<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>peraturan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/peraturan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/peraturan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 May 2021 09:11:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>peraturan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/peraturan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tumpang Tindih Regulasi Mudik</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 08:55:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui. Pemerintah tak kalah keras menghadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lebaran tinggal menghitung hari lagi. Sama seperti tahun kemarin, pemerintah mengeluarkan regulasi yang intinya melarang mudik. Alasannya sama, untuk mengurangi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">penyebaran virus Covid-19</a>.</p>



<p>Masyarakat tentu bergejolak dengan adanya aturan ini. Ada yang menerima, ada juga yang tetap bersikeras mudik demi bisa bertemu dengan sanak keluarga yang sudah lama tidak ditemui.</p>



<p>Pemerintah tak kalah keras menghadapi perlawanan ini. Dikerahkan banyak petugas di berbagai titik, termasuk jalan tikus yang tidak diketahui banyak orang. Entah sudah berapa orang yang harus rela putar balik karena dicegat oleh petugas.</p>



<p>Masalahnya, di lapangan terjadi tumpang tindih regulasi yang membuat masyarakat bingung dan kesal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Petugas pun Bingung</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4959" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Arief Wismansyah (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210507132228-20-639928/wali-kota-tangerang-bingung-larangan-mudik-berubah-ubah">CNN Indonesia</a>)</figcaption></figure>



<p>Regulasi mudik ini membingungkan masyarakat. Awalnya, mudik lokal dibolehkan. Tidak lama diumumkan, ternyata dilarang juga. Ada juga istilah mudik di wilayah aglomerasi yang entah apa maksudnya, tarik ulur juga. Diizinkan, terus dilarang.</p>



<p>Kok masyarakat, <em>mong </em>pelaksananya aja juga ikut bingung. Ambil contoh pernyataan dari Wali Kota Tangerang, <strong>Arief Wismansyah</strong>. Ia menyatakan dalam rapat bersama Menteri Dalam Negeri, mudik di wilayah aglomerasi diperbolehkan. Eh, ternyata sekarang dilarang. </p>



<p>Orang-orang yang di lapangan pun menjadi bingung untuk menegakkan aturan. Apalagi, orang-orang di wilayah Jabodetabek sudah biasa berseliweran antara wilayah, entah sekadar cari makan ataupun berangkat kerja.</p>



<p>Tentu petugas di lapangan akan kesulitan mana yang pemudik dan mana yang bukan pemudik. Dari barang bawaan? Bisa jadi, tapi bisa saja ada pemudik yang sengaja tidak membawa barang agar tidak disuruh putar balik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mudik No, Wisata Yes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4958" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gibran Rakabuming (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://regional.kompas.com/read/2021/05/06/195936778/gibran-larang-pemudik-masuk-solo-tetapi-izinkan-wisatawan-dari-jakarta?page=all">Kompas Regional</a>)</figcaption></figure>



<p>Yang membuat <em>gregetan</em>, tempat wisata dan belanja dibuka dengan alasan ekonomi. Padahal, tingkat kerumunan yang bisa ditimbulkan lebih besar jika dibandingkan kita yang pulang ke rumah orangtua.</p>



<p>Mungkin orang yang paling kena sorot masyarakat atas keputusan ini adalah walikota Solo, <strong>Gibran Rakabuming</strong>. Ia melarang orang-orang mudik ke Solo, tapi mengizinkan orang yang pergi dengan tujuan berwisata.</p>



<p>Memang ada berbagai persyaratan agar masyarakat bisa berwisata ke Solo. Tempat wisata juga cuma boleh menampung 50% kapasitas bla bla bla. Pembaca bisa membaca keterangan selengkapnya melalui tautan yang ada di bawah.</p>



<p>Lah, kalau begitu kenapa persyaratan yang sama tidak diberlakukan untuk masyarakat yang hendak mudik? Memangnya virus Corona alergi masuk ke tempat wisata sehingga yang pergi ke sana pasti tidak tertular dan menularkan?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Gelombang WNA di Bandara</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4957" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/tumpang-tindih-regulasi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>WNA China (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011325429/153-warga-china-tiba-di-tanah-air-saat-larangan-wna-masuk-indonesia-masih-berlaku-pihak-imigrasi-buka-suara">Pikiran Rakyat</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah-tengah kesedihan masyarakat yang tidak bisa mudik, eh muncul berita tentang masuknya warga negara asing (WNA). Awalnya ada <strong>153 WNA India</strong> yang masuk ke Indonesia. Hal ini jelas menggemparkan karena India tengah diterjang gelombang Tsunami Corona yang parah.</p>



<p>Terlepas dari apapun alasan mereka bisa masuk, jelas pemerintah lengah dan kurang antisipatif. Terbukti, ada <strong>49 WNA India yang positif Corona</strong>. Bukan tidak mungkin virus yang mereka bawa merupakan varian virus yang baru.</p>



<p>Masih belum reda berita itu, ada lagi berita kalau <strong>WNA China</strong> masuk ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai <strong>157 orang</strong>. Pemerintah pun mengeluarkan klarifikasi kalau mereka semua telah memiliki izin dan kedatangan mereka untuk bekerja dan bla bla bla.</p>



<p>Mau apapun alasannya, kedatangan WNA di tengah-tengah keprihatinan masyarakat yang dilarang mudik jelas terasa tidak adil dan menyakitkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Terlepas dari <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">polarisasi masyarakat</a> yang percaya adanya Covid-19 atau tidak, pemerintah harusnya bisa lebih tegas dalam menangani masalah mudik tahun ini. Jika memang dilarang, terapkan aturan dengan tegas dan jangan <em>mencla-mencle</em>.</p>



<p>Kalau memang ada larangan orang masuk ke wilayah mereka, pukul rata untuk semua orang. Jangan yang mudik dilarang, tapi yang hendak berwisata dipersilakan. Jangan orang asing boleh masuk, tapi orang lokal dilarang.</p>



<p>Akibatnya, tumpang tindih regulasi mudik yang ada menyebabkan kebingungan tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi petugas di lapangan. Kalau sudah begini, yang susah kan jadi banyak pihak.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 9 Mei 2021, terinspirasi setelah melihat tumpang tindihnya aturan terkait mudik yang membuat masyarakat merasa bingung sekaligus jengkel</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://indonesia.go.id/kategori/kependudukan/1791/ketentuan-larangan-mudik-dan-pembatasan-transportasi">Portal Informasi Indonesia</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/08/06593351/larangan-mudik-lokal-jabodetabek-warga-dan-pemerintah-daerah-sama-sama?page=all">Larangan Mudik Lokal Jabodetabek: Warga dan Pemerintah Daerah Sama-sama Bingung Halaman all &#8211; Kompas.com</a></li><li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20210506143553-4-243770/se-wali-kota-gibran-dilarang-mudik-ke-solo-liburan-boleh">SE Wali Kota Gibran: Dilarang Mudik ke Solo, Liburan Boleh (cnbcindonesia.com)</a></li><li><a href="https://metro.tempo.co/read/1455859/heboh-153-wna-india-masuk-indonesia-pangdam-jaya-12-positif-covid-19/full&amp;view=ok">Heboh 153 WNA India Masuk Indonesia, Pangdam Jaya: 12 Positif Covid-19 &#8211; Metro Tempo.co</a></li><li><a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5558671/bertambah-dari-ratusan-wn-india-yang-masuk-ri-49-di-antaranya-positif-corona">Bertambah! Dari Ratusan WN India yang Masuk RI, 49 di Antaranya Positif Corona (detik.com)</a></li><li><a href="https://nasional.kompas.com/read/2021/05/09/12292571/157-wna-china-masuk-indonesia-begini-kata-kemenkumham">157 WNA China Masuk Indonesia, Begini Kata Kemenkumham (kompas.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/">Tumpang Tindih Regulasi Mudik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/tumpang-tindih-regulasi-mudik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilarang Berhenti di Lampu Merah</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/dilarang-berhenti-di-lampu-merah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/dilarang-berhenti-di-lampu-merah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2018 12:18:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[lampu merah]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=565</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku selalu ingin mengumpat orang-orang yang berada di belakangku ketika berada di persimpangan jalan, terhenti karena adanya traffic light. Jelas, bahwa lampu belum berpindah warna, sudah tan tin tan tin tak karuan. Apakah surat ijin mengemudi mereka peroleh dengan sogokan, sehingga tidak mengerti makna dari lampu yang berwarna merah? Aku heran, apakah sedemikian rendanya kantong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/dilarang-berhenti-di-lampu-merah/">Dilarang Berhenti di Lampu Merah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku selalu ingin mengumpat orang-orang yang berada di belakangku ketika berada di persimpangan jalan, terhenti karena adanya <em>traffic light</em>. Jelas, bahwa lampu belum berpindah warna, sudah tan tin tan tin tak karuan. Apakah surat ijin mengemudi mereka peroleh dengan sogokan, sehingga tidak mengerti makna dari lampu yang berwarna merah?</p>
<p>Aku heran, apakah sedemikian rendanya kantong kesabaran yang mereka miliki sehinga tidak bisa menahan diri untuk beberapa detik? Jika sudah berada di kondisi seperti itu, aku tak bisa apa-apa selain melawan nurani dengan menekan gas untuk menerobos lampu merah yang seringkali masih kurang lima detik.</p>
<p>Selain mengumpat orang-orag di belakangku, aku juga ingin mengumpat orang-orang yang berada di depan, kanan, dan kiri. Mereka semua saja, jelas-jelas lampu warna hijau telah berganti merah, sama sekali tidak terlihat keinginan untuk berhenti. Apalagi jika lampu hijau terlihat kurang satu detik, bukannya mengurangi, mereka justru semakin ganas memacu kendaraannya.</p>
<p>Alhasil, dalam dua kondisi tersebut, tentu akan mengakibatkan bunyi klakson yang saling bertautan. Pernah aku mencurahkan kekesalanku ini kepada kawan-kawanku. Akan tetapi, nampaknya tak ada yang merasa terganggu dengan fenomena tersebut.</p>
<p>“Halah, jangan terlalu dirisaukan, begitulah negara ini.”</p>
<p>“Kau, tau, aturan itu untuk dilanggar.”</p>
<p>“Jangan terlalu idealis lah, kita enggak bisa jadi orang idealis di sini.”</p>
<p>Benarkah bahwa melanggar aturan sudah menjadi begitu biasa, sehingga jika dirimu menaati peraturan justru dianggap aneh? Sudah begitu rendah kah kesadaran kita tentang pentingnya mematuhi peraturan? Aku mencoba menjawab pertanyaan ini dengan bertanya. Bukan kepada kawan-kawanku yang itu, melainkan kawan wanitaku yang aku rasa masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral di masyarakat.</p>
<p>“Ya, itu memang salah dan seharusnya tidak dilakukan.” katanya menjawab kegundahanku.</p>
<p>“Lalu, mengapa mereka tetap melakukan itu?”</p>
<p>“Jika kita mau berpikiran positif, siapa tahu mereka sedang terburu-buru karena suatu urusan.”</p>
<p>“Ah ayolah, terburu-buru itu perbuatan setan. Harusnya mereka bisa mengatur waktu mereka sehingga tidak perlu terburu-buru.”</p>
<p>“Atau ada urusan darurat.”</p>
<p>“Sedarurat apapun tidak boleh sampai membahayakan diri dan orang lain.” aku terus ngotot tanda tak mau kalah.”</p>
<p>“Hei percayalah, meskipun memang ada orang-orang yang ingin melawan aturan tersebut, terselip di antara mereka orang-orang yang dikejar waktu.”</p>
<p>Aku diam sesaat. Mencerna perlahan apa yang ia katakan dari bibir manisnya. Pemikiran seperti ini belum pernah terbit di pikiranku.</p>
<p>“Kamu sendiri, belum pernah melanggar lampu merah?” ia bertanya memecah hening.</p>
<p>“Tidak pernah dan tidak akan pernah.” jawabku tegas.</p>
<p>“Yakin?”</p>
<p>“Kecuali jika aku sedang berada di barisan depan dan kendaraan di belakangku mulai menekan-nekan klaksonnya.”</p>
<p>“Nah, itu kamu melanggar.”</p>
<p>“Tapi kan karena terpaksa.”</p>
<p>“Apa kamu kira cuma motormu saja yang terpaksa?”</p>
<p>Lagi-lagi aku terdiam mendengar ucapannya. Dia selalu punya cara untuk membungkamu dengan argumentasinya.</p>
<p>“Jangan hanya karena kamu sering patuh sama peraturan, kamu merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan mereka yang tidak sepatuh kamu. Arogan itu namanya.”</p>
<p>Kalimat tersebut lebih sakit dari sebuah tamparan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Maret 2018, terinspirasi dari hiruk pikuk lampu merah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/dilarang-berhenti-di-lampu-merah/">Dilarang Berhenti di Lampu Merah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/dilarang-berhenti-di-lampu-merah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
