Setelah Membaca Guru Aini

Andrea Hirata adalah salah satu penulis buku favorit Penulis. Penulis tidak perlu membaca sinopsis ceritanya untuk membeli buku-buku terbarunya. Selain karena memang tidak ada, Penulis sudah terlanjur jatuh cinta dengan gaya bercerita Hirata.

Oleh karena itu, Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk pre-order novel terbaru Hirata, Guru Aini. Apalagi, novel ini merupakan prekuel dari novel Orang-Orang Biasa dan mengangkat tema pendidikan. Amboi!

Apa Isi Buku Ini?

Jika di tetralogi Laskar Pelangi ada si jenius Lintang, maka di novel ini ada seorang jenius matematika bernama Desi Istiqomah. Kepintarannya ini akan membuatnya mudah diterima di perguruan negeri jurusan apapun, termasuk kedokteran.

Sayangnya, Desi telah menentukan pilihan hidupnya. Setelah lulus SMA, ia ingin mengabdi untuk negeri dengan menjadi seorang guru matematika karena terinspirasi oleh gurunya sendiri, Bu Guru Marlis.

Desakan dari ibu dan guru sekolahnya sama sekali tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat oleh Desi. Hanya sang ayah yang mendukung cita-cita mulia tersebut.

Desi tetap bersikukuh untuk mengambil program D-3 yang bertujuan untuk mencetak guru-guru matematika baru. Ia tak peduli jika harus ditempatkan di tempat terpencil sekalipun.

Pada akhirnya, Desi pun berhasil melanjutkan pendidikannya dan menjadi guru matematika. Sebagai lulusan terbaik, Desi berhak untuk memilih untuk ditempatkan di mana. Akan tetapi, ia menolak priviliege tersebut dan memilih tetap ikut undian.

Awalnya, ia mendapatkan tempat mengajar di dekat pelabuhan besar. Melihat teman dekatnya ditempatkan di daerah yang sangat terpencil, Desi pun memutuskan untuk bertukar tempat dengannya.

Maka dengan bekal sepasang sepatu olahraga yang dibelikan oleh ayahnya, Desi melakukan perjalanan berat menuju sebuah pulau terpencil bernama Tanjong Tampar.

Di tempat tersebut, ia bersumpah tidak akan ganti sepatu menemukan anak jenius matematika di pulau tersebut. Desi hampir berhasil ketika mendapatkan seorang murid bernama Debut Awaludin.

Sayangnya, Debut menyia-nyiakan kejeniusannya dan memilih untuk bergabung dengan segerombolan anak kurang pintar yang bernama Rombongan 9. Desi pun dibuat patah hati melihat kejadian ini dan mengubah peringainya selama bertahun-tahun ke depan.

Di sisi lain, ada seorang anak bernama Aini yang sama sekali tidak berbakat matematika. Jika disuruh mengerjakan soal ke depan, perutnya akan langsung terasa sakit.

Kejadian ini terus berlangsung hingga ia masuk SMA. Untungnya, ia tidak masuk ke kelas Bu Desi yang terkenal karena kegalakannya di kelas.

Aini, yang merupakan anak dari salah satu anggota Rombongan 9 bernama Dinah, menjalani kehidupan SMA-nya bersama teman-temannya sejak SD. Sayang, sekolahnya terganggu karena ayahnya sakit keras. Ia pun terpaksa tinggal kelas.

Sakit ayahnya membuat Aini sadar bahwa dirinya tidak bisa terus seperti ini. Ia merasa dirinya lah yang bisa mengobati ayahnya dengan menjadi seorang dokter. Langkah pertamanya adalah menguasai matematika dan diajar langsung oleh Bu Desi.

Apakah Aini bakal diterima oleh Bu Desi menjadi murid kelasnya? Bagaimana cara agar Aini, yang seolah alergi dengan matematika, bisa menguasai matematika? Langsung aja cus baca novelnya!

Setelah Membaca Guru Aini

Salah satu alasan mengapa Penulis menggemari karya-karya Andrea Hirata adalah gaya bertutur khas melayu yang dimiliki, serta candaan-candaan ringan yang membuat kita akan tersenyum. Kedua hal tersebut dimiliki oleh novel Guru Aini yang satu ini.

Walaupun begitu, Penulis menangkap kritik sosial pada karya yang satu ini mengenai pemerataan pendidikan kita. Perjalanan berat yang dialami oleh Bu Desi ke Pulau Tanjong Tampar menunjukkan hal tersebut.

Tidak hanya itu, pihak sekolah juga terlihat kesulitan mencari tenaga mengajar, khususnya matematika. Ada guru yang diminta menunda pensiunnya, ada guru yang mengajar bukan bidangnya, dan lain sebagainya.

Alur ceritanya sendiri berjalan cepat, hampir tidak ada adegan yang digunakan untuk mengulur-ulur durasi. Penulis bisa menamatkan novel ini kurang dari tiga jam.

Hanya saja, Penulis merasa novel ini kurang padat dan sebenarnya bisa dijadikan satu buku dengan novel Orang-Orang Biasa. Perbedaan tema mungkin menjadi alasan mengapa akhirnya novel ini dibagi menjadi dua tulisan.

Kekurangan lain dari novel ini, sama seperti Orang-Orang Biasa, adalah tebalnya bagian katalog karya-karya Andrea Hirata di 1/8 belakang buku. Seolah sinopsis di bagian sampul belakang tidak cukup menunjukkan eksistensi sang penulis.

Sebagai seorang penulis yang telah memiliki nama, seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu dilakukan karena hanya akan membuat pembaca merasa risih.

Kita semua tahu novel Laskar Pelangi telah dicetak di banyak negara, kita tidak perlu tahu lagi setiap membeli novel-novel karyanya. Penulis tidak tahu apakah ini bagian dari promosi penerbit atau sekadar bentuk narsistik sang penulis.

Terlepas dari kekurangannya, Penulis merekomendasikan novel ini untuk semua kalangan, terutama yang tertarik dengan bidang pendidikan.

Nilainya: 4.2/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku Guru Aini karya Andrea Hirata