<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>berjalan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/berjalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/berjalan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Apr 2025 11:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>berjalan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/berjalan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 16:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-reminder]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis. Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat <strong>produktivitas menulis blog ini terasa mandek</strong>, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.</p>



<p>Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">tulisan pertama di tahun 2025</a>. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.</p>



<p>Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi,<strong> justru belakangan terasa menjadi beban</strong>. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/polemik-tiktok-shop.jpg 1280w " alt="Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-larangan-berjualan-di-tiktok-shop/">Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis karena Rasa Malas?</h2>



<p>Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.</p>



<p>Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu <strong>rasa malas</strong>? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.</p>



<p>Ketika pikiran suntuk dan dengan &#8220;liarnya&#8221; mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi <em>mood</em>. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.</p>



<p>Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.</p>



<p>Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan</h2>



<p>Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.</p>



<p>Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, <strong>Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun</strong>. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.</p>



<p>Mungkin, karena <strong>pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan</strong>. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, <em>gronjalan</em>, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah &#8220;harga&#8221; yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.</p>



<p>Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, <strong>bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh</strong>.</p>



<p>Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.</p>



<p>Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@pripicart/">Tobi via Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 01:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[introvert]]></category>
		<category><![CDATA[keluar]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[suntuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, scrolling media sosial untuk mencari sesuatu yang lucu, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam menjalani keseharian, pasti ada saja masalah atau sesuatu yang menimbulkan perasaan suntuk, bahkan stres. Semakin dipikir, semakin rasanya tidak menemukan jalan keluar untuk permasalahan tersebut.</p>



<p>Kita tentu berusaha mencari cara agar bisa berhenti merasa suntuk. Setiap inidividu tentu memiliki caranya masing-masing, seperti curhat ke teman, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> untuk mencari sesuatu yang lucu, dan lain-lain.</p>



<p>Penulis juga punya caranya sendiri dan ada beberapa. Namun, satu yang dirasa paling sering memberikan dampak positif adalah <strong>keluar dari rumah dan berjalan sejenak</strong>. Mengapa cara ini Penulis anggap ampuh untuk mengatasi rasa sumpek?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keluar Rumah Itu Berat untuk Orang Introvert (dan Pemalas)</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6356" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kamar adalah Tempat Ternyaman untuk Kaum Introvert (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fbetter%2Flifestyle%2Fback-basics-how-instituting-nightly-reading-ritual-has-become-my-ncna1071391&amp;psig=AOvVaw0lPs3gsEMcRNS8gvg3OCOY&amp;ust=1676336031650000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCMCl3L-kkf0CFQAAAAAdAAAAABAJ">NBC News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert</em>, rumah (terutama kamar) merupakan tempat ternyaman yang mampu memberikan perasaan aman. Oleh karena itu, jangan heran jika kamar para <em>introvert </em>terkesan nyaman untuk ditempati.</p>



<p>Penulis pun seperti itu. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan demi membuat <a href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-selatan-dan-barat/">kamarnya nyaman</a>. Bahkan, teman-teman Penulis sudah banyak yang memberikan &#8220;testimoni&#8221; terkait betapa nyaman kamar Penulis.</p>



<p>Apalagi, kamar Penulis juga berfungsi sebagai tempat kerja, mengingat sampai sekarang Penulis masih <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em> (WFH).</a> Jadi ada semakin banyak alasan untuk tetap berada di dalam kamar selama mungkin. </p>



<p>Namun, mau se-<em>introvert </em>apapun orangnya, pasti akan menemui titik jenuh jika terus-menerus berada di dalam kamar atau rumah. Seorang <em>introvert </em>pun butuh interaksi dengan dunia luar selama dosisnya tidak berlebihan.</p>



<p>Apalagi jika sedang suntuk, kamar yang awalnya terasa nyaman pun bisa terasa sumpek. Kondisi kamar yang biasanya dijaga kerapiannya tiba-tiba menjadi berantakan dan banyak barang berserakan tidak pada tempatnya. </p>



<p>Bisa dibayangkan, orang yang sedang sumpek tentu akan makin sumpek jika melihat sesuatu yang berantakan. Ada banyak yang berpendapat, kondisi kamar yang berantakan mencerminkan kondisi pikiran yang berantakan pula. Penulis setuju dengan itu.</p>



<p>Penulis pribadi merasa <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">dirinya cukup pemalas</a>, terutama ketika sedang banyak pikiran. Hobi yang biasanya begitu menyenangkan saja berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Hobi bersih-bersih kamar pun juga ikut ditinggalkan.</p>



<p>Jika sudah sampai berada di titik ini, biasanya Penulis akan memutuskan untuk jalan-jalan keluar sejenak untuk menyegarkan pikiran. Bagi seorang <em>introvert </em>(dan pemalas), itu adalah hal yang cukup berat untuk dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berjalan Sejenak untuk Menghilangkan Suntuk</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6357" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/02/ketika-sedang-suntuk-coba-keluar-sejenak-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Penulis Seringnya Jalan Setelah Jam Kerja (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.theguardian.com%2Fcities%2F2016%2Fdec%2F15%2Fnight-walks-great-tonic-urban-stress-your-stories-nocturnal-city&amp;psig=AOvVaw1UO8uKwq1d9HVkLxOFjwNz&amp;ust=1676336176761000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCJjNjIWlkf0CFQAAAAAdAAAAABAd">The Guardian</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak perlu jauh-jauh hingga perlu mengendarai motor, cukup berjalan-jalan di sekitar saja. Penulis sendiri biasanya melakukan jalan-jalan selepas jam kerja, sekalian membeli makan malam (yang biasanya dilakukan dengan naik motor).</p>



<p>Ketika berjalan kaki, benang kusut yang ada di dalam pikiran biasanya pelan-pelan terurai. Entah apakah ada bukti secara ilmiahnya, tapi mungkin dengan berjalan akan membantu melancarkan peredaran darah yang ujungnya membuat otak menjadi lebih jernih.</p>



<p>Berjalan kaki juga bisa memunculkan dopamin (Penulis belum riset yang membuktikan hal ini) yang membantu menimbulkan perasaan bahagia, sehingga perasaan suntuk seharian yang dirasakan juga perlahan sirna.</p>



<p>Selain itu, Penulis jarang membawa ponselnya ketika berjalan keluar. Itu Penulis lakukan agar dirinya lebih fokus pada momen saat ini tanpa terdistraksi dunia maya, walau tentu saja seringkali pikiran tetap melayang ke mana-mana.</p>



<p>Namun, dengan tidak adanya distraksi, Penulis jadi bisa memerhatikan banyak hal. Ketika membeli makan, Penulis jadi bisa memperhatikan abangnya dan bertanya-tanya banyak hal. Tidak hanya abangnya, Penulis juga memperhatikan orang lain di sekitarnya.</p>



<p>Berapa pemasukan si abang dalam sehari? Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Apakah mereka merasa bahagia? Apakah mereka merasa lelah dalam menjalani rutinitas kesehariannya? Apa yang membuat mereka tetap semangat hidup? Dan lain-lain.</p>



<p>Setelah mengamati orang lain, akhirnya muncul perasaan syukur dari dalam diri. Penulis merasa bersyukur masih diberi kerja yang relatif enak, tidak harus banting tulang dari pagi hingga malam yang membutuhkan tenaga super.</p>



<p>Mungkin banyak yang tidak setuju dengan metode &#8220;membandingkan&#8221; ini, tapi Penulis merasakan manfaatnya. Bersyukur setelah melihat keadaan orang lain rasanya tidak salah, kecuali kita jadi merasa sombong dan merendahkan pekerjaan orang lain. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Merasa suntuk atau stres itu sangat manusiawi dan wajar. Justru rasanya aneh, jika ada manusia yang tidak pernah merasakannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi hal tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.</p>



<p>Biasanya setelah berjalan-jalan sejenak, Penulis yang pikirannya menjadi lebih jernih bisa mulai beraktivitas secara normal. Penulis jadi termotivasi untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/merapikan-kamar-merapikan-diri/">merapikan kamar</a>, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Dengan begitu, Penulis pun bisa perlahan-lahan kembali produktif kembali. Contohnya adalah dengan menulis artikel ini, setelah hampir satu bulan merasa tidak <em>mood </em>untuk menulis artikel blog. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas pagi</a> yang lama ditinggalkan pun sedang dimulai kembali.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 13 Februari 2023, terinspirasi dari pikiran yang kerap menjadi lebih tenang setelah berjalan keluar</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-berbaju-coklat-berdiri-di-lapangan-rumput-coklat-dekat-badan-air-4275893/">Mateusz Sałaciak</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/">Ketika Suntuk, Coba Keluar dan Berjalan Sejenak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ketika-suntuk-coba-keluar-dan-berjalan-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2018 15:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan. Jalan menatap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan.</p>
<p>Jalan menatap lurus ke depan sama dengan masa kini, jalan mendongak sama dengan masa depan, dan jalan menunduk sama dengan masa lalu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil sekelumit hikmah dari penganalogian ini?</p>
<p>Jalan menunduk, artinya terjebak masa lalu, selalu terbayang-bayang kesalahan yang pernah diperbuat di masa lampau. Takut untuk melangkah maju karena takut melakukan hal yang sama, melakukan penyesalan-penyesalan yang percuma. Akibatnya, kita akan terlampau sering “menabrak” kenyataan hidup yang sedang dijalani dan membuat hidup tertatih-tatih.</p>
<p>Jalan mendongak, artinya memikirkan masa depan. Bukankah bagus menjadi seseorang yang visioner? Iya, namun akan buruk akibatnya jika kita hanya fokus untuk masa depan sehingga mengabaikan hidup di masa kini. Termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang berangan-angan “besok aku akan menjadi orang yang lebih baik” bukan “sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik”. Akibatnya, ia akan tersandung oleh kerikil kehidupan yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan membuatnya berhenti berjalan.</p>
<p>Jalan itu menatap lurus ke depan. Ketika kita berjalan seperti itu, kita tidak hanya melihat apa yang ada di depan kita, melainkan juga apa yang ada di bawah dan atas kita. Fokus dengan yang dikerjakan hari ini (depanmu), namun mengambil pelajaran yang telah kita alami di masa lalu (bawahmu) dan menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan (atasmu). Itulah hakikat yang bisa diambil dari sebuah aktivitas kita sehari-hari, berjalan.</p>
<p>Berjalan itu menatap lurus ke depan, bukan menunduk bukan mendongak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Februari 2018, setelah membuat konten Instagram untuk WTF</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.flickriver.com">www.flickriver.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
