<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>prestasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/prestasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/prestasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2021 13:18:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>prestasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/prestasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pansos Norak Ala Politisi</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/pansos-norak-ala-politisi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/pansos-norak-ala-politisi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2021 12:50:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[GreyAp]]></category>
		<category><![CDATA[norak]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pansos]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisi]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5156</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam pagelaran Olimpiade Tokyo 2020, para atlet kita berjuang sekuat tenaga agar bisa mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga (cabor) masing-masing. Yang sempat heboh adalah ketika Eko Yuli dari cabor angkat besi meminta maaf karena &#8220;hanya&#8221; bisa meraih medali perak. Padahal, prestasi tersebut sudah cukup luar biasa. Sikapnya ini bahkan mendapatkan pujian tinggi dari Sujiwo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pansos-norak-ala-politisi/">Pansos Norak Ala Politisi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam pagelaran Olimpiade Tokyo 2020, para atlet kita berjuang sekuat tenaga agar bisa mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga (cabor) masing-masing. </p>



<p>Yang sempat heboh adalah ketika <strong>Eko Yuli</strong> dari cabor angkat besi meminta maaf karena &#8220;hanya&#8221; bisa meraih medali perak. Padahal, prestasi tersebut sudah cukup luar biasa.</p>



<p>Sikapnya ini bahkan mendapatkan pujian tinggi dari Sujiwo Tejo dan menganggap harusnya mental dan moral tersebut dimiliki oleh pejabat publik yang menangani kasus Covid-19.</p>



<p>Dari cabor bulutangkis, <strong>Anthony Sinisuka Ginting</strong> berhasil meraih medali perunggu. Terbaru, ganda putri <strong>Greysia Polii</strong> dan <strong>Apriyani Rahayu</strong> berhasil mendapatkan medali emas yang membuat bangsa Indonesia merasa bangga.</p>



<p>Sayangnya, keberhasilan mereka tercoreng berkat aksi panjat sosial (pansos) yang dilakukan para politisi kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pansos Norak Ala Politisi</h2>



<p>Idealnya ketika ada atlet atau siapapun yang berhasil membanggakan negara, wajar jika kita ingin memberi ucapan selamat sekaligus mengekspresikan kegembiraan kita. Tak jarang kita akan mengunggah foto mereka dan diiringi ucapan terima kasih dan selamat. </p>



<p>Nah, para politisi kita ini entah mengapa pada norak. Mereka memang memberikan ucapan selamat dan mengunggah foto Greysia/Apriyani, tapi ditempeli oleh foto mereka sendiri yang kadang justru lebih besar dan menonjol.</p>



<p>Agar bisa membayangkan maksud Penulis, Pembaca bisa cek melalui <em>tweet </em>berikut ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter wp-block-embed-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="in" dir="ltr">Menunggu pejabat-pejabat Indonesia memberikan ucapan selamat kepada atlet kita dengan mukanya yang lebih besar dari Greysia Polii/Apriyani Rahayu <br><br>🥇🥇🥇🥇🥇🥇🥇🥇 <a href="https://t.co/2BxdOglCc8">pic.twitter.com/2BxdOglCc8</a></p>&mdash; Adriansyah Yasin Sulaeman (@adriansyahyasin) <a href="https://twitter.com/adriansyahyasin/status/1422075179493072899?ref_src=twsrc%5Etfw">August 2, 2021</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p>Jika melihat <em>reply </em>dari <em>tweet </em>ini, ada banyak sekali netizen yang berhasil menemukan foto-foto ucapan selamat yang terlihat norak dan sangat kentara ingin memanfaatkan situasi untuk pansos.</p>



<p>Ada beberapa politisi yang mendapatkan apresiasi karena ucapan selamat mereka berkelas, tapi mayoritas politisi yang memberi selamat begitu narsis dengan memasang foto mereka sendiri bersanding dengan Greysia/Apriyani.</p>



<p>Yang membuat netizen geram adalah foto sang politisi yang lebih besar dari sang pahlawan kita. Mana posenya kebanyakan begitu semua, standar bapak-bapak yang mengepalkan tangan.</p>



<p>Entah siapa yang menjadi desainer atau <em>public relation</em>-nya, tapi yang jelas netizen sudah cukup pandai untuk menilai <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">apakah ucapan tersebut ikhlas atau tidak</a>. Niat ingin lebih dikenal publik pun berbalik menjadi bumerang bagi mereka.</p>



<p>Netizen yang dikenal kreatif pun tidak tinggal diam. Beberapa membuat foto editan meniru gaya politisi tersebut sebagai bentuk sindiran, bahkan terkadang dengan desain yang disengaja begitu buruk.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memanfaatkan setiap situasi demi keuntungannya sendiri merupakan salah satu ciri orang oportunis. Politisi kita, setidaknya yang terlihat di media sosial, menunjukkan ciri tersebut.</p>



<p>Kok masalah memberi selamat kepada atlet yang mengharumkan nama bangsa, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">pindah partai atau kubu</a> pun akan dilakoni kalau bisa memberi keuntungan. </p>



<p>Tidak ada salahnya memberi identitas diri dalam foto ucapan selamat yang diunggah, tapi ya kira-kira dong. Masa foto atletnya kalah mencolok dari fotonya <em>sampeyan</em>. </p>



<p>Penulis sangat menyayangkan berita baik yang dibawa oleh Greysia dan Apriyani harus ternodai oleh sikap norak yang ditunjukkan oleh politisi kita demi libido kekuasaan mereka.</p>



<p>Tanpa menyantumkan foto dirinya, Penulis ingin mengucapkan selamat kepada semua atlet Indonesia yang berhasil membawa pulang medali Olimpiade ke ibu pertiwi!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 2 Agustus 2021, terinspirasi dari banyaknya politisi norak yang memberikan ucapan selamat kepada Greysia dan Apriyani</p>



<p>Foto: <a href="https://www.ngopibareng.id/read/selain-uang-rp5-miliar-ini-bonus-tambahan-untuk-greysia-apriyani">Ngopibareng</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pansos-norak-ala-politisi/">Pansos Norak Ala Politisi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/pansos-norak-ala-politisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2019 01:12:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[zona]]></category>
		<category><![CDATA[zonasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak trending) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah. Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah. Tentu hal ini menjadi polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak <em>trending</em>) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah.</p>
<p>Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah.</p>
<p>Tentu hal ini menjadi polemik dan mengandung pro dan kontra tersendiri baik di kalangan orangtua, murid, pengamat pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Diterapkan?</h3>
<p><div id="attachment_2522" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2522" class="size-large wp-image-2522" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2522" class="wp-caption-text">Menteri Pendidikan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://vibizmedia.com/2016/07/27/wajah-menteri-kabinet-kerja-baru/menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-dr/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi3wPaE47rjAhUFVysKHVMkDKIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Vibizmedia.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Tujuan dari sistem ini sebenarnya bagus, ingin memeratakan pendidikan. Pemerintah ingin menghapuskan yang namanya sekolah favorit. Semua sekolah memiliki derajat yang sama.</p>
<p>Beberapa orang berpendapat bahwa sekolah menjadi favorit karena memang diisi oleh murid-murid yang pintar, buat karena kualitas sekolah yang luar biasa.</p>
<p>Jika sudah diisi oleh murid yang dasarnya sudah cerdas, tentu para guru tidak perlu bersusah payah mentransferkan ilmu yang mereka miliki.</p>
<p>Ketika penulis membaca beberapa <em>tweet</em>, sekolah yang baik adalah yang mampu mengubah nilai muridnya dari 5 menjadi 9. Kalau dari awal mereka sudah biasa mendapatkan nilai 9, maka apa istimewanya?</p>
<p>Akibat lainnya dengan adanya sekolah favorit ini adalah sekolah-sekolah lain yang bukan favorit hanya menerima &#8220;ampas&#8221;  dari murid-murid yang tidak diterima di sekolah favorit.</p>
<p>Selain itu, pemerintah mungkin juga ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak yang kemampuan akademisnya standar agar bisa merasakan sekolah di tempat dengan fasilitas yang baik.</p>
<p>Pendidikan adalah hak semua anak yang hidup di Indonesia, mungkin menjadi dasar mengapa pemerintah menerapkan sistem ini.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Tidak Cocok Diterapkan Sekarang?</h3>
<p><div id="attachment_2521" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2521" class="size-large wp-image-2521" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2521" class="wp-caption-text">Murid Jadi Stress (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medibank.com.au/livebetter/health-brief/lifestyle/coping-with-stress-as-a-student/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiyg_zL4rrjAhVSeysKHS7JDfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medibank</span></a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja, masalahnya tidak semua sekolah memiliki kualitas yang sama. Ada yang bagus banget, ada yang di bawah standar. Tentu hal ini terasa sedikit tidak adil bagi siswa berprestasi tapi rumahnya dekat dengan sekolah yang kurang baik.</p>
<p>Jepang juga menerapkan zonasi seperti ini. Bedanya, sekolah-sekolah di Jepang memiliki kualitas yang setara sehingga para murid dan orangtua bisa menerimanya.</p>
<p>Mungkin salah satu harapan pemerintah menerapkan zona ini adalah agar yang kurang pandai dan bermasalah bisa tertular mereka yang pintar dan rajin.</p>
<p>Masalahnya, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika anak yang sebenarnya pintar jadi ikut terpengaruh lingkungan buruk sehingga jalan hidupnya menjadi belok? Tentu hal tersebut bisa menjadi masalah baru bagi perkembangan generasi muda.</p>
<p>Beberapa kali muncul di berita anak berprestasi menjadi frustasi karena segala <em>achievement</em>-nya selama ini tidak bisa menolongnya untuk bisa bersekolah di tempat yang ia inginkan. Ini adalah peristiwa yang cukup membuat pilu.</p>
<p>Juga muncul kekhawatiran dari pihak orangtua bahwa anak mereka dijadikan &#8220;kelinci percobaan&#8221; untuk menerapkan sistem ini. Pasti akan menimbulkan masalah apabila tahun depan ternyata pemerintah membatalkan aturan sistem zonasi ini.</p>
<p>Kalau kata ayah penulis, sistem yang seperti ini akan membuat kita sedikit susah mendapatkan teman baru. Bagaimana tidak, ketemu temannya itu lagi itu lagi. Kesempatan untuk mendapatkan relasi baru jadi sedikit terhambat.</p>
<p>Penulis merasakan betul hal tersebut karena bersekolah di TK, SD, SMP, dan SMA yang berada di satu kelurahan yang sama. Penulis memiliki satu teman yang selalu satu sekolah hingga satu jurusan kuliah. Bahkan, sekarang kerja di Jakarta pun kantornya berdekatan.</p>
<p>Yah, walaupun sebenarnya ada banyak jalan agar bisa mendapatkan relasi yang lebih luas, tapi sekolah adalah tempat yang paling mudah untuk mendapatkannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis setuju dengan tujuan utama dari penerapan sistem zonasi ini, yakni ingin memeratakan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, penulis merasa pemerintah terlalu <em>grusa-grusu </em>sehingga terjadi <em>syok </em>massal, baik dari pihak murid maupun orangtua.</p>
<p>Seharusnya, sistem zonasi ini bisa dilakukan secara bertahap entah bagaimana caranya, sehingga publik bisa menerima hal ini tanpa emosi.</p>
<p>Sebenarnya, murid berprestasi juga masih bisa bersekolah di tempat yang jauh dari rumahnya lewat jalur prestasi, walaupun kuotanya hanya 5%. Setidaknya, masih ada jalan meskipun mungkin akan sedikit berdarah-darah.</p>
<p>Penulis berharap besar dengan adanya sistem zonasi ini, pihak sekolah akan benar-benar melakukan pembenahan diri agar kualitasnya benar-benar setara dengan sekolah lain yang lebih bagus, baik dari sisi tenaga pengajar maupun fasilitas yang dimiliki.</p>
<p>Pemerintah juga harus &#8220;bertanggung jawab&#8221; atas keputusan yang telah diambil dengan cara menggelontorkan dana untuk bisa memeratakan kualitas sekolah, terutama sekolah-sekolah di daerah.</p>
<p>Para murid yang mendapatkan keuntungan dengan zona ini pun diharapkan bisa memanfaatkan hal ini dengan baik. Mereka sudah diberikan <em>privilage</em>, sehingga akan terasa seperti pengkhianatan apabila mereka justru bermalas-malasan di sekolah nantinya.</p>
<p>Untuk para murid yang terbentur jarak sehingga tidak bisa bersekolah di tempat idaman, jangan berkecil hati. Sekolah bukan satu-satunya parameter kesuksesan, jadi tetap semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<ul>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer">Video <a href="https://youtu.be/FeRjh4JSaRs">OPINIKU MENGENAI SISTEM ZONASI SEKOLAH (ft. Seno Bagaskoro)</a> dari Nihonggo Mantappu</li>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer"><a href="https://twitter.com/Strategi_Bisnis/status/1141907218821812224"><em>Tweet </em>akun Stretegi + Bisnis</a></li>
<li><a href="https://zeniuseducation.com/polemik-sistem-zonasi-ppdb/">Zenius Education</a></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Juli 2019, terinspirasi dengan penerapan sistem zonasi yang membuat publik heboh</p>
<p>Sumber: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jordymeow">Jordy Meow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 17:26:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[dilema]]></category>
		<category><![CDATA[Maudy Ayunda]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2221</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, Maudy Ayunda. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema. Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University. Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, heboh berita tentang seorang artis cantik, <strong>Maudy Ayunda</strong>. Bukan karena ia membuat skandal, melainkan karena ia sedang dilanda dilema.</p>
<p>Hal yang membuatnya dilema pun sangat berkelas: Ia bingung karena disuruh memilih kampus mana yang akan menjadi destinasi studinya, antara Harvard University atau Stanford University.</p>
<p>Netizen yang kreatif pun beramai-ramai membuat bahan candaan di media sosial. Mereka membandingkan dilema remeh yang mereka hadapi dengan dilema yang dihadapi oleh Maudy.</p>
<h3>Menyederhanakan Pilihan</h3>
<p><div id="attachment_2232" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2232" class="size-large wp-image-2232" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg" alt="" width="800" height="496" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-1024x635.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-300x186.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2-768x476.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2232" class="wp-caption-text">Dilema Berkelas (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://sidomi.com/606904/maudy-ayunda-bersiap-kuliah-s2-di-amerika-serikat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwibssnR2InhAhUPb30KHQ4pCfcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Sidomi</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sendiri menikmati <em>jokes </em>tersebut, di mana beberapa dilema yang ada di media sosial tersebut ada yang pernah penulis alami sendiri. Akan tetapi, penulis menjadi terpikirkan sesuatu.</p>
<blockquote><p>Apakah dilema yang dialami Maudy Ayunda hanya akan berakhir sebagai bahan candaan semata?</p></blockquote>
<p>Penulis jadi merenung, kenapa tidak menjadikan kisah hebat Maudy untuk dijadikan motivasi hidup?</p>
<p>Bukan tentang bagaimana ia bisa diterima oleh salah satu kampus terbaik dunia, jelas itu terlalu muluk. Yang perlu kita renungkan adalah <strong>menentukan hal apa aja yang patut kita dilemakan</strong>.</p>
<p>Penulis adalah tipe orang yang sulit membuat keputusan. Penulis merasa terlalu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan sesuatu. Tentu ini membuat penulis sering terlihat ragu.</p>
<p>Bahkan, hal yang remeh temeh membutuhkan waktu untuk bisa menentukan pilihan. Tentu hal ini tidak baik, sehingga harus ada solusi untuk mengatasinya.</p>
<p><div id="attachment_2231" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2231" class="size-large wp-image-2231" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-1024x682.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/maudy-ayunda-1.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2231" class="wp-caption-text">Menyederhanakan Hal yang Patut Didilemakan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ramsayhealth.co.uk/about/latest-news/imagination-food" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjbrufq14nhAhVTWysKHeXZDy4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Ramsay Health Care</span></a>)</p></div></p>
<p>Dari beberapa buku yang telah penulis baca, salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pilihan. Misal, pilihan makan dan pakaian yang akan dikenakan.</p>
<p>Kalau perlu, tentukan ingin makan apa dan ingin menggunakan pakaian mana untuk satu minggu ke depan. Dengan mengurangi hal-hal yang membutuhkan pertimbangan panjang, kita bisa melihat mana yang menjadi prioritas terpenting kita.</p>
<p>Mungkin para pembaca sekalian sudah pernah membaca atau mendengar alasan mengapa pakaian yang dikenakan <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Steve Jobs</a> selalu sama. Jawabannya sama, agar ia tak perlu pusing-pusing memilih pakaian mana yang harus ia kenakan.</p>
<p>Singkatnya, kita harus menyederhanakan hidup kita dari pilihan-pilihan yang kurang penting. Fokuskan diri terhadap hal-hal yang memang layak untuk diberi perhatian lebih.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apalah kita jika dibandingkan Maudy Ayunda. Tentu hampir terdengar mustahil jika ingin menyamai prestasinya, terutama karena kita telah kalah <em>start </em>yang di mana Maudy, penulis yakini, sudah berbuat banyak hal agar bisa di posisinya sekarang.</p>
<p>Yang bisa kita petik dari seorang Maudy Ayunda adalah prioritas masalah yang layak untuk didilemakan. Kalaupun tidak bisa berkuliah di kampus terbaik dunia, minimal buatlah dilema yang kita alami menjadi lebih berkelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi dari dilema yang dirasakan oleh Maudy Ayunda</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&amp;id=16100006" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiE-7bUuonhAhWaA3IKHQPdDdwQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wanita Indonesia</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dilema-berkelas-ala-maudy-ayunda/">Dilema Berkelas Ala Maudy Ayunda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
