Antara Pulang dan Pergi

Semasa kuliah, penulis sangat jarang membaca novel Indonesia karena lebih memilih novel terjemahan seperti buku-buku Agatha Christie. Yang pernah penulis baca hanya novel-novel karya Andrea Hirata dan A. Fuadi.

Setelah hampir menamatkan seluruh novel Agatha Christie, penulis mencoba untuk lebih mengenal penulis lokal. Mungkin, karena rasa nasionalisme. Penulis memilih untuk membeli novel Tere Liye yang berjudul Pulang pada tanggal 8 Oktober 2015. Kenapa Tere Liye? Karena penulis sering melihat novel karyanya terpampang di rak best seller.

Pulang

Semula, penulis mengira novel ini berkisah tentang kehidupan sosial yang sarat akan makna kehidupan. Siapa sangka, ternyata novelnya bergenre action, bercerita tentang seorang bocah yang menjadi kepercayaan seorang taipan yang mengusai perekonomian negara.

Karena ringan dan seringkali menyimpan filosofi kehidupan, penulis jadi ketagihan karya-karyanya. Hampir semua karya Tere Liye penulis miliki, kecuali satu yang berjudul The Gogons: James & The Incredible Incidents. Alasannya sederhana, buku tersebut tidak pernah penulis ditemukan di toko buku, dan tidak seperti buku lain, buku ini tidak dicetak ulang.

Selain itu, penulis juga tidak pernah membeli kumpulan sajak seperti #aboutlove. Alasannya, uang yang dikeluarkan tidak sebanding dengan tulisan yang akan penulis baca.

Pergi

Selang 3 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 April 2018, penulis terkejut ketika menemukan lanjutan dari novel Pulang yang berjudul Pergi. Terkejut, karena pada akhir tahun kemarin sang pengarang memutuskan untuk tidak lagi menerbitkan bukunya melalui percetakan karena kecewa.

Setelah penulis cek di internet, ternyata Tere Liye berubah pikiran. Alasannya, terlalu lama menunggu penyelesaian dari pemerintah. Benar atau tidak, yang tahu hanya Tuhan dan yang mengeluarkan pernyataannya.

Sempat senang dan terkejut ketika tahu ada Thomas dari novel Negeri Para Bedebah, penulis kecewa dengan cerita akhirnya. “Keajaiban datang ketika terdesak” sudah terlalu mainstream untuk menjadi akhir sebuah novel. Apalagi, jika keajaiban tersebut datang bersamaan di tiga tempat berbeda. Diego datang dari atas dan langsung membunuh 40 orang plus Master Dragon tanpa kesulitan? Basyir yang kembali begitu saja setelah pengkhianatan besar-besaran dan langsung menjadi Taoke Besar? Banyak hal yang membuat penulis kesal.

Seharusnya Tere Liye, yang merupakan salah satu penulis favorit penulis, bisa lebih dari ini. Selain itu, saya merasa endingnya seperti terburu-buru, seolah terbatas oleh halaman. Di antara semua novel Tere Liye yang pernah saya baca, baru kali ini penulis merasa anti klimaks.

 

 

Lawang, 10 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Pergi karya Tere Liye.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.