Lebaran Tanpa Pulang

Karena pandemi Corona, tahun ini Penulis harus merasakan untuk pertama kalinya lebaran tanpa berkumpul dengan keluarga. Mau pulang juga tidak bisa karena banyak alasan.

Memang menyedihkan dan berat, tapi Penulis merasa harus bisa menghadapinya. Lagipula Penulis tidak sendirian, ada adik Penulis dan seekor kucing yang kerap meminta makan ke kamar Penulis.

Kondisi yang Penulis alami setidaknya lebih ringan dibandingkan teman-teman Penulis yang lain. Ada yang sendirian di kos, ada yang harus lebaran di negara lain, ada yang sudah sering lebaran tidak pulang, dan masih banyak lainnya.

Penulis berusaha mencari hikmah di balik lebaran yang extraordinary pada tahun ini. Tidak mungkin Tuhan membuat skenario kehidupan tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.

Bulan puasa kemarin Penulis akui kalau kualitas ibadahnya sangat kurang karena beberapa alasan. Semoga setelah lebaran ini, Penulis bisa memperbaiki hal tersebut.

Penulis juga merasakan betapa berharganya waktu ketika berkumpul dengan keluarga. Memang kita masih bisa saling sapa melalui video call, namun sensasinya tentu sangat berbeda.

Kita juga tetap bisa menjalin silahturami dengan kerabat atau teman-teman menggunakan berbagai media komunikasi seperti WhatsApp dan lainnya. Saling memaafkan dan memulai semuanya dari nol lagi kalau bisa.

Oleh karena itu, Penulis merasa begitu jengkel (dan mungkin iri) terhadap orang-orang yang bisa pulang hingga memenuhi bandara atau cara-cara lainnya.

Padahal sudah dianjurkan untuk tidak mudik agar tidak menulari keluarga yang ada di kampung. Begini lah jadinya jika memiliki pemimpin yang tidak bisa tegas dalam mengatur rakyatnya.

Daripada terus mengeluh, Penulis memilih untuk berusaha menerimanya dengan ikhlas. Berat? Banget. Tapi pasti bisa.

***

Pada tulisan kali ini, Penulis juga ingin mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua bisa memetik hikmah di balik lebaran yang luar biasa tahun ini.

Penulis sendiri secara pribadi berharap bisa pulang ketika situasinya memungkinkan. Tidak dalam waktu dekat tidak apa-apa, yang penting bisa pulang.

Selain itu, dengan selesainya bulan puasa Ramadhan, Penulis berharap bisa mengatur ulang pola hidup dan tidurnya yang sangat berantakan.

 

 

Kebayoran Lama, 24 Mei 2020, terinspirasi karena dirinya tidak bisa pulang lebaran untuk pertama kalinya

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.