<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>canda Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/canda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/canda/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Dec 2019 04:28:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>canda Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/canda/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2019 00:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[bercanda]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu. Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut. Kelewat Baper Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias <em>baper</em> ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.</p>
<p>Bukan <em>baper </em>karena merasa <em>geer</em> seseorang suka dengan kita ya. <em>Baper </em>yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.</p>
<h3>Kelewat Baper</h3>
<p>Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.</p>
<p>Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?</p>
<div id="attachment_2172" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2172" class="size-large wp-image-2172" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2172" class="wp-caption-text">Kelewat Baper (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.theodysseyonline.com/girls-do-cry" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBmIH3t7fgAhXZZSsKHWVYAfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Odyssey</span></a>)</p></div>
<p>Seringkali kita dijuluki <em>baper</em> seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.</p>
<p>Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.</p>
<p>Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat <em>baper </em>yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li><strong>Selalu berpikir positif</strong>, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.</li>
<li><strong>Jangan semua dimasukkan ke dalam hati</strong>, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.</li>
<li><strong>Jadikan bahan interopeksi diri</strong>, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.</li>
<li><strong>Belajar menjadi lebih dewasa</strong>, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.</li>
<li><strong>Mendekatkan diri ke Tuhan</strong>, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan sang pencipta alam</a> ini. Jika Islam, perbanyaklah <em>istighfar </em>atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.</li>
<li><strong>Cerita ke orang</strong> <strong>lain yang dipercaya</strong>, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.</li>
</ul>
<p>Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat <em>baper</em>. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.</p>
<h3>Bercanda Kelewatan</h3>
<p>Mungkin karena sewaktu kecil sering di-<em>bully </em>oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.</p>
<p>Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.</p>
<div id="attachment_2173" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2173" class="size-large wp-image-2173" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg" alt="" width="800" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2173" class="wp-caption-text">Bercanda Kelewatan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.iamsecond.com/is-living-second-really-just-being-first-loser/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjfm8SwubfgAhVNi3AKHf4dDH0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">I Am Second</span></a>)</p></div>
<p>Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?</p>
<p>Masalahnya, tidak semua orang <em>baper </em>sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.</p>
<p>Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.</p>
<p>Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, <strong>sejak ada kata <em>baper, </em>kata maaf seolah pudar</strong>. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang <em>baper</em>. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.</p>
<p>Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.</p>
<ul>
<li><strong>Tumbuhkan empati</strong>, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.</li>
<li><strong>Berpikir sebelum berbicara</strong>, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?</li>
<li><strong>Belajar menjaga perasaan orang lain</strong>, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.</li>
<li><strong>Jangan pernah merasa lebih baik</strong>, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-<em>bully </em>adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa dirinya lebih baik</a> atau lebih hebat dari orang yang di-<em>bully</em>. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.</li>
<li><strong>Peka terhadap situasi dan memahami orang lain</strong>, karena sikap <em>baper </em>bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.</li>
<li><strong>Jangan merasa paling benar</strong>, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-<em>baper-</em>an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.</li>
</ul>
<p>Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.</p>
<p>Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai orang lain</a>, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang <em>baper </em>menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si <em>baper </em>sudah <em>lebay</em>.</p>
<p>Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah <em>baper</em>, coba dikurangi ke-<em>baper-</em>annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah <em>baper</em>.</p>
<p>Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara <em><strong>kelewat baper vs bercanda kelewatan</strong> </em>ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah&#8230;</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://everything-voluntary.com/forced-association-compounds-bullying" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQqrC8t7fgAhVWaCsKHUKqD3cQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Everything-Voluntary.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Srimulat: Bukan Sekedar Grup Lawak</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/srimulat-bukan-sekedar-grup-lawak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/srimulat-bukan-sekedar-grup-lawak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 06:47:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[dagelan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[lawak]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[srimulat]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=932</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat melempar pertanyaan di story Whatsapp dan Instagram: &#8220;Apa yang paling Anda kenang tentang Srimulat?&#8221; Penulis tidak berharap teman-teman penulis yang kelahiran 2000 ke bawah menjawab karena pada era mereka tumbuh sudah tidak ada lagi acara Aneka Ria Srimulat di Indosiar. Penulis mengharapkan jawaban dari generasi yang seumuran maupun yang lebih tua. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/srimulat-bukan-sekedar-grup-lawak/">Srimulat: Bukan Sekedar Grup Lawak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat melempar pertanyaan di <em>story </em>Whatsapp dan Instagram:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Apa yang paling Anda kenang tentang Srimulat?&#8221;</p>
<p>Penulis tidak berharap teman-teman penulis yang kelahiran 2000 ke bawah menjawab karena pada era mereka tumbuh sudah tidak ada lagi acara Aneka Ria Srimulat di Indosiar. Penulis mengharapkan jawaban dari generasi yang seumuran maupun yang lebih tua.</p>
<p>Hasilnya? Tidak ada yang menjawab sama sekali :). Entah karena memang tidak memiliki kenangan khusus tentang Srimulat atau alasan-alasan lainnya.</p>
<p><strong>Para Pemain Srimulat</strong></p>
<p>Padahal, bagi penulis, Srimulat sangat membekas dalam memori masa kecil meskipun tidak secara detail. Banyak candaan dari para tokohnya yang <em>srimulat</em> banget.</p>
<p>Yang penulis paling ingat adalah Tessy karena beliau adalah tokoh favorit dari ayah penulis. Gayanya yang kemayu dan menggunakan banyak batu akik membuatnya mudah untuk dikenali.</p>
<p>Selain Tessy banyak juga karakter lain yang memiliki ciri khas, seperti alm. Gogon dengan rambutnya yang hanya menyisakan jambul. Selain itu, gaya <em>sendakep </em>dan duduk melorotnya juga sangat khas.</p>
<div id="attachment_937" style="width: 530px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-937" class="size-full wp-image-937" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat1.jpg" alt="" width="520" height="390" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat1.jpg 520w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat1-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat1-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 520px) 100vw, 520px" /><p id="caption-attachment-937" class="wp-caption-text">Beberapa Personil Srimulat (http://danish56.blogspot.com/2011/09/sejarah-panjang-grup-legendaris.html)</p></div>
<p>Sudah banyak sekali anggota Srimulat yang penulis tahu sudah meninggal dunia, mulai dari Mamiek Prakoso, Basuki, Timbul, Nurbuat, Eko DJ, hingga Asmuni. Anggota Srimulat semakin habis dilahap waktu.</p>
<p>Lantas, bubarkah Srimulat? Anggota yang masih hidup seperti Tarzan, Polo, Kadir, Rohana, dan lainnya dengan tegas Srimulat tidak akan pernah bubar, karena Srimulat bukan sekedar grup lawak.</p>
<p><strong>Awal Mula Srimulat</strong></p>
<p>Srimulat memiliki sejarah yang panjang. Bagi yang benar-benar tertarik untuk mengetahui sejarahnya secara detail, bisa membeli buku <em>Srimulatism</em> karya Thrio Haryanto.</p>
<p>Yang jelas, Srimulat merupakan nama seseorang yang merupakan anak abdi dalem keluarga keraton. Karena merasa terkekang, ia memutuskan untuk keluar dari Keraton dan menjadi seorang sinden.</p>
<p>Ia bertemu dengan pak Teguh, yang lebih muda 18 tahun, dan pada akhirnya menikah. Dari mereka berdualah lahir Srimulat yang pada mulanya lebih mempertontonkan seni musik dibandingkan komedi.</p>
<div id="attachment_936" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-936" class="size-large wp-image-936" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1-1024x536.jpg" alt="" width="1024" height="536" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1-1024x536.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1-300x157.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1-768x402.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1-356x186.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/cek-ads-1.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-936" class="wp-caption-text">Buku Srimulatism (http://nourabooks.co.id/tag/srimulatism/)</p></div>
<p>Banyak sekali personil yang datang dan pergi, lebih banyak lagi yang datang, pergi, lalu kembali ke Srimulat. Bisa dibilang puncak kejayaan Srimulat terjadi pada sekitar tahun 80an, dengan tokoh Gepeng yang menjadi primadona.</p>
<p>Akan tetapi, Srimulat lebih sering mengalami jatuh bangun, entah berapa kali mengalami mati suri. Personilnya banyak yang memilih untuk bersolo karir, termasuk Gepeng yang khas dengan kata-kata &#8220;untung ada saya&#8221;.</p>
<p><strong>Lebih dari Sekedar Grup Lawak</strong></p>
<p>Alm. Gogon adalah sosok yang berjasa untuk menghidupkan kembali Srimulat yang hilang pada awal 90an. Ia menggagas acara reuni, yang ternyata berlanjut di stasiun televisi hingga tahun 2003.</p>
<p>Mungkin itulah saat terakhir Srimulat dengan sukses mengocok perut penonton melalui media televisi. Beberapa kali terdapat acara yang mencoba untuk menayangkan Srimulat dengan format berbeda, namun tidak pernah sesukses Aneka Ria Srimulat.</p>
<div id="attachment_935" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-935" class="size-full wp-image-935" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat.jpg" alt="" width="1000" height="600" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/srimulat-356x214.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-935" class="wp-caption-text">Srimulat Jaman Dulu (http://marketeers.com/srimulat-merek-legendaris-yang-ingin-rejuvenasi/)</p></div>
<p>Tidak tayang di televisi bukan berarti Srimulat telah punah, karena ia telah menjelma menjadi sebuah budaya. Srimulat telah menjadi <em>genre </em>komedi sendiri yang orisinil. Sujiwo Tedjo berpendapat kekuatan Srimulat terdapat pada <em>timing </em>dalam melempar candaan.</p>
<p>Bagi personilnya, Srimulat telah menjadi bagian dari keluarga mereka, ikatan yang telah berjalan selama puluhan tahun.</p>
<p>Sayangnya, tidak banyak orang yang mengingat Srimulat. <em>Telah ketinggalan jaman </em>mungkin mereka sematkan kepada Srimulat. Mereka hanya menganggap Srimulat sebagai kenangan masa lalu yang tidak memiliki tempat di masa kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 Juni 2018, terinspirasi setelah membaca buku <em>Srimulatism </em>karya Thrio Haryanto</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Srimulat">https://id.wikipedia.org/wiki/Srimulat</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/srimulat-bukan-sekedar-grup-lawak/">Srimulat: Bukan Sekedar Grup Lawak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/srimulat-bukan-sekedar-grup-lawak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
