Connect with us

Tokoh & Sejarah

Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes

Published

on

Berawal dari Ayu (dan lagi-lagi Ayu) yang membacakan sebuah pidato dari buku cetaknya ketika kami melakukan video call, penulis mengetahui sosok luar biasa bernama Severn Cullis-Suzuki. Keistimewaannya terjadi dua tahun sebelum penulis lahir, ketika ia kelak dikenal dengan The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes karena peristiwa tersebut.

Lalu siapakah Severn ini? Ia baru berusia 12 tahun pada tahun 1992 ketika ia mewakili Environmental Children’s Organization (ECO) yang ia dirikan sendiri bersama teman-temannya ketika Severn berusia 9 tahun.

Iya, usia 9 tahun sudah bisa mendirikan organisasi lingkungan.

ECO sendiri merupakan organisasi yang berisikan anak-anak yang bertujuan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan. Severn hadir pada acara U.N. Conference on Environment and Development yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil.

Hebatnya, Severn dan rekan-rekannya terbang dari daerah asal mereka, Kanada, menuju Brasil dengan biaya mereka sendiri. Mereka rela pergi sejauh 5.000 mil (sekitar 8.000 km) agar dapat mengeluarkan aspirasi mereka terhadap lingkungan.

Ada beberapa poin yang ia sampaikan, namun yang paling mengena adalah:

If you don’t know how to fix it, please stop breaking it

Apa yang diperbaiki? Banyak yang ia sebutkan, seperti berlubangnya lapisan ozon dan terancam punahnya hewan maupun tumbuhan.

Selain itu, terdapat pula kalimat yang pernah penulis pikirkan pada tulisan lain:

I am only a child, yet I know if all the money spent on war was spent on finding environmental answers ending poverty and in finding treaties, what a wonderful place this Earth would be

Ia mengucapkan itu dengan tegasnya, membuat semua peserta konferensi terdiam selama kurang lebih 5 menit, sehingga ia mendapatkan julukan tersebut.

Pidato lengkapnya dapat disaksikan melalui video berikut:

Sekarang, Sever Cullis-Suzuki dikenal sebagai aktivis lingkungan Kanada, pembicara, pembawa acara, dan seorang penulis

Kepedulian Lingkungan Pada Alam Bawah Sadar

Lalu, kita yang sudah lebih dewasa dibandingan Severn ketika berpidato bisa berbuat apa? Ikut-ikutan memuat organisasi lingkungan dan mengumpulkan uang untuk mengikuti konferensi tingkat internasional?

Tidak, tak perlu muluk-muluk. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus melakukan hal heroik yang akan tercatat di sejarah. Cukup menjaga kebersihan di lingkungan kita dan saling mengingatkan orang-orang terdekat kita akan pentingnya menjaga lingkungan. Tapi kalau bisa lebih, mengapa tidak?

Yang ingin penulis petik dari sosok Severn Cullis-Suzuki adalah, di usianya yang belia, topik yang ia pikirkan sudah begitu berbobot. Bagaimana dengan kita? Galau karena permasalahan cinta? Nggrundel karena ditegur orangtua? Merasa diri kita adalah orang yang paling menderita di dunia?

Kita seringkali memenuhi pikiran dengan pikiran-pikiran yang tidak penting, tidak bisa memilih mana yang patut diberi perhatian mana yang harus disikapi dengan sikap masa bodo.

Emang apa pentingnya mikirin lingkungan? Toh udah banyak orang yang mikirin itu?.

Mungkin orang yang berpikiran seperti itu belum pernah mendengar teori tentang alam bawah sadar. Jika kita terus menanamkan kepedulian tentang lingkungan, maka segala tindakan kita akan mencerminkan kepedulian tersebut, entah sekecil apapun itu.

Manusia yang hanya menyibukkan pikiran dengan “aku tak bisa hidup tanpamu”, ya tindakan-tindakannya mencerminkan pola pikir yang ia tanamkan pada alam bawah sadarnya itu. Contohnya, rela berbuat apa saja demi dia atau rela mengeluarkan uang berapapun untuk hadiah untuknya.

Penulis jomblo sih, makanya syirik sama orang yang punya pacar!

Ya terserah sih kalau ada yang berpendapat seperti itu. Penulis hanya ingin mengajak kita semua untuk berbuat baik sebanyak mungkin melalui tulisan-tulisan ini. Penulis pun masih banyak belajar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.

Orang-orang luar biasa seperti Severn, secara tidak langsung menjadi guru dalam mempelajari ilmu kehidupan.

 

 

Jelambar, 12 September 2018, terinspirasi setelah Ayu membacakan pidato Severn Suzuki yang tercetak di buku pelajarannya.

Sumber Foto:

https://www.piquenewsmagazine.com/whistler/speaking-truth-gives-youth-great-power/Content?oid=2640180

Sumber Artikel:

https://www.americanrhetoric.com/speeches/severnsuzukiunearthsummit.htm

https://id.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tokoh & Sejarah

Revolusi karena Pajak

Published

on

By

Jika mendengar kata pajak, apa yang akan terbesit pertama kali di pikiran kita? Jawabannya bisa yang standar seperti kewajiban hingga yang anti mainstream seperti dikorupsi.

Sebagai orang awam, kita diberi tahu kalau pajak merupakan salah satu pemasukan negara agar memiliki anggaran.

Pajak juga banyak sekali macamnya, setidaknya di negara kita. Pajak penghasilan, pajak makan, pajak mendirikan bangunan, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, pemerintah kerap disorot karena terlihat memungut pajak hampir di segala sektor yang dulunya tidak tersentuh pajak.

Pemerintah pasti punya pertimbangannya sendiri. Hanya saja, jika dilakukan berlebihan juga akan membuat masyarakat merasa gerah.

Di dalam sejarah, setidaknya ada dua revolusi yang dimulai akibat adanya pajak yang menyengsarakan rakyat.

Revolusi Prancis, 1789-1799

Revolusi Prancis (Time Magazine)

Selama berabad-abad, Prancis telah dipimpin oleh Monarki absolut. Sesuatu yang berlangsung secara absolut biasanya akan runtuh, apalagi jika pemimpinnya tidak bisa mengatasi krisis yang sedang melanda negerinya.

Itulah yang terjadi pada Prancis ketika Louis XVI naik takhta. Dari komik biografi Napoleon Bonaparte yang pernah Penulis baca, ia adalah raja yang gemar menggelar pesta dan hidup bermewah-mewahan.

Istrinya, Ratu Marie Antoinette yang terkenal karena kecantikannya, juga merupakan tipe orang yang pemboros dan sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Perang melawan Inggris dan upaya membantu Amerika Serikat meraih kemerderkaan sangat merugikan Prancis dari sisi finansial. Apalagi, gaya hidup istana sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rakyatnya yang begitu sengsara.

Solusi apa yang ditawarkan? Menaikkan pajak masyarakat kelas bawah.

Padahal, penerapan pajak di Prancis sudah begitu timpang di mana tekanan terbesar justru diberikan kepada masyarakat miskin. Kaum bangsawan justru mendapatkan banyak keringanan.

Revolusi pun akhirnya dimulai, ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille. Rakyat yang sudah muak dengan monarki yang memimpin mereka mulai bertindak, termasuk memenggal kepala orang-orang istana. Louis XVI dan istrinya yang cantik pun berakhir di guillotine.

Tentu ada banyak penyebab lain yang membuat revolusi ini terjadi, tapi penerapan pajak ke masyarakat kelas bawah menjadi salah satu yang paling utama.

Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat, 1775-1783

Revolusi Amerika Serikat (History)

Tanah Amerika terlihat begitu menjanjikan semenjak Christopher Colombus mendaratkan kakinya di benua ini. Upaya untuk menemukan jalan ke Asia lewat Barat justru membuat bangsa Eropa menemukan dunia baru.

Sayangnya, dampaknya begitu destruktif terhadap penduduk asli Amerika. Perlahan tapi pasti, mereka mulai tergusur oleh bangsa kulit putih yang membawa persenjataan lengkap dan pasukan yang terlatih.

Benua Amerika yang begitu luas menjadi rebutan negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, hingga Spanyol. Mereka mengklaim berbagai wilayah sebagai milik mereka, merebut dari pemilik aslinya dengan berbagai macam cara.

Inggris adalah salah satu negara yang menguasai benua Amerika bagian utara. Mereka kerap berebutan dengan Prancis. Biaya ekspedisi dan perang membuat Inggris mengeluarkan banyak uang dan otomatis membuat mereka mengalami krisis keuangan.

Solusi apa yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris? Menarik pajak rakyat mereka sendiri yang hidup di daerah koloni. Orang Inggris yang berada di Amerika pun tidak menyukai keputusan ini dan mengganggapnya inkonstitusional.

Perlawanan dimulai dari peristiwa Boston Tea Party yang terjadi pada tahun 1773. Peristiwa ini dipicu adanya pajak terhadap teh Britania dan membuat orang-orang koloni membuang semua muatan teh pada kapal Inggris.

Ketegangan semakin berlanjut hingga akhirnya muncul deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1776. Setelah itu, perang pun ters berkecamuk hingga akhirnya Inggris mengakui kedaulatan Amerika Serikat.

Penutup

Penulis jelas tidak berharap kalau di Indonesia akan muncul semacam revolusi karena pemerintah menerapkan kebijakan pajak yang berlebihan. Sampai sekarang semua regulasi masih terlihat masuk akal dan dapat diterima.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua kalau kebijakan pajak yang kurang bijak bisa memicu pergolakan di masyarakat. Mungkin tidak seekstrem Revolusi Prancis dan Amerika Serikat, tapi bisa saja terjadi dalam skala yang lebih kecil.

Sejauh kita merdeka, upaya rakyat terbesar untuk menumbangkan rezim otoriter terjadi pada tahun 1998. Setelah itu, kita memasuki era demokrasi yang cenderung lebih aman dan tidak dipimpin oleh pemerintah yang sewenang-wenang.

Atau, benarkah seperti itu?

 

 

Lawang, 10 Maret 2021, terinspirasi dari berita-berita seputar pajak

Foto: Culture Trip

Sumber Artikel:

Revolusi Prancis – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Revolusi Amerika Serikat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Published

on

By

Kalo ditanya tentang siapa tokoh teknologi yang paling berpengaruh di abad 21, pasti akan banyak yang menjawab Steve Jobs dan Bill Gates

Jobs terkenal karena berhasil membawa Apple menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, sedangkan Gates kerap menjadi orang terkaya dunia berkat kesuksesan Microsoft.

Di balik kesuksesan kedua tokoh ini, ada sebuah peristiwa yang bisa dibilang kurang beretika pada tahun 70 hingga 80-an. Keduanya kerap dianggap sebagai seorang pencuri ide dan sukses dari curian tersebut. Bagaimana kisahnya?

Lahirnya Graphic User Interface (GUI)

Penulis hobi membaca buku yang berkaitan dengan sejarah komputer, mulai era Charles Babbage dan Ada Lovelace hingga era Sergey Brin dan Larry Page.

Oleh karena itu Penulis bisa mengerti kalau di awal komputer tercipta, hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakannya. Orang awam akan kesulitan untuk mengoperasikan komputer untuk perhitungan sederhana.

Xerox PARC (TechSpot)

Tampilan antarmuka seperti Windows maupun MacOS yang kita gunakan sekarang baru lahir pada tahun 70-an. Coba tebak, perusahaan apa yang menemukannya? Jawabannya adalah XEROX!

Mungkin kita hanya mengenal perusahaan ini sebagai penghasil mesin fotokopi, mungkin yang terbaik di dunia. Namun pada era tersebut, mereka memiliki departemen Palo Alto Research Center (PARC) yang sangat inovatif.

Komputer Revolusioner (IEEE Spectrum)

Mereka membuat sebuah komputer yang memiliki Graphic User Interface (GUI) dan bisa digerakkan dengan sebuah perangkat bernama mouse (tetikus).

Penemuan tersebut sangat revolusioner, namun manajemen Xerox tidak terlalu memedulikannya. Justru seorang pria berusia 20-an lah yang melihat potensi dari inovasi yang ditemukan oleh tim PARC ini.

Pencuri Bernama Jobs dan Gates

Pada saat yang bersamaan, Jobs sedang disibukkan dengan proyek Lisa dan Macintosh. Beberapa pegawainya berusaha meyakinkan Jobs untuk berkunjung ke departemen PARC yang dimiliki oleh Xerox.

Jobs dan Gates Muda (Pinterest)

Sempat enggan berkali-kali, akhirnya Jobs memutuskan untuk menengok apa yang dimiliki oleh mereka pada tahun 1979. Di sanalah ia melihat bagaimana komputer bisa dioperasikan oleh manusia dengan mudah menggunakan GUI.

Jobs pun berambisi untuk bisa menerapkan GUI tersebut ke komputernya sendiri. Ia menawarkan 10.000 saham Apple ke Xerox agar dirinya bisa melihat GUI lebih dalam dan detail.

Omong-omong, bukan hanya Jobs yang menyadari kehadiran GUI milik Xerox. Bill Gates juga melihat betapa GUI akan menjadi masa depan komputer.

Bahkan, Gates lebih dulu meluncurkan sistem operasinya yang bernama Windows pada tahun 1983, setahun sebelum Macintosh rilis ke pasaran.

Kemiripan sistem GUI yang dimiliki keduanya membuat Jobs murka dan berusaha menuntut Gates. Dari sini, keluarlah kalimat terkenal dari Gates:

I think it’s more like we both had this rich neighbor named Xerox and I broke into his house to steal the TV set and found out that you had already stolen it

Aku pikir itu lebih seperti kita berdua memiliki tetangga kaya bernama Xerox ini dan saya masuk ke rumahnya untuk mencuri TV dan mengetahui bahwa Anda telah mencurinya

Ketika dibawa ke pengadilan pun, hakim tidak bisa menemukan apa kesalahan yang dilakukan oleh pihak Gates dan Microsoft. Jobs harus menerima kenyataan kalau GUI bukan hanya miliki dirinya semata.

Penutup

Ada sebuah quote yang terkenal dari mendiang Steve Jobs:

It’s more fun to be a pirate than to join the navy.

Lebih menyenangkan menjadi bajak laut daripada bergabung dengan angkatan laut.

Jiwa pemberontak yang ada di dalam diri Jobs memang membuatnya lebih memilih untuk menjadi bajak laut daripada angkatan laut yang serba kaku. Bisa saja, quote tersebut digunakan sebagai pembenaran ketika ia mencuri ide GUI dari Xerox PARC.

Memang, Xerox PARC mendemonstrasikan inovasinya tersebut secara terbuka. Hanya saja, Jobs memiliki kebiasaan untuk mengklaim inovasi orang lain sebagai inovasinya sendiri. Ada banyak sekali contohnya.

Apakah mereka berdua bisa dianggap sebagai seorang pencuri ide? Tidak sepenuhnya seperti itu. GUI yang dimiliki oleh Xerox PARC masih memiliki banyak kekurangan. Jobs dan Gates melakukan banyak perbaikan di sana-sini.

Tapi setidaknya kita harus mengetahui bahwa kemudahan kita menggunakan laptop seperti sekarang berawal dari sebuah perusahaan yang terkenal karena mesin fotokopinya.

 

 

Lawang, 19 September 2020, terinspirasi setelah teringat kisah legendaris GUI

Foto: YouTube

Sumber Artikel: Medium, buku Steve Jobs karya Walter Isaacson

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Sejarah Singkat Rasisme di Amerika Serikat

Published

on

By

Beberapa hari terakhir ini, media dan publik heboh dengan kasus yang menimpa George Floyd, warga Amerika Serikat berkulit hitam yang kehilangan nyawa akibat perbuatan sewenang-wenang dari aparat kepolisian.

Floyd mendapatkan tuduhan menggunakan uang palsu sehingga dibekap oleh petugas. Hanya saja, caranya keterlaluan hingga yang bersangkutan tidak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Akibatnya, gelombang protes membara di seluruh Amerika Serikat. Kerusuhan terjadi di mana-mana hingga tak terasa kita sedang menghadapi virus Corona.

Tapi jika menengok sejarah ke belakang, kasus rasisme kepada orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ada banyak sekali kejadian yang akan melukai nilai-nilai kemanusiaan.

Masa Perbudakan

Perang Saudara (WBEZ Interactive)

Seperti yang kita ketahui dari banyak referensi sejarah, orang-orang Afro-Americans dibawa ke Amerika sebagai budak. Benua yang baru itu butuh banyak pekerja kasar agar bisa berkembang.

Hal ini telah berlangsung sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lantas, muncul wacana penghapusan perbudakan di era Abraham Lincoln yang memicu perang saudara.

Pihak Utara adalah yang pro penghapusan perbudakan, sedangkan Selatan ingin mempertahankannya. Setelah perang, pihak Selatan kalah dan perbudakan pun dihapuskan. Lincoln sendiri harus kehilangan nyawa karenanya.

Meski perbudakan telah dihapuskan, kasus rasisme di Amerika tidak hilang sepenuhnya.

Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks

Rosa Parks dan Martin Luther King Jr. (Twitter)

Tingginya kasus rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam memunculkan banyak nama tenar yang membela hak -hak sipil mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr.

Pidatonya yang paling terkenal I Have a Dream yang ia bacakan pada tahun 1963. Sayang, pada akhirnya peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut harus mengakhiri hidupnya karena ditembak.

Selain King, salah satu yang paling berbekas di benak Penulis adalah Rosa Parks. Penulis mengetahui kisahnya dari salah satu buku yang Penulis baca, yang sayangnya lupa buku yang mana.

Pada tahun 1955, ia menolak untuk pindah dari kursi busnya yang diklaim sebagai milik orang berkulit putih. Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh Parks menjadi simbol penting dalam pergerakan dalam melawan rasisme.

Sayangnya, bertahun-tahun setelah kematian King dan tindakan heroik Parks, terjadi kasus rasisme yang kurang lebih sama dengan kasus yang menimpa Floyd.

Kerusuhan Los Angeles, 1992

Los Angeles Riots (Britannica)

Rodney King merupakan seorang pria Afrika-Amerika yang sedang menjalani masa percobaan hukuman karena beberapa kasus. Suatu ketika, ia dikejar pihak kepolisian karena melanggar batas kecepatan di jalan tol.

Oleh empat orang dari kepolisian yang menangkapnya, King diserang dengan pistol TASER (semacam senjata stun) dan dipukuli dengan begitu kejamnya.

Kejadian tersebut sempat direkam dan disiarkan ke seluruh dunia. Alhasil, kejadian tersebu memicu kemarahan orang-orang African American yang telah lama mengutuk tindakan rasial yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka menuntut para polisi yang melakukan penganiayaan diadili.

Kasusnya pun dibawa ke pengadilan. Hasilnya? Tidak ada satupun petugas kepolisian yang didakwa bersalah. Hal ini memicu kerusuhan empat hari di Los Angeles. Sebanyak 55 orang tewas, 2.300 terluka, dan lebih dari 1.000 bangunan terbakar. Total kerusakan diprediksi mencapai $1 miliar.

Tahun berikutnya, pengadilan kembali dilakukan di pengadilan federal dan diputuskan dua dari empat petugas yang terlibat dinyatakan bersalah. Sayang, hampir tiga dekade kemudian, kejadian serupa kembali terjadi lagi.

Penutup

Bahkan setelah kematian Floyd, masih banyak tindakan berbau rasial yang dilakukan oleh kepolisian Amerika Serikat. Di Twitter, banyak sekali rekaman video yang menunjukkan hal tersebut. Tidak hanya ke kaum kulit hitam, kekejaman juga dilakukan ke pendemo berkulit lainnya.

Penulis benar-benar tidak menyangka ada manusia yang bisa sesadis dan sekejam itu. Memang tidak semua polisi di sana melakukan tindakan brutal ke para aksi demo. Ada yang bisa menjalankan tugasnya dengan benar dan berhasil mengayomi masyarakat.

Kasus-kasus di Amerika Serikat membuat kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita tidak seperti mereka? Apakah kita sudah berlaku adil dengan, misalnya, saudara-saudara kita di Papua? Apakah saudara-saudara kita di sana sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya?

Rasanya belum. Kasus terbaru adalah mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang dituntut sepuluh tahun penjara dengan tuduhan makar. Mereka dianggap sebagai provokator dalam aksi demo yang berujung ricuh pada tahun kemarin.

Penulis berharap, kita semua bisa memetik pelajaran dari semua kejadian yang memilukan ini.

 

Sumber Artikel: History, Tempo

 

 

Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari kerusuhan di Amerika Serikat akibat kematian George Floyd

Foto: The New Yorker

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan