Connect with us

Musik

Linkin Park dan A Thousand Suns

Published

on

Ketika SMA, Penulis sudah menjadi fans berat Linkin Park dan hafal semua lagunya. Penulis pun menantikan kapan band ini akan merilis album terbarunya.

Harapan Penulis terwujud ketika mereka merilis album A Thousand Suns pada tahun 2010. Di hari perilisan album ini, Penulis langsung mendownload albumnya.

Sebelum albumnya rilis, Penulis sudah melihat single pertamanya yang berjudul The Catalyst yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Secara konsep, Penulis sangat menyukai album ini!

Mengambil Pidato Tokoh Terkenal

Apa yang membuat unik dari album ini adalah banyaknya pidato tokoh terkenal yang dikombinasikan dengan berbagai instrumen modern.

Ada tiga tokoh yang pidatonya digunakan, yakni Robert Oppenheimer (The Radiance), Mario Savio (Wretches and Kings), dan Martin Luther King Jr. (Wisdom, Justice, and Love).

Dari Kiri: Oppenheimer, Savio, King

Judul albumnya diambil dari kutipan Oppenheimer yang bersumber dari sastra HinduIa mengatakan bahwa bom atom terlihat sangat terang seperti seribu matahari.

Oppenheimer sendiri merupakan tokoh proyek Manhattan selama Perang Dunia 2 yang bertanggung jawab dalam produksi bom atom pertama. Ketakutan manusia terhadap perang nuklir menjadi konsep album ini.

Tidak hanya itu, album ini juga memiliki beberapa lagu yang berfungsi sebagai bridging atau transisi dari satu lagu ke lagu lainnya. Jika dihitung, hanya ada sembilan lagu utuh (dari 15 lagu) di dalam album ini.

Selain itu, untuk pertama kalinya mereka tidak mencantumkan nama band ataupun judul album pada covernya. Hal ini dipertahankan pada album The Hunting Party dan One More Light.

Lagu-Lagu A Thousand Suns

Lagu ini dibuka dengan intro yang berjudul The Requiem. Liriknya sendiri diambil dari lirik lagu The Catalyst dengan suara vokal Mike yang diubah menggunakan vocoder.

Ketika membaca sumber lain, ternyata lagu ini juga menggabungkan beberapa komponen dari lagu lain. Untuk pertama kali, Penulis menyukai intro album Linkin Park.

Lagu ini terdengar menyatu dengan lagu The Radiance yang berisikan pidato dari Robert Oppenheimer diriingi dengan electronic beat sederhana.

Ketika iTunes Festival di London pada tahun 2011, Mr. Han memainkan pidato ini dengan epic, walaupun bagi kebanyakan fans mungkin akan terdengar aneh.

Baru di lagu ketiga lah, Burning in the Skieskita bisa mendengarkan sebuah lagu utuh. Di sini, Chester hanya bernyanyi di bagian reff di mana Mike menyanyikan sisanya.

Di dalam video klipnya, kita bisa melihat beberapa aktivitas random yang sedang dalam kondisi slow motion sebelum terkena efek ledakan bom nuklir. Genrenya sendiri menurut Penulis masuk ke dalam pop-rock.

Selanjutnya ada lagu Empty Space di mana kita bisa mendengarkan suara jangkrik dan semacam suara pertempuran. Lagu ini berfungsi sebagai interlude untuk lagu selanjutnya, When They Come for Me.

Lagu tersebut diawali dengan distorted synth stabs yang unik. Mike mendominasi lagu ini dengan rap-nya sehingga lagu ini terkesan bergenre hip-hop.

Semua personel menjadi backing vocal, sementara Chester hanya memiliki sedikit bagian di bagian akhir lagu. Ada juga suara yang dihasilkan toa, yang kalau di dalam konser berasal dari suara Brad.

Beat drum juga terdengar sepanjang lagu. Ketika konser, Chester dan Brad menjadi penabuhnya. Yang jelas, lagu ini benar-benar terdengar seperti hasil eksperimen yang ekstrem.

Track nomor enam adalah Robot Boy yang kurang Penulis sukai. Lagu ini diawali dengan dentingan piano dan vokal Chester yang lembut. Ketika lagu berakhir, terdengar sedikit intro dari lagu selanjutnya, Jornada Del Muerto.

Lagu ini menggunakan Bahasa Spanyol sebagai judul, namun liriknya menggunakan Bahasa Jepang. Hal tersebut membuat lagu ini menjadi satu-satunya lagu Linkin Park yang menggunakan judul dan lirik bahasa asing selain Bahasa Inggris.

Jornada Del Muerto merupakan lagu transisi untuk lagu selanjutnya, Waiting for the Endyang menjadi lagu favorit Penulis dari album ini.

Apa yang membuat Penulis suka dari lagu ini adalah banyaknya permainan synth, rap dari Mike, serta vokal tinggi Chester di bagian akhir lagu. Klimaksnya sangat terasa.

Bagi Penulis, lagu ini terdengar seperti versi modern lagu Papercut. Selain itu, Penulis juga sangat menyukai konsep video klipnya yang sangat keren.

Lagu Blackout menjadi satu-satunya lagu di dalam album ini di mana Chester melakukan screaming. Bisa dibilang, ini merupakan salah satu lagu terunik selain lagu When They Come for Me.

Selanjutnya ada lagu Wretches and Kings yang diawali dengan pidato dari Mario Savio mengenai betapa menjijikkannya perkembangan teknologi.

Lagu ini juga memiliki banyak efek yang unik. Mike juga melakukan rap di lagu ini. Yang menyenangkan dari lagu ini, Penulis bisa mendengar gesekan turntables Mr. Han sekali lagi.

Kita juga akan mendengarkan pidato dari Martin Luther King Jr. pada lagu Wisdom, Justice, and Love, di mana suara Martin makin lama makin terdengar seperti suara robot menjelang akhir lagu.

Pesan tersirat dari efek tersebut masyarakat kita yang semakin lama semakin kehilangan empatinya seperti robot. Lagu ini merupakan transisi untuk lagu selanjutnya, Iridescent.

Lagu ini merupakan soundtrack dari film Transformers: Dark of the Moon. Lagu ini terdengar sangat ballad jika dibandingkan dengan lagu Linkin Park yang lain. Selain itu, liriknya juga masih terkait dengan ancaman bom nuklir.

Kemudian ada lagu The Fallout yang liriknya diambil dari lirik lagu Burning in the Skies. Sekali lagi, Mike menyanyikannya dengan menggunakan vocoder sehingga suaranya berubah.

Lagu tersebut merupakan transisi untuk lagu selanjutnya, The Catalyst. Lagu ini diawali dengan gesekan turntable yang sangat asyik untuk didengarkan, lantas disambung dengan suara vokal Mike dan Chester.

Sebagai single pertama dari album, lagu ini dianggap sebagai representasi sempurna untuk menggambarkan perubahan band. Durasinya cukup panjang, lima setengah menit.

Album ditutup dengan album The Messenger yang menjadi satu-satunya lagu akustik di semua album Linkin Park. Penulis kurang menyukai lagu ini.

Penutup

Jika didengarkan, mungkin album ini terasa aneh karena banyaknya perbedaan yang dimiliki dengan album-album sebelumnya. Sekali lagi Linkin Park memutuskan untuk keluar dari zona nyaman.

Lebih banyak eksperimen musik yang dilakukan para personelnya di dalam album ini. Banyak instrumental yang terdengar, membuat album ini tidak bisa disamakan dengan album lain.

Selain itu, album ini memiliki transisi terbanyak dari lagu ke lagu, membuat album ini seolah-olah tersambung dari lagu pertama hingga lagu terakhir. Itu menjadi poin plus lainnya untuk album ini.

Setelah album ini, Penulis mulai mendengarkan musik-musik Korea hingga tak sadar kalau Linkin mengeluarkan album baru lagi dua tahun kemudian.

Album selanjutnya, Living Things. Stay tuned!

Kebayoran Lama, 22 Maret 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon

Musik

Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi? (Bagian 2)

Published

on

By

Dalam bagian pertama, Penulis sudah membahas beberapa lagu K-Pop dari Gen 4 yang sudah Penulis dengarkan. Cukup banyak yang Penulis dengarkan dalam rentang waktu satu tahun, mulai dari NewJeans hingga ITZY.

Dari banyaknya lagu yang Penulis dengarkan dan nikmati, jujur saja Penulis tidak bisa membedakan suara mereka dan tidak ada yang bisa dikatakan menonjol. Penulis bisa menikmati lagu mereka hanya karena musiknya yang enak di telinga.

Pada tulisan bagian kedua ini, Penulis akan memberikan opininya terkait (seolah) hilangnya main vocal yang menonjol dari girlband yang menjadi bagian dari Gen 4. Apakah ini merupakan bentuk evolusi musik K-Pop?

Apakah Girlband Gen 4 (dan Seterusnya) Sudah Tidak Butuh Vokalis?

Pada dasarnya, sebuah girlband adalah sekumpulan perempuan yang menyanyi dan menari di atas panggung. Oleh karena itu, wajar jika sebuah girlband memiliki beberapa “tugas” yang berbeda seperti vocal, rap, visual, hingga dancer.

Karena “jualan” utamanya adalah lagu, maka wajar jika setiap girlband harus memiliki main vocal. Tidak harus semua bisa menyanyi, tapi setidaknya ada beberapa anggota yang memiliki kemampuan vokal di atas rata-rata.

Penulis ambil contoh Twice. Meskipun kerap dianggap hanya bertumpu pada Nayeon dan Jihyo dalam masalah vokal, setidaknya mereka memang memiliki anggota yang bisa bernyanyi dan kerap menjadi pengisi di reff.

Jika mau ditarik mundur lagi ke Gen 2, girlband seperti Girls’ Generation sangat menonjolkan vokalnya. Bayangkan, setengah dari anggotanya yang berjumlah sembilan tersebut bisa mengisi posisi main vocal karena memang suaranya tidak kaleng-kaleng.

Main Vocal Legendaris (Pinterest)

Ketika melakukan riset, sebenarnya masing-masing girlband memiliki main vocal-nya masing-masing. Di NewJeans ada Hanni, di LE SSERAFIM ada Yujin (yang wajahnya mirip sekali dengan Dewi Persik), di IVE ada Liz, di aespa ada Ningning, dan di IVE ada Lia.

Namun, coba bandingkan mereka dengan Taeyeon atau Jessica yang suaranya begitu legendaris. Kalau terlalu jauh, bandingkan dengan vokal yang dimiliki oleh Wendy atau Seulgi dari Red Velvet. Secara objektif, Penulis menilai kualitas vokal mereka kalah telak.

Akibatnya, distribusi pembagian lirik pun bisa dibilang menjadi cukup berimbang di antara anggota dan tidak ada jarak yang terlalu jauh. Hal ini beda dengan girlband yang memiliki vokal menonjol, di mana mereka akan cukup dominan dan sering kebagian versi reff.

Contoh, di Twice, bisa dipastikan kalau anggota yang mendapatkan porsi terbanyak adalah Nayeon dan Jihyo. Sementara itu, Momo dan Dahyun kerap menjadi anggota yang kebagian lirik paling sedikit, apalagi jika tidak ada bagian rap di lagu tersebut.

Jihyo Kerap Mendapatkan Porsi Besar dalam Sebuah Lagu (Allure)

Untuk menutupi kekurangan di bagian vokal ini, salah satu strateginya adalah dengan memasukkan posisi rapper. Contohnya adalah IVE yang memiliki dua rapper pada sosok Rei dan Gaeul, serta Ryujin di ITZY yang menjadi main rapper.

Strategi lainnya adalah tentu dengan membuat lagu yang tidak terlalu sulit untuk dinyanyikan dan tidak membutuhkan teknik vokal kelas tinggi. Oleh karena itu, tak salah jika lagu-lagu yang Penulis sebutkan bisa dikatakan easy listening, tak perlu usaha ekstra untuk bisa menikmatinya.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan, apakah memang kemampuan vokal di atas rata-rata sudah tidak dibutuhkan lagi oleh girlband saat ini? Seolah yang penting cukup punya suara yang tidak memalukan, visual yang menarik, personality yang memikat penggemar, dan mampu melakukan koreografi secara kompak.

Tidak Ada Main Vocal: Evolusi atau Kemunduran?

Sakura dari LE SSERAFIM Dianggap Memiliki Kemampuan Vokal yang Buruk (Teen Vogue)

Meskipun tidak memiliki main vocalist yang menonjol seperti era Girls’ Generation, setidaknya Penulis menikmati musik mereka. Apresiasi harus diberikan kepada produser musik dari masing-masing girlband yang mampu menciptakan lagu catchy yang menarik.

Sisi buruknya, banyak hujatan yang diarahkan kepada mereka. Contoh yang paling sering Penulis temukan adalah LE SSERAFIM, terutama kepada Sakura. Meskipun telah memiliki pengalaman 12 tahun di industri hiburan, kemampuan bernyanyinya benar-benar buruk.

Oleh karena itu, meskipun Penulis sempat menyinggung mengenai distribusi lirik yang lebih merata, ada beberapa kasus di mana ketimpangan terjadi. Contohnya ya Sakura ini, yang benar-benar “irit lirik” sehingga kerap dianggap “hanya modal tampang” untuk menjadi idola.

Mungkin, ini juga bagian dari evolusi musik K-Pop yang terkesan lebih mementingkan visual daripada audio. Jika visual menarik dengan suara biasa sudah bisa mendatangkan penggemar (dan otomatis, keuntungan), mengapa harus extra effort untuk mencari vokalis yang extraordinary?

Perpaduan Visual dan Vokal Seperti IU Sangat Jarang (Koreaboo)

Ironinya, ini akan terasa tidak adil untuk orang-orang yang memiliki kualitas vokal bagus, tetapi tidak didukung dengan visual yang menarik. Apalagi, standar kecantikan di Korea Selatan cukup tinggi, hingga mungkin operasi plastik pun tak akan bisa mendongkrak kariernya.

Walaupun vokal sudah bukan menjadi elemen utama, Penulis menilai bahwa para agensi memiliki strateginya tersendiri untuk menggaet penggemar. Selain dari visual, mereka pun berusaha untuk mendekatkan jarak antara idola dan penggemar.

Contohnya, hampir semua girlband saat ini memiliki kanal dan acara sendiri di YouTube, seperti Time to Twice yang sudah pernah Penulis bahas. Jenis kontennya pun beragam, mulai dari behind the scene, vlog, game, dan lain sebagainya.

Alhasil, penggemar yang menonton konten-konten tersebut pun merasa dekat dengan idolanya. Maka dari itu, para idola pun dituntut untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan agar penonton menjadi betah menonton mereka.

Pada akhirnya, ini adalah tentang strategi yang dilakukan oleh masing-masing agensi untuk mendulang penggemar sebanyak mungkin. Bisa jadi, Gen 4 adalah hasil dari banyak percobaan untuk menemukan formula yang paling pas untuk mendulang keuntungan terbesar.

Penutup

Tentu tidak semua girlband di Gen 4 tidak memiliki main vocal yang menonjol. Penilaian ini murni bersifat subjektif atas apa yang telah Penulis dengarkan. Apalagi, meskipun mengkritik bagian vokal, Penulis tetap menyukai dan menikmati musik mereka.

Berdasarkan wawancara terhadap teman Penulis yang merupakan pengamat K-Pop kelas tinggi, ia menyebutkan bahwa (G)-Idle dan NMIXX masih memiliki main vocal yang patut diacungi jempol. Mungkin Penulis akan mencoba mendengarkan mereka lain waktu.

Jadi, jawaban dari pertanyaan yang tertera di judul “Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi?” adalah iya, walau jawaban ini tidak berlaku untuk semuanya. Banyak girlband yang walaupun kemampuan vokalnya biasa saja, mereka bisa survive karena memiliki kelebihan di sektor lain.

Yang jelas, untuk saat ini Penulis akan tetap menikmati musik-musik K-Pop dari Gen 4, walau secara vokal menurut Penulis terbilang biasa saja. Lha mong saya suka, kok!


Lawang, 25 Maret 2024, terinspirasi setelah berdiskusi masalah bagaimana idol K-Pop di Gen 4 kurang memiliki vokal yang mumpuni

Continue Reading

Musik

Benarkah Girlband K-Pop Gen 4 Tidak Perlu Bisa Menyanyi? (Bagian 1)

Published

on

By

Gara-gara algoritma YouTube Music yang sudah Penulis singgung sebelumnya, Penulis jadi menyelami dunia K-Pop sekali lagi. Karena baru “nyemplung” di tahun 2023, maka kebanyakan lagu yang direkomendasikan pun dari girlband Generasi 4 (Gen 4).

Dari beberapa yang direkomendasikan oleh YouTube, ada yang jadi rutin Penulis dengarkan, mulai dari NewJeans, LE SSERAFIM, IVE, aespa, hingga ITZY. Di antara yang Penulis sebutkan tersebut, secara musikalitas Penulis paling cocok dengan LE SSERAFIM dan IVE.

Namun, ketika mendengarkan mereka semua, Penulis jadi menyadari bahwa girlband saat ini tidak memiliki main vocalist yang suaranya menonjol. Didengarkan berkali-kali pun, Penulis kesulitan untuk membedakan suara masing-masing anggotanya.

Musik K-Pop Apa Saja yang Penulis Dengarkan

Sebelum “menilai” apakah girlband Gen 4 memang tidak memiliki main vocalist yang menonjol, Penulis ingin berbagi mengenai apa dan siapa saja yang Penulis dengarkan. Penilaian di bawah ini berdasarkan musik K-Pop yang sudah Penulis dengarkan.

NewJeans

Setelah Twice, girlband selanjutnya yang Penulis dengarkan adalah NewJeans, yang terdiri dari Hanni, Haerin, Minji, Danielle, dan Hyein. Hal ini dikarenakan teman Penulis yang merekomendasikannya, dan Penulis terkejut betapa mudanya para anggotanya.

Karena saat itu NewJeans cukup hype sebagai pendatang baru, Penulis langsung memasukkan beberapa lagu seperti “OMG”, “Hype Boy”, hingga “Ditto.” Penulis juga menyukai lagu baru mereka seperti “Super Shy” dan “GODS” yang menjadi favorit nomor satunya.

Namun, jangankan untuk membedakan vokalnya, membedakan anggotanya saja sampai sekarang Penulis belum bisa. Hanya Danielle, yang wajahnya cukup bule, yang langsung Penulis kenali. Jika empat member lainnya dijejerkan, Penulis akan kesulitan untuk menyebutkan namanya.

LE SSERAFIM

Pertama kali Penulis mengetahui LE SSERAFIM (yang merupakan anagram dari I’m fearless) adalah ketika melihat ada lagu berjudul “ANTIFRAGILE” di YouTube. Entah mengapa ada dorongan untuk mendengarkannya, dan ternyata memang sangat nempel di telinga karena reff-nya yang catchy dan gampang diingat.

LE SSERAFIM terdiri dari lima anggota, yakni Kim Chaewon, Sakura (keduanya mantan anggota IZONE yang telah bubar), Yunjin, Kazuha, dan Eunchae. Aslinya ada enam, tapi yang satu telah dikeluarkan karena skandal.

Ternyata, setelah mendengarkan lagu mereka yang lain, banyak yang cocok dengan telinga Penulis. Beberapa lagu yang menyusul masuk ke dalam playlist adalah “UNFORGIVEN,” “FEARLESS,” dan “Sour Grapes” yang menjadi salah satu favorit Penulis.

Tak hanya berhenti di situ, Penulis juga suka “Eve, Psyche & The Bluebeard’s Wife,” “Good Parts,” dan “Perfect Night” yang, sama seperti “GODS” dari NewJeans, menjadi soundtrack lagu official dari turnamen esports. Sayangnya, lagu baru mereka seperti “Easy” dan “Smarter” kurang cocok di telinga Penulis.

Jika dibandingkan dengan NewJeans yang musiknya terkesan flat, secara sederhana Penulis menganggap lagu-lagu LE SSERAFIM memiliki musik “kuat” yang bisa memuaskan basshead seperti Penulis, tapi juga bisa menghadirkan musik ballad seperti di lagu “Sour Grapes.”

IVE

Jika Penulis merasa cocok dengan LE SSERAFIM karena mampu menghadirkan beberapa lagu yang bass-nya terasa kuat, maka IVE bisa memberikan lebih banyak lagi. Bahkan, lagu “perkenalan” ke Penulis, “Kitsch,” mampu memuaskan Penulis.

Namun, Penulis justru mulai serius mendengarkan IVE lewat lagu selanjutnya, yakni “I AM.” Sejak itu, Penulis jadi makin mendengarkan lagu-lagu lama mereka seperti “Eleven,” “Love Dive,” dan “After Like.” Di lagu baru mereka yang berjudul “Baddie,” barulah IVE kembali menghadirkan lagu yang bass-nya nendang.

Menariknya, IVE juga bisa menghadirkan lagu-lagu bernuansa ballad seperti “Off the Record,” “Either Way,” dan “I Want.” Penulis jarang suka lagu-lagu ballad, tapi entah mengapa lagu-lagu dari IVE berhasil Penulis nikmati.

IVE terdiri dari enam anggota, yakni Gaeul, Yujin, Rei (Penulis merupakan subscriber dari kanal YouTube pribadinya), Wonyoung, Liz, dan Leeseo. Yujin dan Wonyoung, sama seperti Chaweon dan Sakura, merupakan mantan anggota IZONE.

Di antara girlband yang Penulis sebutkan di tulisan ini, IVE adalah penyumbang lagu terbanyak yang berhasil masuk ke dalam playlist. Memang jumlahnya kalah dari Twice dan Red Velvet (yang akan Penulis bahas secara terpisah), tapi itu menunjukkan kalau musik IVE cocok dengan selera Penulis.

aespa

Sebelum mendengar nama NewJeans, LE SSERAFIM, atau IVE, Penulis sudah pernah mendengarkan nama aespa, sebuah girlband dari SM Entertainment yang terdiri dari Karina, Winter, Giselle, dan Ningning.

Namun, Penulis baru memberi perhatian ke mereka sejak menonton video mereka mengikuti kuis bahasa Indonesia. Penulis merekomendasikan untuk menontonnya di YouTube, karena video tersebut sangat lucu sekaligus menggemaskan.

Sejujurnya, musik aespa kurang masuk ke telinga Penulis. Bahkan, Penulis sampai pernah minta rekomendasi lagu apa yang enak dari aespa ke teman kantor, dan ia pun merekomendasikan beberapa lagu.

Beberapa lagu aespa yang masuk ke dalam playlist adalah “Black Mamba,” “Girls,” “Next Level,” dan “Spicy.” Namun, jujur, lagu-lagu tersebut terkesan B saja bagi Penulis dan sangat mungkin terdepak dari playlist. Untungnya, beberapa lagu baru mereka seperti “Better Things” dan “Drama” cukup cocok untuk telinga Penulis.

ITZY

Jika Penulis tertarik mendengarkan aespa karena video mereka (berusaha) berbahasa Indonesia, maka Penulis tertarik mendengarkan ITZY karena kelancaran para anggotanya dalam berbahasa Inggris.

Biasanya, anggota yang bisa berbahasa Inggris adalah mereka yang memang besar di luar Korea Selatan. Di ITZY, yang tinggal lama di luar negeri adalah Lia, sehingga wajar bahasa Inggris-nya sangat lancar. Namun, anggota yang lain terutama Ryujin juga cukup fasih berbahasa Inggris.

Tiga anggota lainnya, Yeji, Chaeryeong, dan Yuna, bisa dikatakan masih oke jika dibandingkan dengan anggota girlband lain. Tengok saja Twice, kesembilan anggotanya bisa dibilang tidak ada yang benar-benar fluent dalam bahasa Inggris!

Sayangnya, sama seperti aespa, ketertarikan tersebut tidak berhasil dikonversi jadi menggemari musik mereka karena ketidakcocokan genre. Setelah mendengarkan beberapa lagunya (seperti “Cake” dan “Sneakers”), hanya lagu terbaru mereka “Born to Be” yang bisa Penulis benar-benar nikmati.

***

Itulah beberapa girlband dan musik mereka yang sering Penulis dengarkan. Alasan Penulis menjabarkan secara cukup rinci seperti di atas adalah sebagai “bukti” kalau Penulis benar-benar mengamati musik mereka.

Selain yang disebutkan di atas, sebenarnya masih ada beberapa girlband lain yang Penulis dengarkan. Hanya saja, jumlah lagu yang didengarkan tidak begitu banyak, sehingga kurang kuat untuk menjadi dasar penilaian.

Pada bagian kedua, Penulis akan menjelaskan mengenai hilangnya main vocal yang menonjol di Gen 4, tidak seperti era-era sebelumnya. Apakah ini bagian dari evolusi musik K-Pop untuk bisa terus bertahan melawan genre lain?

Baca bagian kedua di sini…


Lawang, 25 Maret 2024, terinspirasi setelah berdiskusi masalah bagaimana idol K-Pop di Gen 4 kurang memiliki vokal yang mumpuni

Continue Reading

Musik

Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Saya Menyelami K-Pop

Published

on

By

Penulis merupakan pengguna YouTube Premium selama beberapa tahun terakhir. Penulis memilih paket untuk keluarga yang bisa digunakan untuk berlima dengan biaya langganan Rp109.980 per bulan. Kebetulan, Penulis sekeluarga berisi lima orang sehingga pas.

Ada beberapa alasan mengapa Penulis memilih untuk menggunakan layanan tersebut, seperti terbebas dari iklan dan sudah include YouTube Music. Nah, layanan yang terakhir Penulis rasa bisa menjadi pengganti Spotify, sehingga Penulis tidak perlu banyak berlangganan.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi bagaimana algoritma yang dimiliki oleh aplikasi musik online, dalam kasus Penulis YouTube Music, bisa membuat Penulis (kembali) menyelami K-Pop, bahkan lebih dalam dibandingkan periode pertamanya dulu.

Bagaimana Algoritma YouTube Music Bekerja

YouTube Music (YouTube)

Ketika kuliah dulu, biasanya Penulis mengunduh album atau lagu yang diinginkan, sehingga lagu yang didengarkan pun cukup sebatas yang ingin didengarkan. Enaknya, karena Penulis menggunakan iTunes, pengorganisirannya pun sangat rapi.

Hal ini berbeda dengan YouTube Music, yang bahkan jika dibandingkan dengan Spotify sangat tidak rapi. Bahkan, untuk mengurutkan lagu yang telah dimasukkan ke dalam Playlist pun tidak bisa. Secara antarmuka pun sejujurnya kurang menarik.

Namun, di sisi lain, YouTube Music membuat kita bisa mengetahui banyak lagu yang sebelumnya belum pernah kita tahu. Tinggal memilih satu lagu, maka algoritma dari YouTube Music melalui Autoplay pun akan memainkan lagu berikutnya yang segenre atau sejenis.

Ketika Penulis mendengarkan lagu-lagu rock barat, maka mayoritas lagu-lagu yang akan dimainkan selanjutnya pun kemungkinan sudah Penulis ketahui. Jika mendengarkan Linkin Park misalnya, maka lagu-lagu selanjutnya pun berpusat sekitar 30 Seconds to Mars, Avenged Sevenfold, My Chemical Romance, dan lainnya.

Contoh lain, jika mendengarkan lagu NOAH, maka lagu-lagu yang dimainkan selanjutnya pun akan berpusat pada lagu-lagu pop Indonesia seperti Dewa dan Sheila on 7, yang sebenarnya juga cukup familiar di telinga Penulis yang jarang mendengarkan lagu Indonesia.

Nah, beda cerita dengan K-Pop. Penulis sudah bertahun-tahun berhenti mendengarkan K-Pop, sehingga cukup buta dengan perkembangannya dan ada grup apa saja yang sedang populer sekarang.

Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Penulis Mendalami K-Pop

Contoh Algoritma YouTube Music

Pertama kali Penulis bersentuhan dengan dunia K-Pop adalah ketika SMA, di mana waktu itu yang menjadi “gerbangnya” adalah SNSD atau Girls’ Generation dan Super Junior. Penulis cukup banyak mendengarkan lagu-lagu mereka.

Dari sana, Penulis jadi tahu banyak girlband atau boyband lain seperti Sistar, Big Bang, Afterschool, 2PM, 2NE1, Shinee, Kara, Miss A, dan lain sebagainya. Namun, Penulis hanya sedikit sekali mengetahui lagu-lagu mereka, hanya satu-sua saja.

Ketika kuliah, Penulis berhenti mendengarkan K-Pop, dan baru diperkenalkan lagi melalui Blankpink di tahun 2018 gara-gara teman kerja. Itu pun tidak bertahan lama, karena Penulis merasa tidak begitu cocok dengan genre dari girlband yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Lisa, dan Rose tersebut.

Lantas, memasuki akhir 2022 hingga awal 2023, Penulis berkenalan dengan Twice, yang tulisannya ada tiga artikel sendiri. Saat itu, Penulis sudah berlangganan YouTube Music dan mendengarkan lagu-lagu Twice di sana.

Nah, Penulis terkadang hanya memilih lagu-lagu Twice yang disukai seperti “Alcohol Free” dan “Can’t Stop Me”, lalu membiarkan algoritma YouTube Music memilihkan lagu berikutnya. Tentu saja, yang direkomendasikan adalah lagu-lagu dari girlband lain.

Dari algoritma inilah, Penulis jadi mengetahui banyak sekali lagu-lagu K-Pop yang ternyata pas dengan telinganya. Dari yang tidak tahu apa-apa, hanya tahu Twice, hingga kini mengetahui beberapa girlband Korea dari generasi 3 dan 4.

Mungkin karena berangkatnya dari Twice, Penulis hampir tidak pernah mendapatkan rekomendasi lagu dari boyband. Kebetulan, Penulis juga tidak terlalu berminat untuk mendengarkannya.

Girlband Apa Saja yang Diketahui?

Karena sistem Playlist berdasarkan Like di YouTube musik diurutkan berdasarkan kapan di-like, Penulis jadi bisa mengetahui bagaimana kronologi lagu-lagu K-Pop bisa masuk ke dalam Playlist-nya.

Tentu saja semua berawal dari lagu-lagu Twice, yang hingga kini jumlahnya masih belasan. Setelah itu, yang masuk adalah lagu-lagu dari NewJeans yang disarankan oleh teman Penulis yang kebetulan meracuni Penulis dengan Twice.

Setelah itu, ada dua lagu yang sangat nyantol di telinga dari dua girlband Gen 4, yakni “Antifragile” dari LE SSERAFIM dan “Kitsch” dari IVE. Genre dari kedua girlband ini ternyata ke depannya cocok dengan selera Penulis, sehingga cukup banyak lagunya yang masuk ke Playlist.

Setelah itu, barulah masuk Red Velvet yang sebenarnya satu generasi dengan Twice dan Blackpink. Penulis ingat teman kantornya pernah berkata kalau konsep girlband ini sering creepy, dan ternyata memang benar. Namun, lagunya seperti “Psycho” dan “Feel My Rhythm” juga cocok dengan Penulis.

Setelah lagu-lagu dari girlband yang telah disebutkan di atas cukup banyak masuk ke dalam Playlist, giliran aespa lalu ITZY yang masuk ke dalam Playlist. Namun, sejujurnya genre keduanya kurang masuk dengan selera Penulis.

Baru-baru ini, NMIXX juga menyusul masuk ke dalam Playlist melalui lagunya “Young, Dumb, Stupid” yang bagian reff-nya mengambil sampel lagu anak-anak “Fruit Salad”, yang dulu sering Penulis nyanyikan ketika masa-masa OSIS.

Penulis juga membuat Playlist khusus K-Pop, yang hingga kini telah berisi lebih dari 100 lagu. Daftar girlband yang belum disebukan antara lain ada STAYC, Weekly, dan OH MY GIRL. Teman Penulis juga menyarankan (G)I-DLE dan Got the Beat, tapi belum menemukan lagu yang enak.

Penutup

Bagi Penulis, lagu-lagu K-Pop yang easy listening bisa menjadi selingan untuk lagu-lagu rock yang berat. Sebagai teman kerja lagu K-Pop pun cukup asyik, walau terkadang jadi membayangkan yang nyanyi.

Penulis bisa mengetahui cukup banyak girlband dan lagu-lagunya pun karena adanya YouTube Music, yang memungkinan dirinya untuk mengeksplorasi apa yang selama ini tidak diketahui. Ini berbeda dengan musik rock yang dari dulu memang sudah didalami ataupun pop Indonesia yang terdengar di mana-mana.

Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan membedah girlband-girlband yang telah disebutkan di atas. Mungkin akan jadi satu tulisan, tapi jika ternyata isinya panjang bisa saja Penulis akan menulisnya menjadi beberapa bagian. Maklum, cukup banyak lagu K-Pop yang Penulis dengarkan sekarang.


Lawang, 13 Maret 2024, terinspirasi setelah menyadari bagaimana YouTube Music membuat dirinya mendengarkan banyak lagu K-Pop

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan