Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi

“Does it depress you commissioner to know how alone you really are?”

Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.

Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?

Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.

Soeharto dan Habibie

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.

Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.

Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:

“Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?”

Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)

Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.

Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.

Soeharto dan Militer

Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.

Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.

Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.

Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)

Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari Centre for Strategic and International Study (CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.

Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.

Ketika Soeharto Ditinggalkan

Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.

Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.

Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.

Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)

“Does it depress you commissioner to know how alone you really are?”

Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).

Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.

Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.

Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah lengser keprabon.

 

 

Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi

Sumber Foto: https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.