<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>soeharto Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/soeharto/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/soeharto/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>soeharto Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/soeharto/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2018 06:31:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto. Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto.</p>
<p>Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah mengapa, sejarah di masa orde baru sangat menarik minat penulis.</p>
<p>Ketika membuka sampul plastik yang menyelimuti buku ini, penulis tidak berharap adanya penulisan sejarah yang disusun secara kronologis. Buku yang seperti itu sudah penulis baca pada buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi (penulis sangat sering menyebut buku ini, sehingga rasanya perlu dibuat review sendiri nantinya).</p>
<p>Benar saja, banyak bagian dalam buku ini yang melengkapi keping sejarah yang telah ada di ingatan penulis. Sebut saja bagian yang membahas ibu Tien Soeharto, anak-anak dan beberapa cucu Soeharto.</p>
<p>Selain itu terdapat pula bagian yang membahas tentang <em>dunia lain</em> melalui guru-guru spiritual Soeharto. Penulis kurang menaruh minat pada hal-hal yang berbau mistis, sehingga penulis hanya membaca sekilas ketika mencapai topik ini.</p>
<p>Tentu yang ditonjolkan di sini adalah berbagai peristiwa sejarah yang terjadi ketika orde baru, dan kebanyakan adalah peristiwa berdarah. Selain G30S dan peristiwa Malari, buku ini juga mengulas peristiwa Tanjung Priok dan pembangunan Waduk Kedungombo yang sarat kontroversi.</p>
<p>Selain itu masih banyak lagi berbagai peristiwa mulai dari bagaimana ia berhasil menjadi orang nomer satu hingga berbagai pemberontakan mahasiswa yang menyebabkan lengsernya beliau. Dilengkapi dengan foto-foto ekslusif, kita seolah benar-benar berada di lokasi kejadian.</p>
<p>Penulis hanya membutuhkan beberapa jam untuk menandaskan buku ini, menandakan bahwa buku ini berkualitas dan dikemas dalam bahasa yang tidak terlalu berat. Tim redaksi Tempo memang penulis akui lihai dalam menuliskan sejarah sehingga mudah untuk dipahami oleh pembacanya.</p>
<p>Bagi pembaca yang memiliki rasa penasaran dengan tokoh yang kerap disebut <em>The Smilling General</em> ini, penulis sangat merekomendasikan buku ini.</p>
<p>Nilainya <strong>4.5/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi, 24 Agustus 2018, terinspirasi setelah menamatkan Seri Buku Tempo: Soeharto</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>
		<category><![CDATA[Benny Moerdani]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[ICMI]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221; Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon. Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun? Seperti yang telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film <em>The Dark Knight </em>pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.</p>
<p>Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.</p>
<p><strong>Soeharto dan Habibie</strong></p>
<p>Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.</p>
<p>Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:</p>
<p>&#8220;Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?&#8221;</p>
<div id="attachment_821" style="width: 680px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-821" class="size-full wp-image-821" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg" alt="" width="670" height="335" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.jpg 670w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><p id="caption-attachment-821" class="wp-caption-text">Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)</p></div>
<p>Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.</p>
<p>Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.</p>
<p><strong>Soeharto dan Militer</strong></p>
<p>Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.</p>
<p>Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.</p>
<p>Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.</p>
<div id="attachment_820" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-820" class="size-full wp-image-820" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/edsus_benny29.jpg" alt="" width="300" height="189" /><p id="caption-attachment-820" class="wp-caption-text">Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)</p></div>
<p>Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari <em>Centre for Strategic and International Study </em>(CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.</p>
<p>Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.</p>
<p><strong>Ketika Soeharto Ditinggalkan</strong></p>
<p>Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.</p>
<p>Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.</p>
<p>Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.</p>
<div id="attachment_819" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-819" class="size-full wp-image-819" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/harmoko_20180129_190822-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-819" class="wp-caption-text">Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)</p></div>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Does it depress you commissioner to know how alone you really are?&#8221;</em></p>
<p>Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).</p>
<p>Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.</p>
<p>Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.</p>
<p>Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah <em>lengser keprabon</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana">https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Menjadi Yes-Man</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/jangan-menjadi-yes-man/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/jangan-menjadi-yes-man/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2018 12:04:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[man]]></category>
		<category><![CDATA[menyibak]]></category>
		<category><![CDATA[orde]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[tabir]]></category>
		<category><![CDATA[yes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya suka mempelajari sejarah, terutama sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia dan masa-masa ketika negara kita sedang membangun jati dirinya. Untunglah bagi saya karena Tempo banyak membuat serial biografi tokoh-tokoh nasional yang ikut berjuang merebut kemerdekaan, sehingga saya mendapatkan banyak literatur tentang periode kemerdekaan. Sekarang saya lebih condong untuk mengetahui sejarah ketika pergantian orde antara Soekarno dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jangan-menjadi-yes-man/">Jangan Menjadi Yes-Man</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka mempelajari sejarah, terutama sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia dan masa-masa ketika negara kita sedang membangun jati dirinya. Untunglah bagi saya karena Tempo banyak membuat serial biografi tokoh-tokoh nasional yang ikut berjuang merebut kemerdekaan, sehingga saya mendapatkan banyak literatur tentang periode kemerdekaan. Sekarang saya lebih condong untuk mengetahui sejarah ketika pergantian orde antara Soekarno dan Soeharto. Oleh karena itulah, ketika saya menemukan buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi di Togamas Kediri, tanpa banyak pikir langsung saya bawa pulang buku tersebut, tentu setelah membayarnya.</p>
<p>Buku ini terasa nyata karena memang sang penulis banyak berjibaku secara langsung dalam berbagai peristiwa yang terjadi selama pergantian orde. Sebenarnya banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari beragam peristiwa ini, namun di tulisan kali ini saya ingin menekankan pengaruh <em>Yes-Man</em> yang ada di sekitar kita, terutama jika kita menjadi seorang pemimpin.</p>
<p>Sesuai namanya, <em>Yes-Man </em>artinya orang yang selalu mengiyakan apapun perkataan orang lain, dalam konteks disini adalah pemimpin. Ini sangat berbahaya apabila sang pemimpin menutup opini pihak lain yang bukan <em>Yes-Man</em> karena membuat mereka merasa apapun keputusan mereka adalah yang terbaik dan terbenar.</p>
<p>Sejarah telah membuktikannya. Setelah pemilu pertama pada tahun 1955, Bung Karno pada masa orde lama menggagas Demokrasi Terpimpin, dimana konsep tersebut berarti pengambilan keputusan harus dilalui musyawarah, namun hasil akhirnya berada di tangan presiden sebagai kepala negara. Menjelang akhir pemerintahannya, Bung Karno semakin paranoid dengan posisinya yang mulai terancam. Dan dengan banyaknya <em>Yes-Man </em>yang ada di sekelilingnya, maka ketika beliau membuat keputusan-keputusan yang dianggap penulis buku ini kurang tepat pun diiyakan.</p>
<p>Saya belum selesai membaca buku karya salah satu pendiri <em>Centre for Strategic and International Studies </em>(CSIS) ini, namun saya bisa menyimpulkan di akhir era orde baru pun banyak<em> Yes-Man </em>di sekitar presiden Soeharto karena terdapat istilah ABS alias Asal Bapak Senang. Tidak seperti penurunan Soekarno yang terstruktur oleh pihak-pihak tertentu, Soeharto harus lengser karena <em>people power</em>, sama seperti mantan presiden Filiphina Ferdinand Marcos.</p>
<p>Hikmah dari kejadian ini adalah jangan pernah asal mengiyakan perkataan orang, jangan menjadi <em>Yes-Man</em>, walaupun orang tersebut sekelas presiden pun. Sebagai bawahan, kita harus bisa kritis apabila terdapat sesuatu yang menurut kita kurang tepat. Sebaliknya sebagai atasan, bukalah ruang untuk berdiskusi apabila terdapat perbedaan pendapat. Manusia itu tidak mungkin selalu benar, karena hanya Tuhan yang kebenarannya mutlak. Opini yang berseberangan bisa jadi lebih baik dari opini kita sendiri.</p>
<p>Manusia harus mempunyai sikap, bukan sekedar berkata iya untuk menyenangkan orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Januari 2018, setelah meminta tolong salah satu anggota Karang Taruna yang bernama Nabilla untuk memberikan review untuk novel saya</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.montclareschool.org/find-the-yes/">https://www.montclareschool.org/find-the-yes/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jangan-menjadi-yes-man/">Jangan Menjadi Yes-Man</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/jangan-menjadi-yes-man/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
