<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tempo Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tempo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tempo/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Jun 2024 15:39:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Tempo Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tempo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 15:39:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab Ali Sadikin. Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab <strong>Ali Sadikin</strong>.</p>



<p>Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak prestasinya. Seperti apa kebijakan yang ia buat hingga bisa menjadi sosok populis tidak Penulis ketahui.</p>



<p>Nah, kebetulan Tim TEMPO merilis buku biografi singkatnya, yang menyadi edisti terbaru <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Seri Buku Tempo</a> setelah sekian lama. Mengingat Penulis mengoleksi serinya, tentu saja Penulis membaca buku ini, sekalian belajar apa saja terobosan yang pernah dilakukan oleh Ali Sadikin.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/keganasan-netizen-barbar.jpg 1280w " alt="Keganasan Netizen Barbar" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/keganasan-netizen-barbar/">Keganasan Netizen Barbar</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ali Sadikin</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ali Sadikin: Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman</em></li>



<li>Penulis: Tim TEMPO</li>



<li>Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: November 2023 </li>



<li>Tebal: 130 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231341167</li>



<li>Harga: Rp75.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Ali Sadikin</h2>



<p><em>Sejarah Jakarta tak bisa dilepaskan dari sosok Ali Sadikin. Ditunjuk langsung sebagai Gubernur DKI Jakarta (menjabat 1966-1977) oleh Presiden Sukarno, Bang Ali-begitu dia biasa disapa-dinilai mampu mengatasi berbagai problem yang melanda ibu kota. Selama 11 tahun menjabat gubernur, Bang Ali tidak hanya meletakkan fondasi perkembangan Jakarta, tetapi juga menunjukkan bagaimana seharusnya kota yang bermartabat sekaligus hijau dibangun.</em></p>



<p><em>Bagi Bang Ali, Jakarta harus menjadi ibu kota yang mencerminkan kebanggaan nasional, sesuai cita-cita Bung Karno. Untuk itu, dia berupaya mewujudkan Jakarta yang manusiawi, berbudaya, nyaman, dan tertib. Dia membangun berbagai fasilitas publik dan memperbaiki kampung kumuh, berupaya mengatasi banjir dengan menyiapkan kawasan hijau yang mengelilingi ibu kota, membangun tempat berkumpul bagi para seniman, dan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.</em></p>



<p><em>Namun, kepemimpinan Bang Ali bukan tanpa kontroversi. Dia, misalnya, melegalkan perjudian dan memungut pajaknya untuk mengubah wajah kota yang suram menjadi metropolis. Bang Ali tidak peduli meski dicaci maki dan dijuluki-gubernur maksiat-. Setelah tidak menjabat gubernur, dia bergabung dengan kelompok Petisi 50 dan tak ragu menunjukkan sikap politik yang berseberangan dengan Presiden Soeharto.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ali Sadikin?</h2>



<p>Seperti biasa, Seri Buku Tempo tidak menjabarkan kisah sosok yang diangkat secara kronologis. Hanya beberapa kejadian penting saja yang diulas, atau dalam konteks Ali Sadikin, lebih banyak menyorot kebijakan yang pernah ia buat.</p>



<p>Ada dua bab utama dalam buku ini, yakni &#8220;<strong>Nahkoda Koppig Ibu Kota</strong>&#8221; yang menjabarkan sepak terjang Ali selama menjadi gubernur, dan &#8220;<strong>Oposan Setelah Jabatan</strong>&#8221; yang menceritakan kisah Ali yang <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">menjadi oposisi</a> dari Presiden Soeharto.</p>



<p>Hampir semua daftar kebijakan yang dibuat oleh Ali sebenarnya sudah disebutkan di bagian sinopsis di atas. Isi bukunya mengelaborasi kebijakan-kebijakan tersebut secara lebih detail, baik yang positif maupun yang kontroversial.</p>



<p>Salah satu raihan positif yang pernah Ali selama menjabat sebagai seorang gubernur adalah melakukan revitalisasi kota Jakarta menjadi lebih modern, mirip dengan yang dilakukan oleh <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">Napoleon III ke Paris</a>.</p>



<p>Kebijakan yang paling kontroversial tentu saja bagaimana ia melegalkan perjudian untuk menambah anggaran daerah. Uang pemasukan dari sektor tersebut ia gunakan untuk <a href="https://whathefan.com/politik-negara/banjir-jakarta-salah-siapa/">membangun Jakarta</a> menjadi kota modern.</p>



<p>Untuk bagian kedua, sebenarnya lebih menjelaskan posisi Ali yang memutuskan untuk berseberangan dengan Soeharto. Waktu itu, bahkan ada yang menyebut kalau Ali dan Soeharto seolah menjadi matahari kembar.</p>



<p>Ali juga bergabung dengan kelompok Petisi 50 yang berisi beberapa tokoh, termasuk Hoegeng yang buku biografinya juga baru saja Penulis tamatkan (artikel<em> review-</em>nya akan menyusul minggu depan). </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Ali Sadikin</h2>



<p>Penulis selalu suka dengan buku-buku Seri Buku Tempo yang menyorot banyak tokoh nasional secara singkat, tapi penuh dengan fakta menarik yang disusun secara cermat dan berkualitas. Bahasanya pun menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.</p>



<p>Buku <em>Ali Sadikin </em>ini pun juga masih mempertahankan hal tersebut. Namun, Penulis merasa kalau edisi yang kali ini agak repetitif hingga terkesan dipanjang-panjangkan agar memenuhi syarat untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. </p>



<p>Info yang disampaikan cuma itu-itu saja, seolah baca sinopsisnya saja sudah cukup. Entah mengapa Penulis merasa elaborasi di setiap bagiannya terasa kurang mendalam. Ini sangat berbeda dengan beberapa Seri Buku Tempo lain yang pernah Penulis baca.</p>



<p>Apakah itu karena kisah hidup Ali Sadikin memang kurang memiliki banyak cerita menarik? Rasanya tidak. Keputusan Tempo untuk mengangkat kisah Ali Sadikin sudah cukup menjadi bukti bagaimana ia memang seorang tokoh nasional yang layak dipelajari kisah hidupnya.</p>



<p>Setidaknya, Penulis jadi mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengapa Ali Sadikin dianggap sebagai seorang mantan gubernur Jakarta yang legendaris. Kiprahnya selama menjabat telah menjadi standar untuk gubernur-gubernur selanjutnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Ali Sadikin </em>dari Tim Tempo</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Feb 2020 08:02:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[parlementer]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar sejarah, baik lokal maupun internasional. Jika menemukan buku sejarah yang menarik, biasanya Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk membelinya. Salah satu seri buku sejarah favorit Penulis adalah buku-buku keluaran Tempo. Penulis hampir memiliki semua buku-bukunya, baik yang berukuran besar maupun yang kecil. Yang paling baru adalah Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959: Zaman Emas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/">Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar sejarah, baik lokal maupun internasional. Jika menemukan buku sejarah yang menarik, biasanya Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk membelinya.</p>
<p>Salah satu seri buku sejarah favorit Penulis adalah buku-buku keluaran Tempo. Penulis hampir memiliki semua buku-bukunya, baik yang berukuran besar maupun yang kecil.</p>
<p>Yang paling baru adalah <em><strong>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam?</strong> </em>Ada banyak hal menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama yang berkaitan dengan era parlementer negara Indonesia.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sama seperti Seri Buku Tempo Lainnya, buku ini merupakan semacam kumpulan dari tulisan-tulisan Tempo yang berkaitan dengan topik tertentu. Dalam buku ini, banyak penggalan fakta sejarah yang terjadi di era 50-an.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Jatuh Bangun Sebuah Eksperimen</strong> sebagai pembuka</li>
<li><strong>Lahirnya Sebuah Optimisme</strong> yang menjelaskan bagaimana kita, di tengah-tengah agresi militer Belanda, berusaha membangun negeri ini dengan sistem parlementer</li>
<li><strong>Menguji Kemandirian Mahkamah</strong>, menjelaskan betapa tangguhnya kekuatan hukum di negeri ini sebelum takhluk di tangan tentara dan kekuatan politik</li>
<li><strong>Demokrasi di Ujung Senapan</strong>, bagaimana upaya militer berusaha membubarkan parlemen yang terwujud dengan munculnya dekrit presiden</li>
</ul>
<p>Selain itu, ada juga bab yang berisikan kartu sebagai salah satu sarana kritik pada masa itu dan kolom yang berisikan pendapat beberapa pakar. Buku ini ditutup dengan beberapa halaman Epilog.</p>
<p>Beberapa hal menarik yang ada di dalam buku ini adalah bagaimana kita begitu dinamisnya pada masa-masa ini. Perdana Menteri selaku motor utama dari sistem parlementer saling silih berganti dengan cepatnya.</p>
<p>Dalam kurun waktu sekitar 9 tahun, ada enam orang berbeda yang menjadi Perdana Menteri. Diawali oleh Muhammad Natsir, diakhiri oleh Djuanda Kartawidjaja.</p>
<p>Di dalam bab Menguji Kemandirian Mahkamah, Penulis menemukan betapa idealisnya orang-orang hukum (terutama Jaksa Agung) pada masa itu.</p>
<p>Sayang, ketegasan mereka memberantas berbagai permasalahan hukum membuat gerah banyak pihak, sehingga perlahan taji mereka pun menumpul. Efeknya terasa sampai hari ini.</p>
<p>Selain itu, ada satu bagian kecil yang menceritakan bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa mendapatkan perlakuan rasis. Di sini Penulis sadar, bahwa permasalahan diskriminasi ras telah ada sejak republik ini berdiri.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959</em></h3>
<p>Demokrasi Liberal berakhir ketika Sukarno mengeluarkan dekrit presiden yang terkenal. Semenjak itu, Indonesia mengusung konsep demokrasi terpimpin yang menyerempet ke arah otoriter.</p>
<p>Sempat mendapatkan angin segar ketika Orde Lama runtuh, <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto dengan rezim Order Barunya</a> mendominasi Indonesia. Pemilu yang bergulir seolah hanya menjadi formalitas semata. Hal ini bertahan hingga reformasi pecah pada tahun 1998.</p>
<p>Apa yang membuat Penulis menyukai Seri Buku Tempo adalah tata bahasanya yang terkesan berkelas, namun tetap mudah dipahami. Pemilihan diksi yang kaya membuat Penulis kerap menemukan kosa kata yang baru.</p>
<p>Penulis hanya menyayangkan bagian Kolom mendapatkan tempat yang cukup banyak. Bukannya tidak suka membaca pendapat para ahli, tapi Penulis lebih menikmati hasil reportase wartawan Tempo.</p>
<p>Ada banyak fakta menarik, yang anehnya, masih relevan dengan kita di hari ini. Paling mudah adalah melihat adanya diskriminasi berdasarkan SARA. Lemahnya penegakan hukum? Masih terjadi hingga hari ini.</p>
<p>Buku ini membuktikan bahwa kejadian di masa lampau bisa dipakai sebagai pembelajaran agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali, walaupun pada kenyataannya masih banyak kesalahan sama yang kita lakukan.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan, terutama yang tertarik dengan perjalanan sejarah bangsa ini dan ingin belajar dari masa lalu.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Februari 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Pergulatan Demokrasi Liberal 1950-1959</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-pergulatan-demokrasi-liberal/">Setelah Membaca Pergulatan Demokrasi Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2018 06:31:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto. Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buku berwarna kuning (mungkin karena afiliasi beliau dengan warna Golkar) ini merupakan buku keempat yang penulis miliki tentang presiden kedua Indonesia yang memimpin republik selama 32 tahun, Soeharto.</p>
<p>Terlebih lagi, buku ini merupakan bagian dari Seri Buku Tempo yang penulis koleksi, dan Soeharto adalah salah satu tokoh yang penulis tunggu-tunggu untuk diulas oleh Tempo. Entah mengapa, sejarah di masa orde baru sangat menarik minat penulis.</p>
<p>Ketika membuka sampul plastik yang menyelimuti buku ini, penulis tidak berharap adanya penulisan sejarah yang disusun secara kronologis. Buku yang seperti itu sudah penulis baca pada buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi (penulis sangat sering menyebut buku ini, sehingga rasanya perlu dibuat review sendiri nantinya).</p>
<p>Benar saja, banyak bagian dalam buku ini yang melengkapi keping sejarah yang telah ada di ingatan penulis. Sebut saja bagian yang membahas ibu Tien Soeharto, anak-anak dan beberapa cucu Soeharto.</p>
<p>Selain itu terdapat pula bagian yang membahas tentang <em>dunia lain</em> melalui guru-guru spiritual Soeharto. Penulis kurang menaruh minat pada hal-hal yang berbau mistis, sehingga penulis hanya membaca sekilas ketika mencapai topik ini.</p>
<p>Tentu yang ditonjolkan di sini adalah berbagai peristiwa sejarah yang terjadi ketika orde baru, dan kebanyakan adalah peristiwa berdarah. Selain G30S dan peristiwa Malari, buku ini juga mengulas peristiwa Tanjung Priok dan pembangunan Waduk Kedungombo yang sarat kontroversi.</p>
<p>Selain itu masih banyak lagi berbagai peristiwa mulai dari bagaimana ia berhasil menjadi orang nomer satu hingga berbagai pemberontakan mahasiswa yang menyebabkan lengsernya beliau. Dilengkapi dengan foto-foto ekslusif, kita seolah benar-benar berada di lokasi kejadian.</p>
<p>Penulis hanya membutuhkan beberapa jam untuk menandaskan buku ini, menandakan bahwa buku ini berkualitas dan dikemas dalam bahasa yang tidak terlalu berat. Tim redaksi Tempo memang penulis akui lihai dalam menuliskan sejarah sehingga mudah untuk dipahami oleh pembacanya.</p>
<p>Bagi pembaca yang memiliki rasa penasaran dengan tokoh yang kerap disebut <em>The Smilling General</em> ini, penulis sangat merekomendasikan buku ini.</p>
<p>Nilainya <strong>4.5/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi, 24 Agustus 2018, terinspirasi setelah menamatkan Seri Buku Tempo: Soeharto</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/">Pelengkap Keping Sejarah Pada Seri Buku Tempo: Soeharto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/pelengkap-keping-sejarah-pada-seri-buku-tempo-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
