<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>doa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/doa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/doa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Sep 2019 14:56:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>doa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/doa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tuhan Tidak Punya Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Sep 2019 14:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[bergantung]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2753</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; kata A pada story WhatsApp-nya. &#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; kata B pada linimasa Twitter-nya. &#8220;Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; kata C pada feed Instagram-nya. &#8220;Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; </em>kata A pada <em>story </em>WhatsApp-nya.</p>
<p><em>&#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; </em>kata B pada linimasa Twitter-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; </em>kata C pada <em>feed </em>Instagram-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan tersebut!&#8221; </em>kata D pada kolom komentar di Webtoon.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pernah mengeluh atau berdoa kepada Tuhan melalui media sosial? Penulis merasa tidak pernah melakukan hal ini karena menyadari sesuatu: <strong>Tuhan tidak punya media sosial!</strong></p>
<p>Keluh kesah ataupun harapan kita yang ditujukan kepada Tuhan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung tanpa harus melalui perantara digital.</p>
<p>Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu Maha Pendengar. Apapun yang sedang kita rasakan atau pikirkan, Tuhan bisa mengetahuinya dengan mudah. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan.</p>
<h3>Maksud Terselubung?</h3>
<p>Jika doanya seperti &#8220;<em>teman-teman, minta doanya agar bencana di daerah kami segera mereda&#8221;, </em>penulis masih bisa memaklumi karena mungkin akan ada banyak orang yang membaca pesan tersebut dan langsung mengirimkan doa.</p>
<p>Ada juga akun yang memang mengkhususkan diri untuk mengunggah doa-doa yang sebaiknya dibaca pada saat-saat tertentu. Kalau seperti itu, penulis sangat menyetujuinya.</p>
<p>Yang penulis permasalahkan di sini adalah doa-doa yang ditujukan untuk kepentingan pribadi. Penulis berasumsi bahwa doa online tersebut memiliki maksud terselubung. Contohnya, <strong>memberi tahu orang lain tentang keadaan dirinya</strong>. Bahasa lainnya, <em>ngode</em>.</p>
<p>Buktinya ketika berusaha memosisikan diri sebagai orang yang membuat status seperti itu, penulis malah jadi menyimpan harapan agar doa dan keluhan itu ditanggapi oleh orang lain. Penulis tidak bisa menemukan alasan lain.</p>
<p>Jika bukan itu tujuannya, lantas mengapa dipublikasikan ke media sosial yang secara otomatis akan dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang lain? Sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a> mungkin? Rasanya tidak.</p>
<h3>Berharap Kepada Manusia</h3>
<p>Seandainya asumsi di atas benar, itu menunjukkan bahwa kita masih banyak berharap kepada manusia. Padahal, seharusnya kita hanya boleh menggantungkan harapan kepada Tuhan semata.</p>
<p>Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri di dunia yang makin hari makin keras ini.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita bisa menggantungkan diri kepada manusia secara total dan melupakan peran Tuhan di sini. Perlu diingat, segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat izin-Nya.</p>
<p>Penulis menulis artikel ini bukan karena merasa telah bisa menggantungkan diri kepada Tuhan sepenuhnya. Justru, penulis merasa bahwa dirinya <strong><em>masih sering menggantungkan harapan kepada manusia</em></strong>.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah perasaan kesepian yang sering penulis derita. Seharusnya, penulis tidak perlu merasa kesepian karena Tuhan selalu bersama kita. Akan tetapi, praktik selalu lebih sulit daripada teorinya.</p>
<p>Bahkan, penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">memiliki ketergantungan kepada manusia agar tidak merasa sepi</a>. Jadi, tulisan ini penulis susun sebenarnya lebih bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri.</p>
<p>Mungkin penulis memang tidak membuat status berdoa di media sosial, namun penulis nyatanya juga masih berharap kepada manusia dengan cara-cara yang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin, dulu penulis pun masih pernah melakukannya ketika masih labil (memang sekarang enggak?). Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, kita pun makin menyadari hal ini.</p>
<p>Jika sedang kesal atau bersusah hati, utarakanlah kepada Tuhan secara langsung. Tidak perlu menuliskannya di media sosial karena Tuhan tidak butuh perantara untuk bisa mendengar kita.</p>
<p>Menuliskan isi hati di media sosial justru menunjukkan bahwa kita masih sering menggantungkan diri kepada orang lain, bukan kepada Tuhan.</p>
<p>Sekali lagi, penulis sendiri masih melakukan hal yang sama. Semoga dengan tulisan ini, kita semua bisa saling memperbaiki diri dan belajar untuk hanya berharap kepada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 September 2019, terinspirasi dari banyaknya doa yang bertebaran di media sosial</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@khouser01">Keegan Houser</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peremehan Tuhan Paling Fatal</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 15:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[peremehan]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau. Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau.</p>
<p>Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan, itu sama artinya dengan meremehkan Tuhan.</p>
<p>Dengan catatan, diiringi oleh usaha dan doa. Tidak mungkin kita memiliki keyakinan tersebut, lantas hanya bermalas-malasan menunggu bantuan-Nya datang sendiri. Tidak! Jangan memahami kalimat tersebut mentah-mentah.</p>
<p>Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita harus diiringi usaha dan doa yang seimbang. Logikanya, Tuhan itu Maha Baik, apa mungkin membiarkan umat-Nya yang telah berpeluh keringat dan selalu menyebut nama-Nya di setiap doa dibiarkan begitu saja? Tidak mungkin.</p>
<p>Apabila yang kita minta tidak dikabulkan, jangan langsung berburuk sangka kepada-Nya. Bisa saja, Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan keinginan kita, atau bahkan mungkin memberi yang sebenarnya lebih kita butuhkan.</p>
<p>Ingat, Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita inginkan. Manusia dengan kemampuannya yang terbatas sangat mungkin salah dalam mengira apa yang dibutuhkan olehnya. Tuhan lah yang mengetahui kebutuhan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah pernah meremehkan Tuhan dengan takut kebutuhan kita tidak akan terpenuhi setelah kita berusaha dan berdoa kepada-Nya. Kita ini hanya manusia yang hina, jangan berani meremehkan Tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Maret 2018, setelah mengajar di SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.islamicsom.org/?p=1545">http://www.islamicsom.org/?p=1545</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
