Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo

Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya.

Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya Sujiwo Tejo yang terkenal sebagai dalang edan, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya.

Penulis hampir memiliki semua buku yang pernah ia terbitkan, kecuali beberapa buku lama yang sudah jarang terlihat di rak toko buku. Ada juga buku yang memang kurang penulis minati seperti Republik #Jancukers dan Serat Tripama.

Koleksi Buku Sujiwo Tejo

Buku karya Sujiwo Tejo pertama yang penulis miliki adalah Lupa Endonesa. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di koran Jawa Pos (atau Kompas? Penulis sedikit lupa) yang menyoroti berbagai kejadian yang tengah hangat di ruang publik.

Karena suka dengan buku ini, penulis pun membeli lanjutannya yang terbit beberapa tahun kemudian, yakni Lupa Endonesa Deui dan Lupa 3ndonesa. Isinya kurang lebih sama, hanya topik yang diangkat tentu lebih baru.

Buku lain yang penulis miliki adalah Rahvayana. Buku ini memiliki dua seri, yakni Rahvayana: Aku Lala Padamu dan Rahvayana: Ada yang Tiada. Sebagai penikmat cerita wayang, penulis tentu jatuh cinta dengan kedua buku ini.

Mengapa begitu? Karena buku ini berusaha menggambar kisah Ramayana dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari mata Rahwana yang begitu mencintai dan mengagumi Sinta. Tentu, gaya penulisannya pun khas Sujiwo Tejo yang terkesan sakarepe dewe.

Lantas ada buku Balada Gathak Gathuk dan Sabdo Cinta Angon Kasih yang mengambil tema berbeda, meskipun secara konsep sedikit mirip dengan seri Lupa Endonesa. Hanya saja, pada dua buku tersebut terdapat satu alur cerita yang saling berkesinambungan.

Buku Talijiwo dan Senandung Talijiwo merupakan rubrik terbaru milik Sujiwo Tejo yang dibukukan. Ada kesan romantis yang dihasilkan oleh kedua buku ini, berbeda dengan buku lain yang lebih menonjolkan sisi budaya dan politik di masyarakat.

Selain itu, penulis juga memiliki buku Tuhan Masa Asyik yang jujur sangat berat untuk penulis cerna dan Kelakar Madura Buat Gus Dur yang condong bergenre humor.

Kenapa Suka Membaca Buku Sujiwo Tejo?

Jujur, jika ditanya apakah penulis memahami buku-buku tersebut, penulis akan bereaksi dengan tertawa canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sujiwo Tejo sering kali memasukkan pesan implisit di dalam tulisannya, dan penulis tidak selalu menangkap apa yang ia maksudkan. Terkadang, ketika membaca bab demi bab, ada saja bagian yang membuat penulis mengerutkan dahi.

Jika memang seperti itu, mengapa tetap membaca buku-buku karyanya? Seperti yang sudah penulis singgung di paragraf awal, penulis banyak belajar bagaimana cara menulis dari beliau.

Selain itu, penulis juga sangat menyukai metode Sujiwo Tejo dalam menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung hari ini.

Menurut ayah penulis, itu adalah hal yang sangat susah dilakukan dan hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satu yang bisa (dan ahli), ya Sujiwo Tejo.

Bahasa yang digunakan pun sangat enak untuk dinikmati, tidak menggunakan bahasa berat yang di mana hanya akademisi yang bisa memahaminya. Nuansa sastra sangat kental terasa di dalamnya.

Tapi ya kembali lagi, penulis tidak selalu berhasil menangkap pesan tersiratnya. Mungkin kapasitas otak penulis yang tidak nyampai ke sana.

Penutup

Apakah penulis merupakan pengagum karya-karya Sujiwo Tejo? Tanpa ragu penulis akan menjawab iya. Penulis sangat menikmati buku-buku karya beliau. Beliau juga merupakan salah satu panutan penulis dalam menulis.

Ilmu yang penulis miliki jelas masih kalah jauh dari beliau, tapi hal tersebut justru menjadi pemacu agar terus belajar sehingga bisa berkarya dengan lebih baik lagi.

Yang jelas, penulis akan selalu menantikan buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh beliau, meskipun tak selalu memahami apa yang Sujiwo Tejo maksudkan dengan tulisannya.

 

 

Kebayoran Lama, 31 Juli 2019, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya kolekso buku Sujiwo Tejo yang dimiliki