<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bersalah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bersalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bersalah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Oct 2023 16:11:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bersalah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bersalah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2023 15:28:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[Kosan 95]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Webtoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya. Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari <em>Kosan 95</em> yang sedang memasuki babak akhirnya.</p>



<p>Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter <strong>Budi</strong> yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan<strong> Faisal</strong> dan<strong> Fani</strong> (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.</p>



<p>Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>SPOILER AHEAD!!!</em></strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6805" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (<a href="https://twitter.com/linewebtoonid/status/1287947401827774464">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk <strong>keluarga Jaya</strong>. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari <strong>keluarga Sundari</strong> yang merupakan saingan keluarga Jaya. </p>



<p>Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada <strong>perasaan bersalah </strong>setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.</p>



<p>Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.</p>



<p>Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani. </p>



<p>Sayangnya, yang ada <strong>perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh</strong> karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.</p>



<p>Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.</p>



<p>Hal tersebut membuat Budi <strong>semakin merasa bersalah</strong>. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6806" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (<a href="https://www.instagram.com/p/CtvwzXyyVg9/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.</p>



<p>Budi pun mendapatkan nasehat dari <strong>Pak Agus</strong>, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi<strong> penengah antara Faisal dan Fani</strong> layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.</p>



<p>Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus <strong>merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu </strong>dan <strong>jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir</strong>. Daripada seperti itu, lebih baik<strong> fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju</strong>.</p>



<p>Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah <strong>membuat Faisal dan Fani berdamai </strong>seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.</p>



<p>Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.</p>



<p>Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk <strong>memperbaiki hubungannya </strong>dengan Faisal. Berbagai hal ia <strong>berusaha lakukan dan berikan</strong> untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6808" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ini Budi (<a href="https://www.instagram.com/p/Cq1_TL_r17h/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter <em>Kosan 95</em>.</p>



<p>Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.</p>



<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">mengubah diri menjadi lebih baik</a>, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.</p>



<p>Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa <strong>memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri </strong>atas kesalahan yang sudah diperbuat.</p>



<p>Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu dengan perasaan bersalah</a> yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.</p>



<p>Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon <em>Kosan 95</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2021 04:47:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5083</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain? Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya). Menyalahkan diri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain?</p>



<p>Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung <strong>menyalahkan diri sendiri</strong><em>. </em>Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya).</p>



<p>Menyalahkan diri sendiri mungkin terkesan baik karena artinya kita melakukan interopeksi diri sehingga bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hanya saja, jika terlalu menyalahkan diri sendiri bisa memberikan dampak yang buruk kepada kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyesali Perbuatan</h2>



<p>Ambil contoh seperti ini. Kita memiliki pasangan dan sedang bertengkar hebat. Terlepas dari apa masalahnya dan apa penyebabnya, orang yang suka menyalahkan diri sendiri akan lebih banyak menyesali perbuatannya.</p>



<p>&#8220;Ah, harusnya aku enggak gitu tadi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Coba aja waktu itu aku enggak gini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kenapa sih aku harus melakukan kebodohan seperti itu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama.&#8221;</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis sebutkan sebelumnya, menyalahkan diri sendiri menjadi salah satu bukti kalau kita menyadari kesalahan diri sendiri.</p>



<p>Akan tetapi, hanya menyalahkan diri sendiri saja tidak menghasilkan apa-apa. Merutuk kebodohan dan menyesali perbuatan tidak akan membuat keadaan kembali menjadi lebih baik.</p>



<p>Penulis terkadang terjebak dalam situasi ini. Sebagai orang yang mudah <em>overthinking</em>, Penulis akan terus-menerus memikirkan kesalahan yang dirasa telah dilakukan, seolah-olah <a href="https://whathefan.com/karakter/terbelenggu-rasa-bersalah/">terbelenggu oleh perasaan bersalah</a> tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tidak Memberikan Manfaat</h2>



<p>Menyalahkan diri sendiri, terutama secara berlebihan, tidak akan memberikan manfaat apapun kepada diri kita. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan tersebut.</p>



<p>Daripada terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita fokus mencari kebaikan. Apa yang bisa dipelajari dari kesalahan ini? Apa hikmah yang bisa diambil? Bagaimana agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi?</p>



<p>Berat? Sangat. Susah? Pasti. Namun, langkah tersebut jauh lebih baik dibandingkan hanya menyalahkan diri sendiri yang bisa begitu merugikan sehingga patut untuk diupayakan.</p>



<p>Penulis percaya bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini memiliki sebab dan alasan untuk terjadi. Seringnya, kita tidak bisa langsung mengetahuinya dan butuh waktu yang tidak sebentar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Jangan Menyalahkan Pihak Lain Juga</h2>



<p>Perlu diingat, berhenti menyalahkan diri sendiri bukan berarti kita beralih dengan menyalahkan orang lain. Tidak semua hal, bahkan masalah sekalipun, membutuhkan pihak yang salah.</p>



<p>Daripada saling menyalahkan, baik ke diri sendiri maupun orang lain, bukankah lebih baik fokus ke solusi? Coba saling menurunkan ego dan belajar saling memahami satu sama lain agar bisa mencari jalan terbaik.</p>



<p>Jangan fokus terhadap masalah, tapi fokus ke penyelesaiannya. Cari jalan tengah yang tidak memberatkan atau menyakiti salah satu pihak. Pasti bisa jika kita sama-sama mau berusaha mengerti.</p>



<p>Percaya, memiliki rasa bersalah itu sama sekali tidak enak rasanya. Penulis sangat sering merasakannya. Menyalahkan diri sendiri bisa membuat diri ini merasa depresi yang berkepanjangan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi dan wajar. Bahkan, kita bisa belajar untuk memperbaiki diri dari perasaan tersebut.</p>



<p>Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita hanya berfokus pada kesalahan yang telah kita buat tanpa berbuat sesuatu untuk &#8220;menebus&#8221; kesalahan tersebut.</p>



<p>Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita menjadi tidak bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat dan merutuk diri sendiri secara tidak sehat.</p>



<p>Oleh karena itu, berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Fokus pada hal-hal baik yang bisa dipetik atau dilakukan. Hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberi manfaat sedikitpun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi setelah mendengar nasihat dari seorang kawan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@liza-summer">Liza Summer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbelenggu Rasa Bersalah</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Sep 2019 10:47:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[menyesal]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang mudah khawatir bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana. Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi. Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230; Manusia adalah tempatnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-khawatir/">orang yang mudah khawatir</a> bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana.</p>
<p>Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi.</p>
<h3>Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230;</h3>
<p>Manusia adalah tempatnya salah, sehingga wajar jika manusia melakukan kesalahan. Walaupun penulis menyadari hal tersebut, kenyataannya tetap saja sering merutuki diri sendiri ketika melakukan kesalahan.</p>
<p>Contoh, ketika tanpa sengaja melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang menusuk. Yang akan penulis lakukan adalah terus menerus meminta maaf, kadang secara berlebihan, kepada yang bersangkutan.</p>
<p>Akibat berkali-kali meminta maaf, pada akhirnya orang yang bersangkutan pun akan menjadi jengkel ke kita. Perasaan marah yang sebelumnya tidak seberapa akhirnya jadi bertambah.</p>
<p>Tidak cukup hanya di situ. Meskipun sudah dimaafkan, penulis akan tetap terbebani karena merasa yang memberi maaf tidak sepenuhnya memberi maaf. Ada saja pikiran-pikiran tambahan yang datang dan menambah rasa bersalah.</p>
<p>Frustasi karena itu, penulis pun memaki diri sendiri karena sudah berbuat bodoh. Penulis melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mengubah keadaan, baik bagi penulis sendiri maupun orang yang telah disakiti.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena munculnya perasaan menyesal yang begitu mendalam, penyesalan yang sebenarnya tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.</p>
<h3>Yang Seharusnya Dilakukan</h3>
<p>Ketika kita sudah berbuat salah, tentu yang harus kita lakukan adalah meminta maaf. Perkara dimaafkan atau tidak, sebenarnya tidak perlu kita risaukan. Yang penting, kita sudah mengakui kesalahan dan berani meminta maaf.</p>
<p>Kita tidak perlu tersiksa karena perasaan bersalah tersebut. Lebih baik, kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengusir rasa bersalah tersebut.</p>
<p>Kalau memang hubungan kita dengan yang bersangkutan cukup dekat, mungkin kita bisa menjelaskan alasan mengapa kita sampai berbuat seperti itu.</p>
<p>Tak perlu merasa malu apabila kita harus mengucapkan kalimat seperti <em>maaf, aku seperti itu karena aku butuh kamu</em>. Asal tidak berlebihan, penulis rasa orang tersebut akan mau mendengarkan kita.</p>
<p>Selain itu, seharusnya penulis bisa menjadikan kesalahan tersebut sebagai momen untuk berubah menjadi lebih baik. Penulis juga akan mencari akar penyebabnya sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.</p>
<p>Penulis selalu percaya, semua peristiwa pasti memiliki hikmahnya, termasuk ketika kita berbuat kesalahan. Jawabannya akan bisa kita temukan dengan melakukan perenungan atau <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">kontemplasi</a>.</p>
<h3>Memaafkan Diri Sendiri</h3>
<p>Terbelenggu oleh rasa bersalah yang dimiliki itu sangat tidak mengenakan. Kita seharusnya tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Membuat kesalahan itu benar-benar hal yang wajar bagi manusia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat kita merasa berat ketika berbuat kesalahan kepada orang lain adalah karena kita susah untuk memaafkan diri sendiri. Entah mengapa, rasanya memaafkan orang lain jauh lebih mudah, setidaknya bagi penulis.</p>
<p>Padahal, dengan memaafkan diri sendiri, kita bisa lebih mudah melepaskan rasa bersalah yang sudah kita buat sendiri. Kita akan berdamai dengan diri kita sendiri tanpa perlu lagi merutuki kebodohan yang telah diperbuat.</p>
<p>Berlarut-larut dalam perasaan bersalah tidak akan memberikan dampak positif bagi siapapun. Maka dari itu, penulis berjanji kepada diri sendiri agar tidak mudah terbelenggu lagi oleh perasaan bersalah di masa depan. Semoga para pembaca pun seperti itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melawai, 15 September 2019, terinspirasi setelah melakukan kesalahan tolol yang sama berkali-kali</p>
<p>Foto: <a href="https://optimalpositivity.com/wp-content/uploads/2018/11/6-Behaviors-that-Push-People-Away-And-How-to-Reverse-Them-970x475.jpg">Optimal Positivity</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
