Tokoh & Sejarah
Soeharto: Sendiri Setelah Reformasi
“Does it depress you commissioner to know how alone you really are?”
Pernah mendengar kalimat di atas? Jika pernah menyaksikan film The Dark Knight pasti mengetahui kalimat tersebut, yang diucapkan oleh Joker dan ditujukan kepada Komisaris Gordon.
Lantas apa hubungannya dengan reformasi dan Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun?
Seperti yang telah kita ketahui bersama, 20 tahun lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa yang menuntut mundurnya Soeharto. Massa berhasil menduduki gedung DPR, bisa dibilang mereka telah melakukan makar.
Soeharto dan Habibie
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, akhirnya Soeharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie selaku wakilnya.
Mungkin tidak banyak yang tahu, ketika berencana mengundurkan diri, Soeharto sejatinya ingin mengajak Habibie untuk ikut mundur bersamanya. Beberapa sumber mengatakan bahwa Soeharto tidak yakin Habibie mampu memimpin negara dan menguasai keadaan.
Namun Habibie menolak. Dengan sedikit emosi beliau berkata kurang lebih seperti:
“Mengapa saya Anda pilih sebagai wakil jika ternyata Anda meragukan kemampuan saya?”

Seoeharto dan Habibie (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-keraguan-soeharto-kepada-habibie-lepasnya-timor-timur.html)
Semenjak itu, hubungan mereka menjadi renggang. Soeharto menolak bertemu dengan Habibie dalam rentang waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini bisa dibilang Habibie merupakan anak emas Soeharto semenjak bergabung dengan kabinet pada tahun 1978 sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia hingga akhirnya menjadi wakil presiden.
Selain itu, Habibie juga menjadi ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia alias ICMI, Lahirnya ICMI tidak terlepas dari berkurangnya kepercayaan Soeharo kepada kubu militer.
Soeharto dan Militer
Berlatarbelakang militer tentu membuat Soeharto dekat dengan pasukan militer. Banyak kaki tangannya yang berasal dari militer, sebut saja Ali Moertopo dan Benny Moerdani.
Akan tetapi, kepercayaan tersebut berkurang drastis menjelang tahun 90an. Banyak teori yang berkembang, seperti meninggalnya Ali pada tahun 1984 hingga kritikan Benny terhadap kerajaan bisnis anak-anak Soeharto sewaktu menjadi panglima ABRI.
Keberanian Benny memberikan kritik kepada rezim Soeharto tentu memiliki konsekuensi yang besar. Ia dicopot dari jabatannya lebih cepat dan gagal menjadi wakil presiden, walaupun ia digadang-gadang untuk mengisi posisi tersebut. Pada akhirnya, Sudharmono lah yang menjadi wakil presiden Republik Indonesia yang kelima.

Soeharto dan Benny Moerdani (https://majalah.tempo.co/read/146482/tak-lagi-di-sisi-soeharto)
Selain itu, Soeharto juga tidak lagi mendengarkan nasihat dari Centre for Strategic and International Study (CSIS) yang diawaki tokoh-tokoh seperti Jusuf Wanandi. Bisa dimaklumi karena CSIS dekat dengan militer termasuk Ali Moertopo.
Ini membuat haluan politik Soeharto menjadi condong ke kaum muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Bisa jadi, inilah titik awal kejatuhan Soeharto.
Ketika Soeharto Ditinggalkan
Detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto, beberapa orang yang selama ini sangat loyal kepada beliau tiba-tiba membelot dan meminta Soeharto untuk mundur. Ketua DPR saat itu, Harmoko, menyatakan bahwa rakyat sudah tidak menghendaki Soeharto menjabat sebagai presiden lagi. Padahal, selama ini Harmoko adalah salah satu anak emas Seoharto.
Selain itu, beberapa bulan setelah pelatikannya yang terakhir pada Maret 1998, beberapa menteri menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden Soeharto.
Semua yang selama ini mendukungnya, tiba-tiba menjauhinya. Orang-orang yang selama ini menjilat dirinya untuk mendapatkan kekuasaan tiba-tiba ikut memusuhinya.

Harmoko (http://bangka.tribunnews.com/2018/01/29/masih-ingat-menteri-penerangan-harmoko-kabar-mengejutkan-datang-dari-tangan-kanan-soeharto-itu)
“Does it depress you commissioner to know how alone you really are?”
Penulis membayangkan, betapa sakitnya perasaan Soeharto ketika itu, dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. 32 tahun Orde Baru berakhir dengan pahit karena ketamakan akan kekuasaan (dan harta?).
Mungkin Soeharto baru merasakan, betapa ia begitu sendirian ketika cobaan datang. Mungkin ia baru merasakan, ternyata ia tidak memiliki kawan-kawan yang setia, melainkan orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan dari dirinya.
Mungkin karena depresi setelah mengetahui fakta inilah, Soeharto menjadi sakit-sakitan setelah turun jabatan hingga meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 tanpa pernah bisa tersentuh oleh hukum.
Sang Bapak Pembangunan Indonesia harus menderita karena kesendirian setelah lengser keprabon.
Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi oleh 20 tahun reformasi
Sumber Foto: https://nasional.tempo.co/read/470284/soeharto-bunga-wijayakusuma-dan-cendana
Tokoh & Sejarah
Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya
Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.
Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang.
Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.
Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna

Bambang Ekalaya, dikenal juga sebagai Palgunadi, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun.
Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan Resi Dorna, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.
Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.
Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.
Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.
Arjuna pun rewel dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. Ia meminta jempol kanan Ekalaya!
Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.
Pemujaan yang Berujung ke Kematian

Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, Dewi Anggraeni, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.
Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.
Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami.
Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.
Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.
Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!
Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun meminta Cincin Mustika Ampal yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.
Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja. Di mata Ekalaya, ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini.
Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.
“Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat”

Dalam salah satu episode SpongeBob SquarePants yang berjudul “I’m Your Biggest Fanatic”, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau “pemujaan yang berlebihan tidak sehat.” Quote tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.
Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan mindset bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.
Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah karena kemampuannya sendiri, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki privilege seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.
Namun, tampaknya mindset Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.
Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari tokoh politik, pacar, idol K-Pop, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.
Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.
Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa photocard idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.
Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.
Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kısah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber
Tokoh & Sejarah
Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan
Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.
Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.
Penulis memang baru “berkenalan” dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.
Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca

Ketika melihat novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.
Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa “dipeluk” oleh buku ini karena ceritanya yang heartwarming dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).
Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih The Devotion of Suspect X. Penulis benar-benar terkejut dengan plot twist yang ada di buku ini.
Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah A Midsummer’s Equation. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.
Malice menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya reverse psychology di sini.
Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan review-nya di blog ini, yakni Salvation of a Saint (Dosa Malaikat) dan The Newcomer (Pembunuhan di Nihonbashi). Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.
Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo
Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi mengapa pelaku melakukannya. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.
Trik yang digunakan tidak akan se-njelimet cerita-cerita di Detective Conan maupun Sherlock Holmes. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya.
Seringnya, yang menjadi plot twist bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan mengapa hal tersebut dilakukan. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan.
Kritik Penulis hampir di semua artikel review novelnya sama, yakni terkadang proses investigasinya berbelit-belit. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.
Pengecualian jelas terdapat pada Keajaiban Toko Kelontong Namiya, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre slice of life seperti novel ini?
***
Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.
Karya terakhir Keigo yang berjudul Eternal Memory akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.
Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.
Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino
Sumber Artikel:
Tokoh & Sejarah
Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain
Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.
Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!

Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes

Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.
Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.
Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:
- Manusia berlagak seperti anjing pemburu
- Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
- Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya
Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.
“Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.
Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.
Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes

“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!
Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.
Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.
Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”
Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.
Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.
Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.
Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.
***
Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!
Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.
Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.
Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara11 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga11 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri11 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri11 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Non-Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana



You must be logged in to post a comment Login