<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pengakuan sosial Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pengakuan-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pengakuan-sosial/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Jul 2024 16:28:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pengakuan sosial Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pengakuan-sosial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2024 16:28:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Strava]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7640</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika menengok ke beberapa peristiwa yang sempat menjadi perbincangan netizen, Penulis menemukan sebuah pola di mana hidup di era sekarang terkesan membutuhkan pengakuan sosial sebanyak mungkin. </p>



<p>Bahkan, banyak hal yang akan dilakukan untuk bisa mendapatkan pengakukan sosial tersebut, termasuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebutuhan untuk diakui dan tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain seolah mengalahkan kebutuhan hidup lainnya.</p>



<p>Fenomena ini pun berhasil menarik perhatian Penulis. Berhubung banyak momen yang berhubungan dengan hal ini belum pernah Penulis bahas, Penulis ingin merangkum semuanya di sini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara untuk Dapatkan Pengakuan Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7692" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rela Keluar Uang Demi Pengakuan Sosial (<a href="https://era.id/STORI/111685/menilik-jasa-sewa-iphone-kebutuhan-atau-sekadar-adu-gengsi">ERA.ID</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu adalah adanya<strong> joki Strava</strong>. Awalnya, Penulis tidak mengetahui apa itu Strava, hingga akhirnya menemukan fakta kalau itu merupakan sebuah aplikasi yang akan melacak aktivitas olahraga kita seperti lari atau bersepeda.</p>



<p>Tampaknya Strava ini menjadi gaya hidup yang sedang <em>hype</em>, di mana pengguna akan membagikan hasil olahraganya ke media sosial. Masalahnya ada saja orang yang enggan berolahraga, tapi tidak ingin ketinggalan dengan tren ini. </p>



<p>Alhasil, muncullah joki Strava. Mereka akan beraktivitas sesuai permintaan, lantas melakukan <em>screenshot </em>ke aplikasi Strava untuk dikirimkan ke klien. Nanti, klien bisa mengunggahnya ke media sosial seolah ia yang telah melakukannya.</p>



<p>Jika mundur lagi ke belakang, salah satu hal yang ramai dibicarakan ketika bulan puasa adalah adanya<strong> jasa sewa <em>lanyard</em> </strong>untuk digunakan ketika ikut buka puasa bersama (bukber). <em>Lanyard </em>tersebut seolah menjadi semacam medali yang bisa dibanggakan kepada teman-temannya, walau kenyataannya ia berbohong (di bulan puasa lagi).</p>



<p>Bicara tentang sewa, ada juga <strong>jasa sewa <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a></strong>. <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kelihaian-apple-dalam-menutupi-kekurangannya/">Ponsel buatan Apple ini</a> memang seolah telah beralih fungsi menjadi penanda status sosial. Bahkan, katanya kalau tidak menggunakan iPhone, maka kita tidak akan bisa masuk ke <em>circle </em>pertemanan!</p>



<p>Masih ada banyak contoh bagaimana kita seolah haus akan pengakuan sosial, termasuk memaksa orang lain memanggil kita haji. Namun, rasanya contoh-contoh di atas sudah cukup untuk menggambarkan fenomena ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Begitu Haus dengan Pengakuan Sosial?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7693" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/pengakuan-sosial-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gak Punya iPhone Gak Boleh Masuk Circle (<a href="https://www.apple.com/mg/newsroom/2020/11/apples-iphone-12-pro-max-and-iphone-12-mini-land-in-stores-and-homes-worldwide/">Apple</a>)</figcaption></figure>



<p>Rasanya manusiawi jika kita merasa <em>insecure </em>dengan orang lain, apalagi jika kita merasa belum bisa sesukses orang lain. Namun, hal tersebut menjadi masalah apabila kita menggunakan jalan pintas untuk menutupi rasa <em>insecure </em>tersebut.</p>



<p>Dari contoh yang sudah Penulis sebutkan, kita rela mengeluarkan uang (yang Penulis yakin tidak sedikit) <strong>untuk membohongi orang lain</strong>. Padahal tidak olahraga, <em>update </em>Strava. Tidak kerja di BUMN, pakai <em>lanyard </em>BUMN. Punyanya ponsel Android murah, malah sewa iPhone.</p>



<p>Tidak hanya membohongi orang lain, hal tersebut juga bisa dikatakan sebagai <strong>membohongi diri sendiri</strong>. Hanya demi pengakuan sosial dan tidak direndahkan oleh orang lain, kita rela untuk melakukan hal-hal semu tersebut. </p>



<p>Penulis pernah mendapatkan cerita dari adik tentang temannya yang dari luar terlihat hidup glamor. Pakaiannya <em>modish</em>, ponselnya <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-2/">iPhone</a>, dan lain sebagainya. Kenyataannya, ia hidup dengan meminjam uang dari teman-temannya demi memenuhi gaya hidupnya tersebut.</p>



<p>Kita menemukan satu alasan untuk mengapa kita rela membohongi dirinya sendiri: <strong>demi menuruti gengsi dan gaya hidup</strong>. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, utang ke banyak orang hingga tidak punya teman pun akan dilakukan.</p>



<p>Cerita lain adalah bagaimana adik Penulis, yang ponselnya hanya Samsung biasa, seolah mendapatkan diskriminasi dari teman-temannya yang pada menggunakan iPhone. Ribet karena tidak bisa AirDrop, kata mereka.</p>



<p>Cerita-cerita tersebut menjelaskan alasan lain mengapa orang rela membohongi dirinya sendiri: <strong>karena terkadang lingkungan yang menuntut mereka seperti itu</strong>. Kondisi ini diperparah dengan media sosial yang kerap menunjukkan gaya hidup konsuntif.</p>



<p>Padahal, sebenarnya orang lain tidak peduli-peduli amat sama kita. Lantas, mengapa kita menjadi begitu bingung agar dipedulikan oleh mereka? Mengapa harus membohongi diri sendiri dan orang lain untuk itu? Penulis masih tidak habis pikir hingga sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bertahun-tahun yang lalu, ayah Penulis memberikan nasehat kalau kita sebagai manusia tidak membutuhkan pengakuan orang lain. Siapa yang menyangka, nasehat tersebut masih sangat relevan hingga sekarang, bahkan terlalu relevan.</p>



<p>Terkadang kita memang membutuhkan validasi dari orang lain, terutama saat kita sedang <em>down</em>. Namun, <strong>validasi yang paling penting datang dari diri sendiri</strong>. Mau siapa pun memberi validasi, kalau kita tidak mampu memvalidasi diri sendiri, ya percuma.</p>



<p>Jadi, menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan validasi dari orang lain ya percuma, karena di lubuk hati terdalam kita tahu kalau kita sedang membohongi diri kita sendiri. Jalan pintas tersebut cuma menjadi topeng demi menutupi kenyataan hidup yang ada.</p>



<p>Daripada terus membohongi diri sendiri dan orang lain demi pengakuan sosial, <strong>lebih baik kita fokuskan diri untuk berbenah</strong>. Daripada terus mencari pengakukan sosial, lebih baik <strong>kita terus memperbaiki diri</strong> agar kita bisa mendapatkan pengakuan dari diri sendiri.</p>



<p>Tingkatkan <em>skill </em>dan <em>value </em>diri agar bisa beneran kerja di kantor yang prestise dan bisa beli ponsel impian. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Lawan rasa malas</a> dan mulai berolahraga. Itu memang pilihan yang lebih sulit, tapi itu merupakan jalan benar, bukan jalan pintas yang sesat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 21 Juli 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena joki strava dan kejadian-kejadian lainnya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.siroko.com/blog/c/strava-a-basic-guide-for-beginner-cyclists/">SIROKO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/">Ketika Pengakuan Sosial Menjadi Kebutuhan Pokok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-pengakuan-sosial-menjadi-kebutuhan-pokok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
