<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>puasa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/puasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/puasa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Mar 2024 09:52:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>puasa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/puasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Rasanya Berpuasa di Tanah Rantau?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/bagaimana-rasanya-puasa-di-tanah-rantau/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/bagaimana-rasanya-puasa-di-tanah-rantau/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Mar 2024 09:31:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[merantau]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7075</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2024 ini menjadi tahun keempat di mana Penulis (alhadulillah) bisa berpuasa di rumah. Sebelumnya pada rentang tahun 2019-2020, Penulis mengalami yang namanya berpuasa di tanah rantau, di mana untuk sahur dan buka puasa harus dilakukan sendirian. Meskipun tergolong sebentar (karena hanya sekitar dua tahun), Penulis merasa kalau berpuasa di tanah rantau memiliki sensasinya sendiri. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/bagaimana-rasanya-puasa-di-tanah-rantau/">Bagaimana Rasanya Berpuasa di Tanah Rantau?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2024 ini menjadi tahun keempat di mana Penulis (<em>alhadulillah</em>) bisa berpuasa di rumah. Sebelumnya pada rentang tahun 2019-2020, Penulis mengalami yang namanya berpuasa di tanah rantau, di mana untuk sahur dan buka puasa harus dilakukan sendirian.</p>



<p>Meskipun tergolong sebentar (karena hanya sekitar dua tahun), Penulis merasa kalau berpuasa di tanah rantau memiliki sensasinya sendiri. Yang biasanya kita dibangunkan dan makanan telah disiapkan oleh ibu, kini harus tergantung dengan diri sendiri.</p>



<p>Oleh karena itu, pada tulisan kali ini Penulis ingin berbagi sedikit mengenai bagaimana rasanya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/">berpuasa di tanah rantau</a>. Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk sesama kaum muslimin yang baru merasakan bagaimana puasa di tanah rantau tahun ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Sahur di Tanah Rantau</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161818-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7077" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161818-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161818-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161818-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161818.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Warteg Andalan (Google Maps)</figcaption></figure>



<p>Di sekitar kos Penulis di Jakarta, bisa dibilang ada berbagai jenis makanan yang dijual, mulai dari warteg hingga masakan padang. Hal ini memudahkan Penulis untuk mencari makan ketika jam sahur. </p>



<p>Yang menjadi andalan Penulis tentu saja warteg dengan lauk tempe orek ditambah sayur singkong. Menu yang murah meriah ini tentu menjadi berkah untuk anak rantau yang harus serba menghemat.</p>



<p>Namun, yang menjadi permasalahan utama ketika sahur sebenarnya bukan menu makanannya, melainkan rasa malas untuk keluar kos. Bangun dini hari untuk keluar kos terkadang terasa berat, walau tempat membeli makanannya sebenarnya sangat dekat.</p>



<p>Jika sudah mager tingkat maksimal, biasanya mi instan menjadi solusi utama, ditemani dengan secangkir teh panas yang dibuat menggunakan Heater. Solusi lainnya adalah memesan makanan secara <em>online</em>, yang secara biaya jelas lebih mahal.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang bisa memasak dan kurang minat memelajarinya. Penulis baru mulai memasak kecil-kecilan ketika pandemi, di mana Penulis tidak bisa pulang ke Malang. Berbagai peralatan masak pun dibeli, mulai dari Magic Jar, panci, hingga saringan. </p>



<p>Yang dimasak pun hanya makanan instan yang tinggal digoreng, seperti nugget dan sosis. Kalau makanan organik, paling mentok ya tempe dan telur, yang sama-sama tinggal digoreng. Jangan harap ada sayur karena tidak ada satupun menu yang bisa Penulis masak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Buka Puasa di Tanah Rantau</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161904-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7078" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161904-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161904-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161904-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-12-161904.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dulu Hampir Buka Puasa Setiap Hari di Sini (Google Maps)</figcaption></figure>



<p>Untuk masalah buka puasa, Penulis merasa bersyukur karena mendapatkan &#8220;jatah&#8221; dari kantor. Ini terjadi di tahun 2019, karena di tahun 2020 <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/">pandemi COVID-19</a> terjadi sehingga Penulis harus buka puasa di kos.</p>



<p>Jatah menu buka puasa dari kantor bisa dibilang cukup bervariasi, karena setiap harinya akan mendapatkan menu yang berbeda. Biaya makan per karyawan pun bisa dipastikan lebih dari 15 ribu per kepala, karena makanan yang dihidangkan berasal dari walaraba populer.</p>



<p>Barulah ketika akhir pekan Penulis harus mencari menu buka puasa sendiri. Namun, Penulis jarang membeli makan sebelum jam buka. Biasanya, Penulis justru baru mencari makan selepas Isya karena biasanya tempat makan sudah mulai sepi pembeli.</p>



<p>Menu buka puasanya pun berkisar di tempat-tempat makan di sekitar kos. Namun, jika sedang senggang, maka Penulis akan berbuka puasa di mal untuk menikmati menu yang lebih lezat atau memesannya melalui layanan <em>online </em>jika sedang mager.</p>



<p>Ketika memesan makanan <em>online</em>, sesekali Penulis akan memesan dua porsi, di mana satunya diperuntukkan untuk abang yang mengantarkannya. Selain berbagi di bulan puasa, biasanya potongan di aplikasi baru bisa dipakai ketika mencapai nominal tertentu. </p>



<p>Selama merantau, Penulis bisa dibilang jarang mengikuti buka bersama (bukber), lha mong tiap hari memang bukber bareng teman-teman kantor. Ketika akhir pekan, tentu mereka lebih memilih berbuka bersama orang-orang rumah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika dibandingkan dengan puasa di tanah rantau, memang berpuasa di rumah terkesan lebih &#8220;membosankan&#8221; karena cukup monoton. Kalau tidak makan masakan ibu atau beli makanan di sekitar rumah. Kalau mau beda, paling menunggu momen bukber.</p>



<p>Namun, tentu Penulis tetap bersyukur bisa berpuasa di rumah bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai. Ini bukan tentang apa yang dimakan, melainkan<a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/"> momen berharga yang dihabiskan dengan siapa</a>.</p>



<p>Berpuasa di tanah rantau mengajari Penulis untuk bersyukur karena selama ini mendapatkan <em>privilege </em>sehingga bisa berpuasa dengan &#8220;mudah.&#8221; Semua sudah tersedia, kita tinggal makan saja tanpa perlu keluar rumah. </p>



<p>Suasana sahur dan buka bersama keluarga juga menjadi hal yang membuat kita baru merasa kehilangan ketika merantau sendirian. Meskipun ada teknologi <em>video call</em>, hal tersebut tidak akan bisa menggantikan pertemuan fisik.</p>



<p>Berada di tanah rantau membuat kita menyadari hal tersebut, yang mungkin selama ini terabaikan. Bisa berpuasa di rumah bersama keluarga rasanya jauh lebih menyenangkan, terutama setelah sempat berpuasa sendiri di tanah rantau.</p>



<p>Untuk para Pembaca yang baru berpuasa sendiri di tanah rantau, semangat! Puasa di tanah rantau itu seru kok, walaupun kita harus bisa melawan rasa malas untuk keluar rumah ataupun memasak sendiri. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 Maret 2024, terinspirasi karena menyadari dirinya sudah empat tahun mendapatkan kesempatan untuk berpuasa di rumah</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://chatelaine.com/food/ramadan-eating-well-faq/">Chatelaine</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/bagaimana-rasanya-puasa-di-tanah-rantau/">Bagaimana Rasanya Berpuasa di Tanah Rantau?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/bagaimana-rasanya-puasa-di-tanah-rantau/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Berpisah dengan Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 09:57:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi.</p>



<p>Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah ini banyak hal akan dimulai lagi dari nol.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis bentuk ujian yang sebenarnya justru <strong>setelah kita berpisah dengan bulan Ramadhan.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, bulan Ramadhan tahun ini terasa kurang maksimal. Meskipun puasa tahun ini bisa di rumah, dua minggu terakhir Penulis kerap diserang penyakit seperti asam lambung dan demam. Alhasil, bulan puasa tahun ini harus rela bolong dua hari.</p>



<p>Jumlah bolong ini adalah rekor seumur hidup Penulis. Tahun kemarin, Penulis sempat bolong satu kali karena sakit juga. Sebelumnya, seingat Penulis belum pernah bolong sama sekali. Kalau masalah menahan lapar dan haus, Penulis termasuk jago.</p>



<p>Hanya saja, Penulis juga jadi merenung. <strong>Apakah ujian yang sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Selama bulan puasa, kita berusaha menahan diri dari berbagai godaan. Terlepas dari masalah perut, sebenarnya ada banyak hal yang harus kita jaga selama berpuasa.</p>



<p>Kita berusaha untuk menahan marah, tidak membicarakan orang, meningkatkan ibadah kita, pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, tadarusan, tidak berbuat hal buruk, dan lain sebagainya. Semenjak Shubuh hingga Maghrib, kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi seperti itu di luar waktu puasa? Bisakah kita mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk seperti ketika puasa?</p>



<p>Penulis merasa bahwa inilah ujian kita yang sebenarnya: <strong>Apakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di 11 bulan lainnya setelah berpuasa selama satu bulan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Menahan diri ketika berpuasa bisa dibilang cukup mudah. Ketika hendak melakukan hal yang buruk, kita akan teringat, &#8220;Oh iya, lagi puasa, enggak boleh begitu.&#8221;</p>



<p>Tapi kalau sedang di luar puasa, apa yang akan menjadi pengingat kita? Di sana lah letak kesulitan untuk mempertahankan kebiasaan baik di luar bulan puasa. Tidak ada yang bisa menjadi pengingat secara langsung.</p>



<p>Ketika Penulis berusaha menghayati bulan puasa yang telah dilewati, Penulis menyadari bahwa ini menjadi salah satu alasan kenapa kita harus berpuasa selama satu bulan: <strong>Agar kita sadar untuk bisa bersikap seperti ketika sedang puasa walaupun tidak sedang puasa.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, Penulis menjadi tergerak hatinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak hanya dari rutinitas harian, tapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya.</p>



<p>Yang namanya manusia, pasti semangatnya akan mengalami naik turun. Penulis sudah sering mengalaminya dalam hidup.</p>



<p>Penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk, setidaknya sampai bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan jika diizinkan oleh Tuhan. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah merenungi makna bulan Ramadhan yang telah dijalani</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@sxy_selia">Sangga Rima Roman Selia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Menjelang Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 May 2018 15:28:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=783</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebetulnya tulisan ini diposting sebelum bulan Ramadhan, tapi karena beberapa alasan jadi harus tertunda. Sudah sewajarnya apabila kita memasuki bulan yang suci ini dengan berbagai persiapan, terutama persiapan secara rohani. Sebelumnya, salah satu anggota Karang Taruna berbagi video yang menarik. Isinya tentang pemanasan-pemanasan yang perlu dilakukan sebelum puasa. Link-nya akan penulis share di bawah, tapi penulis juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/">Pemanasan Menjelang Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya tulisan ini diposting sebelum bulan Ramadhan, tapi karena beberapa alasan jadi harus tertunda. Sudah sewajarnya apabila kita memasuki bulan yang suci ini dengan berbagai persiapan, terutama persiapan secara rohani.</p>
<p>Sebelumnya, salah satu anggota Karang Taruna berbagi video yang menarik. Isinya tentang pemanasan-pemanasan yang perlu dilakukan sebelum puasa. Link-nya akan penulis <em>share </em>di bawah, tapi penulis juga akan berusaha mentransfer isi video tersebut ke dalam sebuah tulisan dengan analogi yang berbeda.</p>
<p>Karena sebentar lagi Piala Dunia, penulis akan menganalogikannya dengan sepak bola. Seorang pemain bola yang berharap dipanggil oleh Timnas, tentu membutuhkan persiapan bukan? Apalagi even sebesar Piala Dunia tentu menjadi cita-cita semua pemain bola, termasuk kapten Tsubasa.</p>
<p>Lalu apa yang akan ia lakukan? Tidak mungkin bukan <em>ujug-ujug </em>ia dipanggil oleh pelatih? Ia harus banyak berlatih agar fit dan memenuhi syarat agar dipanggil. Ia harus bermain dengan baik di klub ia bermain, lebih-lebih menghasilkan prestasi.</p>
<p>Latihan apa yang harus kita lakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan? Tentu memperbanyak ibadah, seperti melaksanakan sholat shunah, menjalani puasa sunnah, menambah bacaan Al-Quran, dan lain-lain. Sehingga, ketika kita sudah masuk bulan Ramadhan, kita telah terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut.</p>
<p>Bayangkan seorang Neymar yang baru saja cedera parah, tiba-tiba langsung masuk <em>line up </em>pertandingan pertama Brazil melawan Swiss, pasti ia tidak akan bermain sebagus biasanya bukan? Sesuatu yang dipaksakan secara tiba-tiba seringkali akan membawa hasil yang buruk.</p>
<p>Perbedaan antara Piala Dunia dan bulan Ramadhan adalah, Piala Dunia hanya memiliki satu tim juara, sedangkan bulan Ramadhan tidak terbatas. Semua bisa memenangkannya, asalkan dapat menjalaninya dengan baik, apalagi jika ditambah amalan-amalan yang telah rutin dilakukan sebelum Ramadhan.</p>
<p>Jika bingung dengan tulisan ini, mungkin video dari Yufid TV ini bisa membantu memahami apa yang ingin penulis sampaikan. Selamat menjalani ibadah puasa di bulan penuh berkah!</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/C68V1StKj-I" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 Mei 2018, setelah melihat video yang di-<em>share </em>Daffa</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://runningmagazine.ca/must-bother-proper-warm-cool/">https://runningmagazine.ca/must-bother-proper-warm-cool/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/">Pemanasan Menjelang Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
