<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pidato Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pidato/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pidato/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2021 12:41:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pidato Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pidato/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Linkin Park dan A Thousand Suns</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2020 14:35:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[A Thousand Suns]]></category>
		<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Band]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[pidato]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3695</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya. Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album&#160;A Thousand Suns&#160;pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya. Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat&#160;single&#160;pertamanya yang berjudul&#160;The Catalyst&#160;yang ditayangkan di salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Linkin Park dan A Thousand Suns</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya.</p>



<p>Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album&nbsp;<strong><em>A Thousand Suns&nbsp;</em></strong>pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya.</p>



<p>Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat&nbsp;<em>single&nbsp;</em>pertamanya yang berjudul&nbsp;<em>The Catalyst&nbsp;</em>yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.</p>



<p>Secara konsep, Penulis sangat menyukai album ini!</p>



<h1 class="wp-block-heading">Mengambil Pidato Tokoh Terkenal</h1>



<p>Apa yang membuat unik dari album ini adalah banyaknya pidato tokoh terkenal yang dikombinasikan dengan berbagai instrumen modern.</p>



<p>Ada tiga tokoh yang pidatonya digunakan, yakni <strong>Robert Oppenheimer</strong> (<em>The Radiance</em>), <strong>Mario Savio</strong> (<em>Wretches and Kings</em>), dan <strong>Martin Luther King Jr.</strong> (<em>Wisdom, Justice, and Love</em>).</p>



<figure class="wp-block-image alignnone size-large wp-image-3697"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="607" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-1024x607.jpg" alt="" class="wp-image-3697" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/linkin-park-dan-a-thousand-suns-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dari Kiri: Oppenheimer, Savio, King</figcaption></figure>



<p>Judul albumnya diambil dari kutipan Oppenheimer yang bersumber dari sastra Hindu<i>.&nbsp;</i>Ia mengatakan bahwa bom atom terlihat sangat terang seperti seribu matahari.</p>



<p>Oppenheimer sendiri merupakan tokoh proyek Manhattan selama Perang Dunia 2 yang bertanggung jawab dalam produksi bom atom pertama. Ketakutan manusia terhadap perang nuklir menjadi konsep album ini.</p>



<p>Tidak hanya itu, album ini juga memiliki beberapa lagu yang berfungsi sebagai&nbsp;<em>bridging&nbsp;</em>atau transisi dari satu lagu ke lagu lainnya. Jika dihitung, hanya ada sembilan lagu utuh (dari 15 lagu) di dalam album ini.</p>



<p>Selain itu, untuk pertama kalinya mereka tidak mencantumkan nama band ataupun judul album pada covernya. Hal ini dipertahankan pada album <em>The Hunting Party</em> dan <em>One More Light</em>.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Lagu-Lagu <em>A Thousand Suns</em></h1>



<p>Lagu ini dibuka dengan intro yang berjudul&nbsp;<strong><em>The Requiem</em></strong>. Liriknya sendiri diambil dari lirik lagu&nbsp;<em>The Catalyst</em> dengan suara vokal Mike yang diubah menggunakan <em>vocoder</em>.</p>



<p>Ketika membaca sumber lain, ternyata lagu ini juga menggabungkan beberapa komponen dari lagu lain. Untuk pertama kali, Penulis menyukai intro album Linkin Park.</p>



<p>Lagu ini terdengar menyatu dengan lagu&nbsp;<em><strong>The Radiance</strong>&nbsp;</em>yang berisikan pidato dari Robert Oppenheimer diriingi dengan <em>electronic beat </em>sederhana.</p>



<p>Ketika iTunes Festival di London pada tahun 2011, Mr. Han memainkan pidato ini dengan <em>epic, </em>walaupun bagi kebanyakan fans mungkin akan terdengar aneh.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Burning In The Skies (Official International Video) - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/kh_YCSW5lPc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Baru di lagu ketiga lah,&nbsp;<em><strong>Burning in the Skies</strong>,&nbsp;</em>kita bisa mendengarkan sebuah lagu utuh. Di sini, Chester hanya bernyanyi di bagian&nbsp;<em>reff</em> di mana Mike menyanyikan sisanya.</p>



<p>Di dalam video klipnya, kita bisa melihat beberapa aktivitas random yang sedang dalam kondisi&nbsp;<em>slow motion&nbsp;</em>sebelum terkena efek ledakan bom nuklir. Genrenya sendiri menurut Penulis masuk ke dalam&nbsp;<em>pop-rock</em>.</p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Empty Space</strong> </em>di mana kita bisa mendengarkan suara jangkrik dan semacam suara pertempuran. Lagu ini&nbsp;berfungsi sebagai <em>interlude&nbsp;</em>untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>When They Come for Me</em></strong>.</p>



<p>Lagu tersebut diawali dengan <em>distorted synth stabs </em>yang unik. Mike mendominasi lagu ini dengan <em>rap-</em>nya sehingga lagu ini terkesan bergenre&nbsp;<em>hip-hop</em>.</p>



<p>Semua personel menjadi <em>backing vocal</em>, sementara Chester hanya memiliki sedikit bagian di bagian akhir lagu. Ada juga suara yang dihasilkan toa, yang kalau di dalam konser berasal dari suara Brad.</p>



<p><em>Beat </em>drum juga terdengar sepanjang lagu. Ketika konser, Chester dan Brad menjadi penabuhnya. Yang jelas, lagu ini benar-benar terdengar seperti hasil eksperimen yang ekstrem.</p>



<p><em>Track&nbsp;</em>nomor enam adalah <em><strong>Robot Boy</strong>&nbsp;</em>yang kurang Penulis sukai. Lagu ini diawali dengan dentingan piano dan vokal Chester yang lembut. Ketika lagu berakhir, terdengar sedikit intro dari lagu selanjutnya, <strong><em>Jornada Del Muerto</em></strong>.</p>



<p>Lagu ini menggunakan Bahasa Spanyol sebagai judul, namun liriknya menggunakan Bahasa Jepang. Hal tersebut membuat lagu ini menjadi satu-satunya lagu Linkin Park yang menggunakan judul dan lirik bahasa asing selain Bahasa Inggris.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before { padding-top: 0; } wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Waiting For The End [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/5qF_qbaWt3Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><em>Jornada Del Muerto&nbsp;</em>merupakan lagu transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<em><strong>Waiting for the End</strong>,&nbsp;</em>yang menjadi lagu favorit Penulis dari album ini.</p>



<p>Apa yang membuat Penulis suka dari lagu ini adalah banyaknya permainan&nbsp;<em>synth,&nbsp;</em><em>rap&nbsp;</em>dari Mike, serta vokal tinggi Chester di bagian akhir lagu. Klimaksnya sangat terasa.</p>



<p>Bagi Penulis, lagu ini terdengar seperti versi modern lagu <em>Papercut</em>. Selain itu, Penulis juga sangat menyukai konsep video klipnya yang sangat keren.</p>



<p>Lagu&nbsp;<em><strong>Blackout</strong></em> menjadi satu-satunya lagu di dalam album ini di mana Chester melakukan&nbsp;<em>screaming</em>. Bisa dibilang, ini merupakan salah satu lagu terunik selain lagu&nbsp;<em>When They Come for Me.</em></p>



<p>Selanjutnya ada lagu&nbsp;<em><strong>Wretches and Kings</strong>&nbsp;</em>yang diawali dengan pidato dari Mario Savio mengenai betapa menjijikkannya perkembangan teknologi.</p>



<p>Lagu ini juga memiliki banyak efek yang unik. Mike juga melakukan&nbsp;<em>rap&nbsp;</em>di lagu ini. Yang menyenangkan dari lagu ini, Penulis bisa mendengar gesekan&nbsp;<em>turntables&nbsp;</em>Mr. Han sekali lagi.</p>



<p>Kita juga akan mendengarkan pidato dari Martin Luther King Jr. pada lagu <em><strong>Wisdom, Justice, and Love</strong>,</em> di mana suara Martin makin lama makin terdengar seperti suara robot menjelang akhir lagu.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube .wp-embed-responsive .wp-block-embed.wp-embed-aspect-4-3 .wp-block-embed__wrapper:before {  padding-top: 0; }"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Iridescent [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/xLYiIBCN9ec?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Pesan tersirat dari efek tersebut masyarakat kita yang semakin lama semakin kehilangan empatinya seperti robot.&nbsp;Lagu ini merupakan transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<em><strong>Iridescent</strong>.</em></p>



<p>Lagu ini merupakan&nbsp;<em>soundtrack&nbsp;</em>dari film&nbsp;<em>Transformers: Dark of the Moon.&nbsp;</em>Lagu ini terdengar sangat&nbsp;<em>ballad&nbsp;</em>jika dibandingkan dengan lagu Linkin Park yang lain. Selain itu, liriknya juga masih terkait dengan ancaman bom nuklir.</p>



<p>Kemudian ada lagu <strong><em>The Fallout</em></strong> yang liriknya diambil dari lirik lagu&nbsp;<em>Burning in the Skies</em>. Sekali lagi, Mike menyanyikannya dengan menggunakan&nbsp;<em>vocoder&nbsp;</em>sehingga suaranya berubah.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="The Catalyst [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/51iquRYKPbs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Lagu tersebut merupakan transisi untuk lagu selanjutnya,&nbsp;<strong><em>The Catalyst</em></strong>. Lagu ini diawali dengan gesekan&nbsp;<em>turntable&nbsp;</em>yang sangat asyik untuk didengarkan, lantas disambung dengan suara vokal Mike dan Chester.</p>



<p>Sebagai&nbsp;<em>single&nbsp;</em>pertama dari album, lagu ini dianggap sebagai representasi sempurna untuk menggambarkan perubahan band. Durasinya cukup panjang, lima setengah menit.</p>



<p>Album ditutup dengan album&nbsp;<em><strong>The Messenger</strong>&nbsp;</em>yang menjadi satu-satunya lagu akustik di semua album Linkin Park. Penulis kurang menyukai lagu ini.</p>



<h1 class="wp-block-heading">Penutup</h1>



<p>Jika didengarkan, mungkin album ini terasa aneh karena banyaknya perbedaan yang dimiliki dengan album-album sebelumnya. Sekali lagi Linkin Park memutuskan untuk keluar dari zona nyaman.</p>



<p>Lebih banyak eksperimen musik yang dilakukan para personelnya di dalam album ini. Banyak instrumental yang terdengar, membuat album ini tidak bisa disamakan dengan album lain.</p>



<p>Selain itu, album ini memiliki transisi terbanyak dari lagu ke lagu, membuat album ini seolah-olah tersambung dari lagu pertama hingga lagu terakhir. Itu menjadi poin plus lainnya untuk album ini.</p>



<p>Setelah album ini, Penulis mulai mendengarkan musik-musik Korea hingga tak sadar kalau Linkin mengeluarkan album baru lagi dua tahun kemudian.</p>



<p>Album selanjutnya, <em><strong>Living Things</strong>.&nbsp;Stay tuned!</em></p>



<p>Kebayoran Lama, 22 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park</p>



<p>Foto: <a href="https://www.amazon.com/Thousand-Suns-2LP-Linkin-Park/dp/B003V9J6R0">Amazon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">Linkin Park dan A Thousand Suns</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2018 08:00:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pidato]]></category>
		<category><![CDATA[severn suzuki]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[United Nations]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1315</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari Ayu (dan lagi-lagi Ayu) yang membacakan sebuah pidato dari buku cetaknya ketika kami melakukan video call, penulis mengetahui sosok luar biasa bernama Severn Cullis-Suzuki. Keistimewaannya terjadi dua tahun sebelum penulis lahir, ketika ia kelak dikenal dengan The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes karena peristiwa tersebut. Lalu siapakah Severn ini? Ia baru berusia 12 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari Ayu (dan lagi-lagi Ayu) yang membacakan sebuah pidato dari buku cetaknya ketika kami melakukan <em>video call</em>, penulis mengetahui sosok luar biasa bernama <strong>Severn Cullis-Suzuki</strong>. Keistimewaannya terjadi dua tahun sebelum penulis lahir, ketika ia kelak dikenal dengan <em>The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes </em>karena peristiwa tersebut.</p>
<p>Lalu siapakah Severn ini? Ia baru berusia 12 tahun pada tahun 1992 ketika ia mewakili <em>Environmental Children’s Organization</em> (ECO) yang ia dirikan sendiri bersama teman-temannya ketika Severn berusia 9 tahun.</p>
<p><em>Iya, usia 9 tahun sudah bisa mendirikan organisasi lingkungan.</em></p>
<p>ECO sendiri merupakan organisasi yang berisikan anak-anak yang bertujuan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan. Severn hadir pada acara <em>U.N. Conference on Environment and Development </em>yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil.</p>
<p>Hebatnya, Severn dan rekan-rekannya terbang dari daerah asal mereka, Kanada, menuju Brasil dengan biaya mereka sendiri. Mereka rela pergi sejauh 5.000 mil (sekitar 8.000 km) agar dapat mengeluarkan aspirasi mereka terhadap lingkungan.</p>
<p>Ada beberapa poin yang ia sampaikan, namun yang paling mengena adalah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>If you don’t know how to fix it, please stop breaking it</em></p>
</blockquote>
<p>Apa yang diperbaiki? Banyak yang ia sebutkan, seperti berlubangnya lapisan ozon dan terancam punahnya hewan maupun tumbuhan.</p>
<p>Selain itu, terdapat pula kalimat yang pernah penulis pikirkan pada tulisan lain:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>I am only a child, yet I know if all the money spent on war was spent on finding environmental answers ending poverty and in finding treaties, what a wonderful place this Earth would be</em></p>
</blockquote>
<p>Ia mengucapkan itu dengan tegasnya, membuat semua peserta konferensi terdiam selama kurang lebih 5 menit, sehingga ia mendapatkan julukan tersebut.</p>
<p>Pidato lengkapnya dapat disaksikan melalui video berikut:</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/oJJGuIZVfLM?ecver=1" width="696" height="522" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Sekarang, Sever Cullis-Suzuki dikenal sebagai aktivis lingkungan Kanada, pembicara, pembawa acara, dan seorang penulis</p>
<p><strong>Kepedulian Lingkungan Pada Alam Bawah Sadar</strong></p>
<p>Lalu, kita yang sudah lebih dewasa dibandingan Severn ketika berpidato bisa berbuat apa? Ikut-ikutan memuat organisasi lingkungan dan mengumpulkan uang untuk mengikuti konferensi tingkat internasional?</p>
<p>Tidak, tak perlu muluk-muluk. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus melakukan hal heroik yang akan tercatat di sejarah. Cukup menjaga kebersihan di lingkungan kita dan saling mengingatkan orang-orang terdekat kita akan pentingnya menjaga lingkungan. Tapi kalau bisa lebih, mengapa tidak?</p>
<p>Yang ingin penulis petik dari sosok Severn Cullis-Suzuki adalah, di usianya yang belia, topik yang ia pikirkan sudah begitu berbobot. Bagaimana dengan kita? Galau karena permasalahan cinta? <em>Nggrundel</em> karena ditegur orangtua? Merasa diri kita adalah orang yang paling menderita di dunia?</p>
<p>Kita seringkali memenuhi pikiran dengan pikiran-pikiran yang tidak penting, tidak bisa memilih mana yang patut diberi perhatian mana yang harus disikapi dengan sikap masa bodo.</p>
<p><em>Emang apa pentingnya mikirin lingkungan? Toh udah banyak orang yang mikirin itu?.</em></p>
<p>Mungkin orang yang berpikiran seperti itu belum pernah mendengar teori tentang alam bawah sadar. Jika kita terus menanamkan kepedulian tentang lingkungan, maka segala tindakan kita akan mencerminkan kepedulian tersebut, entah sekecil apapun itu.</p>
<p>Manusia yang hanya menyibukkan pikiran dengan &#8220;aku tak bisa hidup tanpamu&#8221;, ya tindakan-tindakannya mencerminkan pola pikir yang ia tanamkan pada alam bawah sadarnya itu. Contohnya, rela berbuat apa saja demi dia atau rela mengeluarkan uang berapapun untuk hadiah untuknya.</p>
<p><em>Penulis jomblo sih, makanya syirik sama orang yang punya pacar!</em></p>
<p>Ya terserah sih kalau ada yang berpendapat seperti itu. Penulis hanya ingin mengajak kita semua untuk berbuat baik sebanyak mungkin melalui tulisan-tulisan ini. Penulis pun masih banyak belajar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.</p>
<p>Orang-orang luar biasa seperti Severn, secara tidak langsung menjadi guru dalam mempelajari ilmu kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 September 2018, terinspirasi setelah Ayu membacakan pidato Severn Suzuki yang tercetak di buku pelajarannya.</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p><a href="https://www.piquenewsmagazine.com/whistler/speaking-truth-gives-youth-great-power/Content?oid=2640180">https://www.piquenewsmagazine.com/whistler/speaking-truth-gives-youth-great-power/Content?oid=2640180</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<p><a href="https://www.americanrhetoric.com/speeches/severnsuzukiunearthsummit.htm">https://www.americanrhetoric.com/speeches/severnsuzukiunearthsummit.htm</a></p>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki">https://id.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
