<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Andrea Hirata Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/andrea-hirata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/andrea-hirata/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Oct 2022 14:59:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Andrea Hirata Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/andrea-hirata/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2022 14:56:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[Brianna dan Bottomwise]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6091</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar karya-karya Andrea Hirata, tentu sudah menjadi semacam &#8220;kewajiban&#8221; bagi Penulis untuk membeli jika ada judul baru. Oleh karena itu, tanpa membaca sinopsisnya (karena memang tidak pernah ada), Penulis pun membeli Brianna dan Bottomwise. Sungguh Penulis seperti membeli kucing dalam karung, karena bagian belakang buku ini hanya sebuah testimoni dan pujian untuk Andrea Hirata, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai penggemar karya-karya <strong>Andrea Hirata</strong>, tentu sudah menjadi semacam &#8220;kewajiban&#8221; bagi Penulis untuk membeli jika ada judul baru. Oleh karena itu, tanpa membaca sinopsisnya (karena memang tidak pernah ada), Penulis pun membeli <em><strong>Brianna dan Bottomwise</strong></em>.</p>



<p>Sungguh Penulis seperti membeli kucing dalam karung, karena bagian belakang buku ini hanya sebuah testimoni dan pujian untuk Andrea Hirata, sama seperti judul-judul lainnya mulai <em>Ayah </em>hingga <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/">Guru Aini</a></em>.</p>



<p>Setidaknya, di akun Instagram Bentang yang menjadi penerbit buku ini, ada <em>clue </em>kalau novel ini memiliki tema musik. Wah, berarti sama dengan trilogi <em>Rapijali</em>, tapi dengan <em>style </em>khas Hirata? Tanpa perlu basa basi lagi, inilah ulasan Penulis tentang <em>Brianna dan Bottomwise</em>!</p>



<p class="has-text-align-center"><span style="color:#9e0b0f" class="has-inline-color"><strong>SPOILER ALERT</strong>!!!</span></p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Brianna dan Bottomwise</em></li><li>Penulis: Andrea Hirata</li><li>Penerbit: Bentang</li><li>Cetakan: Pertama</li><li>Tanggal Terbit: Juli 2022</li><li>Tebal: 380 halaman</li><li>ISBN: 9786022919421</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Butuh tiga bab untuk memahami kalau ternyata kata <strong>Bottomwise </strong>di judul merupakan nama seorang detektif swasta di Amerika Serikat. Butuh beberapa bab lagi untuk mengetahui kalau Brianna adalah asisten <strong>Bottomwise</strong>.</p>



<p>Berarti, novel ini berpusat pada kasus yang ditangani oleh kedua detektif tersebut? Jawabannya iya dan tidak. Iya, karena mereka menyelidiki sebuah kasus besar. Tidak, karena Penulis merasa peran mereka tidak sesignifikan itu untuk bisa menjadi judul buku.</p>



<p>Justru, <em>Brianna dan Bottomwise</em> berfokus tentang perjalanan sebuah <strong>gitar </strong>kesayangan milik musisi ternama bernama <strong>John Musiciante</strong>. Gitar tersebut dicuri darinya, membuat Musiciante kehilangan semangat bermusik bahkan menjadi depresi.</p>



<p>Bottomwise dan Brianna pun berkeliling Amerika Serikat, bahkan sampai ke Kanada dan Meksiko, untuk mengejar informasi sekecil apapun tentang gitar tersebut. Bottomwise telah berjanji kepada Musiciante untuk menemukan gitar tersebut.</p>



<p>Jejak gitar yang hilang tersebut sampai ke Indonesia. Kita akan bertemu dengan berbagai jenis orang yang turut mencatatkan namanya sebagai orang-orang yang pernah bertemu dengan gitar Musiciante tersebut.</p>



<p>Pertama ada <strong>Ameru</strong>, di mana kakaknya adalah kunci utama bagaimana gitar tersebut bisa sampai ke Indonesia karena ia membelinya di pasar loak di Amerika Serikat sana. Jatuh cinta dengan hadiah pemberian kakaknya tersebut, gitar tersebut kembali dicuri.</p>



<p>Lalu ada <strong>Alma</strong>, seorang gadis muda berbakat yang sangat lihai bermain gitar, tetapi lahir di keluarga miskin. Karena berjodoh, ia pun sempat memiliki gitar tersebut sebelum direbut paksa oleh ayahnya yang kecanduan berjudi.</p>



<p>Ada juga <strong>Pak Mu</strong>, seorang tua yang linglung dan bekerja untuk sebuah <em>band </em>sirkus. Ketika mendengarkan suara gitar tersebut, ia langsung teringat ayah dan ibunya. Sayang, perjumpaannya dengan gitar tersebut hanya sebentar. </p>



<p>Lantas, gitar kembali mengalami perjalanan ke sana kemari dengan perlakuan yang sangat buruk, hingga sampai di tangan Arsyad Amrullah bin Ahmadin Soelaiman atau yang lebih sering dipanggil <strong>Sadman </strong>saja.</p>



<p>Sadman merupakan orang bertelinga kuali (tidak bisa bermusik), tetapi memiliki cita-cita tinggi untuk memiliki Orkes Melayu. Diajaknya pula teman-temannya untuk mewujudkan impiannya tersebut, padahal mereka juga sama-sama bertelinga kuali.</p>



<p>Ketika gitaris mereka Sekunder tidak bisa manggung karena gitarnya yang bernama <em>Happyness</em> rusak, Sadman pun membeli gitar tersebut tanpa mengetahui asal usulnya sebagai pengganti. Ternyata, gitar tersebut malah dianggap bawa sial buat mereka.</p>



<p>Yang mencari gitar tersebut bukan hanya Brianna dan Bottomwise. Di Indonesia, ada yang mengetahui nilai asli dari gitar tersebut dan berusaha untuk menemukannya. Mereka dipanggil <strong>Mafia Musik</strong>, <strong>Korup 1</strong>, dan <strong>Korup 2</strong>.</p>



<p>Bottomwise tentu mendapatkan informasi kalau gitar itu ada di Indonesia. Karena tidak bisa ke sana langsung, ia meminta bantuan &#8220;The Terong Brothers&#8221; bernama Hamzah dan Baharudin. Hasilnya, cukup acak kadut.</p>



<p>Lalu, bagaimana akhir dari perjalanan gitar tersebut? Apakah Bottomwise dan Brianna berhasil menemukannya dan mengembalikannya ke John Musiciante? <em>Spoiler</em>-nya cukup sampai di sini, tetapi di bawah ada <em>spoiler </em>lagi!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise</h2>



<p>Saat membaca bab-bab awal, Penulis cukup menekuk alisnya karena merasa cukup bingung dengan latar waktunya. Ternyata, latar waktunya memang tidak linier ala film <em>Dunkirk</em>. Selain itu, tidak ada keterangan tahun seperti yang bisa ditemukan di novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Laut Bercerita</a></em>.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, fokus utama dari novel ini adalah perjalanan gitar milik John Musiciante yang dicuri. Oleh karena itu, Penulis sedikit merasa heran mengapa kedua nama detektif di novel ini yang menjadi judul.</p>



<p>Kalau boleh jujur, Penulis justru merasa kalau peran mereka di novel ini tidak terlalu signifikan. Hampir nol. Memang mereka pergi ke banyak tempat untuk menemukan gitar tersebut, tetapi konklusi novel ini membuktikan kalau upaya mereka sia-sia saja.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Konklusi yang Mengecewakan</h3>



<p>Di bagian akhir novel, <em><span style="color:#9e0b0f" class="has-inline-color">spoiler alert</span></em>, gitar tersebut pada akhirnya berada di tangan Sadman dan ia menyadari siapa pemilik gitar tersebut setelah membaca majalah bekas. Dengan keluguan dan kejujurannya, ia pun mengirimkan gitar tersebut ke London, Inggris.</p>



<p>Apakah ada campur tangan Bottomwise dan Brianna atas kembalinya gitar tersebut? Tidak! Tanpa mereka pun, Sadman akan tetap mengirimkan gitar tersebut. Peran mereka hanyalah mengambil gitar tersebut dari London dan mengembalikannya ke Musiciante.</p>



<p>Konklusi ini cukup mengecewakan Penulis. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya Penulis merasa kecewa setelah membaca novel karya Andrea Hirata. Apalagi, jeda waktu dari novel terakhirnya hingga novel ini rilis cukup banyak, sehingga ekspektasi Penulis menjadi tinggi.</p>



<p>Apalagi, terdapat semacam <em>plot hole </em>karena Sadman bisa mengirim gitar tersebut ke London dengan mulus. Ia adalah orang kampung yang tidak punya banyak uang, bagaimana bisa ia punya uang untuk mengirim benda tersebut ke London?</p>



<p>Padahal, bagian akhir novel ini selalu menekankan terjadi di era-era krisis moneter tahun 1998, sehingga logikanya biaya pengiriman pun akan menjadi mahal dan tidak kondusif. Namun, Sadman sama sekali tidak memiliki kendala tersebut.</p>



<p>Andrea Hirata seolah-olah terburu-buru dalam menuliskan klimaksnya. Padahal, perjalanan Sadman mengembalikan gitar tersebut bisa menjadi cerita tersendiri. Bisa jadi dalam perjalanan tersebut, ia bertemu dengan Alma, Pak Mu, atau Ameru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi-Sisi Positif Brianna dan Bottomwise</h2>



<p>Sebagaimana novel-novel karya Andrea Hirata, <em>Brianna dan Bottomwise </em>tetap menghadirkan nuansa melayu dan komedi satir yang khas, meskipun tidak sepedas novel <em>Guru Aini</em>. Hirata tampak nyaman menggunakan karakter yang lugu dan jujur di setiap novelnya.</p>



<p>Buku ini banyak memberikan hikmah yang bisa kita petik. Tentang kejujuran, tentang meraih mimpi, tentang ikhlas melepaskan. Semuanya dibalut dengan nuansa yang tidak menggurui, seolah hanya terselip di balik kata-katanya.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga banyak sekali menyebutkan penyanyi/<em>band rock </em>zaman 70 dan 80-an. Sayangnya, pengetahuan musik Penulis, terutama untuk musik jadul tidak seluas itu, sehingga banyak yang tidak mengerti.</p>



<p>Satu hal yang patut diacungi jempol dari novel ini adalah kita bisa merasakan bagaimana Hirata benar-benar memahami tentang kota-kota di Amerika Serikat serta musik <em>rock</em>. Mungkin ia telah melakukan riset mendalam, sehingga bisa terlihat begitu menguasainya.</p>



<p>Secara pribadi Penulis paling menyukai kisah Alma yang cukup memilukan. Ia langsung jatuh cinta dengan gitar milik Musiciante, dan dipaksa pula berkorban gara-gara ayahnya. Gara-gara itu, ia sempat tidak mau mendengar musik sama sekali.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Brianna dan Bottomwise </em>direncanakan akan menjadi dwilogi, sehingga mungkin akan ada penjelasan lebih lanjut mengenai keterkaitan antara karakternya, termasuk mengapa Bottomwise dan Brianna menjadi judul novel ini.</p>



<p>Meskipun merasa kecewa dengan novel ini, Penulis bisa memastikan kalau dirinya akan tetap membelinya karena sudah kadung jatuh hati kepada karya-karya Andrea Hirata. Hanya saja, kalau kualitasnya terus memburuk, bukan tidak mungkin Penulis akan berhenti.</p>



<p>Satu hal lagi yang Penulis keluhkan tentang novel ini, astaga, apalagi kalau bukan katalog iklan buku Andrea Hirata yang hampir 50 halaman sendiri di bagian belakang buku. Astaga, semua orang sudah tahu kok betapa populernya nama dan karya Anda!</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 26 Oktober 2022, teinspirasi setelah membaca <em>Brianna dan Bottomwise</em> karya Andrea Hirata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Guru Aini</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Feb 2020 07:05:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Aini]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-Orang Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3445</guid>

					<description><![CDATA[<p>Andrea Hirata adalah salah satu penulis buku favorit Penulis. Penulis tidak perlu membaca sinopsis ceritanya untuk membeli buku-buku terbarunya. Selain karena memang tidak ada, Penulis sudah terlanjur jatuh cinta dengan gaya bercerita Hirata. Oleh karena itu, Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk pre-order novel terbaru Hirata, Guru Aini. Apalagi, novel ini merupakan prekuel dari novel Orang-Orang Biasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/">Setelah Membaca Guru Aini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Andrea Hirata </strong>adalah salah satu penulis buku favorit Penulis. Penulis tidak perlu membaca sinopsis ceritanya untuk membeli buku-buku terbarunya. Selain karena memang tidak ada, Penulis sudah terlanjur jatuh cinta dengan gaya bercerita Hirata.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk <em>pre-order </em>novel terbaru Hirata, <strong><em>Guru</em> <em>Aini</em></strong>. Apalagi, novel ini merupakan prekuel dari novel <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/"><em>Orang-Orang Biasa </em></a>dan mengangkat tema pendidikan. <em>Amboi!</em></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Jika di tetralogi Laskar Pelangi ada si jenius Lintang, maka di novel ini ada seorang jenius matematika bernama <strong>Desi Istiqomah</strong>. Kepintarannya ini akan membuatnya mudah diterima di perguruan negeri jurusan apapun, termasuk kedokteran.</p>
<p>Sayangnya, Desi telah menentukan pilihan hidupnya. Setelah lulus SMA, ia ingin mengabdi untuk negeri dengan menjadi seorang guru matematika karena terinspirasi oleh gurunya sendiri, Bu Guru Marlis.</p>
<p>Desakan dari ibu dan guru sekolahnya sama sekali tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat oleh Desi. Hanya sang ayah yang mendukung cita-cita mulia tersebut.</p>
<p>Desi tetap bersikukuh untuk mengambil program D-3 yang bertujuan untuk mencetak guru-guru matematika baru. Ia tak peduli jika harus ditempatkan di tempat terpencil sekalipun.</p>
<p>Pada akhirnya, Desi pun berhasil melanjutkan pendidikannya dan menjadi guru matematika. Sebagai lulusan terbaik, Desi berhak untuk memilih untuk ditempatkan di mana. Akan tetapi, ia menolak <em>priviliege </em>tersebut dan memilih tetap ikut undian.</p>
<p>Awalnya, ia mendapatkan tempat mengajar di dekat pelabuhan besar. Melihat teman dekatnya ditempatkan di daerah yang sangat terpencil, Desi pun memutuskan untuk bertukar tempat dengannya.</p>
<p>Maka dengan bekal sepasang sepatu olahraga yang dibelikan oleh ayahnya, Desi melakukan perjalanan berat menuju sebuah pulau terpencil bernama Tanjong Tampar.</p>
<p>Di tempat tersebut, ia bersumpah tidak akan ganti sepatu menemukan anak jenius matematika di pulau tersebut. Desi hampir berhasil ketika mendapatkan seorang murid bernama <strong>Debut Awaludin</strong>.</p>
<p>Sayangnya, Debut menyia-nyiakan kejeniusannya dan memilih untuk bergabung dengan segerombolan anak kurang pintar yang bernama <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/">Rombongan 9</a>. Desi pun dibuat patah hati melihat kejadian ini dan mengubah peringainya selama bertahun-tahun ke depan.</p>
<p>Di sisi lain, ada seorang anak bernama <strong>Aini</strong> yang sama sekali tidak berbakat matematika. Jika disuruh mengerjakan soal ke depan, perutnya akan langsung terasa sakit.</p>
<p>Kejadian ini terus berlangsung hingga ia masuk SMA. Untungnya, ia tidak masuk ke kelas Bu Desi yang terkenal karena kegalakannya di kelas.</p>
<p>Aini, yang merupakan anak dari salah satu anggota Rombongan 9 bernama Dinah, menjalani kehidupan SMA-nya bersama teman-temannya sejak SD. Sayang, sekolahnya terganggu karena ayahnya sakit keras. Ia pun terpaksa tinggal kelas.</p>
<p>Sakit ayahnya membuat Aini sadar bahwa dirinya tidak bisa terus seperti ini. Ia merasa dirinya lah yang bisa mengobati ayahnya dengan menjadi seorang dokter. Langkah pertamanya adalah menguasai matematika dan diajar langsung oleh Bu Desi.</p>
<p>Apakah Aini bakal diterima oleh Bu Desi menjadi murid kelasnya? Bagaimana cara agar Aini, yang seolah alergi dengan matematika, bisa menguasai matematika? Langsung aja <em>cus </em>baca novelnya!</p>
<h3>Setelah Membaca Guru Aini</h3>
<p>Salah satu alasan mengapa Penulis menggemari karya-karya Andrea Hirata adalah gaya bertutur khas melayu yang dimiliki, serta candaan-candaan ringan yang membuat kita akan tersenyum. Kedua hal tersebut dimiliki oleh novel <em>Guru Aini</em> yang satu ini.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis menangkap kritik sosial pada karya yang satu ini mengenai pemerataan pendidikan kita. Perjalanan berat yang dialami oleh Bu Desi ke Pulau Tanjong Tampar menunjukkan hal tersebut.</p>
<p>Tidak hanya itu, pihak sekolah juga terlihat kesulitan mencari tenaga mengajar, khususnya matematika. Ada guru yang diminta menunda pensiunnya, ada guru yang mengajar bukan bidangnya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Alur ceritanya sendiri berjalan cepat, hampir tidak ada adegan yang digunakan untuk mengulur-ulur durasi. Penulis bisa menamatkan novel ini kurang dari tiga jam.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa novel ini kurang padat dan sebenarnya bisa dijadikan satu buku dengan novel <em>Orang-Orang Biasa</em>. Perbedaan tema mungkin menjadi alasan mengapa akhirnya novel ini dibagi menjadi dua tulisan.</p>
<p>Kekurangan lain dari novel ini, sama seperti <em>Orang-Orang Biasa</em>, adalah tebalnya bagian katalog karya-karya Andrea Hirata di 1/8 belakang buku. Seolah sinopsis di bagian sampul belakang tidak cukup menunjukkan eksistensi sang penulis.</p>
<p>Sebagai seorang penulis yang telah memiliki nama, seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu dilakukan karena hanya akan membuat pembaca merasa risih.</p>
<p>Kita semua tahu novel <em>Laskar Pelangi </em>telah dicetak di banyak negara, kita tidak perlu tahu lagi setiap membeli novel-novel karyanya. Penulis tidak tahu apakah ini bagian dari promosi penerbit atau sekadar bentuk narsistik sang penulis.</p>
<p>Terlepas dari kekurangannya, Penulis merekomendasikan novel ini untuk semua kalangan, terutama yang tertarik dengan bidang pendidikan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Guru Aini </em>karya Andrea Hirata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/">Setelah Membaca Guru Aini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2019 16:47:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Hirata]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-Orang Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar karya-karya Andrea Hirata. Semua karyanya sudah penulis baca. Oleh karena itu, sewaktu tahu Andrea Hirata merilis novel baru berjudul Orang-Orang Biasa, penulis tanpa berpikir panjang langsung membelinya. Keputusan yang tepat, karena novel ini langsung menjadi salah satu novel favorit penulis. SPOILER ALERT! Apa Isi Buku Ini? Menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/">Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar karya-karya <strong>Andrea Hirata</strong>. Semua karyanya sudah penulis baca. Oleh karena itu, sewaktu tahu Andrea Hirata merilis novel baru berjudul <strong>Orang-Orang Biasa</strong>, penulis tanpa berpikir panjang langsung membelinya.</p>
<p>Keputusan yang tepat, karena novel ini langsung menjadi salah satu novel favorit penulis. <strong>SPOILER ALERT!</strong></p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan gaya bahasa melayu khas Hirata, novel ini bercerita dari dua sisi. Ini menjadi salah satu poin mengapa penulis menyukai novel ini.</p>
<p>Pertama, dari sisi seorang <strong>Inspektur Abdul Rojali</strong> yang mengeluh tentang sedikitnya jenis kejahatan yang terjadi di kampungnya, <strong>Belantik</strong>. Ia ditemani oleh sersannya yang setia, <strong>Sersan P. Arbi</strong>.</p>
<p>Kedua, adalah sekelompok anak SD pecundang yang kerap dirundung dan tak pernah pandai di kelasnya. Mereka adalah <strong>Honorun</strong>, <strong>Salud</strong>, <strong>Junilah</strong>, <strong>Handai</strong>, <strong>Tohirin</strong>, <strong>Rusip</strong>, <strong>Nihe</strong>, <strong>Dinah</strong>, <strong>Sobri</strong>, dan <strong>Debut Awaludin</strong>.</p>
<p>Awalnya, penulis mengira bahwa kisah ini akan mirip dengan <em>Laskar Pelangi </em>yang menceritakan kehidupan orang-orang miskin tapi ingin giat bersekolah. Ternyata, penulis salah.</p>
<p>Mereka bersepuluh tidak ada yang sukses, paling mentok lulus SMA. Ada yang berjualan mainan, ada yang bukan usaha, ada yang jadi motivator dadakan, dan lain sebagainya. Mereka hanyalah <em>orang-orang biasa</em> yang tak penting.</p>
<p>Justru yang kerap merundung mereka lah yang lebih sukses, yakni <strong>Trio Bastardin </strong>dan<strong> Duo Boron</strong>. Trio Bastardin mengerjakan bisnis cuci uang yang disamarkan dengan berbagai bentuk usaha, sedangkan Duo Boron memiliki pabrik es.</p>
<p>Penuls tentu berusaha meraba-raba, kapan ke sepuluh orang ini akan bertemu dengan Inspektur Abdul Rojali. Ternyata, yang membuat mereka bertemu anak dari Dinah yang bernama <strong>Aini</strong>.</p>
<p>Bagaimana bisa? Jadi, Aini yang awalnya tidak pintar seperti ibunya, berubah menjadi pandai akibat usaha tekunnya belajar matematika. Hingga akhirnya, ia bisa diterima di salah satu fakultas kedokteran.</p>
<p>Masalahnya, tentu Dinah tidak bisa membayar biaya uang gedungnya yang mencapai 80 juta. Ketika membicarakan masalah ini, Debut mengusulkan sesuatu: <strong>Merampok bank</strong>.</p>
<p>Maka, sepuluh orang amatir tersebut berusaha menyusun <strong>rencana perampokan</strong> dengan menonton film-film aksi yang memiliki adegan perampokan. Selalu ada saja perbuatan konyol yang membuat penulis tertawa ringan.</p>
<p>Nah, penulis tidak ingin <em>spoiler </em>lebih jauh dari ini. Apakah sekumpulan amatir seperti mereka berhasil merampok bank? Apakah Inspektur Abdul Rojali berhasil mengendus modus kejahatan ini? Berhasilkan Aini meraih cita-citanya untuk kuliah di jurusan kedokteran?</p>
<p>Untuk menemukan jawabannya, baca bukunya ya!</p>
<h3>Mengangkat Tema Sosial</h3>
<p>Apa yang penulis suka dari Andrea Hirata? Salah satunya adalah kegemarannya mengangkat topik-topik sosial menjadi sebuah novel. Kali ini, topik yang ingin diangkat adalah masalah kriminal.</p>
<p>Membaca buku ini serasa membaca buku detektif, lengkap dengan <em>plot twist</em>-nya. Kalau boleh jujur, beberapa bagian sempat membuat penulis terkejut karena tak menyangka akan seperti itu ceritanya.</p>
<p>Penokohannya mungkin tidak sekuat Laskar Pelangi, namun cukup detail mengingat novel ini tidak terlalu tebal. Hingga akhir novel pun penulis terkadang masih susah membedakan orang-orangnya. Mungkin karena jumlahnya yang banyak.</p>
<p>Satu kekurangan dari novel ini adalah halamannya kurang banyak. Seandainya setebal novel <em>Ayah</em>, mungkin penulis akan merasa lebih puas. Apalagi, 1/8 buku ini hanya berisikan katalog karya Andrea Hirata.</p>
<p>Yang jelas, buku ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, mulai remaja hingga emak-emak. Apalagi jika pembaca gemar membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Sudah lama penulis tak merasa sepuas ini ketika menamatkan sebuah buku.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 April 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/rencana-perampokan-pada-orang-orang-biasa/">Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
