<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tolong Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tolong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tolong/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Oct 2023 23:48:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tolong Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tolong/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2023 23:48:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[membantu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pergi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6936</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris people come and go. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. Tidak ada yang akan benar-benar stay. Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/">People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris <em>people come and go</em>. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-mau-stay-ya-stay-kalau-mau-leave-ya-leave-bebas/">Tidak ada yang akan benar-benar <em>stay</em></a>.</p>



<p>Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah respons kita terhadap kepergian mereka.</p>



<p>Namun, pada suatu saat, Penulis menangkap ada makna lain dari frase <em>people come and go</em>. Untuk membedakan, Penulis akan menuliskannya dengan <em>people come, people go</em>. <strong>Datang ketika butuh kita, tetapi pergi ketika kita yang butuh</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Datang Ketika Butuh Kita</h2>



<p>Di media sosial akhir-akhir ini sedang viral tentang &#8220;pinjam dulu seratus&#8221; yang biasanya dibalut dalam bentuk pantun. Ini adalah sebuah kalimat horor ketika ada orang datang ke kita untuk meminjam uang, yang biasanya sulit untuk kembali.</p>



<p>Seringkali, orang-orang yang seperti ini adalah orang yang hanya datang ke kita ketika mereka merasa butuh. Tidak melulu tentang pinjan uang, tapi bisa juga butuh bantuan untuk hal lain. Ketika sedang tidak butuh, mereka seolah-olah tidak kenal dengan kita. </p>



<p>Dalam hidup, rasanya hampir semua manusia pernah bertemu dengan tipe orang yang seperti ini. Lantas, bagaimana menghadapi mereka? Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah mau dimanfaatkan orang lain begitu saja atau memberi batasan yang jelas.</p>



<p>Jika niat hati ingin menolong dan bermanfaat tanpa peduli pikiran orang lain, bagus. Tidak semua orang punya ketulusan hati seperti ini. Toh seperti <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pada-akhirnya-kebaikan-yang-kita-lakukan-akan-kembali-ke-diri-sendiri/">kata Tanjiro Kamado</a> dari anime <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/berempati-ke-villain-ala-demon-slayer/">Demon Slayer</a></em>, kebaikan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali ke diri sendiri.</p>



<p>Namun, jika belum bisa mencapai level tersebut, menolak untuk dimanfaatkan juga tidak salah. Apalagi, jika tenaga, waktu, bahkan uang kita benar-benar terkuras untuk mereka. Mengetahui batasan diri juga dibutuhkan untuk kebaikan diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pergi Ketika Kita yang Butuh</h2>



<p>Datang ketika butuh saja sudah cukup problematik, apalagi jika mereka justru pergi ketika kita yang membutuhkan bantuan. Dengan beribu alasan, mereka akan menolak untuk mengulurkan tangan mereka.</p>



<p>Manusia sebagai makhluk sosial jelas harus saling membantu. Mau semandiri apapun, kita pasti tetap membutuhkan bantuan orang lain. Oleh karena itu, sejak kecil kita diajari untuk saling tolong-menolong karena memang seterikat itu kita dengan manusia lain.</p>



<p>Masalahnya, tidak semua orang memiliki kesadaran untuk membantu orang lain. Ada oknum-oknum yang berpikir kalau dirinya adalah pusat semesta, sehingga merasa acuh ketika melihat ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dirinya.</p>



<p></p>



<p>Ketika menghadapi tipe orang yang seperti ini, rasanya lebih bijak jika kita menjaga jarak dengan mereka. Berbuat baik sih berbuat baik, tapi kalau hanya kita yang dimanfaatkan ya buat apa? Toh, masih banyak orang lain yang bisa kita tolong daripada parasit seperti mereka.</p>



<p><strong>Datang ketika kita butuh, tetapi pergi ketika kita yang butuh</strong>. Semoga saja kita selalu dihindarkan untuk bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau saling tolong-menolong.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 25 Oktober 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau frase <em>people come and go </em>bisa dimaknai lain</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/time-lapse-photography-of-people-walking-on-pedestrian-lane-842339/">Mike Chai</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/">People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kadang Dokter Pun Butuh Bantuan Dokter Lainnya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lainnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lainnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2021 13:13:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[Itachi Uchiha]]></category>
		<category><![CDATA[mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[minta tolong]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5451</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bicara soal kemandirian, Penulis merasa dirinya selama ini masih kurang. Terlalu dependent ke orang lain, entah itu ke keluarga maupun teman. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab Penulis pernah merantau jauh ke Jakarta, untuk menempa mentalnya. Penyebab kurangnya kemandirian ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, tetapi Penulis tidak ingin membahas hal tersebut di tulisan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lainnya/">Kadang Dokter Pun Butuh Bantuan Dokter Lainnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bicara soal kemandirian, Penulis merasa dirinya selama ini masih kurang. Terlalu <em><a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">dependent</a> </em>ke orang lain, entah itu ke keluarga maupun teman. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab Penulis pernah merantau jauh ke <a href="https://whathefan.com/sajak/jakarta/">Jakarta</a>, untuk menempa mentalnya.</p>



<p>Penyebab kurangnya kemandirian ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, tetapi Penulis tidak ingin membahas hal tersebut di tulisan ini. Yang ingin Penulis bagikan adalah keinginan untuk bisa belajar lebih mandiri lagi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apakah Mandiri Berarti Tidak Perlu Minta Tolong ke Orang Lain?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5455" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mandiri Tidak Butuh Orang Lain? (<a href="https://unsplash.com/@heftiba">Toa Heftiba</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang, selama ini Penulis lebih dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Penulis termasuk orang yang jarang bercerita dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">lebih banyak mendengarkan</a>. Mungkin teman-teman Penulis akan menyetujui hal ini.</p>



<p>Beberapa tahun terakhir, Penulis mencoba belajar untuk lebih membuka diri, terutama kepada orang-orang terdekatnya. Hasilnya, kadang Penulis merasa kebablasan dalam membuka diri. Mungkin, karena sebelumnya belum pernah dilakukan dan terasa menyenangkan.</p>



<p>Hal ini memicu Penulis untuk melakukan <em>reset</em> seperti dulu lagi, menjadi orang yang tertutup. Selain itu, perasaan terlalu bergantung kepada orang lain menjadi semakin besar semenjak berusaha untuk membuka diri kepada orang lain.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk menangani semua masalahnya sendirian. Kalau tidak benar-benar kepepet, rasanya Penulis akan enggan untuk minta tolong ke orang lain. Belum lagi perasaan takut merepotkan mereka.</p>



<p>Masalah tersebut termasuk dalam memperbaiki kekurangan diri dan mendorong diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Penulis merasa harus bisa melakukannya sendiri, walau sisi negatifnya akan membuat Penulis lebih mudah merasa stres.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Analogi Seorang Dokter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5453" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dokter Juga Butuh Dokter Lainnya (<a href="https://www.viki.com/tv/31066c-doctors">Viki</a>)</figcaption></figure>



<p>Saat mendiskusikan hal ini kepada kawan dekat Penulis, ia memberikan satu analogi yang ia gunakan untuk meng<em>-counter </em>keinginan Penulis di atas:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Kamu dokter, kalo sakit apa harus selalu kamu sendiri yang ngobati, apa pasti kamu bisa ngobati diri sendiri?&#8221;</p></blockquote>



<p>Masalah mandiri dan minta tolong ke orang lain memang bisa menggunakan analogi dokter ini. Kita memang harus belajar mandiri, seperti berusaha minum obat atau mencari cara sendiri untuk bisa sembuh karena kita punya ilmunya.</p>



<p>Akan tetapi, ada titik di mana kita tidak bisa mengobati penyakit tersebut sendirian. Bahkan seorang dokter pun, yang terbiasa mengobati pasien, belum tentu bisa mengobati dirinya sendiri. Ia terkadang harus minta tolong bantuan dokter lainnya yang mungkin lebih ahli.</p>



<p>Minta tolong menjadi salah jika kita menjadi manja dan ketergantungan kepada orang lain. Hanya bersin sekali saja, langsung ingin seharian rebahan dan minta orang lain untuk menyiapkan makanan dan minuman hangat seolah menderita penyakit berat. Ini jelas salah.</p>



<p>Artinya, mandiri tidak sama dengan melakukan semuanya sendirian. Mandiri tidak sama dengan menolak bantuan orang lain karena merasa lemah jika melakukannya. Mandiri adalah mengetahui kapan harus menyelesaikan masalah sendirian, kapan harus minta tolong ke orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jangan Menanggung Semuanya Sendirian</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5454" width="739" height="492" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lain-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 739px) 100vw, 739px" /><figcaption>Itachi Uchiha (<a href="https://twitter.com/uchihassasusaku/status/1286689589487435780">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Begitu membaca &#8220;teguran&#8221; dari kawan tersebut, Penulis pun langsung teringat nasihat Itachi Uchiha kepada <a href="https://whathefan.com/animekomik/memaknai-kesepian-ala-naruto-dan-sasuke/">Naruto Uzumaki</a>. Ia berkata yang terjemahannya kurang lebih seperti ini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Tak peduli akan menjadi seberapa kuat kamu, jangan pernah mencoba untuk menanggung semuanya sendirian. Aku pernah mencoba menanggung semuanya sendirian dan aku gagal.&#8221;</p></blockquote>



<p>Penulis pun tersenyum setelah menyadari ini semua. Menjadi mandiri bukan berarti kita tidak boleh meminta tolong ke orang lain. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah, sehingga sifat ketergantungan itu sebenarnya melekat pada kita.</p>



<p>Hanya kita yang mampu mengukur sendiri sampai mana batas kemampuan kita. Jangan terlalu dimanja, tapi juga jangan terlalu dipaksakan. Jika kita sudah merasa kewalahan, tidak ada salahnya meminta bantuan ke orang lain.</p>



<p>Minta tolong ke orang lain bukan berarti kita lemah dan merasa orang yang dimintai orang lain lebih kuat. Dengan minta tolong, artinya kita menerima kekurangan diri sendiri dan menyadari kalau kita hanyalah makhluk biasa.</p>



<p>Itachi, setelah menyadari dirinya gagal karena menanggung semuanya sendirian, akhirnya memutuskan untuk meminta tolong ke Naruto untuk menghentikan perang dunia ninja sekaligus menyelamatkan Sasuke. </p>



<p>Itachi juga mengingatkan kepada Naruto jangan sampai ia melupakan teman-temannya. Jika sampai Naruto melupakan teman-temannya, ia akan menjadi orang yang arogan dan egois, sehingga ia tidak ada bedanya dengan Madara yang menjadi <em>main villain </em>di serial tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis merasa dirinya terlalu bergantung kepada orang lain, iya. Penulis ingin belajar hidup lebih mandiri lagi, iya. Penulis ingin berhenti terlalu banyak minta tolong ke orang lain, iya, setidaknya sampai Penulis merasa mentok dan tidak bisa menyelesaikan suatu permasalahan.</p>



<p>Nasihat dari teman Penulis menyadarkan kalau upaya Penulis melakukan semuanya sendirian jelas akan banyak gagalnya. Hampir tidak ada manusia yang bisa menanggung semua beban sendirian. Manusia membutuhkan manusia lainnya, karena kita makhluk sosial.</p>



<p>Oleh karena itu, tulisan ini Penulis buat untuk mengingatkan dirinya untuk terus berusaha menjadi orang yang lebih mandiri lagi, tapi tanpa perlu menekan dirinya terlalu keras hingga menolak bantuan dari orang lain.</p>



<p>Manusia itu hakikatnya makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, kita tidak akan mampu menanggung semuanya sendirian. Kita harus mengakui kalau kita membutuhkan manusia lainnya, tanpa perlu jadi ketergantungan terhadap mereka.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 22 November 2021, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dekat</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@nci">National Cancer Institute</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lainnya/">Kadang Dokter Pun Butuh Bantuan Dokter Lainnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-dokter-pun-butuh-bantuan-dokter-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menolong Orang Secara Berlebihan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Sep 2019 23:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berlebihan]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2667</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis. Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini. Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang gemar menolong orang lain. Sebisa mungkin, penulis selalu berusaha ada untuk orang-orang yang membutuhkan penulis.</p>
<p>Penulis merasa lebih pandai menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan menyelesaikan permasalahan sendiri. Nampaknya, banyak orang yang mengalami problematika seperti ini.</p>
<p>Hanya saja, terdapat sebuah masalah yang penulis hadapi ketika menolong orang lain, terutama untuk orang-orang yang penulis sayangi.</p>
<h3>Menolong Secara Berlebihan</h3>
<p>Terkadang, keinginan penulis untuk menolong orang lain itu terlihat berlebihan, melebihi yang dibutuhkan orang tersebut. Akibatnya, orang tersebut justru merasa risih dengan bantuan yang telah diberikan.</p>
<p>Beberapa hari terakhir ini, penulis merenungi hal ini dalam-dalam. Ternyata, berlebihan dalam membantu pun bisa berdampak kurang baik. Memang benar, <strong>tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan</strong>.</p>
<p>Termasuk jika kita ingin memotivasi atau menyemangati orang lain. Jika terlalu berlebihan, bisa-bisa orang tersebut justru akan merasa <em>down </em>alih-alih menjadi semangat.</p>
<p>Mendorong orang lain terlalu keras bisa membuatnya terjungkal, bukan membuatnya maju beberapa langkah ke depan. Karena membuatnya terjatuh, wajar jika mereka justru balik marah ke kita.</p>
<p>Selain itu, keinginan baik kita tidak selalu bisa dimengerti oleh orang lain. Salah satu alasannya adalah sifat kita yang berlebihan tadi, sehingga mereka salah menangkap maksud baik kita.</p>
<p>Biasanya, kita akan memberi pertolongan secara berlebihan ini untuk orang yang kita sangat sayangi. Kita tentu tidak ingin orang tersebut merasa kesusahan ataupun bersedih hati, sehingga kita seolah ingin berbuat apapun untuk menolongnya.</p>
<p>Padahal, mungkin mereka butuh ruang untuk sendiri dan sedang tidak membutuhkan pertolongan kita. Parahnya, jika sedang melihat mereka seperti ini, kita justru semakin gencar memberikan bantuan yang justru membuatnya semakin jengkel.</p>
<p>Hasrat untuk menolong secara berlebihan yang penulis miliki ini bisa jadi karena <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">rasa takut merasa sendiri</a> yang penulis derita. Harapannya dengan menolong orang lain, kita akan bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain.</p>
<p>Tapi penulis telah menyadari, bahwa justru menolong secara berlebihan ini bisa merusak hubungan dengan orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin didorong terlalu keras, kecuali karena keinginan diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis akan tetap berusaha mendedikasikan hidupnya untuk bisa membantu orang lain. Sebagai makhluk sosial, penulis memahami kita harus selalu saling tolong menolong.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga harus berusaha tidak memberikan bantuan melebihi yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang tersebut yang berdampak buruk bagi satu sama lain.</p>
<p>Bagi pembaca sekalian, mari tolong menolong secara wajar tanpa harus membuat orang lain merasa didorong terlalu keras. Kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayang, maka bantulah sesuai yang mereka butuhkan dan inginkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 September 2019, terinspirasi setelah merasa telah mendorong orang lain terlalu keras</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@lanophotography">lalesh aldarwish</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">Menolong Orang Secara Berlebihan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komentar Warga Negara Berkembang</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2019 12:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bersih-bersih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2094</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar netizen kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita. Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar <em>netizen</em> kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita.</p>
<p>Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti itu bisa memicu pro kontra di kalangan <em>netizen</em> dan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">menjadi viral</a>.</p>
<h3>Kan Sudah Bayar!</h3>
<p>Tentu yang menarik adalah dari sisi kontranya. Penulis sudah membaca beberapa komentar tersebut, dan cukup membuat penulis tersenyum kecil dengan pola pikir mereka.</p>
<p><div id="attachment_2095" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2095" class="size-large wp-image-2095" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg" alt="" width="800" height="441" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-768x423.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2095" class="wp-caption-text">Makan di Restoran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@wadeaustinellis">Wade Austin Ellis</a>)</p></div></p>
<p>Secara garis besar, mereka menolak kampanye tersebut karena merasa dirinya sudah bayar mahal-mahal. Untuk apa mereka mengeluarkan uang jika mereka juga harus membereskan sisa makanan mereka sendiri?</p>
<p>Selain itu, ada juga berasumsi apabila seandainya mereka melakukan apa yang diminta, lantas apa kerja para pelayan? Jadi <em>gabut </em>dong? Ada pula yang langsung menuduh restoran tersebut hanya ingin mengeruk keuntungan lebih besar lagi alias meningkatkan omset.</p>
<p>Terlepas dari berbagai prasangka yang dilontarkan oleh <em>netizen </em>dan tujuan kampanye dari restoran tersebut, hal ini patut menjadi renungan kita bersama.</p>
<blockquote><p><em>Apakah karena sudah membayar, kita tidak boleh membantu orang lain dengan melakukan hal-hal kecil yang tidak membutuhkan waktu lama?</em></p></blockquote>
<h3>Membantu Orang Lain</h3>
<p>Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi penulis berusaha membiasakan diri untuk membersihkan meja makan setelah makan. Di mana pun, mau di restoran ataupun warteg. Ayah penulis yang mengajarkan dan mencontohkan hal ini.</p>
<p><div id="attachment_2096" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2096" class="size-large wp-image-2096" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2096" class="wp-caption-text">Membantu Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@bimoluki02">Bimo Luki</a>)</p></div></p>
<p>Menumpuk piring dan gelas yang kosong, mengelap meja dengan tisu, hingga mengembalikan posisi kursi ke tempat semula. Meskipun tidak seberapa, penulis yakin hal tersebut sudah membantu pelayan tempat makan yang penulis singgahi.</p>
<p><em>Tapi kan kita udah bayar mahal-mahal!</em></p>
<p>Kalau pola pikiran kita terlalu duniawi dan berpusat pada uang, pemikiran seperti itu pasti muncul. Mungkin kita lupa ada yang namanya <strong>Pahala </strong>sebagai modal kita hidup di akhirat kelak. Bukankah telah tertulis bahwa setiap perbuatan baik akan diganjar oleh pahala?</p>
<p>Menolong orang lain adalah perbuatan baik bukan? Lagipula, hal tersebut bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, lantas mengapa harus didebat? Jika tetap <em>kekeuh</em>, ya minimal enggak perlu <em>nyinyir </em>di media sosial.</p>
<p><em>Ini kan cuma akal-akalan restoran kapitalis buat menarik keuntungan lebih besar! Mereka mau PHK karyawannya besar-besaran!</em></p>
<p>Penulis akan bertanya balik. Keuntungan apa yang akan didapat oleh mereka? Memangnya pelayan restoran tersebut enggak punya <em>jobdesk </em>bersih-bersih yang lain? Ada bukti mereka akan melakukan PHK ke karyawannya?</p>
<p>Terkadang kita sering terjebak dengan <a href="http://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">teori konspirasi</a> yang belum tentu benar. Daripada terus menerus berprasangka buruk, lebih baik kita niatkan saja tindakan bersih-bersih tersebut untuk membantu orang lain, minimal meringankan kerja para pelayan restoran.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika tetap tidak ingin melaksanakan kampanye tersebut, ya udah, enggak perlu makan di restoran tersebut. Banyak kok restoran mewah yang tidak akan membiarkan pelanggannya membersihkan mejanya sendiri.</p>
<p>Bagi yang ingin melaksanakan budaya bersih-bersih ini, bagus, pertahankan. Tidak perlu merendahkan orang yang menolak melakukannya. Mengingatkan wajib, tapi sewajarnya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2019, terinspirasi dari viralnya komentar <em>netizen </em>tentang kampanye budaya beres-beres salah satu restoran cepat saji.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@tigerrulezzz">Brian Chan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[santun]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua. Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.</p>
<p>Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah <strong>maaf</strong>, <strong>tolong</strong>, dan <strong>terima kasih</strong>. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.</p>
<p><strong>Maaf</strong></p>
<p>Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata <strong>maaf</strong>. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak <em>semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang</em>.</p>
<p>Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak <strong>baper</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1616" class="size-large wp-image-1616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash.jpg 1800w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1616" class="wp-caption-text">Photo by Tim Mossholder on Unsplash</p></div></p>
<p>Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.</p>
<p>Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata <strong>permisi</strong>, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.</p>
<p>Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.</p>
<p><strong>Tolong</strong></p>
<p>Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata <strong>tolong </strong>harus terucap.</p>
<p>Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di <em>chat</em>. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.</p>
<p>Alih-alih berkata &#8220;mas, tolong save ya&#8221;, mereka justru hanya berkata &#8220;mas save&#8221;. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.</p>
<p><div id="attachment_1617" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1617" class="size-large wp-image-1617" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg" alt="" width="1024" height="735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-768x551.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-356x255.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash.jpg 1097w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1617" class="wp-caption-text">Photo by Dane Deaner on Unsplash</p></div></p>
<p>Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.</p>
<p>Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.</p>
<p>(Peribahasa Jawa <em>kebo nyusu gudhel </em>yang bermakna <strong>yang tua belajar kepada yang muda</strong> benar-benar kerap terjadi di era ini)</p>
<p>Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.</p>
<p><strong>Terima Kasih</strong></p>
<p>Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, <strong>terima kasih </strong>bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.</p>
<p><div id="attachment_1618" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1618" class="size-full wp-image-1618" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-356x244.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1618" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.</p>
<p>Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah <strong>sama-sama</strong>. Bisa juga dengan kata sederhana seperti <em>oyi, siap, yuhuu</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.</p>
<p>Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.</p>
<p>Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>chat</em> dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/VZILDYoqn_U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Caleb Woods</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sorry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
