<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sensitif Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sensitif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sensitif/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:23:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sensitif Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sensitif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dilarang Baper di Jakarta</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2019 16:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias mudah baper. Mendengar perkataan yang sedikit nyelekit saja bisa dimasukkan di dalam hati. Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis. Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta Penulis memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>. Mendengar perkataan yang sedikit <em>nyelekit </em>saja bisa dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis.</p>
<h3>Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta</h3>
<div id="attachment_2804" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2804" class="size-large wp-image-2804" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2804" class="wp-caption-text">Orang Jakarta (<a href="https://www.infocarfreeday.net/2018/07/19/agenda-acara-cfd-jakarta-22-juli-2018/">Info Car Free Day</a>)</p></div>
<p>Penulis memiliki saudara yang lama tinggal di Jakarta. Biasanya, kami hanya bertemu pada lebaran atau acara keluarga yang lain. Pada pertemuan singkat tersebut, penulis sedikit mengetahui bagaimana karakteristik orang Jakarta.</p>
<p>Yang paling penulis catat di dalam hati adalah bagaimana mereka berbicara. Saudara penulis cenderung berbicara apa adanya dengan intonasi yang cukup tinggi. Mungkin, istilahnya adalah <em>asal nyeblak</em>.</p>
<p>Ini berbanding terbalik dengan orang Jawa yang cenderung halus dan jarang mengungkapkan isi hati. Stereotip orang Jawa memang terkenal lebih suka memendam sesuatu.</p>
<p>Ketika penulis magang di Tangerang, lingkungan kantor semakin memperkuat hal tersebut. Mereka cenderung berbicara tanpa rem dan terkadang terselip kata-kata yang <em>nyelekit</em>.</p>
<p>Penulis pun membuat asumsi, kita tidak akan betah tinggal di Jakarta jika masih <em>baperan</em>. Kita harus menguatkan mental agar tidak mudah stres ketika mendengar perkataan orang.</p>
<p>Memang tidak semua orang Jakarta seperti ini, sehingga tidak ada maksud untuk melakukan generalisir. Contoh di atas hanya menunjukkan bagaimana penulis menyiapkan mental ketika memutuskan untuk merantau ke Jakarta.</p>
<h3>Setelah di Jakarta</h3>
<p>Pada akhirnya, takdir memutuskan untuk membawa penulis ke Jakarta. Berawal dari ajang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">Asian Games</a>, penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan di Jakarta sehingga harus menentap di sini.</p>
<p>Berbekal pengalaman interaksi dengan orang Jakarta, penulis meyakinkan diri untuk tidak mudah <em>baper</em>. Penulis beranggapan bahwa hidup di sini sama dengan memperkuat mental kita.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa sudah tidak se<em>-baper</em> ketika dulu masih sekolah ataupun kuliah. Jikapun ada perkataan yang menyakitkan, penulis tidak akan terlalu ambil pusing. Toh, penulis yakin mereka tidak bermaksud buruk. Hanya bercanda. Mungkin.</p>
<h3>Ketika Medok Diledek</h3>
<div id="attachment_2803" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2803" class="size-large wp-image-2803" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2803" class="wp-caption-text">Desy JKT48 (<a href="https://ultimagz.com/uncategorized/pentas-orang-orang-berduit-jadi-pelajaran-berharga-bagi-desy-jkt48/">Ultimagz</a>)</p></div>
<p>Salah satu bahan yang sering dijadikan bahan bercanda dari penulis adalah aksen Jawanya yang cukup kental. Maklum, seumur hidup penulis tinggal di Jawa.</p>
<p>Penulis baru menyadari bahwa dirinya medok ketika Asian Games. Teman perempuan satu tim dengan blak-blakan mengatakan cara bicara penulis medok. Dialah yang pertama kali memberi tahu hal ini.</p>
<p>Mungkin ketika awal-awal berada di Jakarta, penulis masih merasa risih ketika logat penulis ditertawakan. Akan tetapi, sekarang penulis merasa baik-baik saja. Bahkan, terkadang justru dimedok-medokkan lebih parah lagi.</p>
<p>Penulis terinspirasi oleh <strong>Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan</strong> alias <strong>Desy JKT48</strong>. Ia memiliki paras yang cantik dan senyum menawan. Yang istimewa, ia sama sekali tidak malu ketika berbicara menggunakan bahasa <em>ngapak</em>.</p>
<p>Desy berasal dari Cilacap, sehingga aksen bicaranya seperti itu. Katanya, <em>ora ngapak ora kepenak </em>atau dalam bahasa Indonesia berarti tidak ngapak tidak enak.</p>
<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube-nya, penulis merasa sedih. Ada yang berkomentar <em>padahal cantik, tapi ngomongnya bikin ilfeel</em>.</p>
<p>Hanya karena berbeda dengan kita, lantas apakah kita harus merendahkan orang lain seperti itu? Seharusnya, kita bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan mulai dari yang terkecil</a> seperti ini.</p>
<p>Enggak, penulis enggak lagi curhat kok. Teman-teman penulis di Jakarta baik-baik dan sama sekali tidak berniat buruk ketika bercanda tentang logat penulis. Mungkin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selama satu tahun lebih hidup di Jakarta, penulis telah belajar banyak sekali hal yang mungkin tak akan pernah penulis dapatkan jika tetap tinggal di Malang.</p>
<p>Salah satunya adalah bagaimana cara mengendalikan sifat mudah <em>baper </em>yang penulis miliki. Penulis merasa mental penulis makin terasah selama di sini.</p>
<p>Karena sudah tidak mudah <em>baper</em>, maka penulis tidak boleh mudah tersinggung jika ada teman yang sedang mengajak bercanda. Mau dibilang hitam sekalipun tidak boleh dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Dengan begitu, penulis pun bisa hidup lebih <em>woles </em>dan tidak gampang stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Oktober 2019, terinspirasi dari pengalaman pribadi, judul terinspirasi dari buku karya Seno Gumira Ajidarma berjudul <em>Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi</em></p>
<p>Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@zun1412?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Zun Zun </a></strong>from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/woman-wearing-brown-plaid-dress-sitting-on-chair-1187810/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2019 08:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[peka]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, baper. Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, <em>baper</em>.</p>
<p>Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata suka <em>ceplas-ceplos </em>kalau bicara.</p>
<p>Padahal, mereka sama sekali tidak bermaksud menyakiti kita. Ya mungkin ada yang berniat seperti itu, tapi lebih banyak yang diniatkan untuk bercanda.</p>
<p>Apalagi setelah tinggal dan bekerja di Jakarta sejak akhir tahun kemarin, penulis semakin yakin bahwa kita tidak boleh mudah <em>baper</em> ketika berada di Jakarta.</p>
<p>Bahkan, penulis pernah berkata kepada teman-teman kantor bahwa kalau mau bertahan hidup di Jakarta enggak boleh mudah <em>baper</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi <em>Baper</em>?</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara penulis bisa, setidaknya, mengurangi sifat <em>baper </em>yang dimiliki? Setidaknya ada beberapa cara yang selama ini berusaha penulis terapkan di kehidupan sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>Berusaha Berpikir Positif, Tapi Ada Batasannya</strong></li>
</ol>
<div id="attachment_2296" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2296" class="wp-image-2296 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2296" class="wp-caption-text">Berpikir Positif (<a href="http://www.huffingtonpost.com">Huffington Post</a>)</p></div>
<div class="mceTemp"></div>
<p>Mungkin yang satu ini terdengar sangat <em>mainstream</em> karena hampir semua motivator selalu mengajak kita berpikir positif. Akan tetapi, penulis benar-benar merasakan manfaat positifnya.</p>
<p>Misal ada seorang teman yang ngomongnya sedikit nyelekit, segera pikirkan hal-hal positif seperti &#8220;dia cuma bercanda, dia cuma bercanda&#8221;.</p>
<p>Masalahnya, tidak semua bisa kita buat positif. Terkadang ada orang-orang yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">bercandanya kelewatan</a> sehingga kita tidak bisa tinggal diam begitu saja.</p>
<p>Jika memang terjadi seperti itu, <a href="https://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">katakan secara langsung</a> bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan gaya bercandanya. Abaikan jika orang tersebut malah nyeletuk &#8220;gitu aja <em>baper</em>&#8220;.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Tahan Diri</strong></li>
</ol>
<p>Jika ada sebuah ujaran membuatmu tersinggung, segeralah menahan diri dari emosi. Jika di kepercayaan yang penulis anut, penulis akan ber-<em>istighfar</em> sambil mengelus dada.</p>
<p>Penulis kerap melakukan yang namanya <em>self-hypnosis </em>dengan berbicara ke diri sendiri keras-keras. Karena tersugesti perkataan sendiri, penulis pun bisa mengontrol emosi lebih baik lagi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Jadikan Perkataan Orang Sebagai Bahan Intropeksi</strong></li>
</ol>
<div id="attachment_2297" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2297" class="wp-image-2297 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg" alt="" width="900" height="581" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-300x194.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-768x496.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2297" class="wp-caption-text">Jadi Bahan Interopeksi (<a href="http://www.thespiritscience.net">The Spirit Science</a>)</p></div>
<p>Mungkin perkataan orang yang menyakitkan ada benarnya. Bisa jadi orang tersebut hanya berusaha untuk mengingatkan kita. Daripada hanya sekadar sakit hati, kenapa tidak dijadikan bahan interopeksi diri?</p>
<p>Contoh, kita dibilang kampungan oleh teman. Alih-alih marah, coba tengok ke diri sendiri apa benar kita kampungan. Mungkin ada kelakuan kita yang membuat orang lain gusar sehingga melontarkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Jika memang merasa ada yang salah dengan diri kita, maka coba ubahlah sikapmu tersebut. Jika merasa tidak ada, bisa kita tanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, kenapa kita disebut secara demikian.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Bijaksana dengan Berpikiran Dewasa</strong></li>
</ol>
<p>Umur itu pasti, dewasa itu pilihan. Semakin bertambahnya usia tidak membuat kedewasaan kita bertambah pula. Kitalah yang menentukan tingkat kedewasaan yang dimiliki.</p>
<p>Kedewasaan seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu. Misal, ketika ada teman yang berulangtahun, kita tidak diajak untuk patungan kado.</p>
<p>Jika kita tidak dewasa, pasti kita akan langsung emosi dan menganggap mereka bajingan yang ingin menjadi musuh kita. Pikiran semacam ini tentu sangat kekanak-kanakan.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita sudah cukup dewasa, pasti kita cukup bijak untuk berusaha memahami situasi. Kita akan berusaha melihat alasan positif mengapa kita tidak diajak. Bisa saja, mereka membeli kado secara dadakan sehingga tak sempat mengajak kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin masih ada cara-cara lain yang belum sebutkan, tapi penulis rasa keempat hal tersebut sudah cukup untuk mengatasi sifat <em>baper</em> yang kita miliki.</p>
<p>Penulis sampai sekarang terkadang masih mudah <em>baper</em>, hanya saja sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dulu.</p>
<p>Yang namanya perasaan manusia itu bermacam-macam, ada yang halus ada yang tahan banting. Oleh karena itu, tentu bentuk perlakuannya pun harus berbeda-beda pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama. 13 April 2019, pernah dimuat di oyibanget.com dengan judul <em>Sering Diejek Baper? Berikut Cara Mengatasinya</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Anthony Tran</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
