Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil

Dalam sebuah rapat, atasan penulis bercerita bahwa dirinya harus menggunakan aplikasi lain agar bisa mendengarkan musik dangdut. Alasannya, banyak yang menertawakan jika ia mendengarkan lagu dangdut menggunakan aplikasi Spotify.

Sama halnya dengan penulis yang selera musiknya bisa dibilang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Penulis menyukai berbagai genre, mulai lagu rock yang keras seperti Linkin Park hingga musik instrumental yang berasal dari soundtrack anime.

Vokalis Linkin Park (Spur Magazine – Innovware)

Dengan perbedaan ini, penulis merasa lagu yang penulis dengarkan tidak akan bisa dinikmati oleh kebanyakan orang. Apalagi, kalau kebetulan penulis mendengarkan lagu yang kata kolega seperti “suara cewek kejepit”.

Oleh karena itu, penulis lebih sering mendengarkan sendiri lagu-lagu penulis dan tidak menyetelnya melalui speaker bersama. Tidak masalah, yang minoritas harus mendahulukan kepentingan mayoritas.

Begitu pula dengan selera tontonan. Ada sebuah stereotype bahwa anime adalah serial untuk anak-anak. Padahal, anime juga memiliki genre dan segmen sendiri-sendiri, sama seperti drama Korea maupun serial yang ada di Netflix.

Setiap individu memiliki selera masing-masing, dan sudah seharusnya dari hal sekecil itu kita bisa belajar tentang menghargai perbedaan.

Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil

Mengetahui fakta ini, penulis hanya bisa tersenyum, mungkin dengan sedikit prihatin. Mengapa? Karena merasa bahwa untuk menghargai perbedaan sekecil selera musik saja tidak bisa, bagaimana menghargai perbedaan yang lebih besar?

Penulis tidak heran jika masyarakat kita sangat mudah sekali tersulut untuk bertikai hanya karena perbedaan pendapat. Jangankan memilih presiden, bahkan bisa jadi untuk tingkat ketua RW saja bisa ribut.

Vokalis dari band Nirvana, Kurt Cobainmempunyai sebuah quote yang mungkin cocok dengan topik tulisan kali ini:

They laugh at me because I’m different; I laugh at them because they’re all the same

Menurut penulis, seharusnya kita tidak perlu saling menertawakan seperti yang dikatakan oleh Cobain. Yang suka dengan hal yang sedang populer, ya tak usah menertawakan yang ingin berbeda. Yang ingin berbeda, juga tak perlu merasa lebih tinggi derajatnya dari orang kebanyakan.

Yang namanya menghargai, bagi penulis artinya berusaha memahami perbedaan orang lain. Selama tidak melanggar norma dan agama, tidak ada yang salahnya menyukai sesuatu atau memiliki selera yang unik. Tidak ada yang salah menjadi berbeda dari orang kebanyakan, dengan syarat yang telah disebutkan di atas.

Menghargai Perbedaan Selera (Video Blocks)

Dengan menanamkan sikap saling menghargai terhadap sesama, penulis yakin hidup kita akan lebih tenang karena tak perlu repot-repot julid ke orang lain. Cara menanam sikap tersebut ya dimulai dari hal terkecil, seperti selera musik dan tontonan.

Penulis bisa bilang seperti ini karena pernah julid di masa lalu. Dulu bilang “Korea apa bagusnya sih?”, eh ternyata pernah suka sama SNSD dan Super Junior. Dulu nyinyir anime apa bagusnya sih?”, eh sekarang punya koleksi puluhan anime di laptopnya.

Oleh karena dua pengalaman itu, penulis menjadi sadar bahwa sudah seharusnya kita menghargai selera orang lain tanpa perlu memberikan justifikasi yang tidak bermanfaat.

 

 

Kebayoran Lama, 4 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah rapat siang yang membahas partnership dengan salah satu pengembang aplikasi musik

Foto: Fanpop

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.