Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah

Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak trending) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah.

Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah.

Tentu hal ini menjadi polemik dan mengandung pro dan kontra tersendiri baik di kalangan orangtua, murid, pengamat pendidikan, dan lain sebagainya.

Kenapa Sistem Zonasi Diterapkan?

Menteri Pendidikan (Vibizmedia.com)

Tujuan dari sistem ini sebenarnya bagus, ingin memeratakan pendidikan. Pemerintah ingin menghapuskan yang namanya sekolah favorit. Semua sekolah memiliki derajat yang sama.

Beberapa orang berpendapat bahwa sekolah menjadi favorit karena memang diisi oleh murid-murid yang pintar, buat karena kualitas sekolah yang luar biasa.

Jika sudah diisi oleh murid yang dasarnya sudah cerdas, tentu para guru tidak perlu bersusah payah mentransferkan ilmu yang mereka miliki.

Ketika penulis membaca beberapa tweet, sekolah yang baik adalah yang mampu mengubah nilai muridnya dari 5 menjadi 9. Kalau dari awal mereka sudah biasa mendapatkan nilai 9, maka apa istimewanya?

Akibat lainnya dengan adanya sekolah favorit ini adalah sekolah-sekolah lain yang bukan favorit hanya menerima “ampas”  dari murid-murid yang tidak diterima di sekolah favorit.

Selain itu, pemerintah mungkin juga ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak yang kemampuan akademisnya standar agar bisa merasakan sekolah di tempat dengan fasilitas yang baik.

Pendidikan adalah hak semua anak yang hidup di Indonesia, mungkin menjadi dasar mengapa pemerintah menerapkan sistem ini.

Kenapa Sistem Zonasi Tidak Cocok Diterapkan Sekarang?

Murid Jadi Stress (Medibank)

Hanya saja, masalahnya tidak semua sekolah memiliki kualitas yang sama. Ada yang bagus banget, ada yang di bawah standar. Tentu hal ini terasa sedikit tidak adil bagi siswa berprestasi tapi rumahnya dekat dengan sekolah yang kurang baik.

Jepang juga menerapkan zonasi seperti ini. Bedanya, sekolah-sekolah di Jepang memiliki kualitas yang setara sehingga para murid dan orangtua bisa menerimanya.

Mungkin salah satu harapan pemerintah menerapkan zona ini adalah agar yang kurang pandai dan bermasalah bisa tertular mereka yang pintar dan rajin.

Masalahnya, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika anak yang sebenarnya pintar jadi ikut terpengaruh lingkungan buruk sehingga jalan hidupnya menjadi belok? Tentu hal tersebut bisa menjadi masalah baru bagi perkembangan generasi muda.

Beberapa kali muncul di berita anak berprestasi menjadi frustasi karena segala achievement-nya selama ini tidak bisa menolongnya untuk bisa bersekolah di tempat yang ia inginkan. Ini adalah peristiwa yang cukup membuat pilu.

Juga muncul kekhawatiran dari pihak orangtua bahwa anak mereka dijadikan “kelinci percobaan” untuk menerapkan sistem ini. Pasti akan menimbulkan masalah apabila tahun depan ternyata pemerintah membatalkan aturan sistem zonasi ini.

Kalau kata ayah penulis, sistem yang seperti ini akan membuat kita sedikit susah mendapatkan teman baru. Bagaimana tidak, ketemu temannya itu lagi itu lagi. Kesempatan untuk mendapatkan relasi baru jadi sedikit terhambat.

Penulis merasakan betul hal tersebut karena bersekolah di TK, SD, SMP, dan SMA yang berada di satu kelurahan yang sama. Penulis memiliki satu teman yang selalu satu sekolah hingga satu jurusan kuliah. Bahkan, sekarang kerja di Jakarta pun kantornya berdekatan.

Yah, walaupun sebenarnya ada banyak jalan agar bisa mendapatkan relasi yang lebih luas, tapi sekolah adalah tempat yang paling mudah untuk mendapatkannya.

Penutup

Penulis setuju dengan tujuan utama dari penerapan sistem zonasi ini, yakni ingin memeratakan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, penulis merasa pemerintah terlalu grusa-grusu sehingga terjadi syok massal, baik dari pihak murid maupun orangtua.

Seharusnya, sistem zonasi ini bisa dilakukan secara bertahap entah bagaimana caranya, sehingga publik bisa menerima hal ini tanpa emosi.

Sebenarnya, murid berprestasi juga masih bisa bersekolah di tempat yang jauh dari rumahnya lewat jalur prestasi, walaupun kuotanya hanya 5%. Setidaknya, masih ada jalan meskipun mungkin akan sedikit berdarah-darah.

Penulis berharap besar dengan adanya sistem zonasi ini, pihak sekolah akan benar-benar melakukan pembenahan diri agar kualitasnya benar-benar setara dengan sekolah lain yang lebih bagus, baik dari sisi tenaga pengajar maupun fasilitas yang dimiliki.

Pemerintah juga harus “bertanggung jawab” atas keputusan yang telah diambil dengan cara menggelontorkan dana untuk bisa memeratakan kualitas sekolah, terutama sekolah-sekolah di daerah.

Para murid yang mendapatkan keuntungan dengan zona ini pun diharapkan bisa memanfaatkan hal ini dengan baik. Mereka sudah diberikan privilage, sehingga akan terasa seperti pengkhianatan apabila mereka justru bermalas-malasan di sekolah nantinya.

Untuk para murid yang terbentur jarak sehingga tidak bisa bersekolah di tempat idaman, jangan berkecil hati. Sekolah bukan satu-satunya parameter kesuksesan, jadi tetap semangat!

 

Sumber Artikel:

 

 

Kebayoran Lama, 17 Juli 2019, terinspirasi dengan penerapan sistem zonasi yang membuat publik heboh

Sumber: Jordy Meow