<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sujiwo Tejo Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sujiwo-tejo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sujiwo-tejo/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Sujiwo Tejo Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sujiwo-tejo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jul 2019 17:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya. Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya Sujiwo Tejo yang terkenal sebagai dalang edan, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya. Penulis hampir memiliki semua buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya.</p>
<p>Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya <strong>Sujiwo Tejo </strong>yang terkenal sebagai <em>dalang edan</em>, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya.</p>
<p>Penulis hampir memiliki semua buku yang pernah ia terbitkan, kecuali beberapa buku lama yang sudah jarang terlihat di rak toko buku. Ada juga buku yang memang kurang penulis minati seperti <em>Republik #Jancukers </em>dan <em>Serat Tripama.</em></p>
<h3>Koleksi Buku Sujiwo Tejo</h3>
<p>Buku karya Sujiwo Tejo pertama yang penulis miliki adalah <em>Lupa Endonesa</em>. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di koran Jawa Pos (atau Kompas? Penulis sedikit lupa) yang menyoroti berbagai kejadian yang tengah hangat di ruang publik.</p>
<p>Karena suka dengan buku ini, penulis pun membeli lanjutannya yang terbit beberapa tahun kemudian, yakni <em>Lupa Endonesa Deui </em>dan <em>Lupa 3ndonesa</em>. Isinya kurang lebih sama, hanya topik yang diangkat tentu lebih baru.</p>
<p>Buku lain yang penulis miliki adalah <em>Rahvayana</em>. Buku ini memiliki dua seri, yakni <em>Rahvayana: Aku Lala Padamu </em>dan <em>Rahvayana: Ada yang Tiada</em>. Sebagai penikmat cerita wayang, penulis tentu jatuh cinta dengan kedua buku ini.</p>
<p>Mengapa begitu? Karena buku ini berusaha menggambar kisah <em>Ramayana </em>dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari mata Rahwana yang begitu mencintai dan mengagumi Sinta. Tentu, gaya penulisannya pun khas Sujiwo Tejo yang terkesan <em>sakarepe dewe</em>.</p>
<p>Lantas ada buku <em>Balada Gathak Gathuk </em>dan <em>Sabdo Cinta Angon Kasih </em>yang mengambil tema berbeda, meskipun secara konsep sedikit mirip dengan seri <em>Lupa Endonesa</em>. Hanya saja, pada dua buku tersebut terdapat satu alur cerita yang saling berkesinambungan.</p>
<p>Buku <em>Talijiwo </em>dan <em>Senandung Talijiwo </em>merupakan rubrik terbaru milik Sujiwo Tejo yang dibukukan. Ada kesan romantis yang dihasilkan oleh kedua buku ini, berbeda dengan buku lain yang lebih menonjolkan sisi budaya dan politik di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga memiliki buku <em>Tuhan Masa Asyik </em>yang jujur sangat berat untuk penulis cerna dan <em>Kelakar Madura Buat Gus Dur </em>yang condong bergenre humor.</p>
<h3>Kenapa Suka Membaca Buku Sujiwo Tejo?</h3>
<p>Jujur, jika ditanya apakah penulis memahami buku-buku tersebut, penulis akan bereaksi dengan tertawa canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.</p>
<p>Sujiwo Tejo sering kali memasukkan pesan implisit di dalam tulisannya, dan penulis tidak selalu menangkap apa yang ia maksudkan. Terkadang, ketika membaca bab demi bab, ada saja bagian yang membuat penulis mengerutkan dahi.</p>
<p>Jika memang seperti itu, mengapa tetap membaca buku-buku karyanya? Seperti yang sudah penulis singgung di paragraf awal, penulis banyak belajar bagaimana cara menulis dari beliau.</p>
<p>Selain itu, penulis juga sangat menyukai metode Sujiwo Tejo dalam menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung hari ini.</p>
<p>Menurut ayah penulis, itu adalah hal yang sangat susah dilakukan dan hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satu yang bisa (dan ahli), ya Sujiwo Tejo.</p>
<p>Bahasa yang digunakan pun sangat enak untuk dinikmati, tidak menggunakan bahasa berat yang di mana hanya akademisi yang bisa memahaminya. <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Nuansa sastra</a> sangat kental terasa di dalamnya.</p>
<p>Tapi ya kembali lagi, penulis tidak selalu berhasil menangkap pesan tersiratnya. Mungkin kapasitas otak penulis yang tidak <em>nyampai </em>ke sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apakah penulis merupakan pengagum karya-karya Sujiwo Tejo? Tanpa ragu penulis akan menjawab iya. Penulis sangat menikmati buku-buku karya beliau. Beliau juga merupakan salah satu panutan penulis dalam menulis.</p>
<p>Ilmu yang penulis miliki jelas masih kalah jauh dari beliau, tapi hal tersebut justru menjadi pemacu agar terus belajar sehingga bisa berkarya dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Yang jelas, penulis akan selalu menantikan buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh beliau, meskipun tak selalu memahami apa yang Sujiwo Tejo maksudkan dengan tulisannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Juli 2019, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya kolekso buku Sujiwo Tejo yang dimiliki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peremehan Tuhan Paling Fatal</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 15:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[peremehan]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau. Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau.</p>
<p>Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan, itu sama artinya dengan meremehkan Tuhan.</p>
<p>Dengan catatan, diiringi oleh usaha dan doa. Tidak mungkin kita memiliki keyakinan tersebut, lantas hanya bermalas-malasan menunggu bantuan-Nya datang sendiri. Tidak! Jangan memahami kalimat tersebut mentah-mentah.</p>
<p>Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita harus diiringi usaha dan doa yang seimbang. Logikanya, Tuhan itu Maha Baik, apa mungkin membiarkan umat-Nya yang telah berpeluh keringat dan selalu menyebut nama-Nya di setiap doa dibiarkan begitu saja? Tidak mungkin.</p>
<p>Apabila yang kita minta tidak dikabulkan, jangan langsung berburuk sangka kepada-Nya. Bisa saja, Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan keinginan kita, atau bahkan mungkin memberi yang sebenarnya lebih kita butuhkan.</p>
<p>Ingat, Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita inginkan. Manusia dengan kemampuannya yang terbatas sangat mungkin salah dalam mengira apa yang dibutuhkan olehnya. Tuhan lah yang mengetahui kebutuhan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah pernah meremehkan Tuhan dengan takut kebutuhan kita tidak akan terpenuhi setelah kita berusaha dan berdoa kepada-Nya. Kita ini hanya manusia yang hina, jangan berani meremehkan Tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Maret 2018, setelah mengajar di SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.islamicsom.org/?p=1545">http://www.islamicsom.org/?p=1545</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
