Rencana Perampokan Pada Orang-Orang Biasa

Penulis adalah penggemar karya-karya Andrea Hirata. Semua karyanya sudah penulis baca. Oleh karena itu, sewaktu tahu Andrea Hirata merilis novel baru berjudul Orang-Orang Biasa, penulis tanpa berpikir panjang langsung membelinya.

Keputusan yang tepat, karena novel ini langsung menjadi salah satu novel favorit penulis. SPOILER ALERT!

Apa Isi Buku Ini?

Menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan gaya bahasa melayu khas Hirata, novel ini bercerita dari dua sisi. Ini menjadi salah satu poin mengapa penulis menyukai novel ini.

Pertama, dari sisi seorang Inspektur Abdul Rojali yang mengeluh tentang sedikitnya jenis kejahatan yang terjadi di kampungnya, Belantik. Ia ditemani oleh sersannya yang setia, Sersan P. Arbi.

Kedua, adalah sekelompok anak SD pecundang yang kerap dirundung dan tak pernah pandai di kelasnya. Mereka adalah Honorun, Salud, Junilah, Handai, Tohirin, Rusip, Nihe, Dinah, Sobri, dan Debut Awaludin.

Awalnya, penulis mengira bahwa kisah ini akan mirip dengan Laskar Pelangi yang menceritakan kehidupan orang-orang miskin tapi ingin giat bersekolah. Ternyata, penulis salah.

Mereka bersepuluh tidak ada yang sukses, paling mentok lulus SMA. Ada yang berjualan mainan, ada yang bukan usaha, ada yang jadi motivator dadakan, dan lain sebagainya. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang tak penting.

Justru yang kerap merundung mereka lah yang lebih sukses, yakni Trio Bastardin dan Duo Boron. Trio Bastardin mengerjakan bisnis cuci uang yang disamarkan dengan berbagai bentuk usaha, sedangkan Duo Boron memiliki pabrik es.

Penuls tentu berusaha meraba-raba, kapan ke sepuluh orang ini akan bertemu dengan Inspektur Abdul Rojali. Ternyata, yang membuat mereka bertemu anak dari Dinah yang bernama Aini.

Bagaimana bisa? Jadi, Aini yang awalnya tidak pintar seperti ibunya, berubah menjadi pandai akibat usaha tekunnya belajar matematika. Hingga akhirnya, ia bisa diterima di salah satu fakultas kedokteran.

Masalahnya, tentu Dinah tidak bisa membayar biaya uang gedungnya yang mencapai 80 juta. Ketika membicarakan masalah ini, Debut mengusulkan sesuatu: Merampok bank.

Maka, sepuluh orang amatir tersebut berusaha menyusun rencana perampokan dengan menonton film-film aksi yang memiliki adegan perampokan. Selalu ada saja perbuatan konyol yang membuat penulis tertawa ringan.

Nah, penulis tidak ingin spoiler lebih jauh dari ini. Apakah sekumpulan amatir seperti mereka berhasil merampok bank? Apakah Inspektur Abdul Rojali berhasil mengendus modus kejahatan ini? Berhasilkan Aini meraih cita-citanya untuk kuliah di jurusan kedokteran?

Untuk menemukan jawabannya, baca bukunya ya!

Mengangkat Tema Sosial

Apa yang penulis suka dari Andrea Hirata? Salah satunya adalah kegemarannya mengangkat topik-topik sosial menjadi sebuah novel. Kali ini, topik yang ingin diangkat adalah masalah kriminal.

Membaca buku ini serasa membaca buku detektif, lengkap dengan plot twist-nya. Kalau boleh jujur, beberapa bagian sempat membuat penulis terkejut karena tak menyangka akan seperti itu ceritanya.

Penokohannya mungkin tidak sekuat Laskar Pelangi, namun cukup detail mengingat novel ini tidak terlalu tebal. Hingga akhir novel pun penulis terkadang masih susah membedakan orang-orangnya. Mungkin karena jumlahnya yang banyak.

Satu kekurangan dari novel ini adalah halamannya kurang banyak. Seandainya setebal novel Ayah, mungkin penulis akan merasa lebih puas. Apalagi, 1/8 buku ini hanya berisikan katalog karya Andrea Hirata.

Yang jelas, buku ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan, mulai remaja hingga emak-emak. Apalagi jika pembaca gemar membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Sudah lama penulis tak merasa sepuas ini ketika menamatkan sebuah buku.

Nilainya: 4.5/5

 

 

Kebayoran Lama, 14 April 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata