Connect with us

Tokoh & Sejarah

Sejarah Kelam di Balik Revolusi iPhone (Bagian 2)

Published

on

Pada tulisan sebelumnya, Penulis telah menjelaskan bagaimana Apple membeli sebuah startup lantas mengakui teknologi multi-touch sebagai ciptaan mereka.

Penulis juga sudah menjabarkan bagaimana Jobs menekan dua tim yang berbeda untuk sama-sama menciptakan smartphone baru yang akan merevolusi dunia digital.

Kali ini, Penulis akan menuliskan mengenai pengorbanan para karyawan yang sangat besar. Selain itu, Penulis juga akan menjelaskan apa peran Steve Jobs sebenarnya dan apakah iPhone benar-benar merevolusi industri digital.

Pengorbanan Para Karyawan

Prototipe iPhone (AppleInsider)

Membuat iPhone tidak lah mudah. Karena membuat barang yang benar-benar baru, para karyawan Apple harus benar-benar menemukan sesuatu yang baru dan minim referensi.

Selama pengembangan iPhone, banyak karyawan yang memutuskan untuk keluar bahkan bercerai dari pasangannya. Tidak sedikit yang bekerja berminggu-minggu tanpa stop hingga tidur di kantor.

Emosi tim jadi tidak terkontrol sehingga banyak cekcok yang terjadi antar karyawan. Suasana benar-benar menimbulkan stres tingkat tinggi dan fakta ini jarang diketahui oleh orang lain.

Contoh masalah pada prototipe iPhone adalah keyboard yang terlalu kecil. Untungnya, salah seorang karyawan Apple bernama Ken Kocienda menemukan suatu sistem AI yang akan memprediksi huruf apa yang kira-kira akan kita tekan setelah menekan huruf tertentu,

Jadi ketika kita menekan huruf T, besar kemungkinan huruf selanjutnya adalah H karena banyak kata dalam bahasa Inggris yang seperti itu. Sistem autocorrect juga banyak membantu.

Hal ini terus berlangsung hingga hari presentasi telah tiba. iPhone masih belum benar-benar sempurna. Masih ada banyak masalah seperti bug CPU yang bisa membuat iPhone crash sewaktu-waktu.

Pada akhirnya presentasi iPhone berjalan dengan lancar, namun orang-orang di belakangnya kurang mendapatkan kredit yang layak mereka terima.

Steve Jobs Ngapain?

Steve Wozniak Bersama Jobs (Business Insider)

Setelah membaca cerita-cerita di atas mungkin kita akan bertanya-tanya, lantas Jobs ngapain? Apa cuma marah-marah enggak jelas sambil menekan anak buahnya sedemikian rupa?

Jika dilihat dari kacamata negatif mungkin akan seperti itu. Bagaimanapun, dia adalah pendiri sekaligus CEO dari Apple sehingga punya hak untuk bersikap seperti itu.

Walaupun begitu, Jobs adalah orang yang peduli dengan produk hebat. Tidak banyak orang yang sevisioner Jobs ketika melihat teknologi-teknologi bermunculan.

Dulu sewaktu Steve Wozniak menciptakan komputer Apple I, ia sama sekali tidak berpikir untuk menjualnya. Jobs lah yang menemukan potensi bahwa komputer buatan Woz akan merevolusi dunia dan itu terbukti benar.

Begitupun pada kasus iPhone dan produk-produk lainnya. Di dalam Apple, ia mampu mengumpulkan orang-orang terbaik untuk menciptakan produk-produk terbaik, meskipun dalam prosesnya memiliki dampak buruk untuk karyawannya.

Selain itu, kebanyakan perusahaan teknologi yang besar memiliki pemimpin yang kejam. Bill Gates yang keliatan sabar pun bisa galak tak karuan ketika memaki karyawannya yang melakukan kesalahan.

Terkadang, kekejaman itulah yang mendorong teknologi untuk maju hingga melampaui batasnya. Hasilnya mungkin bisa kita lihat pada Apple yang sekarang dipimpin oleh Tim Cook.

Apa inovasi terbaru yang dimiliki oleh Apple sekarang? Face ID? Apple Watch? Semua hanya bersifat komplementer alias pelengkap.Tidak ada produk yang benar-benar baru, walaupun mungkin kita sedang berada di ambang batas perkembangan teknologi.

Entah bagaimana yang terjadi di Apple sekarang, tapi rasanya sulit membayangkan Cook meneriaki karyawannya dan memberi deadline 2 minggu untuk menciptakan produk yang benar-benar baru dan revolusioner.

Apakah iPhone Benar-Benar Revolusioner?

Apps Store Pada iPhone 3GS (Tapscape)

iPhone sendiri sebenarnya tidak benar-benar merevolusi industri smartphone, kecuali antarmukanya yang benar-benar baru dan terlihat keren.

Sama seperti sekarang, sebenarnya iPhone waktu memiliki banyak sekali kekurangan. Jaringannya belum 3G, tidak punya kamera depan, tidak punya slot untuk memori eksternal (hingga sekarang), tidak bisa merekam video, dan lain sebagainya.

Baru pada iPhone 3G lah revolusi yang sebenarnya dimulai akibat munculnya Apps Store, walaupun kekurangan di iPhone generasi pertama masih ditemukan pada produk ini.

Awalnya, Jobs sama sekali tidak ingin ada aplikasi dari pihak ketiga karena khawatir akan merusak ekosistem Apple yang begitu rapi. Setelah dibicarakan lagi, akhirnya Jobs menyetujui adanya Apps Store dengan pengawasan ketat dari Apple.

iPhone telah mendorong Google untuk mengikuti di belakangnya dengan membeli dan mengembangkan sistem operasi Android. Microsoft juga ikut membuat sistem operasi sendiri, namun gagal di pasaran.

Kemunculan sistem Android membuat merek teknologi seperti Samsung membuat smartphone touchscreen mereka sendiri dan menjadi pesaing berat. Hingga kini, ada banyak sekali merek smartphone bertebaran di muka bumi.

Penutup

iPhone memang telah merevolusi dunia digital. Kenyamanan yang kita dapatkan dari gawai di genggaman kita berawal ketika iPhone mulai dijual.

Hampir semua jenis aktivitas bisa kita lakukan melalui smartphone, mulai dari bermain game, membuat catatan, mengirim surel, bertukar pesan dengan gratis, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, terkadang kita melupakan jasa orang-orang yang ada di balik pembuatan produk tersebut. Mereka ini adalah pahlawan yang namanya sering tidak disebutkan.

Oleh karena itu, tulisan ini mengajak kepada para Pembacanya untuk bisa menghargai orang-orang yang ada di balik layar, bukan sekadar orang-orang yang selalu mendapatkan spotlight.

 

 

Kebayoran Lama, 2 Februari 2020, terinspirasi setelah menonton video seputar sejarah iPhone

Foto: Quartz

Sumber Artikel: ColdFusion, Wall Street Journal, Steve Jobs iPhone Presentation

Tokoh & Sejarah

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Published

on

By

Kalo ditanya tentang siapa tokoh teknologi yang paling berpengaruh di abad 21, pasti akan banyak yang menjawab Steve Jobs dan Bill Gates

Jobs terkenal karena berhasil membawa Apple menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, sedangkan Gates kerap menjadi orang terkaya dunia berkat kesuksesan Microsoft.

Di balik kesuksesan kedua tokoh ini, ada sebuah peristiwa yang bisa dibilang kurang beretika pada tahun 70 hingga 80-an. Keduanya kerap dianggap sebagai seorang pencuri ide dan sukses dari curian tersebut. Bagaimana kisahnya?

Lahirnya Graphic User Interface (GUI)

Penulis hobi membaca buku yang berkaitan dengan sejarah komputer, mulai era Charles Babbage dan Ada Lovelace hingga era Sergey Brin dan Larry Page.

Oleh karena itu Penulis bisa mengerti kalau di awal komputer tercipta, hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakannya. Orang awam akan kesulitan untuk mengoperasikan komputer untuk perhitungan sederhana.

Xerox PARC (TechSpot)

Tampilan antarmuka seperti Windows maupun MacOS yang kita gunakan sekarang baru lahir pada tahun 70-an. Coba tebak, perusahaan apa yang menemukannya? Jawabannya adalah XEROX!

Mungkin kita hanya mengenal perusahaan ini sebagai penghasil mesin fotokopi, mungkin yang terbaik di dunia. Namun pada era tersebut, mereka memiliki departemen Palo Alto Research Center (PARC) yang sangat inovatif.

Komputer Revolusioner (IEEE Spectrum)

Mereka membuat sebuah komputer yang memiliki Graphic User Interface (GUI) dan bisa digerakkan dengan sebuah perangkat bernama mouse (tetikus).

Penemuan tersebut sangat revolusioner, namun manajemen Xerox tidak terlalu memedulikannya. Justru seorang pria berusia 20-an lah yang melihat potensi dari inovasi yang ditemukan oleh tim PARC ini.

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Pada saat yang bersamaan, Jobs sedang disibukkan dengan proyek Lisa dan Macintosh. Beberapa pegawainya berusaha meyakinkan Jobs untuk berkunjung ke departemen PARC yang dimiliki oleh Xerox.

Jobs dan Gates Muda (Pinterest)

Sempat enggan berkali-kali, akhirnya Jobs memutuskan untuk menengok apa yang dimiliki oleh mereka pada tahun 1979. Di sanalah ia melihat bagaimana komputer bisa dioperasikan oleh manusia dengan mudah menggunakan GUI.

Jobs pun berambisi untuk bisa menerapkan GUI tersebut ke komputernya sendiri. Ia menawarkan 10.000 saham Apple ke Xerox agar dirinya bisa melihat GUI lebih dalam dan detail.

Omong-omong, bukan hanya Jobs yang menyadari kehadiran GUI milik Xerox. Bill Gates juga melihat betapa GUI akan menjadi masa depan komputer.

Bahkan, Gates lebih dulu meluncurkan sistem operasinya yang bernama Windows pada tahun 1983, setahun sebelum Macintosh rilis ke pasaran.

Kemiripan sistem GUI yang dimiliki keduanya membuat Jobs murka dan berusaha menuntut Gates. Dari sini, keluarlah kalimat terkenal dari Gates:

I think it’s more like we both had this rich neighbor named Xerox and I broke into his house to steal the TV set and found out that you had already stolen it

Aku pikir itu lebih seperti kita berdua memiliki tetangga kaya bernama Xerox ini dan saya masuk ke rumahnya untuk mencuri TV dan mengetahui bahwa Anda telah mencurinya

Ketika dibawa ke pengadilan pun, hakim tidak bisa menemukan apa kesalahan yang dilakukan oleh pihak Gates dan Microsoft. Jobs harus menerima kenyataan kalau GUI bukan hanya miliki dirinya semata.

Penutup

Ada sebuah quote yang terkenal dari mendiang Steve Jobs:

It’s more fun to be a pirate than to join the navy.

Lebih menyenangkan menjadi bajak laut daripada bergabung dengan angkatan laut.

Jiwa pemberontak yang ada di dalam diri Jobs memang membuatnya lebih memilih untuk menjadi bajak laut daripada angkatan laut yang serba kaku. Bisa saja, quote tersebut digunakan sebagai pembenaran ketika ia mencuri ide GUI dari Xerox PARC.

Memang, Xerox PARC mendemonstrasikan inovasinya tersebut secara terbuka. Hanya saja, Jobs memiliki kebiasaan untuk mengklaim inovasi orang lain sebagai inovasinya sendiri. Ada banyak sekali contohnya.

Apakah mereka berdua bisa dianggap sebagai seorang pencuri ide? Tidak sepenuhnya seperti itu. GUI yang dimiliki oleh Xerox PARC masih memiliki banyak kekurangan. Jobs dan Gates melakukan banyak perbaikan di sana-sini.

Tapi setidaknya kita harus mengetahui bahwa kemudahan kita menggunakan laptop seperti sekarang berawal dari sebuah perusahaan yang terkenal karena mesin fotokopinya.

 

 

Lawang, 19 September 2020, terinspirasi setelah teringat kisah legendaris GUI

Foto: YouTube

Sumber Artikel: Medium, buku Steve Jobs karya Walter Isaacson

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Sejarah Singkat Rasisme di Amerika Serikat

Published

on

By

Beberapa hari terakhir ini, media dan publik heboh dengan kasus yang menimpa George Floyd, warga Amerika Serikat berkulit hitam yang kehilangan nyawa akibat perbuatan sewenang-wenang dari aparat kepolisian.

Floyd mendapatkan tuduhan menggunakan uang palsu sehingga dibekap oleh petugas. Hanya saja, caranya keterlaluan hingga yang bersangkutan tidak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Akibatnya, gelombang protes membara di seluruh Amerika Serikat. Kerusuhan terjadi di mana-mana hingga tak terasa kita sedang menghadapi virus Corona.

Tapi jika menengok sejarah ke belakang, kasus rasisme kepada orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ada banyak sekali kejadian yang akan melukai nilai-nilai kemanusiaan.

Masa Perbudakan

Perang Saudara (WBEZ Interactive)

Seperti yang kita ketahui dari banyak referensi sejarah, orang-orang Afro-Americans dibawa ke Amerika sebagai budak. Benua yang baru itu butuh banyak pekerja kasar agar bisa berkembang.

Hal ini telah berlangsung sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lantas, muncul wacana penghapusan perbudakan di era Abraham Lincoln yang memicu perang saudara.

Pihak Utara adalah yang pro penghapusan perbudakan, sedangkan Selatan ingin mempertahankannya. Setelah perang, pihak Selatan kalah dan perbudakan pun dihapuskan. Lincoln sendiri harus kehilangan nyawa karenanya.

Meski perbudakan telah dihapuskan, kasus rasisme di Amerika tidak hilang sepenuhnya.

Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks

Rosa Parks dan Martin Luther King Jr. (Twitter)

Tingginya kasus rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam memunculkan banyak nama tenar yang membela hak -hak sipil mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr.

Pidatonya yang paling terkenal I Have a Dream yang ia bacakan pada tahun 1963. Sayang, pada akhirnya peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut harus mengakhiri hidupnya karena ditembak.

Selain King, salah satu yang paling berbekas di benak Penulis adalah Rosa Parks. Penulis mengetahui kisahnya dari salah satu buku yang Penulis baca, yang sayangnya lupa buku yang mana.

Pada tahun 1955, ia menolak untuk pindah dari kursi busnya yang diklaim sebagai milik orang berkulit putih. Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh Parks menjadi simbol penting dalam pergerakan dalam melawan rasisme.

Sayangnya, bertahun-tahun setelah kematian King dan tindakan heroik Parks, terjadi kasus rasisme yang kurang lebih sama dengan kasus yang menimpa Floyd.

Kerusuhan Los Angeles, 1992

Los Angeles Riots (Britannica)

Rodney King merupakan seorang pria Afrika-Amerika yang sedang menjalani masa percobaan hukuman karena beberapa kasus. Suatu ketika, ia dikejar pihak kepolisian karena melanggar batas kecepatan di jalan tol.

Oleh empat orang dari kepolisian yang menangkapnya, King diserang dengan pistol TASER (semacam senjata stun) dan dipukuli dengan begitu kejamnya.

Kejadian tersebut sempat direkam dan disiarkan ke seluruh dunia. Alhasil, kejadian tersebu memicu kemarahan orang-orang African American yang telah lama mengutuk tindakan rasial yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka menuntut para polisi yang melakukan penganiayaan diadili.

Kasusnya pun dibawa ke pengadilan. Hasilnya? Tidak ada satupun petugas kepolisian yang didakwa bersalah. Hal ini memicu kerusuhan empat hari di Los Angeles. Sebanyak 55 orang tewas, 2.300 terluka, dan lebih dari 1.000 bangunan terbakar. Total kerusakan diprediksi mencapai $1 miliar.

Tahun berikutnya, pengadilan kembali dilakukan di pengadilan federal dan diputuskan dua dari empat petugas yang terlibat dinyatakan bersalah. Sayang, hampir tiga dekade kemudian, kejadian serupa kembali terjadi lagi.

Penutup

Bahkan setelah kematian Floyd, masih banyak tindakan berbau rasial yang dilakukan oleh kepolisian Amerika Serikat. Di Twitter, banyak sekali rekaman video yang menunjukkan hal tersebut. Tidak hanya ke kaum kulit hitam, kekejaman juga dilakukan ke pendemo berkulit lainnya.

Penulis benar-benar tidak menyangka ada manusia yang bisa sesadis dan sekejam itu. Memang tidak semua polisi di sana melakukan tindakan brutal ke para aksi demo. Ada yang bisa menjalankan tugasnya dengan benar dan berhasil mengayomi masyarakat.

Kasus-kasus di Amerika Serikat membuat kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita tidak seperti mereka? Apakah kita sudah berlaku adil dengan, misalnya, saudara-saudara kita di Papua? Apakah saudara-saudara kita di sana sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya?

Rasanya belum. Kasus terbaru adalah mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang dituntut sepuluh tahun penjara dengan tuduhan makar. Mereka dianggap sebagai provokator dalam aksi demo yang berujung ricuh pada tahun kemarin.

Penulis berharap, kita semua bisa memetik pelajaran dari semua kejadian yang memilukan ini.

 

Sumber Artikel: History, Tempo

 

 

Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari kerusuhan di Amerika Serikat akibat kematian George Floyd

Foto: The New Yorker

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Kalau Srimulat Masih Tayang Hari Ini

Published

on

By

Penulis tidak tahu apakah dirinya termasuk penggemar Srimulat atau bukan. Yang jelas, waktu kecil Penulis suka menonton acara Aneka Ria Srimulat di Indosiar. Penulis juga menonton Ketoprak Humor yang banyak diisi oleh orang-orang Srimulat.

Penulis sering menirukan gimmick yang menjadi ciri khas mereka, seperti telunjuk yang tak sengaja masuk ke mata atau pura-pura kehilangan kaki ketika duduk.

Hanya saja, Penulis tidak bisa ingat apa yang membuat Srimulat menjadi begitu lucu selain itu. Oleh karena itu, Penulis mencoba untuk menonton beberapa tayangannya di YouTube.

Setelah menonton, Penulis jadi berpikir seandainya Srimulat masih tayang hari ini, pasti akan sering sekali mendapatkan teguran dari KPAI.

Asal Mula Srimulat

Srimulat memiliki sejarah yang cukup panjang. Penulis mengetahui sedikit faktanya setelah membaca buku Srimulatism yang ditulis oleh Thrio Haryanto.

Secara singkat, Srimulat berawal dari kelompok musik yang dibuat oleh Teguh Slamet Rahardjo. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri Teguh.

Di dalam perjalanannya, Srimulat sering menyisipkan lawakan ketika sedang pentas. Komposisinya berubah menjadi setengah musik setengah lawak, hingga pada akhinya menjadi acara lawak yang diselingi musik.

Karena berasal dari Jawa, maka lawakan Srimulat pun sering menggunakan bahasa Jawa ketika sedang di atas panggung. Meskipun pada akhirnya masuk ke Jakarta, dialog-dialog dengan Bahasa Jawa masih sering dipertahankan.

Srimulat sendiri sebenarnya bubar pada tahun 1989 setelah popularitasnya memudar karena adanya televisi. Inisiatif para personilnya untuk melakukan reuni membuat mereka mendapatkan acara televisi mereka sendiri dan tayang dalam waktu yang cukup lama.

Gaya Bercanda Srimulat

Apa yang paling menempel dari lawakan Srimulat adalah ciri khas yang dimiliki oleh para anggotanya. Misalnya, gaya banci Tessy, gaya melipat tangannya almarhum Gogon, hil yang mustahal-nya almarhum Asmuni, dan masih banyak lainnya.

Selain itu, Srimulat juga terkenal karena selalu menggunakan pembantu yang menjadi sumber kelucuan. Mereka dianggap sebagai representasi masyarakat kalangan bawah.

Hanya saja, ada banyak gaya lawakan Srimulat yang dulu dianggap lucu, kini akan mendapatkan banyak kritikan dari penontonnya.

Srimulat sering menggunakan formula slapstick yang juga sering kita jumpai di acara yang lebih modern seperti Opera Van Java-nya Sule. Aktivitas mendorong ataupun menampar lawan main akan mengundang tawa.

Ucapan-ucapan mereka pun sesekali terdengar kasar dan mengandung konten dewasa. Biasanya, kata-kata tersebut diucapkan dalam Bahasa Jawa yang spontan.

Di antara semua jenis lawakan, yang akan mendapatkan sorotan lebih adalah bagaimana para pemain Srimulat berusaha mencari kesempatan kepada pemeran atau bintang tamu wanitanya.

Perlu diketahui di dalam Srimulat, bintang tamu wanita sering kali hanya dijadikan sebagai pemanis dan tidak boleh ikut melawak. Bahkan, personil wanitanya sendiri tidak boleh terlalu banyak melucu.

Nah, karena pentas lebih sering dibawa oleh pelawak laki-lakinya, ada saja saja tingkah “nakal” yang mereka lakukan kepada pemeran wanita, terutama bintang tamu.

Penutup

Srimulat mungkin lucu di masa lampau, tapi kurang relevan jika ditampilkan hari ini. Para SJW akan memberikan kritikan tajam terhadap gaya bercanda mereka.

Bagi Penulis sendiri, biarlah mereka menjadi legenda bahkan menjadi isme sendiri. Apalagi, para personil aslinya telah banyak yang wafat. Yang masih hidup bisa dihitung dengan menggunakan jari.

Terlepas dari itu semua, kita patut berterima kasih kepada Srimulat karena telah menghadirkan tawa dalam jangka waktu yang panjang dan menjadi inspirasi bagi banyak komedian di Indonesia.

 

 

Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi setelah menonton Srimulat di YouTube

Foto: Dzargon

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan