Connect with us

Produktivitas

Agar WFH Tetap Produktif

Published

on

Penulis merasa bersyukur karena bisa mendapatkan privilege berupa kesempatan untuk Work From Home (WFH). Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini, terutama orang-orang yang bergantung pada pendapatan harian.

Hingga hari ini, sudah dua minggu ini Penulis bekerja dari kos. Selama dua minggu itu, Penulis ternyata mengalami kesulitan untuk menemukan ritme kerja yang tepat. Akibatnya, pola hidup Penulis jadi berantakan.

Bangun jadi siang, kerja sampai dini hari (terkadang sampai pagi), makan sering terlambat, banyak sekali yang mejadi kacau dalam keseharian Penulis.  Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari solusi dari permasalahan ini.

Mencari Akar Permasalahan

Karena tidak ingin terus berlarut-larut dalam perasaan bersalah karena kacaunya pola hidup, Penulis mencoba mencari akar permasalahannya. Setelah direnungkan, ada dua penyebab utama:

  1. HP
  2. Tidur siang

Menjadi tiga jika niat dimasukkan, tapi Penulis putuskan untuk mengabaikan variabel tersebut. Penulis akan berfokus kepada dua penyebab permasalahan yang ada di atas.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=iBxM5Nq3UyI[/embedyt]

Melalui aplikasi Quality Time, Penulis menyadari kalau penggunaan HP selama WFH benar-benar melonjak tinggi. Dalam sehari, Penulis bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam.

Karena terlalu banyak bermain HP (entah main game ataupun scroll media sosial), pekerjaan pun menjadi tertunda. Pekerjaan tertunda menyebabkan Penulis kurang tidur yang pada akhirnya membuat Penulis tidur siang.

Sampai di titik ini, Penulis sadar bahwa musuh terbesarnya adalah HP-nya sendiri.

Aplikasi-Aplikasi Penyita Waktu

Sebenarnya, Penulis bisa memanfaatkan aplikasi seperti Forest yang akan membantu kita fokus tanpa melirik HP. Sayangnya, aplikasi tersebut belum cukup untuk menjaga konsentrasi Penulis.

Melalui aplikasi Quality Time yang sudah disinggung sebelumnya, Penulis menemukan ada aplikasi-aplikasi yang paling menguras waktu Penulis. Data minggu kemarin menunjukkan angka seperti berikut:

  1. WhatsApp (19 jam 44 menit)
  2. Chess Rush (8 jam 34 menit)
  3. Instagram (4 jam 47 menit)
  4. YouTube (4 jam 28 menit)
  5. Twitter (3 jam 57 menit)
  6. Zoom (2 jam 41 menit)
  7. Samsung Internet (2 jam 26 menit)
  8. Catan Universe (1 jam 49 menit)
  9. Skype (1 jam 42 menit)

Total waktu yang Penulis habiskan dalam satu minggu adalah 58 jam 57 menit atau setara dengan 9 jam/hari. Minggu ini, jumlahnya sudah menyentuh angka 61 jam 40 menit. Padahal, masih ada hari Minggu besok dan hari Sabtu ini belum berakhir.

Dari 60 jam tersebut, Penulis banyak menghabiskan waktu pada aplikasi:

  1. WhatsApp (16 jam 8 menit)
  2. YouTube (9 jam 14 menit)
  3. Instagram (4 jam 59 menit)
  4. Twitter (4 jam 46 menit)
  5. Chess Rush (4 jam 20 menit)
  6. Risk (4 jam 6 menit)
  7. Zoom (2 jam 36 menit)
  8. WormsZone.io (1 jam 52 menit)
  9. Samsung Internet (1 jam 45 menit)

Jumlahnya, bagi Penulis, sudah terlampau tinggi. Padahal, Penulis memberi target kepada dirinya sendiri agar penggunaan HP maksimal 5 jam setiap harinya. Untungnya, Penulis menemukan sebuah aplikasi bernama AppBlock.

Sang Penyelamat

Penulis menemukan aplikasi AppBlock ini tanpa sengaja pada hari Jumat. Waktu dicoba, ternyata aplikasi ini sangat berguna untuk membatasi penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu dalam jangka waktu tertentu.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=_cHC6CLnUBc[/embedyt]

Pada hari pertama, Penulis mencoba untuk memblokir lima aplikasi: YouTube, Instagram, Twitter, Chess Rush, Risk. Penulis tidak bisa memblokir WhatsApp karena itu merupakan jalur komunikasi yang vital.

Rentang waktu yang Penulis pilih adalah pukul 09:00-18:00, sama seperti jam kantor. Hasilnya? Penggunaan HP memang berkurang walau Penulis masih membuka game dan aplikasi lain sebagai alternatif.

Masalahnya setelah jam blokir berakhir, Penulis kembali menghabiskan waktunya di depan layar. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk melakukan penambahan jam menjadi:

  • Jam Pertama: 09:00-19:00
  • Jam Kedua: 23:00-06:00

Penambahan jam kedua dilakukan agar Penulis tidak bermain HP menjelang tidur. Sudah sering terjadi kalau hendak tidur bermain HP terlebih dahulu, waktu tidur kita menjadi terus mundur.

Selain itu, Penulis juga memperketat penggunaan Instagram, Twitter, dan YouTube menjadi 30 menit tiap harinya. Bukan tiap aplikasinya, melainkan total dari ketiganya. Butuh langkah ekstrem seperti ini untuk mengubah kebiasaan buruk.

Jika Penulis bisa mengurangi penggunaan HP secara drastis, harapannya WFH minggu ketiga bisa menjadi lebih produktif dan pola hidup Penulis pun menjadi lebih baik.

Penutup

Dampak lain dari berantakannya WFH dua minggu pertama adalah terbengkalainya blog ini. Sudah hampir dua minggu Penulis tidak menulis di blog. Selain itu, aktivitas mencatat aktivitas dan uang harian juga tersendat.

Oleh karena itu, Penulis harus bisa memaksa diri untuk berubah. Selain memaksimalkan aplikasi yang sudah disebutkan di atas, Penulis juga harus lebih tegas dalam mendisiplinkan diri. Jujur, Penulis sering nyambi bekerja dengan bermain game seperti Risk dan Chess Rush.

Penulis juga akan membuat semacam daftar rutinitas harian untuk weekday dan benar-benar berkomitmen dengan daftar yang sudah dibuat. Kalau pola hidup Penulis menjadi lebih baik, yang memetik hasilnya juga diri Penulis sendiri.

Memang masih ada godaan lain seperti laptop yang membuat Penulis bisa mengakses semua yang sudah diblokir di HP. Untungnya, laptop tidak bisa diakses sambil rebahan sehingga risiko gangguannya lebih kecil.

Semoga saja dengan keras kepada diri sendiri seperti ini, Penulis bisa menjalani WFH secara lebih baik dan produktif. Kalau ada yang mau meniru metode ini, sangat boleh kok.

 

 

Kebayoran Lama, 4 April 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri yang sering kacau ketika WFH

Foto: Privy

Produktivitas

Saya Menggunakan Notion untuk Mencatat Progres Artikel Whathefan

Published

on

By

Setiap awal tahun, Penulis pasti memiliki resolusi untuk bisa menulis artikel blog lebih rutin lagi. Selain karena diingatkan tagihan hosting dan domain tahunan yang jumlahnya lumayan, Penulis juga menyadari kalau setiap tahun produktivitasnya berkurang.

Namun, pada akhirnya target tersebut sering meleset. Contohnya pada tahun ini, secara berurutan Penulis hanya menulis dua tulisan di Januari, tiga tulisan di Februari, 13 tulisan di Maret, delapan tulisan di April, dan tujuh tulisan di Mei. Total, 34 tulisan.

Penulis sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk menulis artikel. Jika dibilang tidak ada waktu, rasanya itu hanya alasan saja karena Penulis menghabiskan waktu di depan layar ponsel/tablet sambil rebahan cukup lama.

Setelah melakukan evaluasi diri, Penulis merasa kalau dirinya membutuhkan alat bantu yang bisa berperan sebagai “asisten pribadi.” Setelah mencoba berbagai platform, akhirnya Penulis merasa kalau Notion adalah asisten terbaik sejauh ini.

Membutuhkan Bantuan “Otak” Kedua

Google Keeps Kurang Efektif

Selama ini, Penulis menggunakan berbagai metode untuk mencatat ide dan progres untuk blognya ini. Namun, yang Penulis gunakan beberapa waktu ke belakang adalah Samsung Notes dan Google Keeps.

Untuk ide yang baru judul saja, Penulis sering mencatatnya di Keeps karena simpel dan bisa diakses di banyak perangkat. Kalau ingin melakukan breakdown ide dan menjabarkan apa yang ingin dibahas, baru Penulis mencatatnya di Samsung Notes agar bisa menulis dengan tangan.

Masalahnya, metode tersebut benar-benar tidak efektif. Di Keeps, seringnya ide-ide tersebut tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Akibatnya, Penulis pun sampai lupa sebenarnya ingin membahas apa dari ide tersebut.

Samsung Notes pun begitu. Karena ingin memanfaatkan fitur S-Pen dari tablet yang dimiliki, Penulis berusaha membiasakan untuk mencatat ide yang lebih jauh di Samsung Notes. Ini sempat berjalan selama beberapa bulan, tapi akhirnya berhenti karena mager.

Saat lebaran tahun ini, Penulis mampir ke toko buku dan menemukan sebuah buku berjudul Building a Second Brain karya Tiago Forte. Dari sinopsisnya yang menjelaskan betapa seringnya informasi hilang dari otak kita, Penulis jadi tertarik untuk membacanya.

Perjalanan Menemukan Platform Otak Kedua Terbaik

Buku Building a Second Brain (YouTube)

Meskipun belum selesai membaca buku tersebut, Penulis menangkap esensi utamanya yang memanfaatkan teknologi untuk menjadi otak kedua kita karena keterbatasan otak utama kita dalam menyimpan informasi. Penulis pun terdorong untuk mencari platform otak kedua ini.

Pertama, Penulis coba mengoptimalkan aplikasi yang sudah sering digunakan, yakni Google Keeps. Sayangnya, Keeps terlalu sederhana sehingga tidak bisa membuat folder sesuai kebutuhan, kita hanya bisa memanfaatkan fitur Tags.

Selanjutnya Penulis mencoba Microsoft OneNote, yang sayangnya sekali lagi memiliki keterbatasan dalam membuat folder-folder. Evernote sebenarnya memiliki fitur yang cukup lengkap, tapi sayangnya mayoritas fitur mengharuskan kita berlangganan.

Setelah itu, Penulis mencoba beberapa aplikasi lain seperti Joplin, tapi tetap saja kurang srek. Akhirnya Penulis menemukan Notion, sebuah platform yang sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proyek-proyek IT karena banjir fitur.

Penulis sempat merasa kalau Notion akan terasa terlalu overkill untuk sekadar mencatat ide artikel blog. Namun, Penulis merasa perlu untuk mencoba platform ini. Hasilnya, Penulis berhasil menemukan platform terbaik yang bisa Penulis gunakan untuk dijadikan otak kedua.

Mengapa Notion Jadi Platform Terbaik untuk Penulis?

Semua Kebutuhan dalam Satu Layar

Ada banyak alasan mengapa Penulis akhirnya menjatuhkan pilihan pada Notion. Pertama, ada banyak template yang bisa Penulis manfaatkan. Tidak hanya untuk mencatat ide, Notion juga bisa Penulis manfaatkan sebagai tracker seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Awalnya, Penulis memisahkan daftar ide beserta breakdown-nya dan progres artikel di catatan yang berbeda. Namun, setelah mencoba beberapa hari, Penulis merasa hal tersebut sama sekali tidak efektif, sehingga memutuskan untuk menjadikannya satu.

Progres dari setiap ide Penulis bagi menjadi enam bagian, yakni:

  • Ideas List: Berisi ide yang masih berupa judul saja
  • Point List: Berisi ide yang sudah di-breakdown akan ada apa saja isinya
  • Planned: Ide di Point List yang sudah dijadwalkan kapan akan tayang (sudah ditentukan deadline-nya)
  • Drafted: Ide di Planned yang sudah dibuatkan draft-nya di WordPress
  • Article Done: Ide di draft yang sudah ditayangkan
  • Social Media Done: Artikel yang sudah tayang telah dibuatkan konten media sosialnya

Karena antarmuka Notion juga menarik dan responsif, Penulis jadi merasa senang ketika menggunakannya. Bayangkan, untuk memindahkan ide dari satu bagian ke bagian lain, Penulis hanya perlu drag and drop saja tanpa ribet.

Notion juga bisa diakses di semua perangkat, yang membuatnya sangat fleksibel. Begitu Penulis menemukan inspirasi, maka Penulis tinggal mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya di Notion dengan mudah.

Karena merasa sangat terbantu, Penulis pun mencoba mengeksplorasi fitur lain dari Notion. Beberapa yang sudah Penulis ketahui adalah bagaimana kita bisa melihat tracker di atas dalam bentuk timeline dan table. Contohnya bisa dilihat di bawah ini:

Dari timeline di atas, Penulis jadi bisa melihat seberapa konsisten dirinya dalam menulis artikel blog. Sejak memutuskan untuk menggunakan Notion, Penulis sudah mencatatkan streak sebanyak 10 hari berturut-turut termasuk artikel ini.

Penulis dulu melakukan tracking menggunakan Google Sheets secara manual (dan melelahkan). Dalam catatan tersebut, terakhir kali Penulis mencatat streak sepanjang ini adalah pada bulan Oktober 2022 dengan 13 hari. Sudah selama itu Penulis inkonsisten.

Setidaknya sampai hari ini, Penulis merasa sangat terbantu dengan kehadiran Notion dan telah terbukti berhasil meningkatkan konsistensinya dalam memproduksi tulisan. Semoga saja streak ini bisa terus terjaga selama mungkin, seperti ketika awal-awal Penulis membuat blog ini.

Penutup

Menggunakan Notion untuk mengelola ide-ide blog adalah langkah pertama Penulis dalam membuat otak keduanya. Ke depannya, Penulis ingin memanfaatkan Notion lebih jauh lagi untuk keperluan mencatat.

Satu hal yang ingin Penulis segera masukkan ke dalam Notion adalah catatan-catatannya yang berkaitan dengan dunia kerja seperti SEO dan digital marketing, yang saat ini tersebar di berbagai platform dan tidak terorganisir sama sekali.

Tidak hanya yang sudah dicatat, Penulis juga ingin mencatat berbagai insight dan pengetahuan seputar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan penambahan value diri. AI adalah salah satu topik paling seksi untuk didalami.

Yang jelas, Notion benar-benar telah membantu Penulis dengan menjadi otak keduanya, walaupun saat ini masih terbatas untuk keperluan blog saja. Penulis merekomendasikan Notion untuk Pembaca yang merasa butuh aplikasi catatan dengan fitur yang berlimpah.


Lawang, 4 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya menggunakan Notion untuk blogging

Continue Reading

Produktivitas

Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas

Published

on

By

Banyak orang yang menginginkan hidup produktif. Namun, tidak banyak orang yang berhasil melakukannya. Beberapa alasannya adalah rasa malas, kurang motivasi, hingga adanya distraksi atau gangguan yang menghambat kita untuk produktif.

Rasa malas atau kurang motivasi berasal dari internal, sehingga cara mengatasinya pun mau tidak mau harus dari diri sendiri. Kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri untuk bisa mengusir hal-hal yang menghambat produktivitas tersebut.

Nah, lain halnya dengan adanya distraksi yang kerap datang dari luar atau eksternal diri kita. Bentuknya pun macam-macam. Namun, ada satu distraksi yang Penulis anggap sebagai yang terbesar sekaligus terbesar, yaitu adanya smartphone alias ponsel pintar.

Mengapa Smartphone adalah Distraksi Terbesar?

Distraksi Terbesar Saat Bekerja atau Belajar (cottonbro studio)

Selama beberapa tahun terakhir, smartphone kita terus berevolusi menjadi sebuah gawai yang sangat canggih, hingga seolah-olah kita bisa melakukan semua hal menggunakannya. Ini semakin dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang jumlahnya mungkin mencapai jutaan.

Salah satu dampak terbesar yang dihasilkan oleh smartphone adalah meningkatnya interaksi antarmanusia hingga seolah tak berbatas ruang dan waktu. Kita bisa melihat berbagai kejadian di seluruh dunia hanya dalam kedipan mata saja melalui media sosial.

Ada banyak pilihan media sosial yang bisa kita gunakan, mulai Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, hingga Pinterest. Sarana hiburan untuk menonton tayangan visual pun banyak, mulai yang gratis seperti YouTube hingga yang berbayar seperti Netflix, Disney+, Vidio, dan lainnya.

Jangan lupakan juga judul-judul game yang bisa membuat kita melupakan kehidupan kita sejenak di dunia nyata. Ada yang menyukai game kompetitif seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile, ada juga yang suka bertualang di Genshin Impact.

Masih banyak yang bisa kita lakukan melalui smartphone, seperti membaca berita, membaca komik, melihat meme, membuat konten viral, dan lain sebagainya. Banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan inilah yang membuat smartphone menjadi distraksi yang luar biasa.

Bayangkan, setelah merasa bosan dengan Instagram, beralik ke TikTok. Begitu bosan, pindah lagi ke Twitter. Bosan lagi, pindah main game. Capek, refreshing dengan menonton YouTube. Putaran aktivitas ini seolah tak pernah berhenti mengisi hari-hari kita.

Apalagi, kini semakin banyak platform yang menyediakan fitur infinity scroll di mana kita secara tak terbatas diberikan konten video pendek. Berdasarkan pengalaman Penulis, fitur ini kerap membuat kita merasa lupa waktu karena tidak tahu kapan harus berhenti.

Bagaimana agar Smartphone Tidak Menjadi Sebuah Distraksi?

Salah Satu Aplikasi yang Membantu Mengatasi Distraksi Smartphone (Dating Advice)

Ketika sedang bekerja atau belajar, kita kerap beralih ke smartphone kita dengan dalih “refreshing” karena merasa suntuk. Niatnya hanya 5 menit, tahu-tahu bertambah menjadi 50 menit. Pekerjaan pun akhirnya tertunda, menumpuk, atau bahkan tidak selesai.

Penulis kerap berniat untuk menjalani hari yang produktif, seperti menulis beberapa artikel blog, membaca buku self-improvement, atau mulai menulis novel lagi. Namun, jika sudah main smartphone dan rebahan, niat tersebut pun sirna begitu saja, kalah oleh rasa malas.

Berdasarkan poin di atas, Penulis pun menganggap kalau smartphone adalah distraksi terbesar dalam produktivitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa cara agar kita bisa menghindari distraksi tersebut semaksimal mungkin.

Kalau yang mau ekstrem, Penulis di jam kerja biasanya menjauhkan smartphone sejauh mungkin dari jangkauan. Dengan membuatnya “tidak terlihat”, rasa penasaran ingin mengeceknya pun bisa menjadi berkurang.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika merasa suntuk atau penat? Lakukan aktivitas fisik yang tidak melibatkan smartphone. Beberapa hal yang Penulis lakukan adalah baca buku, bermain bersama kucing, duduk melihat tanaman, hingga rebahan sejenak.

Seandainya tidak bisa menahan diri untuk mengecek smartphone, mungkin kita butuh bantuan aplikasi seperti Forest dan AppBlock. Bisa juga menggunakan fitur bawaan dari smartphone yang mengatur berapa jam maksimal kita menggunakan aplikasi tertentu.

Penulis merasa terbantu dengan aplikasi-aplikasi ini agar Penulis bisa berhenti membuka aplikasi-aplikasi tertentu di jam profuktif. Namun, terkadang diri kita pun “nakal” dan justru memilih untuk menghapus aplikasi-aplikasi tersebut.

Jadi, pada dasarnya semua kembali ke diri sendiri, apakah kita benar-benar ingin menghilangkan distraksi tersebut atau tidak. Kalau keinginan dan tekad kita benar-benar kuat, bahkan tanpa bantuan aplikasi pun kita bisa menyingkirkan distraksi tersebut.

Penutup

Selain smartphone, tentu masih ada distraksi lain mengingat kebanyakan aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone juga tersedia di laptop. Namun, setidaknya laptop tidak bisa digunakan sambil rebahan karena kurang nyaman dan berat.

Oleh karena itu, Penulis benar-benar berusaha membatasi penggunaan smartphone hariannya karena terbukti sangat sering membuat hari Penulis menjadi tidak produktif. Entah sudah berapa banyak waktu yang terbuang karena smartphone ini.

Penulis pun memiliki target agar penggunaan smartphone dalam sehari tidak melebihi 5 jam. Sejauh ini, target ini relatif bisa dicapai di weekday karena adanya rutinitas pekerjaan. Di weekend, angka penggunaan bisa naik walau tidak terlalu banyak.

Dengan mengurangi penggunaan smartphone, Penulis berharap bisa menjadi pribadi yang lebih produktif lagi, memiliki pola hidup yang lebih teratur, dan mampu melakukan banyak hal yang lebih bermanfaat.


Lawang, 12 Juni 2023, terinspirasi karena merasa smartphone adalah distraksi terbesar ketika dirinya ingin memiliki hidup yang produktif

Foto Featured Image: MarketWatch

Continue Reading

Produktivitas

Lari Pagi adalah Obat Insomnia Terbaik Versi Saya

Published

on

By

Dalam beberapa kesempatan, Penulis menyebutkan bahwa dirinya kerap mengalami insomnia alias sulit tidur di malam hari. Tak heran jika Penulis kerap merasa iri kepada orang-orang yang mampu tidur dengan cepat setelah meletakkan kepalanya di atas bantal.

Untuk itu, Penulis pun mulai mencoba berbagai cara agar bisa tidur cepat, mulai dari membaca buku, mengaji, minum susu, meditasi, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Sayangnya, tidak ada yang benar-benar berhasil menghilangkan insomnia.

Namun, ada satu aktivitas yang, anehnya, dilakukan di pagi hari dan mampu memberikan efek yang relatif instan. Ketika melakukannya, maka Penulis bisa tidur dengan cepat dan tidak terlalu larut. Aktivitas tersebut adalah lari pagi.

Lari Pagi, Aktivitas Ringan yang Berat untuk Dilakukan

Sebenarnya Enteng, tapi Kalah oleh Rasa Malas (Tirachard Kumtanom)

Sebenarnya, lari pagi bukanlah aktivitas yang baru Penulis lakukan. Dulu, Penulis pernah rutin selama kurang lebih tiga bulan melakukannya, sebelumnya akhirnya berhenti karena kalah dari rasa malas. Nah, baru akhir-akhir ini Penulis berusaha merutinkannya lagi.

Setelah sholat Shubuh dan mengaji, Penulis biasanya akan langsung siap-siap untuk lari pagi yang tentunya diawali dengan pemanasan. Karena daerah rumahnya cukup dingin, Penulis selalu menggunakan jaket.

Penulis tidak pernah lari pagi dengan jarah yang jauh, cukup tiga-empat kali putaran mengelilingi perumahan ditambah satu putaran untuk pendinginan. Itu pun sudah bisa menghasilkan keringat yang lumayan hingga membasahi kaus yang dikenakan.

Jika melihat aplikasi tracker, setiap pagi Penulis melangkah sebanyak 3.000 hingga 4.000 langkah, yang setara dengan 3-4 kilometer. Penulis memilih untuk lari pagi dengan jarak yang sedikit, tapi rutin.

Sebenarnya aktivitas lari pagi adalah sesuatu yang ringan, apalagi jarak yang ditempuh juga tidak terlalu jauh. Namun, aktivitas ringan tersebut menjadi berat jika kita tidak mampu mengalahkan rasa malas dari dalam diri.

Efek Instan Lari Pagi

Bangun Jadi Lebih Segar (Tirachard Kumtanom)

Penulis berhasil membuktikan bahwa lari pagi dapat membantu mengatasi insomnia secara instan. Entah bagaimana dari sisi medisnya, tapi yang jelas Penulis jadi bisa tidur cepat sekitar pukul 10:30 setiap malamnya.

Sebagai perbandingan, sebelumnya Penulis baru bisa tidur di atas jam 12 malam. Beberapa minggu terakhir Penulis sempat bolong menjalani rutinitas ini, dan akibatnya Penulis harus tidur lebih malam.

Kualitas tidur Penulis juga jadi meningkat setelah rutin lari pagi. Jika biasanya Penulis justru merasa lelah saat bangun, sekarang Penulis merasa lebih segar. Ini juga berlaku ketika Penulis tidur siang selama beberapa menit di sela-sela jam kerja.

Lari pagi juga memiliki efek positif bagi Penulis. Pertama, Penulis jadi tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh, sehingga bisa langsung menjalani rutinitas harian seusai beristirahat. Sekarang, Penulis telah biasa memulai jam kerja mulai pukul 7 pagi.

Selain itu, metabolisme tubuh pun menjadi lebih lancar. Buang air besar Penulis menjadi lebih teratur. Nafsu makan Penulis juga bertambah, sehingga berat badannya bertambah dan mendekati bobot idealnya, yang biasanya di bawah 50 sekarang menjadi 53 kg.

Penutup

Meskipun sudah tahu sejak lama kalau rutin lari pagi membawa banyak manfaat, ada saja alasan untuk menunda-nunda dan tidak melakukannya. Padahal, intinya hanya karena rasa malas yang tidak bisa disingkirkan.

Menyadari dirinya butuh pola hidup yang lebih sehat, Penulis pun berusaha untuk terus merutinkan lari pagi beserta rutinitas-rutinitas positif lainnya dalam hidup. Penulis perlu membenahi hidupnya, mengingat sebentar lagi dirinya akan berkepala tiga.

Untuk yang tidak suka atau tidak kuat lari, mungkin bisa diganti dengan berjalan kaki sekitar rumah. Yang penting adalah aktivitas fisik di luar rumah, karena hawa pagi seolah membawa energi positif untuk hidup kita.


Lawang, 6 Juni 2023, terinspirasi dari pengalaman pribadi yang pola tidurnya membaik setelah (kembali) rutin lari pagi

Foto Featured Image: Body+Soul

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan