Connect with us

Pengembangan Diri

Bagaimana Cara Mengatasi Baper?

Published

on

Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, baper.

Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata suka ceplas-ceplos kalau bicara.

Padahal, mereka sama sekali tidak bermaksud menyakiti kita. Ya mungkin ada yang berniat seperti itu, tapi lebih banyak yang diniatkan untuk bercanda.

Apalagi setelah tinggal dan bekerja di Jakarta sejak akhir tahun kemarin, penulis semakin yakin bahwa kita tidak boleh mudah baper ketika berada di Jakarta.

Bahkan, penulis pernah berkata kepada teman-teman kantor bahwa kalau mau bertahan hidup di Jakarta enggak boleh mudah baper.

Bagaimana Cara Mengatasi Baper?

Lantas, bagaimana cara penulis bisa, setidaknya, mengurangi sifat baper yang dimiliki? Setidaknya ada beberapa cara yang selama ini berusaha penulis terapkan di kehidupan sehari-hari.

  1. Berusaha Berpikir Positif, Tapi Ada Batasannya

Berpikir Positif (Huffington Post)

Mungkin yang satu ini terdengar sangat mainstream karena hampir semua motivator selalu mengajak kita berpikir positif. Akan tetapi, penulis benar-benar merasakan manfaat positifnya.

Misal ada seorang teman yang ngomongnya sedikit nyelekit, segera pikirkan hal-hal positif seperti “dia cuma bercanda, dia cuma bercanda”.

Masalahnya, tidak semua bisa kita buat positif. Terkadang ada orang-orang yang bercandanya kelewatan sehingga kita tidak bisa tinggal diam begitu saja.

Jika memang terjadi seperti itu, katakan secara langsung bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan gaya bercandanya. Abaikan jika orang tersebut malah nyeletuk “gitu aja baper“.

  1. Tahan Diri

Jika ada sebuah ujaran membuatmu tersinggung, segeralah menahan diri dari emosi. Jika di kepercayaan yang penulis anut, penulis akan ber-istighfar sambil mengelus dada.

Penulis kerap melakukan yang namanya self-hypnosis dengan berbicara ke diri sendiri keras-keras. Karena tersugesti perkataan sendiri, penulis pun bisa mengontrol emosi lebih baik lagi.

  1. Jadikan Perkataan Orang Sebagai Bahan Intropeksi

Jadi Bahan Interopeksi (The Spirit Science)

Mungkin perkataan orang yang menyakitkan ada benarnya. Bisa jadi orang tersebut hanya berusaha untuk mengingatkan kita. Daripada hanya sekadar sakit hati, kenapa tidak dijadikan bahan interopeksi diri?

Contoh, kita dibilang kampungan oleh teman. Alih-alih marah, coba tengok ke diri sendiri apa benar kita kampungan. Mungkin ada kelakuan kita yang membuat orang lain gusar sehingga melontarkan pernyataan tersebut.

Jika memang merasa ada yang salah dengan diri kita, maka coba ubahlah sikapmu tersebut. Jika merasa tidak ada, bisa kita tanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, kenapa kita disebut secara demikian.

  1. Bijaksana dengan Berpikiran Dewasa

Umur itu pasti, dewasa itu pilihan. Semakin bertambahnya usia tidak membuat kedewasaan kita bertambah pula. Kitalah yang menentukan tingkat kedewasaan yang dimiliki.

Kedewasaan seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu. Misal, ketika ada teman yang berulangtahun, kita tidak diajak untuk patungan kado.

Jika kita tidak dewasa, pasti kita akan langsung emosi dan menganggap mereka bajingan yang ingin menjadi musuh kita. Pikiran semacam ini tentu sangat kekanak-kanakan.

Sebaliknya, jika kita sudah cukup dewasa, pasti kita cukup bijak untuk berusaha memahami situasi. Kita akan berusaha melihat alasan positif mengapa kita tidak diajak. Bisa saja, mereka membeli kado secara dadakan sehingga tak sempat mengajak kita.

Penutup

Mungkin masih ada cara-cara lain yang belum sebutkan, tapi penulis rasa keempat hal tersebut sudah cukup untuk mengatasi sifat baper yang kita miliki.

Penulis sampai sekarang terkadang masih mudah baper, hanya saja sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dulu.

Yang namanya perasaan manusia itu bermacam-macam, ada yang halus ada yang tahan banting. Oleh karena itu, tentu bentuk perlakuannya pun harus berbeda-beda pula.

 

 

Kebayoran Lama. 13 April 2019, pernah dimuat di oyibanget.com dengan judul Sering Diejek Baper? Berikut Cara Mengatasinya

Foto: Anthony Tran

Produktivitas

Saya Membaca Buku untuk Mengurangi Candu Media Sosial

Published

on

By

Sejak kecil, Penulis sudah gemar membaca walau jenisnya baru sebatas komik dan ensiklopedia anak. Semakin dewasa, variasi bacaan Penulis pun bertambah, seperti novel, sejarah, pengembangan diri, biografi, hingga filsafat.

Namun, ada masa ketika Penulis benar-benar tidak membaca sama sekali. Hobi yang dulu sangat menyenangkan menjadi menjemukan dan terasa berat. Buku-buku yang sudah beli ditumpuk begitu saja, bahkan beberapa masih dibungkus plastik.

Ketika direnungkan, mungkin salah satu penyebabnya adalah Penulis terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial. Konten pendek yang muncul tanpa batas tersebut seolah “menjebak” Penulis untuk tidak mengonsumsi konten panjang.

Bagaimana Konten Pendek Membuat Kita Malas Mengonsumsi Konten Panjang

Konten Pendek Media Sosial Membuat Kita Lupa Waktu (Photo by Andrea Piacquadio)

Dalam tulisan Alasan Kenapa “Mindless Scrolling” adalah Pelarian yang Buruk, Penulis sudah pernah berpendapat kalau salah satu bahaya dari konten-konten pendek di media sosial adalah membuat kita tidak tahu kapan harus berhenti.

Berbeda dengan menonton video panjang di YouTube di mana kita bisa menentukan konten mana yang ingin kita tonton, konten pendek di TikTok, Reels, maupun Shorts selalu menghadirkan konten baru yang tidak kita rencanakan untuk kita tonton. Semua berdasarkan algoritma.

Adanya unsur “kejutan” membuat kita mendapatkan dopamin dari sana, sehingga di dalam otak seolah ada mindset untuk terus mencari konten yang akan memberikan kita kebahagiaan. Masalahnya, ini bisa berlangsung selama berjam-jam tanpa disadari.

Penulis sendiri merasa kalau dirinya bisa terjebak berjam-jam jika sudah melakukan scrolling-scrolling di media sosial. Yang rencananya cuma 5 menit bisa bertambah hingga 2 jam. Tentu ini sangat berpengaruh kepada produktivitas sehari-hari.

Permasalahan lain adalah karena otak terbiasa dengan konten pendek yang menyajikan info secara cepat dan singkat, kita jadi tidak terbiasa (baca: malas) untuk mengonsumsi konten yang lebih panjang dan lengkap.

Konten panjang yang Penulis maksud di sini bisa berbentuk buku, jurnal, film, dokumenter, serial, dan lain sebagainya. Konten panjang membutuhkan “dedikasi” kita untuk menghabiskan beberapa jam (bahkan hari) yang kita miliki untuk menyelesaikannya.

Di sisi lain, konten pendek akan langsung habis secara instan dalam hitungan detik atau menit. Dalam sekejap, kita bisa mendapatkan sesuatu entah itu ilmu ataupun hiburan. Dalam beberapa jam, entah berapa info yang masuk ke dalam otak kita, walau kebanyakan akan langsung terlupakan.

Konten panjang memiliki batas yang jelas kapan dia akan selesai. Konten pendek memang cuma berdurasi beberapa detik/menit, tapi konten-konten selanjutnya akan terus bermunculan tanpa habis. Inilah yang berbahaya dari mengonsumsi konten pendek di media sosial.

Mungkin akan ada yang berargumen kalau konten pendek seperti itu akan sangat berguna untuk menghemat waktu, Itu ada benarnya, tapi terkadang kita membutuhkan informasi yang lebih lengkap, bukan yang sepotong-sepotong.

Menurut Penulis, netizen kita sering ribut di internet juga salah satunya adalah kebiasaan ini. Kita jadi merasa paling tahu hanya bermodalkan konten-konten pendek. Padahal, kebijaksanaan tertinggi menurut Socrates adalah mengetahui kalau kita ini tidak tahu apa-apa.

Bagaimana Buku Bisa Menjadi Penyelamat Penulis

Membaca Sebagai Sarana untuk Mengurangi Candu Media Sosial (Photo by Monstera Production)

Biasanya, ketika mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial, Penulis akan melakukan detox untuk sementara waktu. Tidak sampai tidak mengecek media sosialnya, tapi cukup mengurangi durasinya per hari.

Untuk itu, Penulis menggunakan berbagai aplikasi yang bisa melimitasi penggunaan media sosial. Ini tentu harus diiringi oleh niat yang kuat, karena godaan untuk mengubah limitasinya sangat besar dan mudah dilakukan.

Penulis benar-benar berusaha untuk mematuhi batasan penggunaan media sosial di gawainya, walau terkadang masih indisipliner. Harusnya, kalau memang sudah limit, ya sudah, jangan diubah batas durasinya, jangan dibuka aplikasi pembatasnya untuk menghapus limit yang sudah dibuat.

Ketika tidak bisa mengecek media sosial (yang sudah menjadi kebiasaan), tentu kita butuh aktivitas lain untuk mengalihkan fokus kita. Jelas setiap orang memiliki preferensi aktivitasnya masing-masing, tapi kalau Penulis pribadi memilih media buku, “kawan lama” yang sudah menjadi hobi Penulis sejak lama.

Untuk bisa membangkitkan minat bacanya kembali, Penulis memutuskan untuk membaca buku yang benar-benar menarik minatnya, bisa buku lama maupun buku baru. Contoh buku yang berhasil membuat Penulis bersemangat membaca adalah Keajaiban Toko Kelontong Namiya.

Tidak hanya karya fiksi, Penulis juga memilih buku non-fiksi dengan topik yang menarik minatnya. Contoh, Penulis suka sejarah, maka Penulis membeli buku sejarah. Buku sejarah yang sedang dibaca saat ini adalah Sejarah Prancis dan Memahami Jepang.

Bahkan, Penulis juga mulai membeli komik lagi seperti ketika masih muda dulu. Contoh, Penulis telah membeli semua komik Dragon Ball Super dari volume 1 sampai 19. Jika sukanya baca komik, ya tidak apa. Aktivitas membaca tidak selalu dikonotasikan belajar, karena membaca juga bisa menjadi sarana hiburan.

Penulis bukan tipe pembaca yang harus menghabiskan satu buku dulu baru berpindah ke buku lain. Saat ini saja, ada belasan buku dengan berbagai genre/topik yang sedang Penulis baca secara bersamaan. Penulis tinggal memilih mau membaca yang mana hari ini, tergantung mood-nya.

Inilah mengapa buku bisa menjadi penyelamat Penulis dari kecanduan konten pendek di media sosial: Penulis bisa bebas memilih buku apa yang akan dibaca. Hal ini tidak kita dapatkan dari TikTok, Reels, dan Shorts yang menghadirkan konten sesuai dengan algoritma mereka.

Membaca juga menjadi pilihan Penulis karena dirinya memang tidak terlalu suka aktivitas menonton film atau serial. Apalagi, Penulis punya kebiasaan buruk ketika sudah menonton serial yang menarik: tidak bisa berhenti menonton semua episodenya sampau tamat.

Ini terjadi ketika Penulis mulai menonton serial How I Met Your Mother. Bahkan, final season-nya Penulis tamatkan dalam semalam. Karena alasan inilah Penulis menghindari menonton serial, karena percuma jika kecanduan kita di media sosial malah berpindah ke serial.

Kalaupun menonton konten di YouTube, jangan membuka Shorts. Penulis menonton YouTube di TV agar akses ke Shorts menjadi lebih sulit. Alhasil, Penulis pun hanya bisa memilih konten-konten yang berdurasi panjang, entah yang berbobot ataupun yang ringan.

Penutup

Penulis merasa terlalu banyak mengonsumsi konten pendek di media sosial tidak baik untuk dirinya, terutama karena mengganggu produktivitasnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang Penulis lakukan, mulai dari membatasi durasi media sosial hingga menghabiskan waktunya lebih banyak untuk membaca.

Membaca buku fisik, setidaknya bagi Penulis, merupakan aktivitas yang bisa membantu Penulis menjauhi media sosial. Penulis bisa memilih buku mana yang akan Penulis baca, tidak seperti konten pendek di media sosial yang tidak bisa kita atur.

Penulis menyadari kalau membaca buku bukan aktivitas favorit banyak orang. Oleh karena itu, mungkin di tulisan berikutnya Penulis akan mencoba berbagai tips agar minat baca itu bisa tumbuh, terutama untuk Pembaca yang juga merasa butuh “lari” dari kecanduan konten-konten pendek di media sosial.


Lawang, 24 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya mulai bersemangat untuk banyak membaca lagi

Foto Featured Image: Monstera Production

Continue Reading

Pengembangan Diri

Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri

Published

on

By

Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen “lawas” seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai cryptocurrency.

Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Penulis sendiri telah mencoba beberapa instrumen investasi.

Di sisi lain, banyak yang salah kaprah tentang investasi dan meniatkannya hanya sebagai cara untuk kaya dengan instan. Banyak orang-orang yang hanya FOMO dan ikut-ikutan tanpa benar-benar memahami instrumen yang mereka investasikan.

Pengalaman Investasi Penulis

Tren Saham META Lima Tahun Terakhir

Penulis ingin berbagi sedikit tentang investasi yang pernah dicoba, meskipun tidak banyak. Cerita ini bukan rekomendasi ataupun anjuran, hanya berbagi pengalaman saja mana yang berhasil cuan mana yang boncos.

Investasi pertama yang pernah Penulis coba adalah emas digital menggunakan platform Tokopedia. Emas adalah instrumen yang relatif aman, sehingga Penulis berhasil cuan setelah “menyimpannya” cukup lama.

Setelah itu, Penulis berusaha merambah ke investasi lain karena merasa pergerakan emas cukup lambat. Ada dua instrumen yang Penulis pilih, yakni reksadana dan saham. Untuk reksadana Penulis memilih Bibit, sedangkan saham memilih Ajaib.

Untuk yang belum tahu, secara sederhana beda dari saham dan reksadana adalah jika di saham kita memilih sendiri saham apa yang dibeli dan kapan membelinya, maka di reksadana kita akan menyerahkan dana kita ke manajer investasi untuk dikelola.

Di Bibit, ada tiga jenis reksadana, yakni Reksadana Pasar Uang, Obligasi, dan Saham. Untuk alokasinya, Penulis saat ini membaginya 38% di Pasar Uang, 47% di Obligasi, dan 15% di Saham. Selain Saham yang boncos, dua jenis lainnya berhasil mendatangkan cuan.

Untuk saham di Ajaib, Penulis memiliki empat jenis saham yang semuanya BUMN, yakni ANTM (Aneka Tambang), PTBA (Bukit Asam), TLKM (Telkom Indonesia), dan WIKA (Wijaya Karya). Keempat-empatnya minus hingga ke tahap yang bikin sakit mata.

Selain saham Indonesia, Penulis juga mencoba investasi saham perusahaan luar menggunakan platform GoTrade. Ada lima perusahaan yang Penulis miliki sahamnya, yakni Apple, Advanced Micro Devices (AMD), Google, Manchester United (MU), dan Meta (Facebook).

Hanya AMD dan MU yang minus karena Penulis membelinya tidak di waktu yang tepat, sedangkan tiga lainnya berhasil mendatangkan cuan. Bahkan, kenaikannya bisa sampai ratusan kali lipat karena Penulis membelinya ketika banyak saham teknologi turun di masa pandemi.

Penulis tidak pernah mencoba cryptocurrency karena beberapa hal alasan, seperti merasa konsep crypto yang wujud barangnya tidak jelas, kenaikan dan penurunan harganya yang tergantung demand, hingga status halal-haramnya yang masih simpang-siur.

Selain itu, Penulis juga pernah mendengar dari temannya yang mencoba Deposito (konsep menabung di bank di mana nasabah tidak boleh mengambil uangnya untuk jangka waktu tertentu), di mana akhirnya ia harus penalti karena harus mengambil uangnya sebelum waktunya.

Investasi Bukan Sarana untuk Kaya Instan

Kasus Anjloknya Nilai LUNA (CoolWallet)

Penulis mulai berinvestasi ketika mulai bekerja, tepatnya ketika masa pandemi. Saat itu, tren investasi memang mulai naik dengan narasi “persiapan masa tua” dan “membiarkan uang yang bekerja untuk kita.” Bisa dibilang, mungkin waktu itu Penulis juga FOMO.

Uang yang Penulis investasikan pun uang dingin alias tabungan, bukan uang panas. Jumlah yang Penulis investasikan pun tidak banyak karena niatnya memang bukan untuk cepat kaya, melainkan lebih untuk menabung. Kalau nabung di bank, kan, uangnya tidak bertambah.

Nah, ketika Penulis mengamati tren investasi sekarang terutama di generasi muda, kebanyakan niatnya memang ingin kaya dengan cepat dan instan. Hal ini terbukti dari banyaknya jargon bernada seperti “McLaren lu warna apa, bos?” yang menunjukkan materialisme.

Teman Penulis ada yang mengikuti kelas investasi seharga 17 juta dari seorang influencer terkenal. Ia mengatakan kalau isi kelas tersebut memang daging dan bermanfaat untuk orang tepat. Saat Penulis tanya berapa persen orang yang tepat tersebut, ia menjawab hanya 5%.

Inilah yang Penulis khawatirkan: investasi karena FOMO dan ingin kaya secara instan. Akibatnya, bisa jadi uang yang diinvestasikan tersebut merupakan uang hasil hutang ataupun memanfaatkan pinjaman online, dengan harapan uang yang diputar akan berkembang biak secara cepat.

Mungkin Pembaca masih ingat kasus pembunuhan yang dilakukan masalah UI akibat terlilit hutang hingga 80 juta yang ia gunakan untuk berinvestasi di cryptocurrency. Contoh lain adalah ketika banyak orang kehilangan uang begitu saja ketika nilai LUNA anjlok.

Sampai sekarang, Penulis masih meyakini tidak ada cara instan yang benar untuk menjadi kaya. Kalau kita bukan anak konglomerat, butuh proses yang panjang dan terjal untuk bisa menjadi kaya. Jangan berharap bisa kaya instan dari investasi.

Investasi Itu Butuh Income

“McLaren lu warna apa, bos?” (Road & Track)

Satu hal lain yang membuat Penulis merasa miris adalah ada beberapa generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah merasa ingin fokus ke investasi hingga merasa pendidikan itu tidak penting sama sekali. Bahkan, tak sedikit yang sampai memutuskan untuk berhenti sekolah/kuliah.

Bukan hanya karena masalah pendidikan itu penting, tapi Penulis merasa miris betapa salahnya mindset mereka dengan menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama hidup dan seolah-olah hal lainnya (termasuk pendidikan) menjadi tidak penting.

Selain itu, banyak yang lupa kalau investasi itu butuh dana untuk diinvestasikan. Penulis tadi sudah menyinggung betapa bahayanya jika kita menggunakan uang panas untuk diinvestasikan, apalagi ke instrumen yang risikonya tinggi seperti crypto.

Kecuali kalau kita anak konglomerat yang diam saja dapat uang, mungkin masih bisa. Akan tetapi, tentu hal tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Mayoritas ya harus berjuang dan bekerja dulu untuk bisa mendapatkan dana yang bisa diinvestasikan. Tidak mungkin, kan, mengandalkan uang saku dari orang tua terus?

Oleh karena itu, kita butuh bekerja. Untuk bisa bekerja, kita butuh skill yang bisa didapatkan dari mana saja, tidak hanya dari jalur pendidikan. Nah, inilah yang sering diabaikan oleh generasi muda, di mana mereka terlalu fokus investasi hingga lupa mengembangkan diri.

Mereka ingin kaya dengan cepat sampai lupa kalau punya skill untuk meningkatkan value diri itu sangat penting. Mereka ingin kaya secara instan, tapi tidak ada pemasukan dana yang stabil untuk bisa diinvestasikan.

Skill tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah atau universitas, ada banyak sarana untuk bisa meningkatkan skill, entah dari YouTube, mengikuti kelas online, ikut orang untuk menyerap ilmunya, dan lain sebagainya. Apalagi, sekarang serba mudah dan bisa diakses setiap saat.

Kalau menurut Penulis, cara paling ideal untuk berinvestasi adalah kita fokus mengembangkan dulu diri kita agar memiliki skill dan value yang tinggi. Setelah itu, kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak dan sebagian dari gaji tersebut bisa kita investasikan.

Semua orang ingin menjadi kaya, tapi jangan sampai itu yang menjadi tujuan hidup, melainkan apa yang ingin dilakukan ketika berhasil menjadi kaya. Misal, ingin kaya karena banyak ingin bersedekah dan bermanfaat untuk sekitarnya, bukan untuk pamer McLaren.

Penutup

Sebagai disclaimer, Penulis tidak melarang siapapun untuk melakukan investasi. Silakan saja, toh uang yang dipakai bukan uang Penulis. Di sini, Penulis hanya ingin saling mengingatkan kalau jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan diri sendiri.

Penulis sendiri sebenarnya belum rutin melakukan investasi setiap bulan karena uangnya kepakai untuk keperluan lain (seperti membeli board game, ehem). Berinvestasi dalam hidup Penulis hanya sebagai compliment saja, bukan menjadi aktivitas utama.

Berinvestasi itu penting, dan Penulis bersyukur di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk melakukan investasi. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan aset terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.


Lawang, 18 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena di mana banyak orang FOMO investasi sampai lupa mengembangkan skill diri

Foto Featured Image: Prosper Wealth Management

Continue Reading

Pengembangan Diri

Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri

Published

on

By

Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, “Kan diberi oleh bapak.”

Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.

Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.

10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif

Banyak Gen Z yang Menganggur (Parenting Teens and Tweens)

Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun.

Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.

“Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya miss-match,” ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.

Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.

Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar full menganggur.

Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.

Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang “curhat” mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.

Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus

Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (PPIC)

Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: soal sulit dari Pak Guru atau ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal?

Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya.

Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah usaha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru.

Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.

Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang kurang mengembangkan value diri, baik hard skill maupun soft skill.

Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk rebahan dan scrolling media sosial atau push rank game HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.

Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, bahkan AI sekalipun. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.

Sebagai contoh, Penulis yang lulusan IT pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.

Yang tidak kalah penting dari hard skill adalah soft skill. Percuma saja jika memiliki hard skill, tapi attitude-nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.

Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki skill yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi “orang dalam” untuk kita.

Penutup

Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.

Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.

Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan skill sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus skill untuk meningkatkan value diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.


Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam

Foto Featured Image: Doraemon Hari Ini

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan