Relativitas Kebenaran

Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak.

Ditambah dengan makin terasanya polarisasi masyarakat karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar.

Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa yang menentukan sesuatu benar atau tidak?

Saling Merasa Benar

Apa Itu Kebenaran? (Michael Carruth)

Di dalam KBBI, kata kebenaran memiliki beberapa makna, di antaranya:

  • keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya
  • sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada

Berdasarkan definisi tersebut, seharusnya kebenaran bersifat obyektif dan berimbang. Tidak memihak subyeknya. Kenyataannya? Kebenaran bisa menjadi sangat subyektif.

Contoh mudahnya adalah pemilihan presiden kemarin. Masing-masing pendukung merasa calon yang didukung adalah calon yang paling benar sehingga layak untuk dipilih.

Padahal, Penulis yakin masing-masing calon ada benarnya ada salahnya. Tidak mungkin mutlak benar 100%. Memangnya mereka Tuhan?

Contoh lain adalah masalah Covid. Lagi-lagi masyarakat terbelah menjadi dua kubu, antara yang percaya Corona berbahaya dan Corona hanya konspirasi semata.

Masing-masing merasa paling benar dan menertawakan kubu lainnya. Adu argumen dan data sering terlihat di media sosial hingga membuat mayoritas masyarakat bingung.

Relativitas Kebenaran

Jangan Memaksakan Kebenaran Versi Kita (Illimitable Men)

Penulis merasa kalau kebenaran itu bersifat relatif. Apa yang Penulis yakini benar, belum tentu juga diyakini benar oleh orang lain.

Analoginya seperti ini. Penulis meyakini kalau tempe adalah makanan yang paling lezat di dunia. Orang lain mungkin akan memilih daging steak sebagai makanan terbaik.

Tempe sebagai makanan terlezat adalah kebenaran yang Penulis yakini, tapi orang lain memiliki pendapat yang berbeda. Bahkan, mungkin ada orang yang akan menganggap Penulis aneh.

Oke mungkin itu bukan analogi yang baik, tapi Penulis yakin para Pembaca menangkap apa maksudnya. Kebenaran tergantung subyek yang melihatnya.

Apa yang menjamin kalau sejarah yang kita ketahui selama ini adalah kenyataan sejarah yang paling benar? Bukankah ada pepatah yang mengatakan History Is Written by the Victors?

Apa yang menjamin kalau pendapat kita adalah yang paling benar? Apakah data-data yang kita miliki 100% valid? Apa tidak mungkin justru kebenaran yang diyakini orang lain yang benar?

Oleh karena itu, Penulis merasa bahwa kita tidak bisa memaksakan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain. Saling beradu argumen silakan, tapi jangan ada paksaan.

Kebenaran Milik Siapa?

Di dalam hidup ini, yang Maha Benar hanyalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Kita yang hanya berperan sebagai makhluk sangat rentan untuk berbuat salah.

Penafsiran kitab suci saja ada perbedaan pendapat di kalangan ahli, masa iya kita mau satu suara untuk topik sehari-hari? Harusnya kita meniru para ahli kitab yang saling menghargai.

Jadi, pada dasarnya kebenaran bukan milik siapa-siapa. Kita tidak bisa memonopoli kebenaran karena kita penuh dengan keterbatasan. Hanya Tuhan yang selalu benar.

Memang susah, apalagi di era yang masyarakatnya semakin mudah terpolarisasi seperti sekarang. Setidaknya, semua bisa dimulai dari diri sendiri dan berusaha saling mengingatkan satu sama lain.

 

 

Lawang, 30 September 2020, terinspirasi dari semakin tingginya polarisasi di tengah-tengah masyarakat

Foto: Nepali Ad & Newsroom | UCLA

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.