<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sayang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sayang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sayang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Oct 2022 16:10:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sayang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sayang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2022 16:07:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[dorongan]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan]]></category>
		<category><![CDATA[lebih baik]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6081</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri. Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: Berusaha memperbaiki kekurangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri.</p>



<p>Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: <strong>Berusaha memperbaiki kekurangan diri secara mandiri demi orang lain yang disayangi</strong>.</p>



<p>Apa maksud dari kalimat tersebut? Pada tulisan kali ini, mumpung sudah lama tidak menulis rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, Penulis akan mencoba menuliskan sesuatu yang baru dirinya temukan sebagai pelajaran hidup yang berharga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Petuah dari Kawan-Kawan</h2>



<p>Dalam konteks pasangan, Penulis pernah mendengarkan dua opini yang saling bertolak belakang, sebagaiamana pilihan yang Penulis ajukan di awal tulisan ini. Intinya adalah bagaimana cara memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Kawan yang satu mengatakan kalau &#8220;pasangan itu saling melengkapi&#8221; adalah hal yang salah. Menurutnya, kekurangan diri sendiri yang cuma kita yang bisa memperbaiki dan percuma berharap itu bisa diperbaiki atau diisi orang lain.</p>



<p>Kawan yang satu lagi (dan sudah menikah) mengatakan kalau pasangan itu mau bagaimanapun memang harus saling melengkapi. Kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah bisa mengatasi kekurangan diri sendirian.</p>



<p>Mendengar dua hal tersebut, Penulis pun mengambil sebuah kesimpulan sendiri. Memang, kekurangan diri sendiri itu tanggung jawab kita sendiri. Jadi, jangan sampai itu dilimpahkan ke orang lain, bahkan ke pasangan sekalipun.</p>



<p>Namun, Penulis juga menyadari bahwa kita tidak akan pernah menjadi sosok sempurna yang tak punya kekurangan. Mau berusaha seperti apa, kita pasti punya kekurangan yang akan sulit untuk dihilangkan sama sekali. Lantas, harus seperti apa?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sebuah Dorongan untuk Menjadi Lebih Baik</h2>



<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari ketika kita sayang dengan seseorang, kita jadi memiliki semacam <strong>dorongan untuk berubah menjadi lebih baik</strong>. Salah satunya adalah dengan memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Terkadang, kita tidak menyadari kekurangan diri kita. Orang-orang terdekat kita bisa jadi akan menyadari hal tersebut duluan daripada diri kita sendiri. Untuk itu, kehadiran mereka jadi sangat mutlak dibutuhkan dalam hidup ini.</p>



<p>Dengan kata lain, kita tetap butuh bantuan dari orang lain untuk menyadari kekurangan diri. Hanya saja, pada akhirnya tetap diri kita sendiri yang harus berusaha untuk memperbaikinya, bukan berpangku tangan ke orang lain dan berharap mereka bisa melengkapi kekurangan tersebut.</p>



<p>Tentu, pada prakteknya akan ada hal yang bisa dilakukan oleh orang lain untuk memperbaiki kekurangan kita. Akan tetapi, anggap saja itu bonus dan tanggung jawabnya tetap ada di kita. Mau dibantu seperti apapun, kalau kitanya tidak mau berubah, ya percuma.</p>



<p>Saat Penulis menyadari kekurangan dirinya melalui orang lain, Penulis pasti merasa tertampar karena tidak menyadari hal tersebut. Pasti ada perasaan bersalah, tetapi jelas lebih penting untuk berusaha memperbaiki kekurangan tersebut demi diri sendiri dan orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Berarti Hidup untuk Memenuhi Ekspektasi Orang Lain</h2>



<p>Jika rela berubah menjadi lebih baik demi orang lain, apakah artinya kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Tentu tidak seperti itu, karena hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang jelas tidak menyenangkan.</p>



<p>Di sini, konteks yang Penulis maksud adalah berubah menjadi lebih baik demi orang lain, bukan <em>berubah menjadi orang lain</em>. Kalau konteks yang kedua, tentu Penulis tidak setuju karena kita tidak menjadi diri sendiri hanya demi orang lain.</p>



<p>Misalkan Penulis menyadari kalau egonya masih tinggi dan ternyata itu menyakiti orang lain. Kalau kita sayang dengan seseorang, tentu kita tidak ingin menyakitinya, bukan? Untuk itu, Penulis pun memutuskan untuk belajar mengurangi egonya.</p>



<p>Contoh lain, Penulis memiliki kekurangan tidak bisa masak sama sekali. Cara memperbaiki kekurangan tersebut bukan mencari pasangan yang jago masak, tapi belajar untuk memasak. Syukur-syukur kalau pasangannya bisa masak, Penulis jadi bisa belajar kepadanya.</p>



<p>Kalau misal kita diingatkan akan kekurangan diri oleh orang lain, jangan jadikan hal tersebut sebagai <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">ekspektasi mereka</a> ke kita. Justru,<strong> </strong>terimalah hal tersebut dengan lapang dada<strong> </strong>dan <strong>jadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki kekurangan diri tersebut.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun awalnya berubah demi orang lain, pada akhirnya diri kita sendiri lah yang menikmati perubahan tersebut. Menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayang, bagi Penulis menjadi salah satu motivasi terkuat.</p>



<p>Tentu hal ini tidak berlaku hanya untuk pasangan saja. Ini juga bisa diterapkan untuk orang tua, keluarga, teman, dan lainnya. Intinya, orang-orang terdekat kita akan mampu memberikan kita dorongan untuk membuat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p>Terlepas dari apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Penulis di atas, Penulis meyakini kalau memang sudah sewajarnya kita termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan memperbaiki kekurangan diri demi orang-orang yang disayangi.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 24 Oktober 2022, terinspirasi setelah dirinya menyadari kalau ada semacam kekuatan dan dorongan untuk menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayanginya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@beccatapert">Becca Tapert</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2021 05:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Hanya memberi, tak harap kembali. Bahkan, ada peribahasanya khusus: &#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.</p>



<p>Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. <em>Hanya memberi, tak harap kembali</em>. Bahkan, ada peribahasanya khusus:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah&#8221;</p></blockquote>



<p>Nah, bagaimana dengan rasa sayang kepada pasangan. Apakah bisa sepenuhnya ikhlas?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyayangi dengan Ikhlas</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5154" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sayang dengan Ikhlas (<a href="https://unsplash.com/@ozgomz">Oziel Gómez</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurut KBBI, kata ikhlas memiliki arti <em><strong>bersih hati</strong> </em>atau<em> <strong>tulus hati</strong></em>. Jika diartikan secara bebas, ikhlas memiliki keterkaitan yang erat dengan kerelaan kita melakukan sesuatu tanpa berharap apapun sebagai timbal baliknya.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas artinya kita <strong>menyayangi tanpa berharap yang disayangi melakukan hal yang sama kepada kita</strong>. Kita hanya berusaha menunjukkan perasaan sayang kita tanpa menginginkan apapun.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar kita bisa seperti itu? Benarkah kita bisa menyayangi pasangan atau siapapun dengan ikhlas?</p>



<p>Pada kenyataannya, sangat jarang ada manusia yang bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas. Di dalam hati kita, pasti ada keinginan agar perasaan kita berbalas, sekecil apapun itu.</p>



<p>Ketika kita menyayangi teman-teman kita, pasti kita juga berharap kalau mereka akan menyayangi kita. Ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita akan berharap ia mau menerima perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tingkat Sayang Tertinggi Itu Keikhlasan, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5153" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Sayang Tertinggi? (<a href="https://unsplash.com/@estherann">Esther Ann</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau kita bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas, berarti tingkat sayangnya sudah berada di level yang berbeda seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua kita. Jika Pembaca ada yang seperti itu, Penulis berikan apresiasi yang setinggi-tingginya.</p>



<p>Ada juga yang bilang kalau <strong>tingkat sayang tertinggi itu ketika kita ikut bahagia dengan kebahagiaannya</strong>, walaupun hal tersebut harus <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">mengorbankan kebahagiaan diri sendiri</a>.</p>



<p>Akan tetapi, tingkat sayang tertinggi itu akan membuat kita tidak akan merasa berkorban, seperti kata Sujiwo Tejo yang sering Penulis kutip di dalam blog ini.</p>



<p>Penulis setuju jika tingkat tertinggi dari perasaan sayang itu tentang keikhlasan, seperti yang sudah dibuktikan oleh orangtua Penulis. </p>



<p>Hanya saja, terkadang usaha kita untuk ikhlas ini justru menjadi bumerang bagi kita. Ada saja orang-orang yang memanfaatkan usaha kita untuk ikhlas menyayangi demi kepetingannya sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Keikhlasan Dituntut</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5152" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dituntut Membuktikan Keikhlasan (<a href="https://unsplash.com/@belart84">Artem Beliaikin</a>)</figcaption></figure>



<p>&#8220;<em>Kalau kamu enggak mau nuruti mauku, berarti kamu gak ikhlas sayang sama aku!</em>&#8220;</p>



<p>Pernah mendengarkan kalimat seperti di atas? Menurut Penulis, itulah contoh ketika keikhlasan rasa sayang kita diuji sekaligus dituntut oleh orang lain demi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Terkadang, ada orang-orang yang<strong> menuntut kita untuk menunjukkan keikhlasan</strong> kita. Padahal, keikhlasan itu bukan sesuatu yang dapat ditunjukkan kepada orang lain. Yang bisa mengukur hanya diri sendiri dan Tuhan.</p>



<p>Menurut Penulis, orang yang menuntut kita seperti itu patut dipertanyakan karena artinya mereka tidak percaya kalau kita sayang mereka dengan ikhlas. Selain itu, kenapa hanya kita yang dituntut memberikan bukti?</p>



<p>Jika Pembaca pernah menghadapi situasi seperti, coba direnungkan kembali hubungan kalian. Bisa jadi, tanpa disadari selama ini kalian sedang menjalani <a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>di mana satu pihak (atau dua-duanya) kerap menjadi seorang yang sangat penuntut. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Ikhlas Ketika Diperlakukan Buruk, Bisa, kah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5151" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Tetap Ikhlas? (<a href="https://unsplash.com/@julienlphoto">Julien L</a>)</figcaption></figure>



<p>Keikhlasan juga bisa <strong>menjadi &#8220;senjata&#8221; ketika</strong> <strong>kita mendapatkan perlakuan buruk</strong> dari seseorang. Dijahati, dilukai, diselingkuhi, dihina, disakiti oleh orang yang kita sayangi, semua harus bisa kita hadapi dengan ikhlas.</p>



<p>Kalau memang beneran sayang, beneran ikhlas, seharusnya kita bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Petik saja hikmahnya, kan katanya <em>every cloud has a silver lining</em>. </p>



<p>Kalau levelnya sudah seperti nabi mungkin bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Lah, Penulis kan (dan mungkin para Pembaca juga) masih jadi manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mungkin bisa menerima semua perlakukan buruk itu dengan ikhlas, seringnya butuh waktu yang cukup lama. Pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut.</p>



<p>Hanya saja, jangan sampai dibodohi seperti itu. Jangan sampai rasa sayang kita kepada seseorang justru menyiksa kita. Ini bukan tentang keikhlasan, melainkan melindungi diri dari orang yang tidak bisa menghargai perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sayang itu katanya tentang keikhlasan. Memang ada benarnya, tapi jangan diterjemahkan secara mentah begitu saja. Kita juga punya perasaan yang harus kita jaga.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas itu berat, setidaknya Penulis merasa begitu. Ada sisi manusiawi yang masih mengharapkan timbal balik, apalagi kalau kita merasa sudah memberikan begitu banyak.</p>



<p>Untuk sekarang, Penulis masih berada di tahap mencari cara menyayangi yang membuat Penulis dan orang yang disayang sama-sama merasa nyaman, tanpa perlu merasa terpaksa dan dipaksa, sehingga tidak ada yang menuntut untuk membuktikan keikhlasan rasa sayangnya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Agustus 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evertonvila">Everton Vila</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepaskan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:19:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[melepaskan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3937</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika mendengar kata melepaskan, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan. Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan perpisahan, baik terpisah secara fisik mampan batin. Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit. *** Orangtua kerap melepas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p style="text-align: left;">Jika mendengar kata <strong>melepaskan</strong>, apa yang akan muncul di benak kita? Tentu intepretasinya akan bermacam-macam, tergantung sudut pandang mana yang akan digunakan.</p>
<p style="text-align: left;">Kata melepaskan kerap diidentikkan dengan <strong>perpisahan</strong>, baik terpisah secara fisik mampan batin.</p>
<p style="text-align: left;">Perpisahan secara fisik bisa diatasi dengan pertemuan. Bagaimana dengan perpisahan batin? Nah, ini yang menjadi sedikit rumit.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Orangtua kerap melepas anaknya ke tanah rantau, baik untuk studi ataupun mencari kesempatan lainnya. Di sini, orangtua harus belajar melepaskan anaknya dan mulai membiasakan diri untuk hidup jauh dari anaknya.</p>
<p style="text-align: left;">Awalnya, pasti orangtua akan merasa berat. Ada saja hal yang akan membuat mereka khawatir, mulai dari keteraturan makan, kesehatan, hingga faktor ekonomi.</p>
<p style="text-align: left;">Namun seiring berjalannya waktu, mereka akan menjadi tenang. Sang anak ternyata mampu hidup mandiri di kota orang.</p>
<p style="text-align: left;">Di dalam perjalanan tersebut, orangtua belajar melepaskan anaknya. Awalnya memang sangat berat, namun pada akhirnya mereka bisa mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Melepaskan menjadi sesuatu yang <strong>berat karena cinta</strong>. Mau bagaimanapun, disuruh berpisah dengan orang yang kita cintai itu berat.</p>



<p style="text-align: left;">Jika kita sudah menyayangi seseorang atau kelompok, kita pasti ingin bersama mereka terus. Kita ingin sebanyak-banyaknya membuat momen yang akan menjadi kenangan indah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Hanya saja, terkadang takdir membuat kita harus berpisah dengan beragam alasan.</em></p>
<p style="text-align: left;">Misal ketika kita harus terpaksa berpisah dengan kekasih yang sangat disayangi. Ketika kita berada di titik tersebut, pasti melepaskan akan menjadi sesuatu yang sangat berat.</p>
<p style="text-align: left;">Kita akan terus <strong>merasa ketakutan bagaimana hidup ini jadinya</strong>. Tak pernah terbayangkan bagaimana dunia tanpa kehadiran dirinya.</p>
<p style="text-align: left;">Kenangan-kenangan yang pernah dibuat justru semakin menambah luka di hati. Kita ingin lebih banyak lagi membuat kenangan seperti itu.</p>
<p style="text-align: left;">Beragam cara dilakukan agar kita berhasil <em>move on</em>. Memblokir kontak, tidak kepo dengan aktivitasnya di media sosial, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya? Ada yang berhasil, ada yang <em>gamon </em>alias gagal <em>move on</em>. Mau pakai cara apapun, sosoknya masih selalu terbayang-bayang di pikiran.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Di sinilah kita butuh belajar melepaskan.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>People come and go</em>. <strong>Orang akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita</strong>. Ada yang pergi karena kematian, ada yang tiba-tiba menghilang, ada yang karena konflik, macam-macam.</p>
<p>Semua yang ada di dunia ini sifatnya <strong>fana dan sementara</strong>. Tidak ada yang benar-benar abadi. Di sini lah pentingnya untuk belajar melepaskan, bahkan melepaskan orang yang sangat disayang sekalipun.</p>
<p>Dari pengalaman pribadi, Penulis merasa salah satu penghalang terbesar untuk melepaskan adalah <strong>perasaan sayang yang berlebihan</strong>. Perasaan tersebut justru menjadi benalu yang membelenggu diri sendiri.</p>
<p>Seperti yang sudah sering Penulis sebutkan di dalam blog ini, apapun yang berlebihan tidak pernah baik. Perasaan sayang menjadi salah satunya.</p>
<p>Dalam kasus ini, cara belajar melepaskan adalah <strong>mengurangi kadar sayang</strong> tersebut. Bukan berarti kita menjadi jahat. Sayangilah orang lain dalam kadar yang secukupnya. Memang sulit karena tidak ada takaran sayang yang pasti, tapi harus dilakukan.</p>
<p>Kita juga harus tahu kalau orang memiliki kehidupannya masing-masing. Bisa jadi, diri kita sudah tidak masuk di dalam rencana hidupnya. Bisa jadi, kita yang terlalu tinggi menilai diri sendiri.</p>
<p>Perlu dicatat, kita <strong>tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain</strong>. Yang bisa kita kendalikan adalah perasaan diri sendiri. Maka dari itu, kita harus fokus untuk mengendalikan perasaan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Salah satu upaya yang bisa membantu kita untuk melepaskan adalah <strong>membuka diri ke orang baru</strong>. Orang <em>introvert </em>macam Penulis jelas akan kesulitan melakukannya.</p>
<p>Akan tetapi, hal ini penting untuk dilakukan. Melepaskan kerap menimbulkan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">perasaan takut kesepian</a> yang cukup parah. Dengan bertemu orang-orang baru dan berusaha berbaur dengan mereka, kita (seharusnya) tidak akan merasa kesepian.</p>
<p>Penulis merasa dirinya termasuk sulit untuk membuka diri. Di sisi lain, Penulis kerap merasa kesepian karena sendirian di tanah rantau.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis harus belajar secara bertahap agar lebih bisa membuka dirinya dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru. </p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melepaskan, apalagi dengan ikhlas, memang berat. Terkadang membutuhkan waktu yang singkat untuk bisa menerimanya, tapi rasanya lebih sering berdurasi panjang.</p>
<p>Perasaan sayang yang berlebihan tidak baik karena kita jadi sulit untuk melepaskan. Agar bisa belajar melepaskan, kita harus bisa mengendalikan perasaan diri sendiri.</p>
<p>Sulit, tapi bisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Juni 2020, terinspirasi dari perenungan selama berhari-hari</p>
<p>Foto: <a href="https://blog.bridgebetween.com/6-small-changes-to-becoming-your-best-self/balloon-release-let-it-go/">Bridge Between</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/">Belajar Melepaskan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/belajar-melepaskan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sajak untuk yang Tersayang</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/sajak-untuk-yang-tersayang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/sajak-untuk-yang-tersayang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2018 01:41:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[romantis]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa itu sayang? Suatu perasaan yang tidak kita rancang Terkadang berawal dari saling pandang Mengalir dengan tenang Ke hati yang lapang &#160; Kapan munculnya rasa sayang? Tidak ada yang tahu kapan ia datang Ia tiba begitu saja tanpa bantuan dalang Menyirami keringnya perasaan yang gersang Membuat tubuh terguncang &#160; Siapa yang berhak kita sayang? Siapapun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/sajak-untuk-yang-tersayang/">Sajak untuk yang Tersayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu sayang?</p>
<p>Suatu perasaan yang tidak kita rancang</p>
<p>Terkadang berawal dari saling pandang</p>
<p>Mengalir dengan tenang</p>
<p>Ke hati yang lapang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kapan munculnya rasa sayang?</p>
<p>Tidak ada yang tahu kapan ia datang</p>
<p>Ia tiba begitu saja tanpa bantuan dalang</p>
<p>Menyirami keringnya perasaan yang gersang</p>
<p>Membuat tubuh terguncang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siapa yang berhak kita sayang?</p>
<p>Siapapun yang dapat mengisi lubang</p>
<p>Mengisi rongga jiwa yang hilang</p>
<p>Menyerbu bagai gelombang</p>
<p>Tanpa ingin kembali pulang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di manakah rasa sayang?</p>
<p>Ia tidak terbatas oleh ambang</p>
<p>Ia tidak bisa dihalang</p>
<p>Tidak bisa diberi rintang</p>
<p>Ia bisa di mana saja tanpa perlu di undang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengapa kita perlu sayang?</p>
<p>Ia membuat kita melayang</p>
<p>Bagaikan terbang menuju bintang</p>
<p>Menuju cahaya yang terang benderang</p>
<p>Meninggalkan dunia yang usang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana akibat dari sayang?</p>
<p>Ia membuat kita bimbang</p>
<p>Menjadikan kita seorang pembangkang</p>
<p>Badai pun tak dapat manghadang</p>
<p>Untuk dapat sampai ke seberang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 April 2018, terinspirasi oleh kejadian romantis di sekitar penulis</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/bqpsxgfG4pE">https://unsplash.com/photos/bqpsxgfG4pE</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/sajak-untuk-yang-tersayang/">Sajak untuk yang Tersayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/sajak-untuk-yang-tersayang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
