punya privilege cukup jauh, usaha yang dikerahkan pun harus lebih besar.

Berarti tidak adil? Kalau melihat dengan kacamata manusia mungkin iya. Tapi penulis yakin Tuhan punya takaran keadilan-Nya sendiri yang kadang tidak bisa dipahami manusia.

Toh, semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak-Nya. Memang terdengar klise, tapi penulis benar-benar meyakini hal tersebut.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi dengan segala topik terkait privilege

Foto: Mommies Daily

Sumber Artikel: Kompas, DNK

Sosial Budaya

Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain

Published

on

By

Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.

Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Joki 3-in-1 (Antara News)

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.

Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.

Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.

Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.

Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.

Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.

Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.

Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Contoh Joki Baca Buku (X)

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.

Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.

Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”

Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.

Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.

Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.

Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan

Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.

Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.

Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.

Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.

Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?


Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini

Continue Reading

Sosial Budaya

Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang

Published

on

By

Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.

Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.

Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Harusnya Jadi Budaya Kita (Ludovic Delot)

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.

Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.

Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.

Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.

Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.

Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.

Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.

Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Membaca di Tempat Umum (Ahmet Kurt)

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.

Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.

Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.

Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.

Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.

Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.

Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.

Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!


Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum

Continue Reading

Sosial Budaya

Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)

Published

on

By

Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.

Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.

Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.

Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Hearts2Hearts (X)

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.

Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.

Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.

Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.

Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.

Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.

Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.

Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.

Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Wallpaper Jiwoo (TikTok)

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.

Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,

Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”

Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.

Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”

Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?

Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.

Padahal ya Belum Tentu Benar

Jiwoo dan Carmen (Instagram)

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.

Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.

Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.

Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.

Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).

Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?

Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?

Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?

Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?

Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.

***

Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.

Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.

Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018