<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>One OK Rock Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/one-ok-rock/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/one-ok-rock/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2023 14:55:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>One OK Rock Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/one-ok-rock/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 14:58:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6205</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul Luxury Disease. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam. Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa rock-nya, sama seperti dua album sebelumnya (Ambition [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a></em>, Penulis telah menyinggung sedikit tentang album terbaru dari ONE OK ROCK yang berjudul <em><strong>Luxury Disease</strong></em>. Album ini rilis pada tanggal 9 September 2022 silam.</p>



<p>Pada tulisan tersebut, Penulis juga sempat mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena lagi-lagi album ini kurang terasa nuansa <em>rock</em>-nya, sama seperti dua album sebelumnya (<em>Ambition </em>dan <em>Eye of the Storm</em>) </p>



<p>Namun, setelah beberapa kali mendengarkannya, Penulis jadi berubah pikiran tentang album ini. Ternyata ada beberapa lagu, yang walaupun tidak <em>rock-rock </em>banget, lumayan cocok di telinga Penulis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Tracklist dari Luxury Disease</h2>



<p>Sama seperti beberapa album sebelumnya, <em>Luxury Disease </em>memiliki dua versi, yakni versi Jepang dan Internasional. Penulis selalu lebih menyukai versi Jepangnya karena sang vokalis, Taka, memang terdengar lebih fasih dalam melafalkan lirik-liriknya.</p>



<p>Di album versi Jepang ini ada total lima belas lagu di dalamnya, yang daftarnya adalah sebagai berikut:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Save Yourself</li><li>Neon</li><li>Vandalize</li><li>When They Turn the Light On</li><li>Let Me Let You Go</li><li>So Far Gone</li><li>Prove</li><li>Mad World</li><li>Free Them (feat. Teddy Swims)</li><li>Renegades</li><li>Outta Sight</li><li>Your Tears are Mine</li><li>Wonder</li><li>Broken Heart of Gold</li><li>Gravity (feat. Satoshi Fujihara)</li></ol>



<p>Sebelum album ini rilis secara utuh, ada beberapa <em>single </em>yang dilepas terlebih dahulu. Pertama adalah <em><strong>Renegades </strong></em>yang juga menjadi <em>soundtrack </em>dari film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-final/">Rurouni Kenshin: The Final</a></em>. Lagu ini  jelas terasa <em>rock-</em>nya, meskipun temponya tidak terlalu cepat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="ONE OK ROCK: Renegades [OFFICIAL VIDEO]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/4n5bpeh5NNg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Single </em>berikutnya yang rilis adalah <em><strong>Heart of the Gold</strong></em> (jadi <em>soundtrack </em>film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-rurouni-kenshin-the-beginning/">Rurouni Kenshin: The Beginning</a></em>)<em> </em>yang bagi Penulis terlalu <em>mellow</em>, walaupun ada teman Penulis yang menganggapnya mirip dengan <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/"><em>Heartache </em>dari album <em>35xxxv</em></a>. </p>



<p>Lagu <em><strong>Wonder</strong> </em>dan <em><strong>Save Yourself</strong> </em>menjadi <em>single </em>ketiga dan keempat. Sayangnya, hingga lagu keempat ini masih belum ada lagu baru dari album ini yang berhasil membuat Penulis merasa benar-benar menyukainya.</p>



<p>Walaupun setelah itu masih ada dua <em>single </em>lagi (<em>Let Me Let You Go </em>dan <em>Vandalize</em>), Penulis memutuskan untuk menunggu albumnya keluar sekalian saja. Untungnya, setelah mendengarkan berkali-kali, ada beberapa lagu yang Penulis sukai.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lagu Rekomendasi dari Album Luxury Disease</h2>



<p>Lagu pertama yang langsung menarik perhatian telinga Penulis adalah <em><strong>Let Me Let You Go</strong></em> yang sejatinya menjadi <em>single </em>kelima dari album ini. Perlu mendengarkan beberapa kali hingga akhirnya Penulis memutuskan untuk menyukai lagu ini.</p>



<p>Meskipun bagian <em>reff</em>-nya seolah <em>cooldown </em>karena hanya diiringi musik akustik, lagu ini terdengar <em>catchy </em>dengan pemilihan lirik yang mantap. Lagu ini mungkin memang tidak terlalu <em>rock</em>. Namun, setidaknya hentakan musiknya masih terasa.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="ONE OK ROCK - Let Me Let You Go [Live Documentary Video]" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/uA832zpafis?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu lain yang Penulis rekomendasikan adalah <em><strong>So Far Gone</strong> </em>yang, sekali lagi, terdengar <em>mellow</em>. Namun, setidaknya lagu ini memamerkan tingginya nada yang bisa dicapai Taka di bagian <em>reff</em>.</p>



<p>Apalagi, teriakannya diiringi oleh suara akustik gitar yang bisa memberikan kesan pilu bagi yang menyanyikan. Penulis menangkap lagu ini memang berkisah tentang seseorang yang benar-benar kita cintai tidak akan pernah meninggalkan hati kita.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="So Far Gone" width="740" height="555" src="https://www.youtube.com/embed/FGPu3sg_BUM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em><strong>Mad World</strong> </em>dan <em><strong>Outta Sight</strong> </em>adalah dua lagu lain yang Penulis rekomendasikan untuk didengarkan. Meskipun unsur <em>rock-</em>nya kurang, musiknya masih enak didengarkan dan rasanya cocok-cock saja bagi penikmat musik <em>rock </em>seperti Penulis.</p>



<p>Khusus lagu <em>Mad World</em>, Penulis sangat merekomendasikan untuk mendengarkan versi Jepangnya saja. Apa ya, rasanya lagu ini memang lebih cocok menggunakan bahasa tersebut karena versi bahasa Inggrisnya agak terasa aneh.</p>



<p>Untuk lagu-lagu lainnya, sayangnya tidak ada yang benar-benar cocok dengan selera Penulis. Masih menyenangkan untuk didengarkan, tapi tidak sampai masuk ke <em>playlist </em>Penulis. Cukup empat lagu (+<em>Renegades</em>) di atas yang masuk.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Dengan tidak banyaknya <em>band rock </em>yang tersisa di dunia (setidaknya yang cocok dengan selera Penulis), Penulis akan terus menantikan karya-karya terbaru dari ONE OK ROCK sembari berharap mereka akan kembali ke akarnya, yaitu <em>rock</em>.</p>



<p>Apalagi, Taka juga pernah berucap bahwa genre <em>rock </em>mulai bisa kembali diterima di Amerika Serikat, pasar utama yang diincar oleh ONE OK ROCK. Jadi, rasanya tidak berlebihan jika album seperti <em>35xxxv </em>akan ada lagi di masa depan.</p>



<p>Untuk sekarang, rasanya Penulis sudah cukup merasa puas dengan album <em>Luxury Disease </em>yang <em>easy listening </em>ini. Untung saja album ini bisa mengubah pemikiran Penulis setelah didengarkan beberapa kali.</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link">Download Album Luxury Disease</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 Januari 2023, terinspirasi setelah mendengarkan ulang album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/">Saya Berubah Pikiran tentang Luxury Disease</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/saya-berubah-pikiran-tentang-luxury-disease/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2022 05:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Luxury Disease]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5935</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya ONE OK ROCK merilis album terbarunya yang diberi judul Luxury Disease pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, Zeitakubyō. Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari ONE OK ROCK, di mana sebelumnya band ini hanya memiliki jarak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah menanti cukup lama, akhirnya <strong>ONE OK ROCK</strong> merilis album terbarunya yang diberi judul <em><strong>Luxury Disease</strong></em> pada tanggal 9 September 2022. Menariknya, nama tersebut merupakan terjemahan secara harfiah dari album pertama yang rilis 15 tahun lalu, <em>Zeitakubyō</em>.</p>



<p>Ini merupakan jarak produksi album terjauh dari <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">ONE OK ROCK</a>, di mana sebelumnya <em>band </em>ini hanya memiliki jarak dua tahun antaralbumnya. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat album ini dibuat di masa-masa pandemi yang mencekam.</p>



<p>Dari awal, Penulis sudah cukup skeptis dengan album baru mereka mengingat album <em>Eye of the Storm </em>yang terlalu pop. Meskipun <em>single </em>pertamanya yang berjudul <em>Renegades </em>cukup <em>rock</em>, sisa lagu di album ini bisa dibilang masih kurang <em>rock</em>.</p>





<p>Lantas, Penulis membaca sebuah artikel wawancara eksklusif ONE OK ROCK dengan Billboard. Dari sana, Penulis pun menjad paham mengapa <em>band </em>yang menggunakan embel-embel <em>rock </em>di namanya ini telah bertransformasi ke arah pop.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Musisi Mengikuti Kemauan Pasar</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5937" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption> Taka dari ONE OK ROCK (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.jame-world.com%2Fen%2Farticle%2F140820-one-ok-rock-at-the-warfield-san-francisco.html&amp;psig=AOvVaw0kCp8rRv64tZrnVyvQj0Cw&amp;ust=1664080885691000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CA0QjhxqFwoTCMielMTOrPoCFQAAAAAdAAAAABAm">JaME World</a>)</figcaption></figure>



<p>ONE OK ROCK jelas sudah sangat terkenal di Jepang, di mana Taka mengaku tiket konser mereka selalu terjual habis. Mungkin karena itulah mereka ingin melebarkan sayap mereka ke pasar Amerika yang menjadi banyak kiblat musisi dunia.</p>



<p>Pada satu kesempatan, Taka selaku vokalis dari ONE OK ROCK pernah berkata kalau <strong>musik <em>rock </em>telah mati di Amerika</strong>. Itulah yang menjadi alasan utama mengapa di album sebelumnya <em>band </em>ini hampir menghilangkan unsur <em>rock </em>sama sekali.</p>



<p>Agar bisa diterima oleh pendengar Amerika, tentu <em>band </em>ini harus menciptakan lagu yang bisa masuk dan dinikmati oleh pendengar Amerika. Untuk itu, Taka dkk. pun melakukan banyak riset untuk mengetahui apa yang disukai oleh pendengar Amerika.</p>



<p>Hasilnya pun bisa terdengar di album <em>Ambition </em>(2017) dan <em>Eye of the Storm</em> (2019). Selain karena memiliki dua versi internasional, lagu-lagu yang dimiliki lebih <em>easy listening </em>dibandingkan album-album lainnya seperti <em>35XXXV </em>(2015) yang sangat keras.</p>



<p>Saat menyiapkan album terbarunya ini, mereka merasa kalau tren saat ini telah berubah dan genre <em>rock</em>, <em>pop-punk</em>, hingga <em>emo </em>mulai bangkit lagi. Selain itu, mungkin mereka sudah cukup percaya diri dengan tingkat popularitas mereka di pasar Amerika.</p>



<p>Oleh karena itu, mereka pun kembali memasukkan unsur <em>rock </em>di albumnya yang sejatinya merupakan jati diri mereka sendiri. Ketika mendengarkan album <em>Luxury Disease</em>, memang beberapa lagu menyisipkan unsur <em>rock </em>dan suara tinggi khas Taka.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis unsur <em>rock-</em>nya masih kurang, sehingga Penulis merasa kalau eksistensi genre ini patut dipertanyakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Musik Rock Benar-Benar Sudah Mati?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5938" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa yang Suka Musik Rock? (<a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/rock-concert">Freepik</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika mengamati teman-teman dan keluarga di sekitar Penulis, harus diakui bahwa orang yang menyukai genre <em>rock </em>sangat sedikit, bisa dihitung dengan hitungan jari. Mungkin karena tidak semua suka musik yang keras.</p>



<p>Genre yang merajai para pendengar saat ini, setidaknya menurut pengamatan Penulis, adalah lagu yang memiliki unsur EDM,  K-pop, <em>hip-hop</em>, dan pop. Entah ada berapa banyak penyanyi, grup musik, atau DJ yang berada di pasar ini.</p>



<p>Akibatnya, <strong>musik <em>rock </em>pun seolah terdesak ke pinggir</strong> dan hanya didengarkan oleh beberapa penggemar yang setia. Ini berbeda dengan era 70-an, di mana musik <em>rock </em>bisa bertahan meskipun genre disko juga sedang <em>hype </em>waktu itu.</p>



<p>Tidak percaya? Coba cek daftar tangga lagu di Billboard Top 100. Cari apakah ada <em>rock band </em>di sana. Fenomena ini telah berlangsung lama, kurang lebih sejak masuk ke tahun 2010-an atau masuk ke era musik modern.</p>



<p>Sebagai perbandingan, di tahun 2005 ada 8 <em>rock band</em> yang masuk ke daftar, di tahun 1995 ada 11 <em>rock band</em>,  dan di tahun 1985 ada 19 <em>rock band</em> (belum termasuk musisi solo). Dari sini, bisa dilihat adanya penurunan yang sangat signifikan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5939" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/09/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Siapa Gun &#8216;N Roses di Era Modern? (<a href="https://www.nme.com/en_asia/news/music/guns-n-roses-singapore-concert-november-2022-tickets-3272617">NME</a>)</figcaption></figure>



<p>Apa yang menyebabkan hal ini? Satu jawaban yang jelas adalah begitulah mekanisme industri musik bekerja. Untuk bisa menghasilkan uang, tentu harus <strong>memproduksi lagu yang akan disukai oleh mayoritas pasar</strong>, bukan minoritas yang jumlahnya tidak seberapa.</p>



<p>Sama seperti industri televisi dan film, akan lebih banyak orang yang memproduksi apa yang diinginkan oleh pasar, bukan sebuah karya <em>masterpiece </em>yang susah dimengerti dan hanya disukai oleh segelintir orang.</p>



<p>Jadi, apakah musik <em>rock </em>benar-benar sudah mati? Mungkin belum, tapi bisa jadi akan makin meredup jika pasarnya benar-benar menghilang. Akan ada segelintir musisi yang akan tetap berkarya di jalur <em>rock</em>, tapi jumlahnya tidak akan banyak.</p>



<p>Selain itu, tidak ada yang salah dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyelamatkan-selera-musik/">selera musik masyarakat</a>. Setiap individu berhak untuk memilih musik mana yang akan mereka sukai, sehingga Penulis pun tidak menyalahkan siapapun atas meredupnya musik <em>rock </em>di era modern.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Strategi yang dilakukan oleh ONE OKE ROCK sebenarnya cukup lumrah dilakukan, di mana musisi harus mengikuti arah pasar demi memperluas pendengar atau sekadar mempertahan eksistensi mereka di industri musik yang terkenal cukup keras.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">Evolusi musik menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan</a>, seperti yang pernah terjadi pada <em>band </em>besar seperti <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">Linkin Park</a> dan 30 Second to Mars. Jika bersikukuh dengan idealisme yang dimiliki, maka siap-siap saja untuk tersingkir dari kompetisi.</p>



<p>Namun, dampak yang dihasilkan dari evolusi ini adalah terpinggirkannya genre musik yang sudah tidak sesuai dengan pasar. Penulis sendiri merasa cukup kesulitan untuk menemukan pengganti dari <em>band-band rock </em>favoritnya.</p>



<p>Bisa jadi sebenarnya Penulis saja yang kurang banyak mencoba mendengarkan lagu-lagu dari <em>band </em>lain dan terlalu nyaman dengan lagu-lagu lama yang sudah didengar ribuan kali. Apakah mungkin sekarang saat yang tepat untuk mencari <em>band </em>baru? Bring Me The Horizon mungkin?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 24 September 2022, terinspirasi setelah mendengarkan album <em>Luxury Disease </em>dari ONE OK ROCK</p>



<p>Foto: <a href="https://pingpoint.co.id/berita/resmi-ditunda-penonton-konser-one-ok-rock-bisa-ajukan-refund/">PingPoint</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.billboard.com/music/music-news/one-ok-rock-taka-interview-luxury-disease-1235142505/">ONE OK ROCK’s Taka Talks New Album ‘Luxury Disease’ &amp; Kicking Off Their Second Chapter &#8211; Billboard</a></li><li><a href="https://spinditty.com/genres/How-One-Guitarist-Can-Save-Rock-Music">Why Rock Music Is Dead and What You Can Do About It &#8211; Spinditty</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/">Apakah Musik Rock Benar-Benar Telah Mati?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/apakah-musik-rock-benar-benar-telah-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deeper Deeper: One Ok Rock</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Nov 2019 04:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3114</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah merasa kurang puas dengan album Ambition yang rilis pada tahun 2017 karena dianggap kurang keras, penulis menaruh harapan pada album baru One Ok Rock berjudul Eye of the Storm yang rilis pada tahun ini. Sayangnya sama seperti album sebelumnya, album ini juga kurang menunjukkan kesan rock. Tidak ada lagu-lagu yang memiliki scream seperti yang ditunjukkan pada lagu-lagu seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">Deeper Deeper: One Ok Rock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah merasa kurang puas dengan album <em><strong>Ambition</strong> </em>yang rilis pada tahun 2017 karena dianggap kurang keras, penulis menaruh harapan pada album baru <strong>One Ok Rock</strong> berjudul <strong><em>Eye of the Storm </em></strong>yang rilis pada tahun ini.</p>
<p>Sayangnya sama seperti album sebelumnya, album ini juga kurang menunjukkan kesan <em>rock</em>. Tidak ada lagu-lagu yang memiliki <em>scream </em>seperti yang ditunjukkan pada lagu-lagu seperti <strong><em>Cry Out </em></strong>dan <strong><em>One By One </em></strong>dari album <strong><em>35XXXV</em></strong>.</p>
<p>Ada yang enak seperti <em><strong>Change</strong> </em>yang rilis duluan ataupun <em><strong>Worst in Me</strong> </em>yang liriknya seputar orang yang berhasil <em>move on</em>. Tapi tetap saja, kesan rock dari album ini sama sekali tak terasa.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk mengeksplorasi album-album lama One Ok Rock yang jarang penulis dengarkan. Siapa yang menyangka, penulis menemukan banyak lagu yang membuat penulis melakukan <em>headbang</em>.</p>
<h3><em>Jinsei X Boku</em> (2013)</h3>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/tcBBNB5JTOQ" width="1080" height="240" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>Album pertama yang penulis dalami adalah album <em><strong>Jinsei X Boku </strong></em>yang dirilis pada tahun 2013. Album ini terkenal karena lagu <em><strong>The Beginning</strong> </em>yang terkenal.</p>
<p>Penulis sebenarnya sudah mengetahui cukup banyak lagu dari album ini seperti <strong><em>Be the Light</em></strong>, <em><strong>Ending Story</strong>, </em>hingga<em><strong> 69</strong>. </em>Ketika didengarkan ulang, penulis menemukan dua lagu yang enaknya <em>enggak ketulungan</em>.</p>
<p>Dua lagu tersebut adalah <em><strong>Deeper Deeper</strong> </em>dan <em><strong>Onion</strong>. </em>Kedua lagu bertempo cepat dan memamerkan kekuatan suara Taka. Penulis tak terlalu paham makna lagunya. Maklum, penulis termasuk orang yang menikmati lagu karena musiknya, bukan liriknya.</p>
<p>Hingga sekarang, penulis tak pernah bosan mendengarkan kedua lagu tersebut. Ada pula lagu <em><strong>Juvenile</strong> </em>yang dilengkapi dengan teriakan Taka.</p>
<h3><em>Zankyo Reference</em> (2011)</h3>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/C-xF2MAFw5s" width="1080" height="240" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Album selanjutnya adalah <em><strong>Zankyo Reference</strong> </em>yang sebelumnya belum pernah penulis dengarkan. Padahal, penulis sudah mendengarkan album yang lebih lama. Entah kenapa penulis <em>skip </em>dengan album yang satu ini.</p>
<p>Karena belum pernah mendengarkan sama sekali, penulis butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menemukan lagu yang cocok dengan selera penulis.</p>
<p>Pertama, menemukan lagu <em><strong>Pierces</strong> </em>yang <em>slow </em>dan <em><strong>Re:Make</strong> </em>yang lumayan nge-<em>rock</em>. Hanya saja, rasanya masih biasa-biasa saja dan belum memuaskan penulis.</p>
<p>Lantas, penulis menemukan lagu <em><strong>No Scared</strong> </em>yang liar banget! Mulai dari awal sampai akhir, kita akan mendengar Taka berteriak-teriak. Penulis pernah menyanyi lagu ini ketika karaoke, dan itu membuat tenggorokan penulis sakit.</p>
<p>Tapi yang terbaik dari album ini menurut penulis adalah <em><strong>C.h.a.o.s.m.y.t.h</strong>. </em>Lagu ini memang cenderung <em>mellow </em>walau tetap bertempo cepat. Akan tetapi, lagu ini berhasil membuat penulis merinding.</p>
<p>Penulis memang berkata tidak terlalu peduli dengan makna lagu, tapi tema persahabatan yang terkandung pada lagu ini berhasil menggugah hati penulis.</p>
<h3><em>Niche Syndrome</em> (2010) dan Album-Album Lainnya</h3>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/NWDAjOsTYC8" width="1080" height="240" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Album <em>Niche Syndrome</em> merupakan album pertama dari One Ok Rock yang penulis miliki. Walaupun begitu, penulis tetap bisa menemukan lagu baru yang tak disadari ternyata sangat enak untuk didengarkan.</p>
<p>Lagu tersebut adalah <strong><em>Kanzen Kankaku Dreamer </em>(<em>完全感覚Dreamer</em>) </strong>yang mungkin untuk sekarang menjadi lagu favorit penulis dari One Ok Rock. Penulis susah mendeskripsikan lagu ini, yang jelas <em>mantul</em>!</p>
<p>Penulis juga mencoba untuk mendengarkan album-album yang lebih lama. Penulis menikmati lagu <em><strong>Living Dolls</strong> </em>dari album <strong><em>Kanjō Effect</em></strong> yang rilis pada tahun 2008.</p>
<p>Sayangnya, penulis tidak menemukan lagu lain yang bisa dinikmati dari dua album yang lebih lama, yakni <em><strong>Beam of Light</strong></em> (2008) dan <em><strong>Zeitakubyō</strong></em> (2007).</p>
<h3>Evolusi One Ok Rock</h3>
<p>Mendengarkan semua lagu One Ok Rock dari album pertama hingga yang terbaru membuat penulis bisa melihat evolusi band ini. Album-album awal masih cukup <em>J-Rock </em>seperti L&#8217;Arc~en~Ciel sehingga penulis kurang bisa menikmatinya.</p>
<p>Genre mereka mulai berubah pada album <em>Niche Syndrome </em>dan mulai rajin menyisipkan lirik-lirik berbahasa Inggris. Album ini hingga album <em>Jinsei X Boku </em>menurut penulis adalah era di mana One Ok Rock menemukan jati dirinya.</p>
<p>Mereka mulai merilis dua versi album (<em>International </em>dan <em>Japanese version</em>) pada <em>35XXXV</em>. Genre mereka juga sedikit bergeser ke arah <em>pop-rock</em>, meskipun masih mempertahankan nuansa <em>rock </em>di beberapa lagu.</p>
<p>Pada album <em>Ambitions</em> dan <em>Eye of the Storm, </em>band ini telah berevolusi seutuhnya. Penulis menduga hal ini mereka lakukan agar lebih diterima di pasar internasional. Penulis harus mengucapkan tinggal kepada <em>scream </em>Taka dan dentuman musik yang serba cepat.</p>
<p>Evolusi seperti ini sebenarnya biasa saja, mengingat band seperti Linkin Park dan 30 Second to Mars pun melakukan hal yang sama. Tidak salah, namun penulis jadi merasa kehilangan.</p>
<p>Kalau kata teman penulis, musik <em>rock </em>memang perlahan mulai menghilang dan digantikan genre musik lain seperti EDM. Penulis akan mengulas masalah ini lebih dalam pada tulisan selanjutnya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk pertama kalinya dalam <em>playlist </em>penulis, ada penyanyi atau band yang jumlah lagunya lebih banyak dari Linkin Park. Sekarang, ada 32 lagu One Ok Rock di <em>playlist </em>penulis, berbanding 22 lagu dari Linkin Park.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa selera musik yang dibawakan oleh band asal Jepang ini cocok dengan selera penulis, meskipun jumlah lagu tersebut juga dipengaruhi rasa bosan mendengarkan lagu Linkin Park (bayangkan, mulai SMP!).</p>
<p>Yang jelas semakin dalam penulis mendengarkan lagu-lagu One Ok Rock, semakin suka penulis terhadap grup band asal Jepang yang satu ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 November 2019, terinspirasi setelah menemukan banyak lagu One Ok Rock yang asyik di album-album lamanya</p>
<p>Foto: <a href="https://www.roundhouse.org.uk/whats-on/2019/one-ok-rock/">Roundhouse</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">Deeper Deeper: One Ok Rock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shout It Out Now!: One OK Rock</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2018 12:28:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[One OK Rock]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1565</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis pertama kali mengenal band asal Jepang ini ketika masa kuliah, pada saat teman penulis yang bernama Wim mengenalkan lagu Wherever You Are dari album Nicheシンドローム. Sewaktu itu penulis masih biasa saja karena lagunya yang terlalu mellow dengan tempo yang lambat. Untunglah sesudah itu penulis mendengar lagu One OK Rock berjudul The Beginning dari album 人生x僕= yang lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">Shout It Out Now!: One OK Rock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis pertama kali mengenal band asal Jepang ini ketika masa kuliah, pada saat teman penulis yang bernama Wim mengenalkan lagu <strong>Wherever You Are</strong> dari album <strong>Nicheシンドローム</strong>.</p>
<p>Sewaktu itu penulis masih biasa saja karena lagunya yang terlalu <em>mellow </em>dengan tempo yang lambat. Untunglah sesudah itu penulis mendengar lagu One OK Rock berjudul <strong>The Beginning</strong> dari album <strong>人生x僕=</strong> yang lebih nge-<em>rock</em>.</p>
<p>Penulis tidak mencoba untuk mendengarkan lagu yang lain karena belum merasa klik dengan musik mereka. Walaupun begitu, penulis tetap menyarankan <em>band</em> ini kepada dua sahabat penulis ketika mereka minta saran <em>band</em> apa yang musiknya enak didengar.</p>
<p><div id="attachment_1566" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1566" class="size-full wp-image-1566" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-1.jpg" alt="" width="1000" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-1.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-1-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1566" class="wp-caption-text">via fanart.tv</p></div></p>
<p>Selang beberapa waktu kemudian, dua sahabat tersebut ternyata cocok dengan musik yang dibawakan Taka dan kawan-kawan tersebut. Penulis pun merasa terpengaruh dan penasaran untuk mendengarkan lagu-lagu <strong>One OK Rock</strong> yang lainnya.</p>
<p>Lantas penulis menemukan lagu <strong>Be the Light </strong>yang <em>uplifting</em> dan <strong>Liar </strong>yang dilengkapi dengan <em>screaming </em>dari album yang sama dengan Wherever You Are. Lagu lain enak, namun tidak sampai masuk <em>My Top List </em>di <strong>iTunes</strong> penulis.</p>
<p>Tahun 2015, One OK Rock merilis album <strong>35xxxv</strong> dengan <em>single</em>-nya <strong>Heartache </strong>yang bernuansa galau. Penulis sampai menanyakan kepada teman penulis yang bernama Jejeh, apakah ada lagu yang seperti Liar pada album ini, yang ia jawab tidak ada karena album ini lebih <em>slow.</em></p>
<p><div id="attachment_1568" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1568" class="size-full wp-image-1568" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-3.jpg" alt="" width="1000" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-3.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-3-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1568" class="wp-caption-text">via oneokrock.wikia.com</p></div></p>
<p>Akan tetapi, setelah mendengarkan lebih dalam, album ini justru menjadi album favorit penulis di antara album-album yang lain. Lagu-lagu seperti <strong>Cry Out</strong>, <strong>Stuck in the Middle</strong>, <strong>Suddenly</strong>, <strong>Good Goodbye</strong> hingga <strong>One By One </strong>dengan mudah menjadi lagu favorit penulis hingga sekarang.</p>
<p>Sayang, pada album terbarunya yang berjudul <strong>Ambitions</strong>, kesan gahar yang ditunjukkan pada album sebelumnya seolah sirna. Sama seperti waktu <strong>Linkin Park</strong> merilis album <strong>One More Light </strong>setelah sebelumnya merilis album yang cukup cadas, <strong>The Hunting Party</strong>.</p>
<p>Beberapa lagu memang memamerkan kemampuan nada tinggi Taka, seperti <strong>I Was King</strong>, <strong>We Are</strong>, dan <strong>Start Again</strong>. Namun, tidak ada satupun lagu yang menampilkan <em>screaming </em>seperti album-album sebelumnya.</p>
<p><div id="attachment_1567" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1567" class="size-full wp-image-1567" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-2.jpg" alt="" width="1000" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-2.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Untitled-2-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1567" class="wp-caption-text">via oneokrock.wikia.com</p></div></p>
<p>Begitupun <em>single</em> One OK Rock terbaru yang berjudul <strong>Change</strong>. Walaupun nuansa pop jelas mendominasi lagu ini, penulis tetap menyukai lagu barunya ini karena <em>beat</em>-nya yang membuat penulis bersemangat.</p>
<p><strong>Lagu-Lagu Perangsang Air Mata</strong></p>
<p>Lucunya, meskipun lagunya cenderung keras, penulis beberapa kali dibuat menangis ketika mendengarkan lagu-lagu One OK Rock. Ada tiga lagu yang bisa membuat penulis meneteskan air mata, yakni <strong>Cry Out, Good Goodbye, dan Be the Light</strong>.</p>
<p>Selain lagu-lagu tersebut, hanya ada dua lagu yang bisa membuat penulis menangis, yakni <strong>Numb</strong>-nya Linkin Park dan <strong>Dearly Beloved</strong>, <em>soundtrack</em> dari game favorit sepanjang masa penulis, <strong>Kingdom Heart</strong>.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/kXYiU_JCYtU?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Penulis tidak ada niatan sama sekali untuk menggunakan lagu-lagu tersebut untuk galau. Air matanya mengalir begitu saja tanpa ada perintah dari yang punya raga. Penulis akan menceritakan ketiganya satu persatu.</p>
<p>Pada lagu <strong>Cry Out</strong>, sewaktu mendengarnya penulis merasa dikuatkan dari beban hidup yang berat. Penulis akan mulai merasa merinding ketika sudah masuk pada bagian:</p>
<blockquote><p>Can&#8217;t you hear the voices screaming?<br />
Out loud to me I feel it<br />
We can be the change we need it<br />
Shout it out now shout it now</p></blockquote>
<p>Suara Taka yang awalnya terdengar rendah dan makin meninggi entah mengapa membuat penulis merinding dan kadang sampai menangis. Bahkan pernah terjadi ketika penulis menyetir dari Malang ke Surabaya. Untunglah, ayah penulis yang duduk di sebelah tidak menyadarinya.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/JWSRqWpWPzE?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Selanjutnya adalah <strong>Good Goodbye</strong>. Tangisan terjadi ketika penulis menyusun laporan pertanggungjawaban (LPJ) sebagai ketua Karang Taruna yang akan diganti. Mungkin karena merasa sebentar lagi penulis akan meninggalkan anggota-anggota penulis yang selama ini dekat.</p>
<p>Penulis pernah mendengarkan <em>cover </em>lagu ini yang dinyanyikan oleh <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">ketua Karang Taruna yang baru</a>, sebagai hadiah perpisahan untuk penulis yang harus merantau ke Jakarta demi melaksanakan tugas negara sebagai <em>volunteer </em>Asian Games.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/cbAtAj3uAO4?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Yang terakhir adalah <strong>Be the Light</strong>. Ketika menghayati lagu ini, penulis teringat oleh salah satu kawan yang hidupnya sering mendapatkan badai ujian. Liriknya yang berusaha menguatkan orang-orang yang sedang terpuruk tersebut membuat penulis tak kuasa membendung air mata.</p>
<p>Apalagi ketika melihat video konsernya ketika mengantar ibu ke SMA Islam Malang. Penulis yang menunggu di dalam mobil harus menahan suaranya agar tidak ada yang menyadari kalau penulis baru saja menangis hanya karena melihat video konser.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/ax6PXzK91SU?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Mungkin memang sedikit memalukan, tapi penulis hanya ingin berbagi apa adanya. Tidak setiap saat lagu-lagu tersebut membuat penulis sedih, hanya waktu-waktu tertentu ketika penulis sedang berada di dalam tekanan atau mengalami momen yang menyedihkan.</p>
<p><strong>Beberapa Patah Kata Terakhir</strong></p>
<p>One OK Rock merupakan band <em>rock</em> asal Jepang yang menjadi alternatif ketika Linkin Park harus vakum sementara karena <a href="http://whathefan.com/musikfilm/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-saya-dengan-linkin-park/">kematian sang vokalis</a>. Apalagi, <strong>Mike Shinoda</strong> pernah menjadi produser pada lagu <strong>One Way Ticket</strong> dari album Ambitions.</p>
<p>Bukan, sekarang bukan sekedar alternatif. One OK Rock telah menjadi <strong>salah satu band favorit penulis</strong> yang lagu-laguya banyak mendapatkan bintang 4 dan 5 pada iTunes penulis dan diputar berulang-ulang kali tanpa bosan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, terinspirasi setelah mendengarkan lagu-lagu dari One OK Rock</p>
<p>Photo: <a href="http://oneokrock.com">oneokrock.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">Shout It Out Now!: One OK Rock</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
