<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>baper Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/baper/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/baper/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:23:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>baper Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/baper/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dilarang Baper di Jakarta</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2019 16:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias mudah baper. Mendengar perkataan yang sedikit nyelekit saja bisa dimasukkan di dalam hati. Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis. Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta Penulis memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>. Mendengar perkataan yang sedikit <em>nyelekit </em>saja bisa dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis.</p>
<h3>Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta</h3>
<div id="attachment_2804" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2804" class="size-large wp-image-2804" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2804" class="wp-caption-text">Orang Jakarta (<a href="https://www.infocarfreeday.net/2018/07/19/agenda-acara-cfd-jakarta-22-juli-2018/">Info Car Free Day</a>)</p></div>
<p>Penulis memiliki saudara yang lama tinggal di Jakarta. Biasanya, kami hanya bertemu pada lebaran atau acara keluarga yang lain. Pada pertemuan singkat tersebut, penulis sedikit mengetahui bagaimana karakteristik orang Jakarta.</p>
<p>Yang paling penulis catat di dalam hati adalah bagaimana mereka berbicara. Saudara penulis cenderung berbicara apa adanya dengan intonasi yang cukup tinggi. Mungkin, istilahnya adalah <em>asal nyeblak</em>.</p>
<p>Ini berbanding terbalik dengan orang Jawa yang cenderung halus dan jarang mengungkapkan isi hati. Stereotip orang Jawa memang terkenal lebih suka memendam sesuatu.</p>
<p>Ketika penulis magang di Tangerang, lingkungan kantor semakin memperkuat hal tersebut. Mereka cenderung berbicara tanpa rem dan terkadang terselip kata-kata yang <em>nyelekit</em>.</p>
<p>Penulis pun membuat asumsi, kita tidak akan betah tinggal di Jakarta jika masih <em>baperan</em>. Kita harus menguatkan mental agar tidak mudah stres ketika mendengar perkataan orang.</p>
<p>Memang tidak semua orang Jakarta seperti ini, sehingga tidak ada maksud untuk melakukan generalisir. Contoh di atas hanya menunjukkan bagaimana penulis menyiapkan mental ketika memutuskan untuk merantau ke Jakarta.</p>
<h3>Setelah di Jakarta</h3>
<p>Pada akhirnya, takdir memutuskan untuk membawa penulis ke Jakarta. Berawal dari ajang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">Asian Games</a>, penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan di Jakarta sehingga harus menentap di sini.</p>
<p>Berbekal pengalaman interaksi dengan orang Jakarta, penulis meyakinkan diri untuk tidak mudah <em>baper</em>. Penulis beranggapan bahwa hidup di sini sama dengan memperkuat mental kita.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa sudah tidak se<em>-baper</em> ketika dulu masih sekolah ataupun kuliah. Jikapun ada perkataan yang menyakitkan, penulis tidak akan terlalu ambil pusing. Toh, penulis yakin mereka tidak bermaksud buruk. Hanya bercanda. Mungkin.</p>
<h3>Ketika Medok Diledek</h3>
<div id="attachment_2803" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2803" class="size-large wp-image-2803" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2803" class="wp-caption-text">Desy JKT48 (<a href="https://ultimagz.com/uncategorized/pentas-orang-orang-berduit-jadi-pelajaran-berharga-bagi-desy-jkt48/">Ultimagz</a>)</p></div>
<p>Salah satu bahan yang sering dijadikan bahan bercanda dari penulis adalah aksen Jawanya yang cukup kental. Maklum, seumur hidup penulis tinggal di Jawa.</p>
<p>Penulis baru menyadari bahwa dirinya medok ketika Asian Games. Teman perempuan satu tim dengan blak-blakan mengatakan cara bicara penulis medok. Dialah yang pertama kali memberi tahu hal ini.</p>
<p>Mungkin ketika awal-awal berada di Jakarta, penulis masih merasa risih ketika logat penulis ditertawakan. Akan tetapi, sekarang penulis merasa baik-baik saja. Bahkan, terkadang justru dimedok-medokkan lebih parah lagi.</p>
<p>Penulis terinspirasi oleh <strong>Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan</strong> alias <strong>Desy JKT48</strong>. Ia memiliki paras yang cantik dan senyum menawan. Yang istimewa, ia sama sekali tidak malu ketika berbicara menggunakan bahasa <em>ngapak</em>.</p>
<p>Desy berasal dari Cilacap, sehingga aksen bicaranya seperti itu. Katanya, <em>ora ngapak ora kepenak </em>atau dalam bahasa Indonesia berarti tidak ngapak tidak enak.</p>
<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube-nya, penulis merasa sedih. Ada yang berkomentar <em>padahal cantik, tapi ngomongnya bikin ilfeel</em>.</p>
<p>Hanya karena berbeda dengan kita, lantas apakah kita harus merendahkan orang lain seperti itu? Seharusnya, kita bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan mulai dari yang terkecil</a> seperti ini.</p>
<p>Enggak, penulis enggak lagi curhat kok. Teman-teman penulis di Jakarta baik-baik dan sama sekali tidak berniat buruk ketika bercanda tentang logat penulis. Mungkin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selama satu tahun lebih hidup di Jakarta, penulis telah belajar banyak sekali hal yang mungkin tak akan pernah penulis dapatkan jika tetap tinggal di Malang.</p>
<p>Salah satunya adalah bagaimana cara mengendalikan sifat mudah <em>baper </em>yang penulis miliki. Penulis merasa mental penulis makin terasah selama di sini.</p>
<p>Karena sudah tidak mudah <em>baper</em>, maka penulis tidak boleh mudah tersinggung jika ada teman yang sedang mengajak bercanda. Mau dibilang hitam sekalipun tidak boleh dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Dengan begitu, penulis pun bisa hidup lebih <em>woles </em>dan tidak gampang stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Oktober 2019, terinspirasi dari pengalaman pribadi, judul terinspirasi dari buku karya Seno Gumira Ajidarma berjudul <em>Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi</em></p>
<p>Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@zun1412?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Zun Zun </a></strong>from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/woman-wearing-brown-plaid-dress-sitting-on-chair-1187810/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2019 08:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[peka]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2294</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, baper. Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, penulis adalah tipe orang yang perasaannya halus sehingga cukup sensitif. Segala sesuatu yang terlontar dari mulut seseorang akan dimasukkan ke dalam hati. Istilah populernya, <em>baper</em>.</p>
<p>Ketika pertama kali ke Jakarta (lebih tepatnya Tangerang) pada tahun 2015, penulis menyadari bahwa sifat tersebut akan membuat penulis menderita karena orang-orang di sekeliling penulis rata-rata suka <em>ceplas-ceplos </em>kalau bicara.</p>
<p>Padahal, mereka sama sekali tidak bermaksud menyakiti kita. Ya mungkin ada yang berniat seperti itu, tapi lebih banyak yang diniatkan untuk bercanda.</p>
<p>Apalagi setelah tinggal dan bekerja di Jakarta sejak akhir tahun kemarin, penulis semakin yakin bahwa kita tidak boleh mudah <em>baper</em> ketika berada di Jakarta.</p>
<p>Bahkan, penulis pernah berkata kepada teman-teman kantor bahwa kalau mau bertahan hidup di Jakarta enggak boleh mudah <em>baper</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi <em>Baper</em>?</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara penulis bisa, setidaknya, mengurangi sifat <em>baper </em>yang dimiliki? Setidaknya ada beberapa cara yang selama ini berusaha penulis terapkan di kehidupan sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>Berusaha Berpikir Positif, Tapi Ada Batasannya</strong></li>
</ol>
<div id="attachment_2296" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2296" class="wp-image-2296 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/1.-Tanggapi-Dengan-Positif-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2296" class="wp-caption-text">Berpikir Positif (<a href="http://www.huffingtonpost.com">Huffington Post</a>)</p></div>
<div class="mceTemp"></div>
<p>Mungkin yang satu ini terdengar sangat <em>mainstream</em> karena hampir semua motivator selalu mengajak kita berpikir positif. Akan tetapi, penulis benar-benar merasakan manfaat positifnya.</p>
<p>Misal ada seorang teman yang ngomongnya sedikit nyelekit, segera pikirkan hal-hal positif seperti &#8220;dia cuma bercanda, dia cuma bercanda&#8221;.</p>
<p>Masalahnya, tidak semua bisa kita buat positif. Terkadang ada orang-orang yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">bercandanya kelewatan</a> sehingga kita tidak bisa tinggal diam begitu saja.</p>
<p>Jika memang terjadi seperti itu, <a href="https://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">katakan secara langsung</a> bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan gaya bercandanya. Abaikan jika orang tersebut malah nyeletuk &#8220;gitu aja <em>baper</em>&#8220;.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Tahan Diri</strong></li>
</ol>
<p>Jika ada sebuah ujaran membuatmu tersinggung, segeralah menahan diri dari emosi. Jika di kepercayaan yang penulis anut, penulis akan ber-<em>istighfar</em> sambil mengelus dada.</p>
<p>Penulis kerap melakukan yang namanya <em>self-hypnosis </em>dengan berbicara ke diri sendiri keras-keras. Karena tersugesti perkataan sendiri, penulis pun bisa mengontrol emosi lebih baik lagi.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Jadikan Perkataan Orang Sebagai Bahan Intropeksi</strong></li>
</ol>
<div id="attachment_2297" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2297" class="wp-image-2297 size-full" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg" alt="" width="900" height="581" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-300x194.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/3.-Jadikan-Perkataan-Mereka-Sebagai-Bahan-Intropeksi-via-thespiritscience.net_-768x496.jpg 768w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-2297" class="wp-caption-text">Jadi Bahan Interopeksi (<a href="http://www.thespiritscience.net">The Spirit Science</a>)</p></div>
<p>Mungkin perkataan orang yang menyakitkan ada benarnya. Bisa jadi orang tersebut hanya berusaha untuk mengingatkan kita. Daripada hanya sekadar sakit hati, kenapa tidak dijadikan bahan interopeksi diri?</p>
<p>Contoh, kita dibilang kampungan oleh teman. Alih-alih marah, coba tengok ke diri sendiri apa benar kita kampungan. Mungkin ada kelakuan kita yang membuat orang lain gusar sehingga melontarkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Jika memang merasa ada yang salah dengan diri kita, maka coba ubahlah sikapmu tersebut. Jika merasa tidak ada, bisa kita tanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, kenapa kita disebut secara demikian.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Bijaksana dengan Berpikiran Dewasa</strong></li>
</ol>
<p>Umur itu pasti, dewasa itu pilihan. Semakin bertambahnya usia tidak membuat kedewasaan kita bertambah pula. Kitalah yang menentukan tingkat kedewasaan yang dimiliki.</p>
<p>Kedewasaan seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu. Misal, ketika ada teman yang berulangtahun, kita tidak diajak untuk patungan kado.</p>
<p>Jika kita tidak dewasa, pasti kita akan langsung emosi dan menganggap mereka bajingan yang ingin menjadi musuh kita. Pikiran semacam ini tentu sangat kekanak-kanakan.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita sudah cukup dewasa, pasti kita cukup bijak untuk berusaha memahami situasi. Kita akan berusaha melihat alasan positif mengapa kita tidak diajak. Bisa saja, mereka membeli kado secara dadakan sehingga tak sempat mengajak kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin masih ada cara-cara lain yang belum sebutkan, tapi penulis rasa keempat hal tersebut sudah cukup untuk mengatasi sifat <em>baper</em> yang kita miliki.</p>
<p>Penulis sampai sekarang terkadang masih mudah <em>baper</em>, hanya saja sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dulu.</p>
<p>Yang namanya perasaan manusia itu bermacam-macam, ada yang halus ada yang tahan banting. Oleh karena itu, tentu bentuk perlakuannya pun harus berbeda-beda pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama. 13 April 2019, pernah dimuat di oyibanget.com dengan judul <em>Sering Diejek Baper? Berikut Cara Mengatasinya</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Anthony Tran</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">Bagaimana Cara Mengatasi Baper?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2019 00:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[bercanda]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu. Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut. Kelewat Baper Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias <em>baper</em> ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.</p>
<p>Bukan <em>baper </em>karena merasa <em>geer</em> seseorang suka dengan kita ya. <em>Baper </em>yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.</p>
<h3>Kelewat Baper</h3>
<p>Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.</p>
<p>Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?</p>
<div id="attachment_2172" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2172" class="size-large wp-image-2172" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2172" class="wp-caption-text">Kelewat Baper (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.theodysseyonline.com/girls-do-cry" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBmIH3t7fgAhXZZSsKHWVYAfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Odyssey</span></a>)</p></div>
<p>Seringkali kita dijuluki <em>baper</em> seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.</p>
<p>Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.</p>
<p>Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat <em>baper </em>yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li><strong>Selalu berpikir positif</strong>, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.</li>
<li><strong>Jangan semua dimasukkan ke dalam hati</strong>, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.</li>
<li><strong>Jadikan bahan interopeksi diri</strong>, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.</li>
<li><strong>Belajar menjadi lebih dewasa</strong>, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.</li>
<li><strong>Mendekatkan diri ke Tuhan</strong>, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan sang pencipta alam</a> ini. Jika Islam, perbanyaklah <em>istighfar </em>atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.</li>
<li><strong>Cerita ke orang</strong> <strong>lain yang dipercaya</strong>, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.</li>
</ul>
<p>Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat <em>baper</em>. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.</p>
<h3>Bercanda Kelewatan</h3>
<p>Mungkin karena sewaktu kecil sering di-<em>bully </em>oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.</p>
<p>Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.</p>
<div id="attachment_2173" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2173" class="size-large wp-image-2173" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg" alt="" width="800" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2173" class="wp-caption-text">Bercanda Kelewatan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.iamsecond.com/is-living-second-really-just-being-first-loser/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjfm8SwubfgAhVNi3AKHf4dDH0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">I Am Second</span></a>)</p></div>
<p>Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?</p>
<p>Masalahnya, tidak semua orang <em>baper </em>sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.</p>
<p>Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.</p>
<p>Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, <strong>sejak ada kata <em>baper, </em>kata maaf seolah pudar</strong>. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang <em>baper</em>. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.</p>
<p>Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.</p>
<ul>
<li><strong>Tumbuhkan empati</strong>, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.</li>
<li><strong>Berpikir sebelum berbicara</strong>, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?</li>
<li><strong>Belajar menjaga perasaan orang lain</strong>, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.</li>
<li><strong>Jangan pernah merasa lebih baik</strong>, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-<em>bully </em>adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa dirinya lebih baik</a> atau lebih hebat dari orang yang di-<em>bully</em>. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.</li>
<li><strong>Peka terhadap situasi dan memahami orang lain</strong>, karena sikap <em>baper </em>bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.</li>
<li><strong>Jangan merasa paling benar</strong>, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-<em>baper-</em>an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.</li>
</ul>
<p>Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.</p>
<p>Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai orang lain</a>, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang <em>baper </em>menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si <em>baper </em>sudah <em>lebay</em>.</p>
<p>Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah <em>baper</em>, coba dikurangi ke-<em>baper-</em>annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah <em>baper</em>.</p>
<p>Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara <em><strong>kelewat baper vs bercanda kelewatan</strong> </em>ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah&#8230;</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://everything-voluntary.com/forced-association-compounds-bullying" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQqrC8t7fgAhVWaCsKHUKqD3cQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Everything-Voluntary.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
