<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pulang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pulang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pulang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:18:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Pulang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pulang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Pulang-Pergi</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2021 03:32:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang-Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4875</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan Antara Pulang dan Pergi, Penulis pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap novel karya Tere Liye tersebut. Pasalnya, banyak adegan action yang khayal dan terlalu memaksakan. Selain itu, keberuntungan yang dimiliki oleh tokoh utama dan teman-temannya seolah begitu besar. Bantuan selalu datang ketika menit-menit terakhir, apalagi bisa datang di tempat yang bersamaan. Walaupun begitu, Penulis tetap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Setelah Membaca Pulang-Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Antara Pulang dan Pergi</a>, Penulis pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap novel karya Tere Liye tersebut. Pasalnya, banyak adegan <em>action </em>yang khayal dan terlalu memaksakan.</p>



<p>Selain itu, keberuntungan yang dimiliki oleh tokoh utama dan teman-temannya seolah begitu besar. Bantuan selalu datang ketika menit-menit terakhir, apalagi bisa datang di tempat yang bersamaan.</p>



<p>Walaupun begitu, Penulis tetap saja membeli lanjutan novelnya, <strong>Pulang-Pergi</strong>. Salah satu alasan kuatnya adalah adanya <em>crossover </em>di mana karakter Thomas dari novel Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk akan banyak muncul di sini.</p>



<p>Karakter ini memang sempat muncul di novel Pergi, namun hanya sekilas. Di novel ini, ia muncul hampir dari awal novel hingga akhir.</p>



<p>Lantas, apakah novel ini menjadi lebih baik jika dibandingkan novel Pergi? Hmmm&#8230;</p>



<p><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Novel ini melanjutkan petualangan Bujang setelah pertarungan di akhir novel Pulang. Ia tengah menghadapi dilema karena mendapatkan paksaan untuk menikahi seorang putri penguasa <em>shadow economy </em>Rusia, Otets. Anaknya yang hendak dinikahkan dengan Bujang bernama <strong>Maria</strong>.</p>



<p>Bujang sebenarnya merasa keberatan dengan pernikahan ini, walaupun Maria adalah seorang wanita yang cantik, pintar, dan kuat. Hanya saja, ancaman yang diberikan oleh ayah Maria tidak main-main. Bujang pun memutuskan untuk tetap berangkat ke Rusia.</p>



<p>Di tengah perjalanan, ia menjemput gurunya di Filipina yang bernama Salonga. Ia bersama muridnya, Junior, ikut berangkat ke Rusia. Salonga dimintai tolong untuk melakukan negosiasi agar pernikahan diundur. Nahas, pernikahan justru dipercepat.</p>



<p>Acara pun berlangsung di sebuah kastil milik Otets. Di sana, Bujang bertemu dengan Thomas yang hadir sebagai tamu undangan. Bujang yang terus mencari celah untuk keluar dari situasi ini menemui jalan buntu.</p>



<p>Saat pesta perpisahan berlangsung, ada pengkhianatan yang dilakukan oleh kaki tangan Otets, Natascha dan pasukan Black Widow (<em>pfft</em>&#8230;). Pesta pun bubar dan Otets mati di tangan orang kepercayaannya.</p>



<p>Bagaimana dengan Bujang? Tentu saja ia berhasil kabur bersama Maria, Thomas, Salonga, dan Junior. Mereka pun menyusuri benua Eropa untuk menghindari Natascha dan para pembunuh bayaran yang mengincar kepala mereka, sembari memikirkan bagaimana cara membalas dendam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Pulang-Pergi</h2>



<p>Napas panjang langsung Penulis keluarkan setelah selesai membaca novel ini. Memang novel ini jauh lebih baik dibandingkan dengan novel Pergi yang <em>ending-</em>nya sangat memaksakan, tapi tetap saja kurang memuaskan.</p>



<p>Perjalanan yang dilakukan Bujang dan kawan-kawan ketika kabur dari kejaran orang-orang memang cukup seru. Bagaimana Natascha bisa selalu melacak posisi mereka membuat ketegangan cerita terjaga hingga mendekati klimaks. <em>Pace</em>-nya juga lumayan cepat.</p>



<p>Hanya saja, bantuan datang di menit terakhir tetap saja ada. Kawan-kawannya di novel-novel sebelumnya seperti White dan si kembar Yuki-Kiko datang menyusul dan memberikan bantuan kepada Bujang.</p>



<p>Selain itu, pertarungan terakhir melawan Diego (kakak tiri Bujang, otak di balik pemberontakan Natascha) juga rasanya anti-klimaks. Sebagai <em>final boss</em>, pertarungannya terasa singkat dan mati begitu saja. Matinya pun gara-gara Bujang tiba-tiba mendapatkan kekuatan super dari aroma alkohol.</p>



<p>Salah satu yang paling menggelikan dari novel ini adalah pemilihan nama Natascha dan Black Widow, yang rasanya sangat Marvel. Setidaknya, jangan gunakan nama pemimpinnya mirip seperti nama Natasha Romanoff. Banyak nama wanita Rusia lain yang bisa digunakan.</p>



<p>Serial novel <em>action </em>dari Tere Liye rasanya kurang nendang gitu. Karakter-karakternya digambarkan seolah memiliki kekuatan super, entah dari segi kepintaran, kemampuan menembak, dan lain sebagainya. Alhasil, ceritanya pun terasa jauh dan khayal.</p>



<p>Penulis sejak awal memang tidak berharap kalau novel ini akan memiliki alur cerita yang tidak terduga dan penuh <em>plot twist</em>, sehingga tidak terlalu merasa kecewa.</p>



<p>Novel ini memiliki lanjutan dengan judul Bedebah di Ujung Tanduk, yang mungkin lebih berfokus pada Thomas. Apakah Penulis akan membelinya? Sepertinya iya.</p>



<p>Nilainya: <strong>3.8/5.0</strong></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Lawang, 11 April 2021, terinspirasi setelah membaca Pulang-Pergi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/">Setelah Membaca Pulang-Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lebaran Tanpa Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 19:03:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[silahturami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan. Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis. Kondisi yang Penulis alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk <strong>pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga</strong>. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan.</p>
<p>Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis.</p>
<p>Kondisi yang Penulis alami setidaknya lebih ringan dibandingkan teman-teman Penulis yang lain. Ada yang sendirian di kos, ada yang harus lebaran di negara lain, ada yang sudah sering lebaran tidak pulang, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis berusaha mencari hikmah di balik lebaran yang <em>extraordinary </em>pada tahun ini. Tidak mungkin Tuhan membuat skenario kehidupan tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.</p>
<p>Bulan puasa kemarin Penulis akui kalau kualitas ibadahnya sangat kurang karena beberapa alasan. Semoga setelah lebaran ini, Penulis bisa memperbaiki hal tersebut.</p>
<p>Penulis juga merasakan <strong>betapa berharganya waktu ketika berkumpul dengan keluarga</strong>. Memang kita masih bisa saling sapa melalui <em>video call</em>, namun sensasinya tentu sangat berbeda.</p>
<p>Kita juga tetap bisa menjalin silahturami dengan kerabat atau teman-teman menggunakan berbagai media komunikasi seperti WhatsApp dan lainnya. Saling memaafkan dan memulai semuanya dari nol lagi kalau bisa.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa begitu jengkel (dan mungkin iri) terhadap <a href="https://whathefan.com/politik/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">orang-orang yang bisa pulang hingga memenuhi bandara</a> atau cara-cara lainnya.</p>
<p>Padahal sudah dianjurkan untuk tidak mudik agar tidak menulari keluarga yang ada di kampung. Begini lah jadinya jika memiliki pemimpin yang tidak bisa tegas dalam mengatur rakyatnya.</p>
<p>Daripada terus mengeluh, Penulis memilih untuk berusaha menerimanya dengan ikhlas. Berat? Banget. Tapi pasti bisa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pada tulisan kali ini, Penulis juga ingin mengucapkan <strong><em>minal aidzin wal faizin</em>, mohon maaf lahir dan batin</strong>. Semoga kita semua bisa memetik hikmah di balik lebaran yang luar biasa tahun ini.</p>
<p>Penulis sendiri secara pribadi berharap bisa pulang ketika situasinya memungkinkan. Tidak dalam waktu dekat tidak apa-apa, yang penting bisa pulang.</p>
<p>Selain itu, dengan selesainya bulan puasa Ramadhan, Penulis berharap bisa mengatur ulang pola hidup dan tidurnya yang sangat berantakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 Mei 2020, terinspirasi karena dirinya tidak bisa pulang lebaran untuk pertama kalinya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/">Lebaran Tanpa Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/lebaran-tanpa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 05:46:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[isolasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[normal]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3811</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi. Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu. Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi.</p>
<p>Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu.</p>
<p>Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari muka bumi. Hanya Tuhan yang tahu. Para ahli hanya bisa membuat perkiraan-perkiraan berdasarkan bukti empiris.</p>
<p>Pertanyaannya, <strong><em>bagaimana seandainya semua ini tak akan berakhir?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apa yang mengerikan dari Corona ini adalah <strong>penyebarannya yang begitu mudah</strong>. Jika kita memiliki imunitas tubuh yang kuat, kemungkinan besar kita bisa sembuh sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai pemerintah dunia adalah <em><strong>lockdown</strong> </em>atau kalau di Indonesia disebut sebagai <strong>PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)</strong>.</p>
<p>Intinya, interaksi fiksi manusia harus benar-benar dibatasi. <strong><em>Social distancing</em></strong>. Kita harus jaga jarak satu sama lain untuk meminimalisir potensi menularkan dan ketularan virus.</p>
<p>Ketika angka Corona tiap hari makin bertambah secara signifikan, kesadaran untuk tinggal di rumah menjadi begitu tinggi. Setidaknya, itu yang terlihat di negara kita.</p>
<p>Hanya saja dari yang Penulis amati,<strong> makin ke sini angka-angka yang tiap sore diumumkan oleh pemerintah hanya tinggal statistik semata</strong>. Masyarakat sudah mulai berani beraktivitas seperti biasa, meskipun masih menggunakan masker dan lain sebagainya.</p>
<p>Fakta inilah yang membuat Penulis khawatir kalau Corona tidak akan berakhir, setidaknya dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dari beberapa berita yang Penulis baca, <strong>kurva penderita mulai melandai</strong>. Jumlah yang terinfeksi tiap harinya, setidaknya di Jakarta, mulai berkurang secara bertahap.</p>
<p>Di satu sisi, ini merupakan berita baik. Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi terbukti efektif. Kita bisa menekan penularan dengam pembatasan ketat.</p>
<p>Di sisi lain, ini juga bisa menjadi berita buruk. Kita bisa saja jadi meremehkan penyebaran Corona dan mulai pergi ke tempat yang ramai.</p>
<p>Penulis khawatir,<strong> kurva yang sudah landai ini akan kembali memuncak</strong> jika kita tidak bisa sabar dan menahan diri. Usaha yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi sia-sia.</p>
<p>Masalah ini semakin diperparah dengan<strong> berbagai kebijakan blunder dari pemerintah</strong> yang meresahkan masyarakat. Sudah tidak mendapatkan kepastian, dibuat bingung pula.</p>
<p>&#8220;Kekompakan&#8221; antara pemerintah dan masyarakatnya ini sangat berpotensi memperpanjang masa edar pandemi Corona di Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Penulis <strong>merasa bersyukur dengan keadaan yang sekarang</strong> meskipun tidak bisa pulang dan tidak tahu kapan bisa pulang.</p>
<p>Setidaknya, Penulis masih memiliki pekerjaan dengan gaji tetap tanpa pemotongan. Penulis masih ditemani adik sehingga stres bisa tereduksi. Penulis masih memiliki berbagai sarana hiburan untuk membunuh waktu.</p>
<p>Merasa lelah dan tertekan itu pasti. Manusiawi. Penulis biasa mengusirnya dengan <strong>mengingat orang lain yang keadaannya lebih susah</strong>, entah ini etis atau tidak.</p>
<p>Contohnya adalah teman Penulis yang sama-sama tidak bisa pulang, namun hanya sendirian di kos. Penulis juga mengingat banyaknya perusahaan yang harus merumahkan karyawannya sehingga banyak yang kehilangan sumber pendapatan.</p>
<p>Banyak orang yang ujiannya jauh lebih berat dari yang Penulis terima. jauh jauh lebih berat. Penulis tidak boleh terlalu banyak mengeluh.</p>
<p><strong>Memperbanyak rasa syukur</strong> dan berusaha <strong>sebisa mungkin untuk tidak stres</strong> wajib Penulis lakukan di masa-masa seperti ini. Terus menjalani kontak dengan orang melalui smartphone menjadi cara lainnya.</p>
<p>Hanya saja, <strong><em>mau sampai kapan seperti ini?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sudah melakukan <em>refund </em>tiket pesawat mudik karena yakin tidak akan bisa pulang ketika lebaran nanti. Untuk pertama kali, Penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga secara lengkap.</p>
<p>Penulis sejak beberapa minggu yang lalu sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal tersebut. Tidak apa-apa, pasti ada kesempatan lain untuk berkumpul kembali.</p>
<p><strong><em>Tapi kapan?</em></strong></p>
<p>Berdasarkan prediksi dan <em>feeling </em>Penulis, paling cepat bulan Agustus. Itupun kalau pemerintah dan masyarakat kita kompak mendisiplinkan diri agar Corona tidak semakin menyebar.</p>
<p>Jika tidak, bisa saja sampai akhir tahun Penulis harus bertahan di kos bersama adik. Belum dua bulan saja sudah begini rasanya, entah bagaimana jika harus hidup seperti ini hingga akhir tahun.</p>
<p>Kalau akhirnya Penulis bisa pulang, apakah Penulis bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman seperti biasa? Ataukah Penulis harus melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu?</p>
<p><strong>Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi selama beberapa bulan mendatang</strong>, menjadikannya tantangan tersendiri untuk kita semua.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>Bagaimana seandainya Corona tidak akan benar-benar lenyap untuk selamanya?</strong> Jelas tidak ada yang menginginkan hal tersebut. Kekacauan bisa terjadi di mana-mana.</p>
<p>Kehidupan tidak normal kita selama pandemi akan menjadi hal normal yang baru. Perputaran roda ekonomi akan mengalami pergeseran yang drastis dan masih banyak hal lain yang akan berubah.</p>
<p>Bisakah kita hidup berdampingan dengan Corona seperti kita hidup berdampingan dengan flu? Entahlah, Penulis bukan orang medis, tidak bisa berpendapat.</p>
<p>Penulis tidak bisa membayangkan lebih banyak lagi. Pertanyaan yang menjadi judul terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.</p>
<p>Semoga saja, kita semua bisa melewati badai ujian yang teramat besar ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 Mei 2020, terinspirasi dari pemikiran Penulis seperti biasanya, <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.theglobeandmail.com/life/article-how-to-survive-the-cocoon-of-self-isolation/">The Globe and Mail</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aku Ingin Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2020 09:20:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3706</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku ingin pulang Secara terus terang Sayang harus terhalang Tanpa bisa membangkang Membuat jiwa terguncang Dan terasa melayang Aku ingin pulang Kuteriakkan dengan lantang Namun dilarang yang berwenang Dengan kata-kata yang usang Diucapkan secara berulang-ulang Tanpa bisa dipegang Aku ingin pulang Dari situasi yang tegang Ekonomi yang timpang Kondisi yang mengekang Jalanan terasa lengang Langit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/">Aku Ingin Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingin pulang<br />
Secara terus terang<br />
Sayang harus terhalang<br />
Tanpa bisa membangkang<br />
Membuat jiwa terguncang<br />
Dan terasa melayang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Kuteriakkan dengan lantang<br />
Namun dilarang yang berwenang<br />
Dengan kata-kata yang usang<br />
Diucapkan secara berulang-ulang<br />
Tanpa bisa dipegang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Dari situasi yang tegang<br />
Ekonomi yang timpang<br />
Kondisi yang mengekang<br />
Jalanan terasa lengang<br />
Langit cerah dengan cemerlang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Tak peduli walau harus menerjang<br />
Tak peduli walau harus menyerang<br />
Tak peduli walau harus tunggang-langgang<br />
Tak peduli walau harus telanjang<br />
Tak peduli walau harus jadi pecundang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Tapi harus bertahan di kandang<br />
Harus kuat berjuang<br />
Harus tangguh bagaikan karang<br />
Walau tubuh tinggal belulang<br />
Karena tak ada yang menopang</p>
<p>Aku ingin pulang<br />
Ketika nanti saatnya menang<br />
Mulut berucap aku datang<br />
Saat tiba di depan gerbang<br />
Melihat wajah-wajah riang<br />
Menikmati hidup dengan tenang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 April 2020, terinspirasi dari keinginan diri yang ingin pulang ke kampung halaman</p>
<p>Foto: <strong><a href="https://www.pexels.com/@miriamespacio?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Miriam Espacio</a></strong> from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/person-standing-near-trees-3354135/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/aku-ingin-pulang/">Aku Ingin Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pulang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 18:18:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel Nadira, penulis memutuskan untuk membeli dua buku Leila S. Chudori yang lain: Pulang dan Laut Bercerita. Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca Pulang terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini. Apa Isi Buku Ini? Sama seperti novel Nadira, Leila [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara terpesona setelah membaca novel <strong><em>Nadira</em></strong>, penulis memutuskan untuk membeli dua buku <strong>Leila S. Chudori</strong> yang lain: <em><strong>Pulang</strong></em> dan <em><strong>Laut Bercerita</strong></em>.</p>
<p>Sempat dilema mana yang akan dibaca terlebih dahulu, penulis memutuskan untuk membaca <em>Pulang </em>terlebih dahulu. Sekali lagi, penulis tersihir oleh kata demi kata yang dituangkan pada buku ini.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti novel <em>Nadira</em>, Leila menggunakan gaya bercerita yang maju mundur dan tidak terpusat pada satu karakter saja. Kita akan dibawa melintasi waktu dan tempat sesuai dengan kebutuhan bercerita.</p>
<p>Dari sinopsis yang ada di belakang buku ini, kita akan mengetahui bahwa mayoritas cerita akan berpusat antara tahun 1968 dan 1998. Akan tetapi, kita akan mengetahui apa saja yang terjadi pada rentang waktu tersebut walau dibuat secara tidak kronologis.</p>
<p>Tokoh utama dari novel ini adalah <strong>Dimas Suryo</strong> yang merupakan seorang eksil politik. Ia diburu oleh Orde Baru karena dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.</p>
<p>Ketika pemerintah tengah gencar-gencarnya memburu mereka, Dimas sedang berada di luar negeri. Ia dan teman-temannya tidak bisa pulang ke negaranya sendiri hingga harus hidup di negeri orang.</p>
<p>Pelabuhan terakhir mereka adalah Paris, Prancis. Di sana, Dimas bertemu dengan seorang wanita bernama <strong>Vivienne Deveraux</strong> yang kelak menjadi istrinya.</p>
<p>Demi bisa bertahan hidup, Dimas dan rekan-rekannya memutuskan untuk mendirikan restoran Indonesia di Paris. Di tengah kehidupan baru mereka, selalu ada dorongan untuk pulang ke Indonesia.</p>
<p>Tiga dekade kemudian, anak Dimas yang bernama <strong>Lintang Utara</strong> berencana untuk pergi ke Indonesia untuk melakukan penelitian tugas akhirnya.</p>
<p>Di Indonesia, Lintang tidak hanya mengetahui kehidupan masa lalu ayahnya. Ia akan menjadi saksi salah satu peristiwa yang paling berpengaruh di Indonesia.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Pulang</em></h3>
<p>Meskipun hanya cerita fiksi, membaca novel <em>Pulang </em>serasa membaca buku sejarah. Penulis merasa sedang membaca sebuah kesaksian tentang bagaimana Orde Baru sewenang-wenang terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh.</p>
<p>Dibandingkan dengan <em>Nadira </em>(yang sebenarnya memang kumpulan cerpen), dinamika perpindahan waktu di novel ini cukup tinggi tapi tidak membuat kita kebingungan.</p>
<p>Kita akan tetap diajak untuk merangkai Puzzle dari kepingan-kepingan cerita yang ada di tiap babnya. Bagi penulis, menyusun kepingan peristiwa inilah bagian yang paling menyenangkan dan membuat novel ini tidak terasa membosankan.</p>
<p>Selain sejarah, kita juga akan melihat bagaimana hubungan antar tokoh, baik antara Dimas dengan teman-temannya, dengan istrinya, dengan anak semata wayangnya, hingga dengan wanita dari masa lalunya yang bernama <strong>Surti Anandari</strong>.</p>
<p>Ceritanya pun mengalir begitu saja dan membuat penulis kesusahan untuk berhenti membacanya. Selalu ada konflik-konflik kecil yang saling berkaitan mulai awal hingga akhir cerita.</p>
<p>Kisah romantis yang dihadirkan pun memikat dan penuh dengan gairah. Cukup vulgar dan sensual, walau tidak sampai seperti Ayu Utami ataupun Eka Kurniawan.</p>
<p>Membaca buku ini seolah semakin membuktikan bahwa cerita sejarah yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah tidak semua benar. Ada rekayasa yang dilakukan untuk menutupi sesuatu yang busuk. Entah bagaimana dengan kurikulum yang sekarang.</p>
<p>Untuk gaya bahasa, entah bagaimana Leila bisa membawakan bahasa yang indah namun tidak terlalu berat. Bagi penulis, buku ini cukup ringan untuk dinikmati.</p>
<p>Kekurangan dari novel ini bagi penulis adalah akhirnya yang terasa anti klimaks. Lintang dan <strong>Segara Alam</strong>, anak dari Surti, hanya digambarkan berhasil keluar dari situasi mencekam di pusat pemerintahan dan menyaksikan tergulingnya Orde Baru.</p>
<p>Ketika membaca bagian akhir ini, penulis sampai berceletuk &#8220;loh, udah gini aja?&#8221; di dalam hati. Rasanya sayang saja pembawaan cerita yang runtut dan detail dari awal buku hanya berakhir seperti itu.</p>
<p>Memang, bagian epilog ketika Dimas akhirnya berhasil &#8220;pulang&#8221; walau dalam keadaan tak bernyawa cukup memuaskan. Tapi sekali lagi, ada bagian yang menggantung ketika tidak dijelaskan apakah Lintang memilih berpaling ke Alam atau kembali ke pelukan kekasihnya.</p>
<p>Tapi secara umum, penulis merasa puas dengan novel ini dan memasukkannya ke dalam salah satu buku favorit.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 November 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Pulang </em>karya Leila S. Chudori</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pulang/">Setelah Membaca Pulang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antara Pulang dan Pergi</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2018 06:56:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semasa kuliah, penulis sangat jarang membaca novel Indonesia karena lebih memilih novel terjemahan seperti buku-buku Agatha Christie. Yang pernah penulis baca hanya novel-novel karya Andrea Hirata dan A. Fuadi. Setelah hampir menamatkan seluruh novel Agatha Christie, penulis mencoba untuk lebih mengenal penulis lokal. Mungkin, karena rasa nasionalisme. Penulis memilih untuk membeli novel Tere Liye yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Antara Pulang dan Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semasa kuliah, penulis sangat jarang membaca novel Indonesia karena lebih memilih novel terjemahan seperti buku-buku Agatha Christie. Yang pernah penulis baca hanya novel-novel karya Andrea Hirata dan A. Fuadi.</p>
<p>Setelah hampir menamatkan seluruh novel Agatha Christie, penulis mencoba untuk lebih mengenal penulis lokal. Mungkin, karena rasa nasionalisme. Penulis memilih untuk membeli novel Tere Liye yang berjudul <em>Pulang</em> pada tanggal 8 Oktober 2015. Kenapa Tere Liye? Karena penulis sering melihat novel karyanya terpampang di rak <em>best seller</em>.</p>
<p><strong>Pulang</strong></p>
<p>Semula, penulis mengira novel ini berkisah tentang kehidupan sosial yang sarat akan makna kehidupan. Siapa sangka, ternyata novelnya bergenre <em>action</em>, bercerita tentang seorang bocah yang menjadi kepercayaan seorang taipan yang mengusai perekonomian negara.</p>
<p>Karena ringan dan seringkali menyimpan filosofi kehidupan, penulis jadi ketagihan karya-karyanya. Hampir semua karya Tere Liye penulis miliki, kecuali satu yang berjudul <em>The Gogons: James &amp; The Incredible Incidents</em>. Alasannya sederhana, buku tersebut tidak pernah penulis ditemukan di toko buku, dan tidak seperti buku lain, buku ini tidak dicetak ulang.</p>
<p>Selain itu, penulis juga tidak pernah membeli kumpulan sajak seperti <em>#aboutlove</em>. Alasannya, uang yang dikeluarkan tidak sebanding dengan tulisan yang akan penulis baca.</p>
<p><strong>Pergi</strong></p>
<p>Selang 3 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 April 2018, penulis terkejut ketika menemukan lanjutan dari novel <em>Pulang</em> yang berjudul <em>Pergi</em>. Terkejut, karena pada akhir tahun kemarin sang pengarang memutuskan untuk tidak lagi menerbitkan bukunya melalui percetakan karena kecewa.</p>
<p>Setelah penulis cek di internet, ternyata Tere Liye berubah pikiran. Alasannya, terlalu lama menunggu penyelesaian dari pemerintah. Benar atau tidak, yang tahu hanya Tuhan dan yang mengeluarkan pernyataannya.</p>
<p>Sempat senang dan terkejut ketika tahu ada Thomas dari novel <em>Negeri Para Bedebah</em>, penulis kecewa dengan cerita akhirnya. &#8220;Keajaiban datang ketika terdesak&#8221; sudah terlalu mainstream untuk menjadi akhir sebuah novel. Apalagi, jika keajaiban tersebut datang bersamaan di tiga tempat berbeda. Diego datang dari atas dan langsung membunuh 40 orang plus Master Dragon tanpa kesulitan? Basyir yang kembali begitu saja setelah pengkhianatan besar-besaran dan langsung menjadi Taoke Besar? Banyak hal yang membuat penulis kesal.</p>
<p>Seharusnya Tere Liye, yang merupakan salah satu penulis favorit penulis, bisa lebih dari ini. Selain itu, saya merasa endingnya seperti terburu-buru, seolah terbatas oleh halaman. Di antara semua novel Tere Liye yang pernah saya baca, baru kali ini penulis merasa anti klimaks.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Pergi karya Tere Liye.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/">Antara Pulang dan Pergi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/antara-pulang-dan-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
